| www.unesa.ac.id | pdpt.unesa.ac.id

KAMPUS KETINTANG
Jl. Ketintang, Surabaya 60231

KAMPUS LIDAH WETAN
Jl. Lidah Wetan, Surabaya
info@unesa.ac.id

petunjuk prak verte
FileName : petunjuk prak verte.doc
FileType : application/msword
FileSize : 8.67 MB
Download



Plain Text Preview

Panduan Praktikum Taksonomi Vertebrata Disusun oleh: Drs. Tjipto Haryono, M.Si. Ulfi Faizah, S.Pd., M.Si. Reni Ambarwati, S.Si., M.Sc. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya 2011 PENGANTAR Puji syukur Kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan Buku Panduan Praktikum Taksonomi Vertebrata ini. Buku ini disusun untuk digunakan sebagai panduan kegiatan praktikum Taksonomi Vertebrata yang dilaksanakan di Jurusan Biologi FMIPA. Mahasiswa dapat memanfaatkan buku panduan praktikum dalam perkuliahan Taksonomi Vertebrata untuk: a. Mengenal contoh-contoh hewan Vertebrata yang representatif dari masing-masing classis, terutama yang banyak dijumpai, dan mempunyai peranan penting dalam kehidupan. b. Mempelajari ciri-ciri karakteristik morfologi dan sedikit anatomi dari Classis dan Ordo yang penting untuk identifikasi. c. Mendapatkan keterampilan dalam mengidentifikasi dan menentukan posisi hewan tadi di dalam hierarkhi/tingkatan taksonomi. Surabaya, 1 September 2011 Tim Penyusun A. SUPER CLASSIS PISCES 1. Classis Chondrichthyes A. Tujuan: 1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri Classis Chondrichthyes pada spesimen amatan ikan hiu dan ikan pari. 2. Mahasiswa dapat mendeskripsikan ciri-ciri Classis Chondrichthyes pada spesimen amatan ikan hiu dan ikan pari. 3. Mahasiswa dapat menggambar morfologi dari spesimen amatan ikan hiu dan ikan pari disertai dengan keterangan gambar. 4. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan ikan hiu dan ikan pari sampai pada tingkatan famili. B. Materi: Ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) merupakan kelas ikan yang mencakup hiu dan pari. Ikan ini tulang belakangnya tidak terdiri atas tulang sejati/tulang keras, tetapi tersusun atas bahan putih serta keras yang dinamai tulang rawan. Kulitnya tertutup sisik, mirip gigi parut sehingga menyerupai amplas, insang berbeda dengan insang ikan bertulang biasa, setiap insang ikan hiu memiliki lubang insang yang terpisah disebut celah insang. Hiu menyerap air untuk mengambil oksigen terutama melalui mulut, kebanyakan hiu juga bernapas melalui lubang di belakang kedua matanya yang disebut "lubang pernapasan" atau spirakulum. Namun tidak semua jenis hiu (Squalus) memiliki lubang pernapasan, hiu perenang bebas umumnya tidak memiliki lubang pernapasan. Pari bernapas hanya lewat lubang pernapasan macam itu saja. Gigi tajam kebanyakan Chondrichthyes merupakan modifikasi sisik yang selalu terbentuk di mulutnya yang berbentuk celah. Semua Chondrichthyes menghasilkan telur yang besar dan mengandung banyak kuning telur. Telur ini sudah dibuahi, terbungkus selaput tanduk.Pembuahannya terjadi di dalam tubuh melalui alat khusus yang terletak di sepanjang tepi sirip perut ikan jantan (=clasper). C. Alokasi Waktu: 3 x 50 menit D. Sumber Belajar: 1. Hand out 2. Text book 3. Buku Panduan Praktikum Taksonomi Vertebrata E. Alat dan Bahan: Alat : Lup, pinset, nampan plastik, alat tulis. Bahan : Ikan hiu dan ikan pari. F. Kegiatan 1: Berdasarkan morfologi ikan hiu pada Gambar 1, isilah nama dari bagian-bagian yang ditunjuk! Gambar 1. Morfologi Hiu 1. 6 b. 2. 7. 3. 8. 4. 9. 5. 10 6. 11. 6 a. 12 Kegiatan 2: Jelaskan pengertian dan fungsi dari istilah-istilah di bawah ini! 1. Spiracle (spirakulum): 2. Ampullae of Lorenzini (ampula lorenzini): 3. lateral line (gurat sisi): Kegiatan 3: Dengan menggunakan kunci determinasi yang ada, tentukan nama famili dari beberapa gambar ikan hiu yang disediakan! 1 A Badan seperti layang-layang jika dilihat dari atas 12 B Badan tidak seperti layang-layang jika dilihat dari atas 2 2 A Sirip pelvic tidak ada, hidung seperti gergaji ........................ Famili Pristiophoridae (Saw Shark) B Sirip pelvic ada .................. 3 3 A Terdapat enam celah insang ............ Famili Hexanchidae (Cow Shark) B Terdapat lima celah insang 4 4 A Hanya terdapat satu sirip dorsal ......... Famili Scyliorhyinidae (Cat Shark) B Terdapat dua sirip dorsal ... 5 5 A Mulut terdapat di depan moncong ...... Family Rhinocodontidae (Whale Shark) B Mulut terdapat di bawah kepala ... 6 6 A Kepala menonjol ke samping dengan bagian mata pada ujungnya ............ Famili Sphyrnidae (Hammerhead Shark) B Kepala tidak menonjol ...... 7 7 A Sirip caudal, bagian atas dan bawah, mempunyai bentuk dan ukuran yang sama ............ Famili Isuridae (Mackerel Shark) B Sirip caudal, bagian atas dan bawah, tidak mempunyai bentuk dan ukuran yang sama 8 8 A Sirip dorsal pertama sangat panjang, hampir setengah dari panjang badan Famili Pseudotriakidae (False Cat Shark) B Sirip dorsal pertama mempunyai panjang yang regular ........................... 9 9 A Sirip caudal sangat panjang hampir sepanjang badan ................................. Famili Alopiidae (Thresher Shark) B Sirip caudal mempunai panjang yang regular ................................................... 10 10 A Pada hidung, terdapat bentukan seperti jarum panjang ........................ Famili Scapanorhynchidae (Goblin Shark) B Hidung tidak memanjang .................. 11 11 A Tidak terdapat sirip anal ..................... Famili Squalidae (Dogfish Shark) B Terdapat sirip anal .............................. Famili Carcharhinidae (Requiem Shark) 12 A Sirip dorsal kecil terdapat dekat ujung ekor ................................. Famili Rajidae (Skate) B Sirip dorsal kecil tidak terdapat dekat ujung ekor .............................. 13 13 A Terdapat bentukan seperti tanduk ... Famili Mobulidae (Devil ray) B Tidak terdapat bentukan seperti tanduk ............... Famili Dasyasidae (Sting ray) 1. ..................... 2. ...................................................... 3. ........................................... 4. .................................... 5. ............................... 6. ........................................... 7. ................................................ 8. .............................. 9. ................................. 10. ....................................... 11. .................................... 12. .................................. 13. ................................................ 14. ........................... Kegiatan 4: Jelaskan perbedaan antara: 1. Hiu pada gambar 4 dan 8! 2. Hiu pada gambar 14 dan 19! 3. Hiu pada gambar 4 dan 7! Kegiatan 5: Dalam melaksanakan praktikum, ikutilah langkah-langkah berikut! 1. Identifikasi ciri-ciri spesimen amatan yang terdiri dari ikan hiu dan ikan pari. Perhatikan: - Bentuk tubuh - Ukuran tubuh (panjang, lebar, tinggi) - Jenis-jenis sirip - Bentuk/tipe ekor - Tekstur kulit - Sisik - Celah insang - Lubang pernafasan (spirakulum) - Letak mulut - Gigi - Clasper 4. Deskripsikan ciri-ciri spesimen amatan yang terdiri dari ikan hiu dan ikan pari berdasarkan identifikasi yang telah kalian lakukan. 5. Gambar morfologi dari spesimen amatan ikan hiu dan ikan pari disertai dengan keterangan gambar. 6. Tentukan klasifikasi dari spesimen amatan ikan hiu dan ikan pari sampai tingkatan famili. -Selamat bekerja- A. SUPER CLASSIS PISCES 2. Classis Osteichthyes A. Tujuan: 1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri Classis Osteichthyes pada spesimen ikan amatan yang telah ditentukan. 2. Mahasiswa dapat mendeskripsikan ciri-ciri Classis Osteichthyes pada spesimen ikan amatan yang telah ditentukan. 3. Mahasiswa dapat menentukan rumus sirip pada spesimen ikan amatan yang telah ditentukan. 4. Mahasiswa dapat menggambar morfologi dari spesimen ikan amatan disertai dengan keterangan gambar. 5. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan spesimen ikan amatan sampai pada tingkatan genus. B. Materi: Osteichtyes merupakan kelompok ikan bertulang sejati atau bertulang keras. Anggotanya sangat beragam dan dapat ditemukan di perairan tawar, payau, maupun laut. Untuk mempelajari taksonomi ikan, terdapat beberapa karakter yang penting untuk diketahui. Karakter atau ciri morfologi yang penting untuk identifikasi ikan, antara lain adalah karakter sirip, linea lateralis, sisik dan tulang-tulang insang, serta morfometri. Sirip (pinna; fin) Sirip ikan sangat beragam baik bentuk, susunan maupun jumlahnya. Selain dinyatakan secara deskriptif dalam deskripsi spesies, karakter sirip suatu ikan dapat dinyatakan dalam bentuk rumus sirip. Rumus sirip adalah suatu rumus yang menggambarkan bentuk dan jumlah sirip serta jumlah dan macam jari-jari sirip. Menghitung jari-jari sirip Untuk memberikan rumus suatu sirip tertentu, pertama dicantumkan dahulu notasi yang menentukan sirip mana yang dimaksud (Gambar 1). Gambar 1. Jenis-jenis sirip Notasi yang biasanya digunakan untuk penulisan rumus sirip adalah sebagai berikut: - sirip punggung (pinna dorsalis= dorsal fin) = D - sirip punggung pertama (di muka, first dorsal fin) = D1 - sirip punggung kedua (di belakang, second dorsal fin) = D2 - sirip ekor (pinna caudalis= caudal fin )= C - sirip dubur (pinna analis= anal fin) = A - sirip perut (pinnae ventralis= pelvic fins) = V - sirip dada (pinnae pectoralis= pectoral fins) = P Misal suatu jenis ikan mempunyai jari-jari sirip punggung 6 dan jari-jari sirip dubur 4 maka rumusnya adalah D.6; A.4. Menghitung jari-jari sirip yang berpasangan, dilakukan pada sirip yang terletak pada sebelah kiri, terkecuali jika ada ketentuan yang lain. Pada pengamatan, ikan diletakkan dengan posisi perut (bagian ventral) menghadap pengamat dan kepala di sebelah kiri. Jenis jari-jari sirip Jari-jari sirip t dibedakan menjadi 2 macam (Gambar 2): Gambar 2. Jenis-jenis jari sirip 1) Jari-jari keras (a) Jari-jari keras tidak beruas-ruas, pejal (tidak berlubang), keras dan tidak dapat dibengkokkan. Biasanya jari-jari keras ini berupa duri atau patil dan merupakan alat untuk mempertahankan diri bagi ikan. Jumlah jari-jari keras dinotasikan dengan huruf Romawi (I, II, III,). 2) Jari-jari lemah (b) Jari-jari lemah biasanya bening, seperti tulang rawan, mudah dibengkokkan dan beruas-ruas. Bentuknya berbeda-beda tergantung pada jenis ikan, jari-jari lemah ini mungkin sebagian mengeras, salah satu bergerigi, bercabang atau satu sama lain berhimpitan. Jumlah jari-jari lemah dinotasikan dengan angka biasa (1,2, 3,). Misal suatu jenis ikan mempunyai jari-jari sirip punggung 6 jari-jari lemah, sirip ekor 12, serta jari-jari sirip dubur 6 dan 2 di antaranya keras, maka hal ini dapat ditulis: D.2; C.12; A.II.4. Pada ikan yang jari-jari ekornya bercabang, jumlah jari-jari ini ditetapkan sebanyak jumlah jari-jari bercabang ditambah dua. Morfometri Morfometri merupakan pengukuran ikan dan bagian-bagian tertentu yang dapat menjadi karakter taksonomi. Karena ukuran satu jenis ikan berbeda-beda akibat pengaruh umur dan lingkungannya, maka tidak mungkin memberikan ukuran untuk identifikasi secara mutlak. Pada umumnya, yang digunakan untuk identifikasi adalah ukuran perbandingan yang diolah dari hasil pengukuran secara langsung. Beberapa parameter morfometri seperti pada Gambar 3 dengan penjelasan sebagai berikut. * Panjang total (total length) (a): Jarak garis lurus antara ujung kepala paling depan dengan ujung sirip paling belakang. * Panjang baku/badan (standard length) (b): Jarak garis lurus antara ujung kepala paling depan (biasanya ujung salah satu rahang) dengan pelipatan pangkal sirip ekor. * Panjang bagian muka sirip punggung (c): Jarak antara ujung hidung (antara bibir) hingga ke pangkal jari-jari pertama sirip punggung. * Panjang batang ekor (length of caudal peduncle) (d): Jarak miring antara tepi caudal dari sirip dubur sampai dengan pangkal jari-jari tengah sirip ekor. * Panjang dasar sirip punggung (dorsal-fin base) (e): Jarak antara pangkal jari-jari pertama sampai dengan selaput sirip di belakang jari-jari terakhir. * Tinggi badan (depth of body) (f): Jarak antara pangkal sirip punggung sampai pangkal sirip perut. * Tinggi batang ekor (depth of caudal peduncle) (g): Jarak terendah dari kelipatan atau pangkal ekor. * Panjang dasar sirip dubur (anal-fin base): Jarak antara pangkal jari-jari pertama sampai dengan selaput sirip di belakang jari-jari terakhir. * Panjang kepala (head length): Jarak antara ujung hidung sampai dengan tepi belakang keping tutup insang (operkulum). Gambar 3. Morfometri ikan Linea lateralis (lateral line) Linea lateralis adalah garis pada bagian lateral ikan yang dibentuk oleh barisan sisik yang berpori atau berlubang. Linea lateralis berfungsi sebagai indra untuk mengetahui perubahan-perubahan hidrostatis dalam air. Garis ini disebut juga garis rusuk. Pada ikan yang tidak mempunyai linea lateralis, digunakan istilah garis sisi, yaitu suatu garis khayal yang ditarik dari pertengahan belakang tutup insang secara lurus sampai pangkal ekor. a. Bentuk garis rusuk (linea lateralis) dan sisik yang membentuk linea lateralis tersebut. Linea lateralis umumnya berjumlah satu, tetapi ada yang lebih. Bentuknya bervariasi (Gambar 4), yaitu lengkap, terputus, lurus, bengkok dan melengkung ke bawah. Sisik membentuk linea lateralis berlubang atau berpori dan di bawah sisik ini terdapat berkas saraf. Untuk menghitung jurnlah sisik pada garis linea lateralis dirnulai dari sisik belakang lengkung bahu sampai sisik pada permulaan pangkal ekor, atau pada ruas tulang belakang bagian ekor yang terakhir. Gambar 4. Macam linea lateralis b. Jumlah sisik pada linea lateralis serta jumlah sisik di atas dan di bawah linea lateralis (Gambar 5). Untuk menentukan jumlah sisik di atas linea lateralis, dimulai dari permulaan sirip punggung dan dihitung miring ke arah ventral. Sisik penyusun linea lateralis tidak ikut dihitung. Gambar 5. Sisik pada linea lateralis Sisik (scale) Bentuk susunan dan tempat melekatnya sisik-sisik. Pada Pisces dikenal 4 tipe sisik, yaitu: siklloid, stenoid, ganoid, dan placoid. * Sikloid (a): sisik tipe ini terbentuk dari corium/dermis. Bentuknya sirkuler atau ovoid, secara mikroskopis tampak adanya garis-garis konsentris, garis-garis radier, guanophore da sel-sel pigmen. * Stenoid (b): bagian tepi luarnya mempunyai satu baris/lebih rigi-rigi seperti duri-duri halus atau gigi-gigi sisir, sedangkan bagian tepi yang melekat mempunyai tonjolan-tonjolan sehingga memperkuat pelekatannya. * Placoid(c dan d): sisik ini paling primitif, berasal dari dermis. Squama ini mempunyai suatu memipih, tertanam di dalam kulit, dengan suatu spina yang meruncing atau membulat yang menonjol yang terdiri atas dentin yang keras. * Ganoid (e): bagian terbesar tipe ini terdiri atas lapisan-lapisan tukang, dan permukaan luarnya diselubungi oleh ganion, yaitu suatu material yang mempunyai email yang dibentuk oleh corium. Gambar 6. Tipe-tipe sisik C. Alokasi Waktu: 2 x (3 x 50 menit) D. Sumber Belajar: 1. Hand out 2. Text book 3. Buku Panduan Praktikum Taksonomi Hewan II 4. Buku kunci identifikasi ikan E. Alat dan Bahan: Alat : Lup, pinset, nampan plastik, alat tulis, mikroskop monokuler atau binokuler. Bahan : Berbagai jenis ikan dari Classis Osteichthyes F. Kegiatan 1 A. Tujuan: Mempelajari perbedaan morfologi eksternal Osteichtyes dan Chondrichtyes B. Cara Kerja: 1. Lengkapi sketsa ikan anggota Osteichtyes berikut 2. Bandingkan dengan ikan anggota Chondrichtyes yang telah Anda amati pada kegiatan praktikum sebelumnya. Diskusikan dengan anggota kelompok Anda, ciri-ciri morfologi eksternal yang dapat membedakan anggota Osteichtyes dan Chondrichtyes. a) ......................................................................................... b) ......................................................................................... c) ......................................................................................... d) ......................................................................................... kegiatan 2. A. Tujuan: Mempelajari karakter pembeda beberapa ordo dalam Kelas Osteichtyes B. Cara Kerja: 1. Perhatikan beberapa sketsa ikan yang mewakili beberapa ordo dalam Kelas Osteichtyes di bawah ini. 2. Rangkumlah karakter morfologi eksternal setiap kelas yang dapat digunakan sebagai pembeda dalam tabel berikut ini. Karakter Anguiliformes Siluriformes Gonorynchi-formes Perciformes Pleuronecti-formes Tetraodon-tiformes Bentuk tubuh Bentuk kepala Sirip punggung Jari-jari penyusun sirip Kegiatan 3 A. Tujuan: Setelah mengikuti kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Mengenal ciri-ciri anggota Osteichtyes yang penting untuk identifikasi 2. Melakukan morfometri pada ikan 3. Membuat deskripsi ikan anggota Osteichtyes 4. Mengidentifikasi ikan anggota Osteichtyes hingga tingkat famili B. Alat dan Bahan: Alat: penggaris mika, nampan plastik, pinset, lup, mikroskop Bahan: Kelompok A: ikan lele, ikan patin, ikan sapu-sapu (pembersih kaca), Kelompok B: ikan mujaer, ikan kembung, ikan gurami, ikan kakap C. Cara Kerja: 1. Setiap kelompok akan mendapatkan dua spesies ikan, masing-masing dari kelompok A dan B. 2. Ikan diletakkan di papan pengamatan (nampan plastik) dengan posisi kepala berada di bagian kiri pengamat dan ventral tubuh menghadap ke pengamat. 3. Amati spesimen tersebut dengan teliti. Catatlah semua karakter morfologi eksternal yang penting untuk identifikasi, antara lain sirip, linea lateralis, sisik, dan morfometri setiap spesimen. Anda dapat menggunakan mikroskop untuk mengamati tipe sisik. 4. Buatlah sketsa setiap spesimen ikan tersebut dan tunjukkan bagian-bagiannya. Bagian khusus yang tidak terlihat pada sketsa umum dapat dijelas di bagian terpisah, misalnya sketsa sisik, bentuk keping tutup insang (operkulum), dan sebagainya. 5. Berdasarkan data hasil pengamatan, susunlah deskripsi setiap spesies. Deskripsi ditulis secara singkat, namun terperinci dan jelas. Deskripsi juga mencakup karakter pembeda suatu spesies. 6. Dengan menggunakan kunci identifikasi, tentukan ordo dan famili setiap spesies. 7. Tuliskan hasil kerja Anda pada lembar pengamatan Ordo Siluriformes Kunci Menuju Famili 1. a. Permukaan tubuh halus, tidak bersisik .................. 2 b. Permukaan tubuh tertutup plat tulang (bony plates) ...... 4 2. a. Sirip dorsal pendek ................................................... 3 b. Sirip dorsal sangat panjang, terputus atau bersambung dengan sirip ekor, memiliki empat pasang sungut (barbel) .................. Clariidae 3 a. Tidak memiliki sirip adiposa ............................................... Siluridae b. Memiliki sirip adiposa yang terletak di antara sirip punggung dan sirip ekor, sirip anal 26-46 jari-jari ............. Pangasidae 4. a. Mulut terletak di bagian ventral, dengan 1-2 pasang sungut (barbel), mempunyai sirip adiposa yang berduri ................... Callichthyidae b. Mulut terletak di bagian ventral, umumnya tanpa sungut (barbel), tidak mempunyai sirip adiposa berduri ........................ Loricariidae Ordo Perciformes Kunci Menuju Famili 1. a. Sisik berukuran sedang hingga besar, umumnya stenoid, tersebar merata .............................................. 2 b. Sisik berukuran kecil, umumnya sikloid, sebagian besar permukaan tubuh terbuka (tanpa sisik) ......... 5 2. a. Linea lateralis lengkap ............................................. 3 b. Linea lateralis terputus ............................................. Cichlidae 3 a. Mata berukuran kecil, kepala berukuran relatif lebih kecil dibanding ukuran tubuh ................................. Osphronemidae b. Mata berukuran sedang-besar .................................. 4 4. a. Operkulum terdapat modifikasi berupa duri ............ Serranidae b. Operkulum tanpa tonjolan ........................................ Lutjanidae 5. a. Ekor bercangak, tubuh sangat pipih, jari-jari pertama sirip perut sangat panjang ............................................. Menidae b. Ekor sangat bercangak (forked), peduncula caudal sempit .................................................................. Carangidae B. SUPER CLASSIS TETRAPODA 1. Classis Amphibia A. Tujuan a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri Classis Amphibia pada spesimen amatan katak dan kodok. b. Mahasiswa dapat mendeskripsikan ciri-ciri Classis Amphibia pada spesimen amatan katak dan kodok. c. Mahasiswa dapat menggambar morfologi dari spesimen amatan katak dan kodok disertai dengan keterangan gambar. d. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan spesimen amatan katak dan kodok sampai pada tingkatan genus. e. Mahasiswa dapat menuliskan berbagai perbedaan antara katak dan kodok. B. Materi Klasifikasi Amphibia terbagi dalam tiga ordo, yaitu: Gymnophiona, Urodela dan Salientia. Di Pulau Jawa hanya dapat ditemukan dua ordo saja, yaitu Gymnophiona dan Salientia. Sedangkan Urodela dapat ditemukan di Amerika Utara, Eropa dan Asia Utara. Gymnophiona di Jawa hanya diwakili oleh satu spesies, sedangkan Salientia diwakili lebih dari 30 spesies. Untuk membedakan ordo yang ada di Jawa sangat mudah sekali, yaitu dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan morfologinya. Gymnophonia, badan seperti cacing tanpa kaki. Salientia, badan seperti katak, mempunyai dua pasang kaki, kaki belakang lebih panjang, lebih kuat, digunakan untuk melompat. Dalam mempelajari ciri-ciri Amphibia (Gambar 1), digunakan katak dan kodok sebagai wakilnya. Tubuh katak dan kodok dibedakan atas: kepala, badan dan anggota gerak, tidak mempunyai leher dan ekor. 1. Kepala Bentuk segitiga, dengan moncong yang tumpul, celah mulut lebar, bentuknya lebih kurang seperti bulan sabit. Rahang bawah tidak bergerigi, rahang atas bergerigi atau tidak. Pada umumnya vomer bergerigi, kedudukan vomer terhadap nares posteriores sangat penting untuk identifikasi. Di dalam mulut terdapat lidah yang melekat pada dasar mulut bagian anterior, ujungnya berbelah atau tidak (utuh), runcing atau tumpul. Lubang hidung sepasang terletak di dekat ujung moncong. Mata besar dan bulat, menonjol arah dorso lateral dilengkapi dengan kelopak mata atas yang tebal berdaging dan kelopak mata bawah yang lebih tipis. Kedua kelopak mata tidak dapat digerakkan. Di sebelah dalam kedua macam kelopak mata terdapat kelopak mata ke-3 yang berupa selaput tipis dan disebut membran nictitans. Selaput ini dapat digerakkan ke arah dorsal menutupi bola mata, yang berguna untuk menjaga agar bola mata tidak kering apabila hewan berada di darat, atau untuk melindungi bola mata apabila hewan berada di air. Di sebelah ventro caudal mata terdapat selaput pendengar yang lebar dan jelas, atau dapat pula tertutup kulit sehingga bentuknya tidak jelas, yang disebut membran tympanum. Di sebelah dorso caudal selaput pendengar pada kodok terdapat kelenjar paratoid yang bentuknya lebih kurang oval atau bulat panjang. Kelenjar ini merupakan kelenjar bisa yang menghasilkan getah berwarna putih. Pada permukaan dorsal kepala kodok terdapat pematang-pematang tulang yang dapat dibedakan atas pematang postorbital dan pematang supra-tympanum. 2. Badan Pada kodok badan bulat, pada katak lebih langsing. Pada kodok punggung hampir rata, pada katak ada penonjolan pada tempat persendian antara columna vertebralis dengan gelang panggul. Pada ujung posterior terdapat lubang kloaka, lubang ini dapat polos tetapi ada pula yang dilengkapi dengan jumbai-jumbai. 3. Anggota gerak (tungkai) Tungkai depan lebih pendek, dibedakan atas: humerus, radius ulna, carpalia dilengkapi dengan 4 buah jari. Tungkai belakang lebih panjang (pada katak jauh lebih panjang), dibedakan atas femur, tibia-fibula, fibiale, fibulare dan dilengkapi dengan 5 buah jari. Di antara jari-jari pada umumnya terdapat selaput tipis yang ukuran lebarnya tergantung pada jenisnya. Ujung jari dapat tumpul atau dilengkapi bantalan yang lebar dan tebal. Pada sisi ventral jari-jari kadang-kadang dilengkapi dengan tuberculum subarticulare. Pada tepi-tepi telapak kaki belakang sering dilengkapi dengan tuberculum metatarsal luar atau tuberculum metatarsal dalam. 4. Kulit Keadaan kulit dapat kasar berbintil-bintil dan kering, dapat pula licin dan lembap. Tidak dijumpai adanya sisik, kadang-kadang kulit membentuk lipatan-lipatan tertentu baik pada badan atau pada tungkai. Warna kulit katak ditentukan oleh adanya khromatophore pada kelenjar kulit. Khromatophore yang mengandung pigmen hitam dan coklat disebut melanophore, sedangkan lipophore mengandung pigmen merah, kuning dan orange. 5. Gelang bahu dan gelang panggul. Di samping ciri-ciri morfologi luar, ciri-ciri anatomi terutama struktur gelang bahu dan gelang panggul mempunyai arti penting dalam klasifikasi. a. Gelang bahu Struktur gelang bahu bagian ventral, terutama coracoid dan precoracoid dapat berbeda antara satu dengan yang lain. Tulang-tulang tersebut dapat tersusun tumpang-tindih antara pasangan masing-masing atau dapat pula bertemu dan bersatu pada bagian tengah. b. Gelang panggul Bentuk diapophysis sacralis dapat berbeda-beda ada yang silindris (pada katak) ada pula yang lebar (pada kodok). Di antara kedua macam struktur dan bentuk-bentuk itu, terdapat bentuk-bentuk variasi yang cukup banyak. Gambar 1. Beberapa ciri morfologis untuk identifikasi amphibi: a. Lipatan dorsolateral; b. Tympanus; c. Moncong; d. Tonjolan kawin; e. Selaput jari; f. Tonjolan antar ruas; g. Ujung jari licin; h. Ujung jari berbentuk gada; i. Ujung jari pipih dengan lekuk sirkum marginal; j. Ujung jari seperti spatula; k. Ujung bercakar; l. Kelenjar paratoid; m. Alur supraorbital; n. Gelang bahu arsiferal; o. Gelang bahu firmisteral; p. Alur parietal. C. Alokasi Waktu: 3 x 50 menit D. Sumber Belajar: 1. Hand out 2. Text book 3. Buku Panduan Praktikum Taksonomi Vertebrata 4. Buku kunci identifikasi amphibia E. Alat dan Bahan: Alat : Lup, pinset, nampan plastik, alat tulis. Bahan : Katak dan kodok F. Kegiatan1: 1. Isilah bagian-bagian dari morfologi katak berikut! 1. 10 2. 11. 3. 12 4. 13. 5. 14. 6. 15. 7. 16. 8. 17. 9. 2. Perhatikan gambar berikut 3. Berdasarkan literatur yang Saudara punya, buatlah perbandingan karakteristik dalam bentuk tabel. a. Perbandingan karakteristik antara kodok dan katak. No Karakteristik pembeda Kodok Katak b. Perbandingan karakteristik antara katak jantan dan betina. No Karakteristik pembeda Katak jantan Katak betina 4. Jelaskan hubungan antara karakteristik khusus yang dipunyai dengan habitat dari spesimen kodok , katak sawah, dan katak pohon! Kegiatan 2. Dalam melaksanakan praktikum, ikutilah langkah-langkah berikut! 1. Identifikasi ciri-ciri spesimen amatan yang terdiri dari katak dan kodok. Perhatikan: - Bentuk kepala - Gigi - Membran nictitans - Membran tympanum - Bentuk badan (bulat/langsing) - Ada tidaknya tonjolan pada punggung - Kulit (tekstur, warna, motif) - Kloaka - Anggota gerak/tungkai (ukuran, bagian-bagian dari tungkai depan dan belakang) 2. Deskripsikan ciri-ciri spesimen amatan katak dan kodok berdasarkan identifikasi yang kalian lakukan. 3. Gambar morfologi dari spesimen amatan katak dan kodok disertai dengan keterangan gambar. 4. Tentukan tingkatan taksonomi (klasifikasi) spesimen amatan katak dan kodok sampai tingkatan suku menggunakan kunci identifikasi yang ada. -Selamat bekerja- Kunci Identifikasi Suku untuk Bentuk Dewasa 1 A Tubuh berbentuk panjang dan ramping, tanpa tungkai ............... Ichthyophiidae B Tunuh dengan empat tungkai, kepala jelas ............ 2 2 A Kulit kasar, tertutup bintil-bintil Bufonidae B Kulit paling banyak dengan bintil kecil, biasanya lembut .................. 3 3 A Tungkai relatif pendek .................. 4 B Tungkai relatif panjang ............ 5 4 A Kepala dan mata relative besar, jari dan jari kaki tanpa ujung yang membesar ........................ Megophrydae B Tubuh kecil sampai besar dan gemuk dengan jari atau tanpa ujung melebar, kepala relatif kecil dan runcing, mulut dan mata kecil ......................... Microhylidae 5 A Tubuh ramping, ujung jari tangan biasanya melebar dan pipih dengan alur melingkar memisahkan bagian atas lempengan dari bagian yang bawah .......................................... 6 B Tubuh gemuk, ujung jari tangan tidak melebar, atau bila membesar, tidak pipih dan tidak ada lekuk sirkum marginal ......................................... 7 6 A Warna tubuh bagian atas umumnya berbeda dengan samping, ada sepasang lipatan dorsolateral atau samar-samar. Jari dan ibu jari dengan ujung pipih yang membesar, mata tidak terlalu besar, moncong relatif meruncing, umumnya tidak arboreal .......................................... Ranidae (Raninae) B Tubuh agak ramping, mata relatif besar, moncong pendek, jari dan tangan dengan ujung lebar dan pipih, tidak ada lipatan dorsolateral, habitat arboreal ...... 9 7 A Kepala umumnya tidak pipih, jari tanpa cakar, tetapi mungkin membesar, walaupun tidak pipih Ranidae (Dicroglossinae) B Kepala pipih, jari-jari berujung cakar hitam ............ Papidae 8 A Jenis besar, pipih, jari dengan cakar hitam ........... Xenopus laevis B Jenis kecil, tubuh relatif normal Hymenochirus sp. 9 A Tulang gelang bahu firmisternal Rhacophoridae B Tulang gelang bahu arsiferal ... Pelodryadidae B. SUPER KELAS TETRAPODA 2. Kelas Reptilia A. Tujuan: 1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri Classis Reptilia pada spesimen amatan kura-kura/penyu dan buaya. 2. Mahasiswa dapat mendeskripsikan ciri-ciri Classis Reptilia pada spesimen amatan kura-kura/penyu dan buaya. 3. Mahasiswa dapat menggambar morfologi dari spesimen amatan kura-kura/penyu disertai dengan keterangan gambar. 4. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan spesimen amatan kura-kura/penyu sampai pada tingkatan genus. B. Materi: Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan peru-paru. Secara umum kelas reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya: Tuatara), Testudinata /Chelonia (contohnya: Penyu, Kura-kura, dan Bulus), Squamata (Contohnya: Serpentes, Lacertilia, dan Amphisbaena) dan Crocodilia (contohnya: Buaya, Aligator, Senyulong, dan Caiman). Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit. Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru (Zug, 1993). Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Jantung pada reptil memiliki 4 lobi, 2 atrium dan 2 ventrikel. Pada beberapa reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan berdarah dingin yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur suhu tubuhnya, reptil melakukan mekanisme basking yaitu berjemur di bawah sinar matahari. Saluran ekskresi Kelas Reptilia berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang spesifik untuk ordo-ordo reptilia. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada Ordo Squamata yaitu Sub-ordo Lacertilia dan Sub-ordo Ophidia. Kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat pada Ordo Chelonia dan Ordo Crocodilia. Pada anggota lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting untuk identifikasi. Semua reptil memiliki gigi kecuali pada ordo testudinata. Pada saat jouvenile, reptil memiliki gigi telur untuk merobek cangkang telur untuk menetas, yang kemudian gigi telur tersebut akan tanggal dengan sendirinya saat mencapai dewasa. Beberapa jenis reptil memiliki alat pendengaran dan ada yang yang dilengkapi telinga luar atupun tidak. Pada beberapa jenis lainnya, alat pendengaran tidak berkembang. Mata pada reptil ada yang berkelopak dan ada yang tidak memiliki kelopak mata. Kelopak mata pada reptil ada yang dapat digerakkan dan ada yang tidak dapat digerakkan dan ada juga yang berubah menjadi lapisan transparan. Habitat dari Kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan akuatik seperi penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu Ordo Crocodilia dan beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa Sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada kebanyakan Sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, bebepapa anggota Ordo Testudinata, sub terran pada sebagian kecil anggota Sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil Sub-ordo Ophidia dan Lacertilia. C. Alokasi Waktu: 3 x 50 menit D. Sumber Belajar: 1. Hand out 2. Text book 3. Buku Panduan Praktikum Taksonomi Vertebrata 4. Buku kunci identifikasi reptilia E. Alat dan bahan: Alat: Nampan, lup, penggaris Bahan: Kura-kura dan atau penyu F. Kegiatan 1 1. Perhatikan dan pelajari bagian-bagian karapaks dan plastron pada Gambar 1 dan 2 yang mewakili ordo Testudinata/Chelonia. FIGURE 1. Carapacial scutes of the same type (in this case, laterals) are numbered from anterior to posterior FIGURE 2. Scutes of the carapace (A) and the plastron (B) are identified by type andposition. 2. Bandingkan perbedaan karapaks dan plastron pada Gambar 3, 4, dan 5. Gambar 3. Kura-kura bening mas Gambar 4. Kura-kura duri Gambar 5. Kura-kura rote No Pembeda Kura-kura 1 Kura-kura 2 Kura-kura 3 3. Berdasarkan bentuk kepala, bandingkan karakteristik dari empat jenis yang mewakili kelompok Crocodilia pada Gambar 6. Gambar 6. Beberapa bentuk kepala kelompok Crocodilia NNo Pembeda Alligator Caiman Crocodile Gavial Kegiatan 2. Berdasar spesimen amatan kura-kura/penyu yang disediakan laboratorium/dibawa mahasiswa 1. Identifikasi spesimen amatan kura-kura/penyu yang ada. 2. Menggambar dan memberi keterangan bagian-bagian tubuh dari spesimen amatan. 3. Mendeskripsikan secara jelas karakteristik spesimen amatan. 4. Menentukan klasifikasi specimen amatan sampai dengan tingkatan famili. SUPER KELAS TETRAPODA 2. Kelas Reptilia Ordo Squamata A. PENDAHULUAN Ordo Squamata dibedakan menjadi 3 sub ordo yaitu : 1. Subordo Lacertilia/Sauria 2. Subordo Serpentes/Ophidia 3. Subordo Amphisbaenia Adapun ciri-ciri umum anggota ordo Squamata antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting. Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan kultikula baru di bawah lapisan yang lama. Pada Subordo Ophidia, kulit/sisiknya terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian. Bentuk dan susunan sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar klasifikasi karena polanya cenderung tetap. Pada ular sisik ventral melebar ke arah transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum. Anggota squamata memiliki tulang kuadrat, memiliki ekstrimitas kecuali pada Subordo Ophidia, Subordo Amphisbaenia, dan beberapa spesies Ordo Lacertilia. Perkembangbiakan ordo squamata secara ovovivipar atau ovipar dengan vertilisasi internal. Persebaran Squamata sangat luas, hampir terdapat di seluruh dunia kecuali Arktik, Antartika, Irlandia, Selandia Baru, dan beberapa pulau di Oceania. SUBORDO LACERTILIA/ SAURIA Subordo Lacertilia umumnya adalah hewan pentadactylus dan bercakar, dengan sisik yang bervariasi. Sisik tersebut terbuat dari bahan tanduk namun ada pula yang sisiknya termodifikasi membentuk tuberkulum. Dan sebagian lagi menjadi spina. Sisik-sisik ini dapat mengelupas. Pengelupasannya berlangsung sebagian dalam artian tidak semua sisik mengelupas pada saat yang bersamaan Ciri lain yang membedakan dari Subordo Ophidia adalah rahang bawahnya yang bersatu pada rahang atas pada bagian yang disebut satura. Selain itu pada Lacertilia mereka memiliki kelopak mata dan lubang telinga. Selain itu pada beberapa anggota Subordo Lacertilia, ada yang dapat melepaskan ekornya. Contohnya pada Mabouya sp Lidah Lacertilia panjang dan adapula yang bercabang. Pada beberapa spesies lidah ini dapat ditembakkan untuk menangkap mangsa seperti pada Chameleon sp. Kunci pengenalan spesies Ciri-ciri yang dapat digunakan untuk identifikasi lacertilia adalah pola sisik dorsal kepala, jumlah sisik lateral tubuh, susunan sisik pada ekor dan panjang ekor. SUBORDO OPHIDIA/ SERPENTES Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah seluruh anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastik. Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya termodifikasi memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya vestigial atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor yang disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan Thermosensor. Ada sebagian famili yang memiliki gigi bisa yang fungsinya utamanya untuk melumpuhkan mangsa dengan jalan mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa. Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu : 1. Aglypha: tidak memiliki gigi bisa. Contohnya pada Famili Pythonidae, dan Boidae. 2. Proteroglypha: memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka (bagian depan). Contohnya pada Famili Elapidae dan Colubridae. 3. Solenoglypha: memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat tidak dibutuhkan. Contohnya pada Famili Viperidae. 4. Ophistoglypha: memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya. Contohnya pada Famili Hydrophiidae Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa, perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya, yaitu : 1. Haemotoxin: bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu dengan cara menyerang sel-sel darah. Contoh famili yang memiliki bisa tipe ini adalah: Colubridae dan Viperidae. 2. Cardiotoxin: masih berkaitan dengan sistem peredaran darah, bisa jenis ini menyerang jantung dengan cara melemahkan otot-otot jantung sehingga detaknya melambat dan akhirnya dapat berhenti. Contoh Famili yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik. Dalam arti, banyak famili yang sebagian anggotanya memiliki bisa jenis ini. 3. Neurotoxi : bisa yang menyerang syaraf, menjadikan syaraf mangsanya lemah sehingga tidak dapat bergerak lagi dan dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae dan Hydrophiidae adalah contoh famili yang memiliki bisa tipe ini. Kunci Pengenalan Spesies Untuk mengidentifikasi ular yang paling akurat adalah dengan melihat sisik di kepalanya. Cara lain adalah dengan melihat bentuk morfologi tubuhnya dan motif pada sisiknya. SUBORDO AMPHISBAENIA Subordo Amphisbaenia merupakan bagian dari Ordo Squamata yang tidak berkaki namum memiliki kenampakan seperti cacing karena warnanya yang semu merah muda dan sisiknya yang tersusun seperti cincin. Kelangkaanya dan kehidupnya yang meliang menjadikan sedikit keterangan yang bisa diketahui dari subordo ini. Kepalanya tidak memisah dari lehernya, tengkorak terbuat dari tulang keras, memiliki gigi median di bagian rahang atasnya tidak memiliki telinga luar dan matanya tersembunyi oleh sisik dan kulit. Tubuhnya memanjang dan bagian ekornya hampir menyerupai kepalanya. B. TUJUAN Mempelajari karakteeristik Reptilia (kura-kura/penyu dan buaya) yang penting untuk identifikasi. B. ALAT DAN BAHAN Alat: Nampan, lup, penggaris Bahan: 3 jenis cicak, kadal, tokek D. KEGIATAN 1. Identifikasi perbedaan-perbedaan karakteristik antara ke tiga jenis cicak yang kalian bawa! No Pembeda Cicak 1 Cicak 2 Cicak 3 2. Pelajarilah Gambar pola umum sisik kepala pada Gambar 1, 3. Berdasarkan Gambar 1. bandingkan morfologi umum dan pola sisik kepala antara tokek dan kadal! No Pembeda Tokek Kadal 4. Gambar spesimen-spesimen amatan yang kalian bawa. 5. Deskripsikan karakteristik dari spesimen-spesimen amatan tersebut. 6. Tentukan klasifikasi sampai dengan tingkatan famili. 3. Classis Aves PENGANTAR Aves merupakan kelompok vertebrata yang hampir seluruh tubuhnya tertutup oleh bulu-bulu. Tubuh dapat dibedakan atas: paruh, kepala, leher, badan, sayap, tungkai dan ekor. 1. Bulu Bulu dibedakan atas dua macam: a. Bulu lengkap (plumae), terdiri atas: batang bulu dan lembaran bulu. Batang bulu dibedakan atas: calamus dan rachis. Lembaran bulu, tersusun atas deretan barbae, di antara barbae terdapat barbulae berkait. b. Bulu tak lengkap dibedakan atas: 1) Plumulae, dengan bagian-bagian: calamus (pendek), barbae (tak membentuk lembaran bulu), barbulae (tak berkait). 2) Filoplumae, dengan bagian-bagian: calamus dan rachis (batas tak jelas), berbae (pada bagian ujung). Pada bulu ini tidak dijumpai adanya barbulae. Guna bulu-bulu: untuk rnembungkus tubuh, menjaga suhu badan dan untuk terbang. Warna bulu disebabkan oleh adanya substansi kimia dan elemen-elemen fisik. Warna bulu yang disebabkan oleh adanya substansi kimia ialah karena adanya pigmen biochrome yang menyerap dan memantulkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Warna-warna yang timbul ialah: merah, jingga, kuning, hitam, kelabu, coklat, hijau. Warna-warna yang disebabkan oleh adanya elemen-elemen fisik ialah: putih, biru, gemerlapan. Kegunaan warna-warna bulu: untuk membaurkan tubuh dengan lingkungan untuk mengelabuhi predator, untuk menarik pasangannya. 2. Paruh Beberapa ciri paruh: a. panjang: bila ukurannya lebih panjang dari kepala. b. pendek: bila ukurannya lebih pendek dari kepala. c. berkait: bila bagian atas lebih panjang serta melengkung menutup bagian bawah. kadang-kadang dikatakan berkait, bila ujungnya melengkung. d. pipih datar: bila paruh itu lebih mendatar dari pada meninggi. e. lurus: bila garis antara bagian atas dan bagian bawah lurus dari pangkal sampai ujung paruh. f. bergerigi: bila tepi paruh bagian atas bergerigi. g. berkantung lebar: bila dagu dan tenggorokan melebar membentuk kantung. 3. Sayap Beberapa ciri sayap: a. panjang: bila ukuran dari bengkokan kedua sampai ke ujung, lebih panjang dari pada badan. b. pendek: bila bagian itu lebih pendek dari pada badan. c. bulat: bila bagian tengah merupakan bulu-bulu yang paling panjang, sisinya berangsur-angsur memendek berpangkal dan ke ujung sayap. d. runcing: bila primarius paling ujung merupakan bulu-bulu yang panjang. 4. Tarsometatarsus Ciri-ciri bagian ini adalah: a. scutellata: bila sisik tersusun saling menutup. b. reticullata: bila sisik tidak teratur. c. serrata: bila sisik pada tepi posterior tersusun berigi-rigi. d. boated: bila tarsusus tidak bersisik. Ciri-ciri jari: a. rata (datar): hallux melekat pada ujung tarsus seperti jari-jari yang lain. b. terangkat: hallux melekat pada bagian yang lebih tinggi di atas perlekatan jari-jari yang lain. Ciri-ciri cakar: a. runcing: cakar melengkung dan runcing b. obtuse: cakar agak melengkung, ujung tumpul. Tipe-tipe kaki: 1. Tipe bertengger, dibedakan atas beberapa macam, misalnya: * passerine: hallux melekat datar dengan jari-jari lain. * zygodactyla: 2 jari-jari ke depan, 2 yang lain ke belakang. 2. Tipe berjalan: hallux terangkat sehingga kedudukannya lebih tinggi daripada jari yang lain. 3. Tipe berenang: dibedakan atas beberapa macam, misalnya: * palmata: 3 jari depan dihubungkan oleh selaput jari ke-1 bebas. * totipalmata: keempat jari dihubungkan oleh selaput yang halus. 5. Ekor Yang dimaksud dengan ekor adalah bulu-bulu ekor (rectriches). Panjang pendeknya rectriches pada tepi posterior ekor berbeda-beda dan memperlihatkan ciri yang spesifik. Beberapa ciri: a. panjang: bila ukurannya lebih panjang dari badan; b. pendek: bila ukurannya lebih pendek/sama dengan daripada bagian badan; c. rata: semua bulu sama panjang; d. bulat: bulu tengah jauh lebih panjang, makin ke tepi berangsur memendek; e. runcing: bulu tengah jauh lebih panjang daripada bulu yang lain KEGIATAN A. Tujuan Melalui kegiatan pengamatan, diharapkan mahasiswa dapat: 1. Menunjukkan ciri dan karakter pembeda anggota Aves pada gambar sketsa. 2. Mendeskripsikan anggota Aves 3. Mengidentifikasi dan menentukan klasifikasi anggota Aves dengan menggunakan buku Panduan Lapangan B. Alat dan Bahan a. Alat: alat tulis, buku Panduan Lapangan Burung Jawa dan Bali b. Bahan: tiga jenis burung pipit yang masih hidup, yaitu burung pipit, merpati, dan burung puyuh C. Cara Kerja 1. Amati dengan cermat ketiga jenis burung yang telah disediakan. Perhatikan ciri penting yang membedakan ketiga jenis tersebut. 2. Rangkumlah karakter pembeda ketiga jenis burung tersebut dalam suatu tabel. 3. Setiap kelompok melaporkan satu jenis burung yang berbeda. 4. Gambarlah sketsa burung tersebut dan lengkapi dengan nama bagian-bagian tubuhnya yang merupakan ciri penting. 5. Susunlah deskripsi spesies tersebut dan tentukan klasifikasinya hingga tingkat spesies. Anda dapat menggunakan buku panduan lapangan pengenalan burung yang telah disediakan. Gambar 1. Morfologi burung Gambar 2. Tipe kaki burung; A. petengger-passerin; B. pejalan; C. petengger-zygodactyla; D. perenang; pencengkeram 4. Classis Mammalia A. Tujuan : Mengenal ciri-ciri Mammalia yang penting untuk identifikasi. B. Bahan : Beberapa jenis anggota Mammalia. C. Dasar Pengetahuan: Dalam mengidentifikasi anggota Mammalia dapat dilakukan dengan mempelajari anatomi kerangkanya maupun morfologinya. 1. Anatomi kerangka Bagian kerangka aksial yang penting dalam identifikasi antara lain tengkoraknya, sedangkan bagian apendicular adalah anggota gerak. Tengkorak dibedakan atas cranium dan mandibula. Cranium terdiri atas wadah otak, biasanya merupakan bagian tubular (misal Homonidae) dan rosterum adalah bagian yang membentuk moncong. Bagian dorsal dari cranium adalah yang penting nasale, premaxilla, frontal, interparietal, arcus, sigomaticus, iacrimale, alur occipital dan alur sagital. Bagian terbesar dari herbivora, mastoid, tulang ini menjorok pada carnivora. Bagian ventral cranium antara lain: a. auditoribullae: tidak ada atau tidak komplet, sangat longgar atau menempel pada tengkorak (misalnya Cetacea). b. pterygoid: besar dan bentuknya jelas pada Odontoceti, sering terpadu dengan alisphemid pada Mammalia lainnya. 2.. Rahang bawah a. procesus corovidalis: sangat besar (misalnya pada carnivora) b. procesus condylus: artikulasi dengan rahang bawah kuat pada carnivora, artikulasi dengan rahang bawah longgar pada herbivora. c. Procesus angularis: terbesar pada herbivora terutama hystricomophe. 3. Gigi Jumlah dan bentuk gigi juga sangat penting dalam identifikasi. Pada dasarnya Mammalia mempunyai gigi heterodont (kecuali pada Cetacea). Tipe-tipe gigi: a. tipe bunodont, pada hewan omnivora b. tipe secodont pada hewan carnivora c. tipe lopodont pada kebanyakan herbivora d. tipe bilopodont pada lagomorpha dan beberapa rodentia e. tipe selendont pada kebanyakan Artiodoctyla 4. Anggota gerak: Kedua pasang anggota gerak (kaki depan dan belakang), terdapat komponen dasar, yaitu: a. segmen proximate walaupun pola dasar sama tapi struktur luarnya berbeda-beda. Perbedaan ini dapat tercermin pada postur kaki, yaitu: bersifat platigrade, digitigrade dan unguligraded. b. segmen tengah c. segmen distal Alat gerak ini banyak mengalami perubahan sesuai dengan hidupnya, misalnya: a. Pada mammal Cursorial, metacarpal dan metatarsal sangat memanjang dan ramping. b. Pada mammal Saltatorial, metatarsal memanjang. c. Pada mammal Aquatis, kaki depan berubah menjadi fliper. d. Kaki depan terdiri atas humerus, ulna, radius, carpal, metacarpal serta phalanges. e. Kaki belakang terdiri atas femur, tibia, fibula, pattela, tarsal, metatarsal dan phalanges. 5. Morfologi Untuk identifikasi anggota Mammalia melalui morfologinya, maka yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut. a. Pola warna Secara umum warna tubuh Mammalia dapat dibedakan atas warna bagian dorsal dan warna bagian ventral, beberapa mammalia memiliki warna tertentu. Dalam hal ini perlu diperhatikan apakah pola warna itu tersusun oleh belang-belang, bercak-bercak atau bintik-bintik. Pola warna ekor sangat penting artinya bagi pengenalan hewan yang bersangkutan. Ekor sering mempunyai dua warna yang susunannya berbeda-beda, misalnya: satu warna di bagian pangkal dan warna yang lain di bagian ujung, atau satu warna di sisi dorsal dan warna yang lainnya di sisi ventral. b. Ukuran tubuh Ukuran panjang hendaknya dinyatakan dalam milimeter, dan ukuran berat dinyatakan dalam gram dan kilogram. Bagian-bagian yang perlu diukur, misalnya: * kepala badan: ukuran panjang mulai dari moncong sampai anus; * ekor: mulai dari anus sampai ujung ekor (tidak termasuk panjang rambut pada ujung ekor); * kaki belakang: mulai mulai dari tumit sampai ujung jari terpanjang (tidak termasuk cakar); * telinga: mulai dari takik (lekukan) pada pangkal telinga sampai ujung telinga (tidak termasuk rambut-rambut pada ujung telinga). c. Gigi-gigi Bentuk, struktur dan formula gigi, penting artinya dalam pengenalan hewan yang bersangkutan. Bentuk dan struktur gigi berkaitan dengan fungsinya, sedangkan fungsi gigi berkaitan dengan jenis makanan dan cara makannya. d. Glandula mammae Puting susu dan beberapa mammalia sangat membantu dalam pengenalan jenisnya. Glandula mammae biasanya tersusun berpasangan, terletak di daerah pektoral atau di daerah pelvis, atau terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok di daerah pelvis atau berderet-deret memanjang dari pektoral sampai pelvis. D. Pelaksanaan: 1. Identifikasi seekor tikus, kelinci, kucing yang disediakan dan buatlah deskripsinya. LATIHAN 2 A. Tujuan: Identifikasi dan mengenal jenis anggota Mammalia. B. Bahan: Beberapa jenis anggota Mammalia di Kebun Binatang Surabaya. Alat: Buku panduan lapangan, kamera, buku catatan. C. Dasar Pengetahuan: Mammalia merupakan kelompok vertebrata yang merniliki ciri-ciri umum sebagai berikut: kulit tertutup oleh rambut-rambut dalam kulit terdapat glandula sudorifera dan glandula sebacea mempunyai glandula mammae, mempunyai daun telinga (kecuali Monotremata). Jari-jari pada tiap kaki/tangan biasanya lima atau kurang, bersifat platigrade, digitigrade atau unguligrade (kecuali yang hidup di air), melahirkan anak (kecuali monotremata). Identifikasi dan pengenalan anggota Mammalia yang secara anatomis dilaksanakan di Kebun Binatang Surabaya. KBS juga memiliki beberapa koleksi kerangka antara lain: - Cetacea sp. - Pongo sp. - Sus sp. - Babirussa sp. Identifikasi dan pengenalan anggota Mammalia yang secara marfologis juga dilaksanakan di Kebun Binatang Surabaya antara lain terdapat: 1. Bos sondaicus (banteng) 2. Cerous unicolor (menjangan) 3. Axis axis (menjangan tutul) 4. Tapirus indicus (tapir) 5. Elephas indicus (gajah) 6. Helarctus malayanus (beruang) 7. Panthera pardus (harimau tutul) 8. Panthera tigris (harimau tutul) 9. Macaca fascicularis (kera ekor panjang) 10. Tracyphithecus auratus (lutung) 11. Pongo pygmaeus (orang utan) 12. Hylobates syndactylus (siamang) D. Pelaksanaan: 1. Pengamatan sebanyak mungkin morfologis dari spesimen anggota Mammalia di Kebun Binatang Surabaya dan ditabulasikan. DAFTAR PUSTAKA 1. Hichman, Cleveland P. 1970. Integrated Principles of Zoology. Saint Louis: The C.V. Mosby Company. 2. Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Surabaya: Penerbit Sinar Wijaya. 3. Kardong, Kenneth V. 2002. Vertebrates, Comparative anatomy, Function, Evolution. Boston: McGraw Hill Companies, Inc. 4. Mayr, E. and Peter D.A. 1991. Principles of Systematic Zoology. Singapore: McGraw Hill, Inc. 5. Orr, Robert T. 1975. Vertebrate Biology. Philadelphia: WB Sounders Company. 6. Romer, A.S. 1971. The Vertebrate Body. Tokyo: Topan Company, Limited. 7. Storer, Tracy I. and Robert L. Usinger. 1957. General Zoology. New York: McGraw Hill Book Company, Inc. 8. Young, JZ. 1989. The Life of Vertebrata. Oxford: Clarendon Press. Panduan Praktikum Taksonomi Vertebrata hal 2