| www.unesa.ac.id | pdpt.unesa.ac.id

KAMPUS KETINTANG
Jl. Ketintang, Surabaya 60231

KAMPUS LIDAH WETAN
Jl. Lidah Wetan, Surabaya
info@unesa.ac.id

Buku Panduan Prakt Avertebrata BIOLOGI
FileName : Buku Panduan Prakt Avertebrata BIOLOGI.pdf
FileType : application/pdf
FileSize : 3.93 MB
Download



Plain Text Preview

Panduan Praktikum Avertebrata 1 PRAKATA Panduan Praktikum Taksonomi Avertebrata ini merupakan pegangan dan petunjuk dalam melakukan praktikum. Selain panduan praktikum ini, mahasiswa dapat memanfaatkan buku- buku Avertebrata lainnya sebagai bahan rujukan. Kegiatan praktikum dimaksudkan untuk menunjang kegiatan perkuliahan mata kuliah Taksonomi Avertebrata untuk: a. Mengenal contoh- contoh hewan Avertebrata, terutama yang banyak dijumpai, mempunyai peranan penting bagi manusia atau merupakan contoh yang representatif bagi setiap filum. b. Mempelajari morfologi dan karakteristik setiap takson yang penting untuk identifikasi. c. Mendapatkan keterampilan dalam mengidentifikasi atau mendeterminasi. Melalui kegiatan praktikum, diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami konsep- konsep yang telah diterima pada kegiatan perkuliahan. Surabaya, September 2011 Tim Penyusun 2 Panduan Praktikum Avertebrata Panduan Praktikum Avertebrata 3 DAFTAR ISI halaman Prakata 1 Daftar Isi 3 Pengantar Mikroskop 5 Acara 1 PORIFERA 13 Acara 2 COELENTERATA 20 Acara 3 PLATYHELMINTHES 24 Kegiatan 1 25 Kegiatan 2 27 Acara 4 ASCHELMINTHES 28 Kegiatan 1 31 Kegiatan 2 32 Kegiatan 3 33 Acara 5 ANNELIDA 35 Kegiatan 1 36 Kegiatan 2 37 Acara 6 MOLLUSCA 38 Kegiatan 1 39 Kegiatan 2 42 Kegiatan 3 43 Kegiatan 4 44 Kegiatan 5 46 Acara 7 ARTHROPODA 48 Kegiatan 1 48 Kegiatan 2 50 Acara 8 ECHINODERMATA 68 Kegiatan 1 69 Kegiatan 2 72 BIBLIOGRAFI 73 4 Panduan Praktikum Avertebrata Panduan Praktikum Avertebrata 73 BIBLIOGRAFI Ambarwati R dan Trijoko, 2010. Kekayaan Jenis Anadara di Perairan Pantai Sidoarjo. Berkala Penelitian Hayati, Edisi Khusus ( in press) Ambarwati R dan Trijoko, 2011. Morfologi Fungsional Kerang Batik Paphia undulata ( Bivalvia: Veneridae). Berkala Penelitian Hayati, Edisi Khusus ( in press) Amir I dan Budiyanto A, 1996. Mengenal Spons Laut ( Demospongiae) Secara Umum. Oseana 21( 2): 15- 31. Dharma B, 1988. Siput dan kerang Indonesia I ( Indonesian Shells) . Jakarta: PT. Sarana Graha. Elzinga RJ, 1978. Fundamentals of Entomology. New Delhi: Prentise Hall of India Heryanto, Marsetiowati R, Yulianda F, 2006. Metode survei dan pemantauan populasi satwa; Seri Siput dan Kerang . Pusat Penelitian Biologi- LIPI. Hickman CP, 1970. Integrated Principles of Zoology . Saint Louis: The CV Mosby Company Jasin M, 1992. Zoologi Avertebrata . Surabaya: Penerbit Sinar Wijaya. Kotpal RL, Agarwal SK, Khetarpal RL, 1981. Modern Book of Zoology Invertebrates. Meerut: Rastogi Pub. Lilies C ( Ed), 1991. Kunci Determinasi Serangga . Program Nasional Pelatihan dan Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Mayr E, Peter DA, 1991. Principles of Systematic Zoology . Singapore: McGraw Hill Inc. Meglitsch PA, 1972. Invertebrate Zoology. New York: Oxford University Press. Pechenik JA, 2000. Biology of the invertebrates, 4 th edition. Ridge: McGraw- Hill International Richard AB, Donald H, 1975. An Illustrated Laboratory Text in Zoology, Third Edition. New York: Hold, Rinehart and Winston. Romoser WS dan Stofollano JG, 1998. The Science of Entomology, 4 th Ed. Boston: WCB McGraw- Hill. Schenk ET dan McMaster Jh, 1956. Procedure in Taxonomy. California: Standford University Press. Yusuf K, dkk., 2000. Petunjuk Praktikum Zoologi Avertebrata . FMIPA UM. Yusuf K, dkk., 2005. Zoologi Avertebrata . FMIPA UM. 72 Panduan Praktikum Avertebrata KEGIATAN 2 1. Identifikasi spesimen- speimen echinodermata yang disediakan. 2. Gambarlah spesimen- speimen echinodermata yang disediakan disertai dengan keterangan bagian- bagiannya. 3. Deskripsikan karakteristik dari spesimen- spesimen echinodermata yang kalian amati. 4. Klasifikasikan spesimen- speimen echinodermata yang kalian amati sampai dengan tingkatan takson ordo. Panduan Praktikum Avertebrata 5 PENGANTAR MIKROSKOP PENDAHULUAN Pancaindera manusia memiliki kemampuan yang terbatas, banyak masalah mengenai organisme yang ingin dipecahkannya hanya dapat diperiksa dengan menggunakan alat- alat. Salah satu alat yang paling sering digunakan ialah mikroskop Latin: micro = kecil, scopium = penglihatan), yang memungkinkan seseorang dapat mengamati objek ( Latin: objectum = sesuatu yang diketengahkan) dan gerakan yang sangat halus sehingga tidak dapat dilihat oleh kekuatan mata telanjang. Mikroskop adalah suatu alat yang digunakan untuk melihat benda- benda mikroskopis, atau benda- benda yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Ada berbagai macam mikroskop. Macam yang paling sederhana ialah kaca pembesar. Akan tetapi biasanya, apabila seseorang menyebut mikroskop, maka yang dimaksudkan ialah suatu alat yang terdiri atas beberapa lensa yang disusun dalam sebuah tabung, jadi suatu mikroskop majemuk. Macam mikroskop majemuk yang biasa digunakan dalam laboratorium biologi ialah mikroskop monokuler ( Latin: mono = satu, oculus = mata). Mikroskop ini digunakan dengan satu mata sehingga bayangan yang terlihat hanya memiliki panjang dan lebar, dan hanya sedikit memberikan gambaran mengenai tingginya. Kebanyakan objek yang akan diselidiki dengan menggunakan mikroskop monokuler ini, harus memiliki ukuran yang kecil atau tipis sehingga dapat ditembus cahaya. Bentuk dan susunan objek tersebut dapat dibedakan karena beberapa bagian objek itu lebih banyak menyerap cahaya daripada bagianbagian yang lain. Cara pengamatan ini menggunakan cahaya yang ditembuskan. BAGIAN- BAGIAN MIKROSKOP Mikroskop memiliki bagian- bagian yang harus Anda cermati. Bagian- bagian mikroskop dan fungsinya dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Lensa okuler adalah lensa yang berhubungan dengan penglihatan, tempat mata mengamati objek. Lensa ini memiliki ukuran yang bermacam- macam. 2. Lensa objektif adalah lensa yang langsung berhubungan dengan objek yang diamati. Lensa objektif merupakan susunan lensa, biasanya tersusun atas 3 atau 4 buah dengan 6 Panduan Praktikum Avertebrata perbesaran masing- masing 4x, 10x, 45x, dan 100x. Ketiga lensa objektif dilekatkan pada revolver. 3. Tabung mikroskop menghubungkan lensa objektif dan okuler. 4. Revolver , berguna untuk memilih lensa objektif yang akan digunakan. Caranya dengan memutar revolver sampai terdengar bunyi klik. 5. Sekrup pengarah , ada dua macam: a. Sekrup pengatur kasar merupakan alat untuk menggerakkan tabung mikroskop secara kasar sehingga objek yang terfokus dapat terlihat. b. Sekrup pengatur halus merupakan alat untuk menggerakkan tabung mikroskop secara lebih halus dan teliti. Alat ini dipakai setelah objek terfokuskan dengan memutar sekrup pengarah kasar. 6. Meja sediaan ( preparat). Pada bagian tengahnya terdapat lubang untuk melewatkan sinar. Pada bagian sisi meja preparat terdapat dua penjepit untuk memegang kaca objek. Pada jenis mikroskop tertentu, terdapat pemegang kaca objek yang dapat digerakkan ke depan atau belakang dan ke kanan atau kiri. 7. Kondensor , untuk mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan difokuskan pada objek. Kondensor dapat dinaik- turunkan dengan sekrup pemutar kondensor. 8. Diafragma , terletak di bawah kondenser. Diafragma berfungsi untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke objek. Di bawahnya ada cincin filter; ada yang bisa digeser keluar dan ada yang tidak. 9. Cermin , untuk mengarahkan cahaya pada objek. Ada dua macam cermin, yaitu cermin datar dan cermin cekung. Cermin datar digunakan apabila sumber cahaya yang digunakan kuat, dan sebaliknya apabila sumber cahayanya lemah ( misal sinar lampu) digunakan cermin cekung. 10. Pemegang ( lengan mikroskop) merupakan tempat untuk memegang pada waktu mengangkat mikroskop. 11. Kaki mikroskop , kukuh dan berat berguna supaya mikroskop dapat berdiri dengan stabil. Pada halaman 4 terdapat gambar mikroskop monokuler. Cermatilah gambar tersebut, dan cocokkanlah bagian- bagian mikroskop pada gambar dengan mikroskop yang ada di hadapan Anda. Adakah perbedaannya ? Bagian mana saja yang berbeda, dan tunjukkan bagian- bagian mikroskop yang berbeda tersebut ! Panduan Praktikum Avertebrata 71 Gambar 2. Permukaan aboral bintang laut Gambar 3. Permukaan oral bintang laur 1. 4. 3. 2. 1. 2. 3. 4. 6. 5. 70 Panduan Praktikum Avertebrata 2. Bintang laut memiliki permukaan oral ( Gambar 2) dan aboral ( Gambar 3). Tentukan dan jelaskan bagian- bagian dari masing- masing permukaan tersebut dengan istilah- istilah yang telah disediakan! A Arm B Arms C Ambulacral grooves D spine E Sensory tentacles F mouth G Central disc H madreporite I Tube feet J anus Panduan Praktikum Avertebrata 7 Gambar 1. Mikroskop 8 Panduan Praktikum Avertebrata Tulislah bagian- bagian mikroskop ( sesuai gambar) di bawah ini : No. Nama bagian mikroskop No. Nama bagian mikroskop a j b k c l d m e n f o g p h q i r CARA PENGGUNAAN MIKROSKOP Seperti halnya alat- alat kompleks dan mikro lainnya, mikroskop akan mudah rusak apabila digunakan dengan ceroboh. Sebelum digunakan periksalah dahulu apakah semua bagian- bagiannya lengkap ( apakah ada bagian- bagian yang lepas, longgar, pecah, dan lain- lain). Apabila mikroskop kotor, bersihkan bagian- bagian nonoptiknya dengan flanel yang bersih. Bagian optik terutama lensa, dibersihkan dengan hati- hati dengan menggunakan kertas lensa. Berikut ini adalah cara penggunaan mikroskop. 1. Ambillah mikroskop dengan cara memegang pemegang mikroskop dengan satu tangan, dan tangan yang lain menyangga kaki mikroskop. Letakkan mikroskop di meja yang datar dengan bagian pemegang di depan pengamat. 2. Mikroskop diarahkan ke sumber cahaya dan putarlah ( geserkan) revolver sampai terdengar klik, agar lensa objektif yang lemah ( 10x) tepat berada di tengah meja benda. 3. Naikkan kondensor sampai batas atas dan bukalah diafragmanya. 4. Turunkan tabung sampai batas terbawah ( lensa objektif sampai kira- kira 1/ 2 cm di atas meja benda). 5. Cara pemakaian: a. Pengamatan pertama dengan menggunakan lensa objektif 10x. b. Geserlah revolver sampai lensa berada persis di atas tabung meja benda ( sampai bunyi klik). Dengan melihat objek melalui lensa okuler, kini putarlah sekrup pengarah Panduan Praktikum Avertebrata 69 KEGIATAN 1 1. Berdasarkan letak mulut ( A) dan anus ( B) pada permukaan tubuh hewan- hewan echinodermata, tentukan letaknya pada Gambar 1. Gambar 1. Pengklasifikasian echinodermata berdasarkan letak mulut dan anus pada permukaan tubuh. 1 2. 2 1 1 2 1 2 2 68 Panduan Praktikum Avertebrata ACARA 8 ECHINODERMATA PENGANTAR Echinodermata merupakan hewan laut dan distribusinya luas. Tubuhnya triploblastis, tanpa kepala dan tidak bersegmen. Ukuran tubuhnya sedang sampai besar. Bentuk tubuh ada yang bundar, silindris, dan berbentuk bintang dengan tangan- tangan. Tubuh simetri radial yang pentamer ; memiliki endoskeleton yang berduri; memiliki sistem coelomic canals yang khas yang disebut sistem ambulakral . Sistem pencernaan cukup berkembang baik. Tidak memiliki alat ekskresi. Fertilisasi eksternal. Permukaan tubuh yang menghadap ke atas disebut permukaan aboral . Pada permukaan ini terdapat anus, madreporit, duri- duri, papulae , dan pedicellaria. Permukaan tubuh yang menghadap ke bawah/ menempel pada substrat, disebut permukaan oral . Pada permukaan ini dapat ditemukan mulut, saluran ambulakral, kaki tabung dan duri- duri ambulakral Filum Echinodermata secara umum diklasifikasikan menjadi 5 kelas berdasarkan letak mulut dan anus pada permukaan tubuhnya. 5 kelas tersebut terdiri dari kelas Crinoidea ( lili laut), kelas Holothuroidea ( timun laut), kelas Echinoidea ( landak laut), kelas Ophiuroidea ( bintang ular), dan kelas Asteroidea ( bintang laut). TUJUAN 1. Mengidentifikasi karakteristik spesimen echinodermata. 2. Mendeskripsikan karakteristik spesimen echinodermata. 3. Mengklasifikasikan spesimen echinodermata yang diamatai sampai dengan tingkatan ordo. 4. Menentukan konsep dari spesimen echinodermata yang diamati. ALAT DAN BAHAN 1. Alat: lup, pinset, nampan, cawan petri. 2. Bahan: sediaan awetan basah bintang laut, bulu babi, timun laut Panduan Praktikum Avertebrata 9 kasar agar tabung naik kembali dengan perlahan- lahan, hingga bayangan objek terlihat jelas. Setelah itu putarlah pengarah halus hingga bayangan tampak jelas. c. Jika ingin mengamati dengan perbesaran lebih kuat ( 40x) tidak perlu mengangkat tabung lagi, lensa objektif langsung dipindah dengan perbesaran 40x dengan memutar revolver. Biasanya bayangan menjadi kabur, untuk memperjelas bayangan, putarlah sekrup pengatur halus dan jangan menggunakan sekrup pengatur kasar lagi supaya gelas penutup tidak pecah. Jika menggunakan perbesaran kuat, memfokus dilakukan dengan menggunakan sekrup pengatur halus saja. d. Pada waktu ingin mengganti preparat, lensa objektif 10x dikembalikan ke atas preparat dan preparat diambil ( tidak perlu mengangkat tabung karena akan memperlama pencarian fokus). 6. Setelah pemakaian mikroskop, periksa kembali bagianbagiannya. Keluarkan preparat dan bersihkan gelas benda dan gelas penutup sebelum disimpan. 7. Pada akhir kegiatan menggunakan mikroskop, Anda diwajibkan mengatur mikroskop dalam posisi simpan. PEMBESARAN Dalam menggunakan mikroskop, sangat penting untuk mengetahui berapa kali alat tersebut memperbesar objek yang kita amati. Apabila suatu mikroskop membesarkan suatu objek sebanyak 100 diameter ( 100x) maka bayangan yang terlihat adalah 100 kali lebih panjang dan lebih lebar dari ukuran sebenarnya apabila diamati dengan mata telanjang. Daya pembesaran suatu mikroskop ditentukan oleh pembesaran lensa okuler dan lensa objektif. Pada setiap objektif dan okuler tertera bilangan yang menunjukkan daya pembesaran masing- masing lensa. Apabila pada objektif tertera 5x, sedangkan objektif yang digunakan untuk pengamatan adalah 10x, maka pembesaran keseluruhan adalah 50 diameter ( 50x). PENGUKURAN DENGAN MIKROSKOP Pada umumnya benda- benda yang diamati dengan mikroskop berukuran kecil ( mikroskopis). Satuan yang lazim digunakan untuk benda- benda mikroskopis tersebut adalah mikron ( 1/ 1000 mm) yang biasa ditulis dengan lambang ( baca: mu). 10 Panduan Praktikum Avertebrata Mikroskop- mikroskop modern biasanya telah dilengkapi dengan skala pengukuran bahkan beberapa di antaranya telah dilengkapi dengan fasilitas digital yang dapat digunakan untuk mengukur panjang, lebar, keliling, luas dan memperkirakan volume objek yang diamati, misalnya suatu sel. Pada mikroskop konvensional, pengukuran dapat dilakukan dengan metode sederhana yang mudah dilakukan dengan membandingkan ukuran objek yang diamati dengan bidang penglihatan ( lapang pandang) yang berbentuk lingkaran. Tahapan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. 1. Menentukan diameter bidang penglihatan ( lapang pandang) pada pengamatan dengan objektif lemah 2. Menentukan diameter bidang penglihatan ( lapang pandang) pada pengamatan dengan objektif kuat, dengan rumus: Dk= Dl x( Ol/ Ok) Keterangan: Dk : diameter bidang penglihatan kuat Dl : diameter bidang penglihatan lemah Ok : daya pembesaran objektif kuat Ol : daya pembesaran objektif lemah 3. Memperkirakan ukuran ( panjang atau lebar) objek yang diamati pada pembesaran dengan objektif kuat. Ub= Dk/ N Keterangan: Dk : diameter bidang penglihatan kuat Ub : perkiraan ukuran objek yang diamati N : perkiraan jumlah objek pada sepanjang diameter lapang pandang TUGAS KELOMPOK 1. Diskusikan dengan kelompok Anda tentang bagian- bagian mikroskop yang terdapat pada Gambar 1, 2. Jelaskan fungsi masing- masing bagian mikroskop ! Pelajari berbagai macam mikroskop yang tersedia di laboratorium, bandingkan dengan mikroskop yang Anda gunakan pada kegiatan ini ! Apa yang dapat Anda laporkan ? Panduan Praktikum Avertebrata 67 66 Panduan Praktikum Avertebrata Panduan Praktikum Avertebrata 11 KEGIATAN TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan dan diskusi, diharapkan mahasiswa dapat: 1. Menggunakan mikroskop dengan baik dan benar; 2. Menentukan pembesaran yang digunakan dalam pengamatan dengan mikroskop; 3. Mengukur objek yang diamati ( panjang, lebar) dengan mikroskop. ALAT DAN BAHAN 1. Alat: Mikroskop cahaya, object glass, cover glass , pipet, cutter ( silet Tajam), penggaris plastik atau mika. 2. Bahan: Potongan- potongan huruf dari kertas koran, bawang merah CARA KERJA Pengamatan dan Pengaturan Fokus 1. Siapkan preparat yang akan diamati ( gunakan satu potong kertas koran yang di dalamnya terdapat huruf : n ) 2. Letakkan huruf tersebut pada kaca benda ( object glass ), beri satu tetes air kemudian tutup dengan kaca penutup ( cover glass ) dengan hati- hati. Usahakan tidak terdapat gelembung udara. 3. Amati preparat tersebut, mula- mula gunakan objektif lemah. Aturlah makrometer sampai Anda dapatkan bayangan yang jelas. 4. Cobalah menggeser letak preparat ke kiri atau ke kanan, ke belakang dan ke depan. Bagaimana bayangan yang dapat Anda amati ? 5. Gantilah objektif lemah dengan objektif kuat. Apabila bayangan tampak kabur gunakan mikrometer untuk memfokuskan. Pembesaran dan Pengukuran dengan Mikroskop 1. Untuk mengukur bidang lapang pandang gunakan objektif lemah. Catat daya pembesaran lensa objektif tersebut. 2. Letakkan sebuah penggaris plastik dengan skala millimeter di atas meja preparat. Atur fokus seperti cara di atas sampai skala penggaris bisa dilihat dengan jelas. 3. Geserlah penggaris dengan hati- hati dan cermat ke kiri atau ke 12 Panduan Praktikum Avertebrata kanan sampai salah satu garis skala penggaris terletak tepat pada garis lingkaran bidang lapang pandang. Tentukan diameter lapang pandang tersebut. 4. Ambil penggaris plastik dari meja preparat. Letakkan preparat huruf n tadi yang sudah Anda siapkan. 5. Amati preparat tersebut dengan objektif lemah ( seperti yang digunakan pada langkah a ), atur fokusnya sampai didapatkan bayangan yang jelas. 6. Perbesar bayangan dengan menggunakan objektif kuat. Atur mikrometer agar bayangan benar- benar jelas. 7. Perkirakan tinggi huruf n tersebut ! 8. Siapkan preparat epidermis bawang merah. Iris tipis epidermis umbi bawang merah, letakkan pada kaca benda, tetesi dengan air dan selanjutnya tutup dengan kaca penutup. 9. Dengan langkah- langkah yang sama, perkirakan panjang sel epidermis bawang merah tersebut. PERTANYAAN Pengamatan dan Pengaturan Fokus 1. Apakah letak bayangan yang Anda amati sama dengan letak benda pada preparat, apakah terbalik? Apakah bayangan huruf n tersebut merupakan bayangan cermin? 2. Apabila preparat digeser ke kanan, ke mana bayangan huruf n bergeser? 3. Apabila preparat digeser ke kiri, ke mana bayangan huruf n bergeser? 4. Pada saat Anda mengganti objektif lemah menjadi objektif kuat, apakah luas bidang penglihatan menjadi lebih luas ataukah lebih sempit? Pembesaran dan Pengukuran dengan Mikroskop 1. Berapa diameter bidang penglihatan mikroskop Anda pada objektif lemah ? ( dalam milileter dan mikron) 2. Tentukan diameter bidang penglihatan pada objektif kuat ! ( dalam milimeter dan mikron) 3. Perkirakan setepat mungkin tinggi huruf B ( dalam milileter dan mikron) 4. Perkirakan setepat mungkin panjang sel epidermis bawang merah ( dalam milimeter dan mikron) Panduan Praktikum Avertebrata 65 64 Panduan Praktikum Avertebrata Panduan Praktikum Avertebrata 13 ACARA 1 FILUM PORIFERA PENGANTAR Porifera disebut juga hewan berpori dan dikenal juga sebagai hewan spons. Tubuhnya memiliki banyak lubang kecil yang berperan sebagai lubang inkuren yang disebut ostium ( jamak: ostia). Selain itu, hewan ini juga memiliki satu atau lebih lubang ekskuren yang berukuran besar, disebut oskulum ( jamak: oskula). Hewan spons hidup soliter atau berkoloni, biasanya melekat pada substrat yang keras di dasar perairan, terutama perairan laut. Ukuran tubuh hewan spons juga bervariasi, yaitu dari beberapa milimeter hingga lebih dari 1 meter. Bentuk umum tubuhnya adalah simetris radial dan asimetris. Bentuk tubuh atau koloni beraneka ragam, antara lain seperti tabung, merambat, masif, seperti jari, bola, semibola, bercabang dan sebagainya. Konsistensi tubuh bervariasi, yaitu dari keras dan berbatu ( stony ) hingga rapuh, kenyal dan elastis seperti karet ( rubbery ), ataupun menggudir ( gelatinous ) tergantung pada elemen penyusun kerangka. Secara sederhana tubuh hewan Porifera berupa tabung yang salah satu ujungnya tertutup dan mengelilingi sebuah rongga yang disebut spongocoel . Dinding tubuh terdiri atas dua lapis sel yang dipisahkan oleh lapisan gelatin nonseluler, yaitu mesohil. Lapisan terluar ( pinakodermis) tersusun atas sel- sel tipis yang disebut pinakosit. Lapisan dalam terdiri atas sel- sel berflagel yang disebut sel koanosit atau sel Collar . Tubuh hewan spons disokong oleh kerangka yang terdiri atas spikula kalsium karbonat ( CaCO 3 ), atau spikula silika ( SiO 2 ), dan serabut spongin. Beberapa hewan spons memiliki kombinasi spikula silika dan serabut spongin. Bentuk dan ukuran spikula sangat beraneka ragam ( Gambar 1 4) sehingga dapat menjadi karakter taksonomis yang penting. Berdasarkan anatomi ruang koanosit serta saluran inkuren dan ekskuren, struktur hewan spons dibagi menjadi tiga tipe tubuh, yaitu asconoid, syconoid, dan leuconoid. Klasifikasi Porifera terutama berdasarkan sifat kimiawi dan morfologi bahan anorganik dan organik penyusun kerangka 14 Panduan Praktikum Avertebrata tubuh. Filum Porifera dapat dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Kelas Calcarea, Demospongiae, dan Hexactinellida. Kelas Calcarea, terdiri atas hewan spons yang berspikula kalsium karbonat; memiliki struktur kerangka masif; spikula bertipe triaxon; spikula berukuran sama ( mikrosklera dan megasklera tidak dapat dibedakan). Anggota kelas ini memiliki tipe tubuh asconoid, syconoid, ataupun leuconoid. Kelas Demospongiae, terdiri atas hewan spons yang berspikula silika, megasklera dan mikrosklera; memiliki serabut spongin, atau keduanya. Anggota kelas ini memiliki tipe tubuh leuconoid. Kelas Hexactinellida, dikenal sebagai spons gelas, terdiri atas hewan spons yang memiliki spikula berjurus enam dan serabut silika panjang yang terjalin. Beberapa anggota kelas ini memiliki saluran tubuh bertipe syconoid. Spons dari kelas ini belum banyak dikenal, karena umumnya hidup di laut dalam. Gambar 1. Megasklera tetraxon ( triaene) a: calthrope dengan rhabd yang pendek; b: plagiotriaene; c: anatriaene; d: protriaene; mesoprotriaene; f: prodiaene; g: promanaene; h: orthotriaene; i: dichotriaene ( Amir dan Budiyanto, 1996) Panduan Praktikum Avertebrata 63 62 Panduan Praktikum Avertebrata Panduan Praktikum Avertebrata 15 Gambar 2. Megasklera monoaxon ( a- f: diact; g- k: monoact) a: fusiform oxea; b: hastateoxea; c: strongyloxea; d: strongyle; e: tylote; f: centrotylote oxea; g: hastate style; h: fusiform style; i: styloid; j: tylostyle; k: subtylostyle ( Amir dan Budiyanto, 1996) Gambar 3. Mikrosklera monoaxon a: mikroxea; b: mikrostrongyle; c: centrotylote microxea; d: microtylostyle; e: comma; f: raphide; g: trichordragmata; h: sanidaster; i: verticillate; j: anisodiscorabd; k: spiraster; l: anthosigma; m: selenaster; spinispira; o: spirula; p: toxaspire ( Amir dan Budiyanto, 1996) 16 Panduan Praktikum Avertebrata ( A) ( B) Gambar 4 . ( A) Mikrosklera berbentuk bintang atau astrose ( a- e: streptosklera; f- o: euaster). a& b: plesiaster; c: amphiaster; d: metaster; e: spiraster; f: oxyaster; g: oxyspheraster; h: pycnaster; i: strongylaster; j: tylaster; k: anthaster; l: anthospheraster; m: sterrospheraster; sterraster; o: aspidaster ( B). Mikrosklera bentuk sigma atau sigmatosklera a& b: sigma; c: serrate sigma; d: diancistra; e: toxon; f: forcep; g: arcuate chela ( pandangan depan dan samping); h: palmate isochela ( pandangan depan dan samping); i: palmate anisochela ( pandangan depan dan samping); k: anchorate isochela ( pandangan depan dan samping); l: birotulate; m: bipocillium ( Amir dan Budiyanto, 1996) TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan dan diskusi, diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk: 1. Membuat sketsa hewan Porifera; 2. Menentukan nama bagian- bagian tubuh hewan Porifera pada sketsa; 3. Mendeskripsikan hewan Porifera; 4. Mengidentifikasi anggota Porifera dan menentukan klasifikasinya ALAT DAN BAHAN a. Alat: kaca benda, kaca penutup, pisau cutter atau silet tajam, jarum kecil, penggaris mika, tissue ( = disiapkan oleh mahasiswa ), mikroskop, lup, pinset, nampan plastik, cawan petri Panduan Praktikum Avertebrata 61 60 Panduan Praktikum Avertebrata cerci ( Gambar 47) Collembola 39 a Alat mulut tpe penghisap, tarsi 5 ruas, antenna sering 3 ruas atau kurang ( termasuk jenis lalattak bersayp) ( Gambar 48) Diptera b Alat mulut tipe pengunyah, tarsi 5 ruas, antenna hanya beerapa ruas atau dengan banyak ruas lanjut no. 40 40 a Tubuh mirip bentuk larva, tanpa batas jelas antara thorax dan abdomen ( Gambar 49) Coleoptera b Ciri- ciri tidak seperti tersebut pada 39 ( a) lanjut no. 41 41 a Alat mulut memanjang ke arah ventral seperti paruh tubuh silinder, ukuran kurang dari 8 mm, ( Gambar 50) Mecoptera b Alat mulut tidak seperti 40 ( a); ukuran dan bentuk tubuh beragam lanjut no. 42 42 a Tarsi 3 ruas, pangkal ruas tarsi depan membesar, ( Gambar 51) Embioptera b Tarsi 2 4 ruas, pangkal ruas tarsi depan tidak membesar lanjut no. 43 43 a Kaki belakang dengan femur yang membesar, digunakan untuk meloncat, ukuran lebih dari 5 mm, ( Gambar 52) Orthoptera b Kaki belakang tanpa femur yang membesar, ukuran kurang dari 10 mm ( Gambar 53) Isoptera 44 a Antara thorax dan abdomen sama lebar dan hampir menyatu satu sama lain, tubuh tertutup dengan sisik atau lilin, bentuk mulut penghisap ( serangga bersisik) ( Gambar 54) Homoptera b Endoparasit terhadap serangga lain, tubuh tidak tertutup sisik atau lilin, tipe mulut tidak seperti 4 ( a) ( Gambar 55) Strepsiptera Panduan Praktikum Avertebrata 17 b. Bahan: sediaan awetan basah beberapa anggota Porifera, larutan natrium hipoklorit CARA KERJA 1. Setiap kelompok akan mendapat dua spesimen hewan spons. Setiap spesimen diamati secara makroskopis dan mikroskopis. 2. Pengamatan makroskopis a. Bentuk tubuh atau koloni Bentuk luar spons sangat bervariasi. Anda dapat mengamati setiap spesimen dan selanjutnya tentukan bentuk tubuhnya. b. Warna tubuh Warna spesimen ketika masih hidup dan setelah diawetkan dapat membantu dalam identifikasi. Untuk setiap spesimen yang Anda amati, catatlah warna setelah diawetkan. c. Ukuran tubuh Ukuran spons juga dapat membantu proses identifikasi. Anda dapat mengukur panjang, lebar, tinggi dan diameter setiap spesimen. d. Jumlah oskula dan ostia Karakter ini juga penting untuk identifikasi. Amati letak dan ukuran oskula. Amati juga ukuran dan tipe sebaran ostia di permukaan tubuh, apakah merata atau tidak. Anda dapat menggunakan lup untuk memperjelas pengamatan. e. Konsistensi Konsistensi adalah kriteria umum tekstur spons. Untuk menentukan konsistensi, Anda harus meraba atau merasakan dengan tangan permukaan tubuh spons. Selanjutnya, Anda dapat menentukan kualitas tekstur, misalnya keras dan berbatu ( stony ), rapuh, lunak, kenyal dan elastis seperti karet ( rubbery ), menggudir ( gelatinous ), dan sebagainya. f. Permukaan Beberapa grup spons memiliki lapisan permukaan yang didukung oleh jaringan spikula dan serat- serat. Amati secara saksama permukaan tubuh spons dan rabalah menggunakan tangan, selanjutnya tentukan keadaan permukaan tubuh spons tersebut, misalnya bergerigi, berbulu sikat, berpori- pori, kasar, halus, dan sebagainya. 18 Panduan Praktikum Avertebrata 3. Gambarlah sketsa morfologi spesimen spons yang Anda amati tersebut. Pada sketsa tersebut, tunjukkan bagian- bagian tubuhnya. 4. Pengamatan mikroskopis a. Penampang anatomi spons 1) Buat sayatan sejajar permukaan spons dengan menggunakan pisau silet yang tajam. Usahakan agar sayatan sangat tipis. 2) Kemudian letakkan sayatan di atas kaca benda, berikan setetes air, dan tutuplah dengan gelas penutup secara hati- hati. 3) Amatilah preparat tersebut dengan menggunakan mikroskop. 4) Gambarlah hasil pengamatan Anda dan lengkapi dengan keterangan gambar. 5) Lakukan cara yang sama untuk sayatan tegak lurus permukaan spons. b. Identifikasi Spikula 1) Ambil satu potong kecil bagian permukaan spons ( ektosom) dan letakkan di atas kaca benda. 2) Teteskan satu tetes larutan natrium hipoklorit pada potongan spons tersebut. Larutan tersebut akan menghilangkan materi organik yang terdapat pada lapisan spons. Biarkan selama 1 menit. 3) Ratakan sediaan tersebut dengan menggunakan jarum kecil secara hati- hati dan selanjutnya tutup dengan kaca penutup. 4) Amatilah preparat tersebut dengan menggunakan mikroskop secara cermat. 5) Amati apakah termasuk spikula megasklera ataukah mikrosklera. Gambarlah tipe- tipe spikula yang Anda temukan. 6) Lakukan cara yang sama untuk pengamatan spikula bagian dalam tubuh spons ( koanosom). Ambillah satu potong kecil bagian dalam spons. 5. Berdasarkan hasil pengamatan Anda, susunlah deskripsi setiap spesimen yang Anda amati. Deskripsi tersebut harus mencakup morfologi, anatomi, dan spikula setiap spesimen spons. Panduan Praktikum Avertebrata 59 kaki pendek, jenis- jenis kutu, ( Gambar 39) Diptera 32 a Antenna lebih panjang dari kepala, tarsi 3 ruas, ( kutu busuk dan kutu kelelawar) ( Gambar 40) Hemiptera b Antenna tidak lebih panjang dari kepala, tarsi hanya 1 ruas lanjut no. 33 33 a Kepala selebar atau lebih lebar dari prothorax, alat mulut tipe pengunyah, parasit burung ( mempunyai 2 kuku pada tarsus) dan parasit mamalia ( 1 kuku kecil) pada tarsus) ( Gambar 41) Mallophaga b Kepala lebih sempit dari prothorax, alat mulut tipe penghisap, parasit mamalia ( 1 kuku besar pada tarsus) ( Gambar 42) Anoplura 34 a Tubuh padat, abdomen terputus dan pangkalnya dengan petiolus, antenna berbentuk siku ( jenis semut dan tawon yan tak bersayap) ( Gambar 43) Hymenoptera b Ciri- ciri tidak seperti tersebut pada 33 ( a) lanjut no. 35 35 a Badan hampir- hampir tertutup oleh sisik, abdomen dengan 3 alat tambahan caudal seperti ekor yang panjang, mempunyai kaki- kaki pada beberapa ruas abdomen, tipe mulut pengunyah ( Gambar 44) Thysanura b Badan tidak seperti tersebut pada 35 ( a), abdomen hanya mempunyai dua ekor alat tambahan caudal, atau tidak punya sama sekali lanjut no. 36 36 a Tubuh tertutup sisik atau bulu, tipe mulutnya penghisap, merupakan ngengat yang tak bersayap ( Gambar 45) Lepidoptera b Tubuh tidak tertutup bulu/ sisik, tipe mulut tidak seperti 36 ( a) lanjut no. 37 37 a Tipe mulut pengunyah, biasanya alat mulut tidak dapat dilihat, tersembunyi ke dalam kepala, mempunyai ukuran kurang dari 7 mm lanjut no. 38 b Tipe mulut jelas dapat dilihat, tipe pengunyah atau penghisap, abdomen tanpa furcula seperti pada 36 ( a), ukuran bervariasi lanjut no. 38 38 a Antenna panjang dengan banyak ruas, abdomen sekurangkurangnya dengan 9 ruas dengan kaki pada sisi ventral, mempunyai cerci ( Gambar 46) Diplura b Antenna pendek, 6 ruas; abdomen 6 ruas atau kurang, biasanya empunyai furcula, tanpa alat tambahan caudal atau 58 Panduan Praktikum Avertebrata selalu hidup dekat air lanjut no. 24 24 a Tarsi 3 ruas, bagian pangkal tarsi depan membesar ( Gambar 30) Embioptera b Tarsi 2 atau 3 ruas, bagian pangkal tarsi depan tidak membesar lanjut no. 25 25 a Mempunyai cerci, tarsi 2 atau 3 ruas, vena sayap tidak banya berkurang; antenna seperti bentuk merjan ( moniliform) dengan 9 ruas ( Gambar 31) Zoraptera b Tidak ada cerci, tarsi 2 atau 3 ruas, vena sayap tidak banyak berkurang; antenna tidak moniliform, biasanya panjang seperti rambut dengan 13 ruas, atau lebih ( Gambar 32) Psocoptera 26 a Tubuh seperti serangga, dengan kepala yang tidak jelas dan kaki beruas- ruas lanjut no. 27 b Tubuh tidak seperti serangga, dengan tidak ada kepala dan kaki yang jelas, biasanya tidak dapat bergerak ( Gambar 33) lanjut no. 44 27 a Sayap depan ada tetapi rudimenter, sayap belakang absen berubah menjadi halteres, tarsi hampir selalu 5 ruas ( Gambar 34) Diptera b Tidak ada sayap atau dengan 4 sayap yang rudimenter, tidakada halteres, jumlah tarsi beragam lanjut no. 28 28 a Mempunyai antenna, ukuran beragam lanjut no. 29 b Tidak ada antenna, ukuran 1,5 mm atau kurang, ( Gambar 35) Protura 29 a Ektoparasit ( pada burung, mamalia atau tawon madu) yang biasanya ditemukan pada inangnya; badan padat, pipih di sisi samping ( Gambar 36) lanjut no. 30 b Bukan ektoparasit serangga darat ( terestrial) atau serangga air ( akuatik) lanjut no. 34 30 a Tarsi 5 ruas, antenna pendek biasanya bersembunyi pada celah- celah kepala, mulut tipe penghisap, ( Gambar 37) lanjut no. 31 b Tarsi kurang dari 5 ruas, antenna dan tipe mulut beragam lanjut no. 32 31 a Badan padat, pipih di sisi samping, serangga peloncat dengan kaki- kaki yang panjang ( Gambar 38) Siphonoptera b Badan pipih pada sisi dorsoventral, bukan serangga peloncat, Panduan Praktikum Avertebrata 19 6. Selanjutnya tentukan klasifikasi setiap spesimen tersebut. Anda dapat menggunakan buku referensi atau kunci identifikasi yang telah disediakan. 20 Panduan Praktikum Avertebrata ACARA 2 FILUM COELENTERATA PENGANTAR Karang yang ada di pantai terbentuk dari kerangka luar tubuh kelompok filum coelenterata. Coelenterata ( dalam bahasa yunani, coelenteron = rongga) adalah invertebrata yang memiliki rongga tubuh. Rongga tersebut berfungsi sebagai rongga pencernaan dan sekaligus alat sirkulasi yang disebut rongga gastrovaskuler . Coeleanterata disebut juga Cnidaria ( dalam bahasa yunani, cnido = penyengat) karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat terletak pada tentakel yang terdapat disekitar mulutnya yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan makanan ke dalam tubuh. Tentakel tersebut dilengkapi sel Knidoblas yang mengandung racun sengat disebut Nematokis . Tubuh Coelenterata terdiri atas lapisan ektoderm dan endoderm. Ektoderm berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan. Antara kedua lapisan tersebut terdapat rongga yang disebut sebagai mesoglea. Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks dibandingkan dengan porifera. Sel- sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana. Hewan- hewan yang termasuk dalam filum ini meliputi golongan Hydra , ubur- ubur, anemon laut, dan koral atau hewan karang. Lautan merupakan habitat yang umum pada hewanhewan ini, terutama zona neritik, tetapi ada juga yang hidup di air tawar misalnya Hydra . Bentuk umum Coelenterata adalah simetri radial dengan 2 macam tipe dasar, yaitu tipe polip yang sesil atau menempel dan sebagai medusa yang dapat berenang bebas. Tipe polip memiliki bentuk seperti tabung atau silinder, pada ujung oral terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel- tentakel, dan dapat bergerak memanjang atau mengkerut. Tubuh tipe medusa berbentuk seperti sebuah bel/ lonceng atau payung. Klasifikasi Coelenterata berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya, dibedakan dalam tiga kelas yaitu Hydrozoa, Scypozoa , dan Anthozoa . Panduan Praktikum Avertebrata 57 antenna lebih pendek daripada tubuhnya lanjut no. 19 19 a Agak bertubuh padat, abdomen sering terputus pada pangkalnya dengan petiolus, sayap belakang lebih kecil dari sayap depan dengan 20 sel atau kurang ( Gambar 20) Hymenoptera b Bertubuh lunak, abdomen tidak terputus pada pangkalnya, sayap belakang hampi sama ukurannya dengan sayap depan, biasanya dengan banyak vena, sayap depan sering mempunyai lebih dari 20 sel lanjut no. 20 20 a Daerah costa sayap depan selalu dengan banyak vena melintang ( gambar 21) atau lebih pendek dari sayap depan, bagian mulut tidak mempunyai paruh panjang ( Gambar 22) Neuroptera b Daerah costa sayap depan mempunyai tidak lebih dari 2 atau 3 vena melintang, bagian mulut mempunyai paruh panjang ( Gambar 23) Mecoptera 21 a Sayap belakang sama panjang dan sama bentuknya dengan sayap depan, sayap dengan banyak venadan sel, bagian pangkal agak melebar; antenna pendek seperti bulu keras, abdomen panjang dan ramping, tarsi 3 ruas ( Gambar 24) Odonata b Ciri- ciri tidak seperti tersebut pada 21 ( a), antenna panjang dan ramping lanjut no. 22 22 a Sayap depan dan belakang hampir sama dalam ukuran, bentuk dan susunan venanya; cerci kecil atau tidak ada, tarsi 3 ruas atau kurang Isoptera b Sayap belakang biasanya lebih kecil dari sayap depan, tarsi 3 ruas atau kurang lanjut no. 23 23 a Sayap belakang dengan daerah anal selalu membesar danmembulat ( Gambar 26) yang selalu melipat sepertkipas apabila serangga hinggap; bentuk vena bervariasi; sering mempunyai cerci yang sangat panjang ampai 10 mm atau lebih ( Gambar 27), nimfa hidup di air ( akuatik) dan imago hidup dekat air ( Gambar 26) Plecoptera b Sayap belakang tidak mempunyai daerah anal yang membesar dan sayap tidak melipat apabila sedang hinggap, vena normal atau kurang dengan tidak mempunyai vena- vena melntang ( Gambar 29); abdomen dengan alat tambahan kaudal ( cerci) tetapi pendek atau tidak mempunyai sama sekali, ukuran tubuh 10 mm ataukurang, nimfa tidak hidup di air, imago tidak 56 Panduan Praktikum Avertebrata Ekor ( Gambar 11), mulut vestigial lanjut no 12 b Abdomen tidak seperti pada 11 ( a), mulut tipe pengunyah atau pengisap lanjut no. 13 12 a Antenna panjang dan menarik perhatian, abdomen ramping dan panjang, sayap hanya mempunyai satu vena yang menyerupai garpu, halteres ( sayap belakang mengecil) seperti kait; ukuran serangga sangat kecil, biasanya panjangnya kurang dari 5 mm ( Gambar 12) Homoptera b Antenna pendek, seperti buku keras; abdomen dengan alat tambahan caudal yang panjang seperti ekor, vena sayap depan seperti jala dengan banyak vena dan sel, sayap belakang lebih kecil dari sayap depan ( Gambar 13) Ephemeroptera 13 a Tarsi selalu 5 ruas, mulut tipe pengisap, sayap belakang menghilang dan berubah bentuk menjadi halteres, lalat bersayap sepasang ( Gambar 14) Diptera b Tarsi 2 atau 3 ruas, tipe mulut pengunyah, sayap belakang mengecil tetapi tidak berubah menjadi halteres ( Gambar 15) Psocoptera 14 a Sayap sebagian besar tertutup oleh sisik ( Gambar 16) Lepidoptera b Sayap tidak seperti pada 14 ( a) lanjut no 15 15 a Sayap panjang dan sempit, tanpa vena atau hanya 1- 2 vena dan berumbai- umbai dengan rambut panjang; tarsi 1- 2 ruas dengan ruas terakhir membengkak, ukuran serangga sangat kecil, panjang kurang dari 5 mm ( Gambar 17) Thysanoptera b Sayap tidak seperti pada 15 ( a), sayap sedikit seperti garis; tarsi lebih dari 2 ruas lanjut no. 16 16 a Sayap depan lebar berbentuk segitiga, sayap belakang kecil membulat, sayap dengan vena seperti jala, kedua sayap melipat di atas tubuh abdomen dengan alat tambahan caudal yang panjang ( Gambar 18) Ephemeroptera b Sayap dan abdomen tidak seperti pada 16 ( a) lanjut no. 17 17 a Tarsi 5 ruas lanjut no 18 b Tarsi dengan 4 ruas atau kurang lanjut no. 21 18 a Sayap depan dengan rambut- rambut yang jelas, antenna panjang tubuhnya atau lebih panjang ( Gambar 19) Trichoptera b Sayap tidak seperti pada 18 ( a), mandibel tumbuh sempurna, Panduan Praktikum Avertebrata 21 Hydrozoa Hydrozoa ( dalam bahasa yunani, hydro = air, zoa = hewan) sebagian besar memiliki pergiliran bentuk polip dan medusa dalam siklus hidupnya. Ujung tempat letaknya mulut disebut ujung Oral sedangkan yang melekat pada dasar disebut ujung Aboral. Hewan ini dilengkapi dengan tentakel atau lengan yang berguna untuk bergerak dan juga sekaligus untuk menangkap mangsa. Hydrozoa dapat hidup soliter maupun berkoloni. Contoh Hydrozoa adalah Hydra, Obelia , dan Physalia . Scyphozoa Scyphozoa ( dalam bahasa yunani, scypho = mangkuk, zoa = hewan) memiliki bentuk dominan berupa medusa dalam siklus hidupnya. Bentuk polip hanya pada tingkat larva. Larva disebut Planula , kemudian menjadi polip yang disebut Skifistoma . Dari skifistoma terbentuk medusa yang disebut Efira . Medusa Scyphozoa dikenal dengan ubur- ubur. Reproduksi dilakukan secara aseksual dan seksual. Contoh Scyphozoa adalah Aurelia sp. ( ubur- ubur kuping) berupa medusa berukuran garis tengah 7 10 cm, dengan pinggiran berlekuk- lekuk 8 buah. Hewan ini banyak terdapat di sepanjang pantai. Anthozoa Anthozoa ( dalam bahasa yunani, anthus = bunga, zoa = hewan) memiliki banyak tentakel yang berwarna- warni seperti bunga. Anthozoa tidak memiliki bentuk medusa, hanya bentuk polip. Polip Anthozoa berukuran lebih besar dari dua kelas Coelenterata lainnya. Hidupnya di laut dangkal secara berkoloni. Anthozoa bereproduksi secara aseksual dengan tunas dan fragmentasi, serta reproduksi seksual menghasilkan gamet. Contoh Anthozoa adalah Tubastrea ( koral atau karang), Acropora , Urticina ( Anemon laut), dan turbinaria . Rangka koral tersusun dari zat kapur. Rangka koloni dari polip koral inilah yang membentuk karang pantai ( terumbu karang) atau atol ( pulau karang). TUJUAN 1. Melakukan identifikasi terhadap anggota- anggota Filum Coelenterata berdasarkan ciri morfologinya. 2. Membedakan antara hydra dan protozoa pada sampel air yang dibawa. 3. Menggambar sketsanya dan menunjukkan bagian- bagian tubuh hewan Coelenterata. 22 Panduan Praktikum Avertebrata 4. Membuat deskripsi berdasarkan hasil pengamatan. 5. Menentukankan klasifikasi anggota Coelenterata sampai dengan tingkatan kelas. ALAT DAN BAHAN a. Alat: mikroskop, kaca benda, kaca penutup, pipet, lup, pinset, nampan plastik, cawan petri, pisau/ silet. b. Bahan: ubur- ubur, hydra ( sampel air diambil dari sekitar perakaran enceng gondok), akar bahar dan atau koral. CARA KERJA 1. Amati semua spesimen awetan basah dan kering yang telah disiapkan. Ubur- ubur a. Ukurlah diameter dan panjang tentakelnya. Apakah panjang tiap tentakel sama atau berbeda? b. Perhatikan ada tidaknya velum, letak mulut/ anus, tekstur tubuh, jumlah tentakel, simetri tubuh! Hydra Catatan : untuk mengamati Hydra, cobalah ambil sampel air di sekitar perakaran tumbuhan enceng gondok di beberapa aliran sungai. a. Ambil setetes air sampel, letakkan pada kaca benda kemudian tutup dengan kaca penutup dengan hati- hati. b. Amati dengan menggunakan mikroskop. Mula- mula gunakan pembesaran lemah. Organisme ini bertentakel, berwarna kecoklatan dan sering kali ditemukan menempel pada akar tumbuhan air. Lakukan dengan cermat sehingga tidak salah mengidentifikasi antara protozoa dan hydra. c. Perhatikan bentuk dan jumlah tentakel, ada tidaknya tunas, warna. Koral a. Coba amati 2 spesimen yang berbeda. Perhatikan tekstur dan simetri tubuh, pola pada permukaan septa dan koralit. b. Ukurlah panjang dan diameternya. 2. Buatlah sketsa morfologi, lengkapi sketsa tersebut dengan keterangan bagian- bagian dan ciri khususnya. Ubur- ubur digambar secara dorsal dan ventral. Buat gambar pembesaran pola untuk septa dan korolit agar lebih jelas. Panduan Praktikum Avertebrata 55 5 a Paruh muncul dari bagian depan kepala, tekstur pangkal sayap depan ( kira- kira 2/ 3 bagian sayap) seperti mika atau kulit, ujung sayap ( 1/ 3) bagian) bersifatmembran, ujung sayap saling tumpang tindih Apabila serangga sedang hinggap ( Gambar 4) Hemiptera b Paruh muncul dari bagian belakang kepala, sering terletak pada dasar kaki depan; sayap depan dengan tekstur yang seragam, ujung sayap tidak atau sedikit saja saling tumpang tindih ( Gambar 5) Homoptera 6 a Abdomen dengan alat tambahan seperti pinset pada ujungnya, elyptra ( pangkal sayap yang seperti mika atau kulit) sangat pendek sehingga perut kelihatan telanjang, tarsi tiga ruas ( Gambar 6) Dermaptera b Abdomen tidak seperti pada 6( a) atau apabila ada, cerci, sayap menutup bagian perutnya, jumlah tarsi bervariasi lanjut no 7 7 a Sayap depan keras seperti tanduk tanpa vena, kedua sayap depan biasanya bertemu satu sama lain membentuk sebuah garis lurus ke bawah pada tengah- tengah punggung, sayap belakang bersifat membran, berbentuk sempit dan biasanya lebih panjang dari sayap depan dengan hanya beberapa vena sayap, antenna 11 ruas atau lebih ( Gambar 7) Coleoptera b Sayap depan seperti mika dengan vena- vena dan saling tumpang tindih menutup abdomen apabila sedang hinggap, sayap belakang lebar, biasanya lebih pendek dari sayap depan dengan banyak vena; antenna biasanya mempunyai ruas- ruas lebih dari 12 ruas ( Gambar 8) Orthoptera 8 a Dengan satu pasang sayap lanjut no. 9 b Dengan dua pasang sayap lanjut no. 14 9 a Pronotum memanjang ke belakang menutup abdomen dan berbentuk lancip pada bagian ujungnya; kaki belakang membesar ( Gambar 9) Orthoptera b Pronotum tidak seperti pada 9 ( a), kaki belakang tidak begitu membesar lanjut no. 10 10 a Antenna paling sedikit satu ruas dengan pertumbuhan memanjang di sisi samping; sayap depan sangat kecil, sayap belakang seperti kipas, ukurannya sangat kecil ( Gambar 10) Strepsiptera b Tidak seperti ciri- ciri tersebut pada 10 ( a) lanjut no 11 11 a Abdomen dengan alat tambahan caudal yang panjang seperti 54 Panduan Praktikum Avertebrata TUJUAN 1. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi dan mengenal beberapa jenis anggota Insekta. 2. Mahasiswa terampil dalam menggunakan kunci determinasi insekta. ALAT DAN BAHAN a. Alat: mikroskop binokuler, lup, pinset, nampan, cawan petri b. Bahan: sesuai kelompok masing- masing. CARA KERJA 1. Tentukan ordo dari spesimen yang Anda bawa dengan menggunakan kunci determinasi yang tersedia, 2. Deskripsikan spesimen yang Anda bawa yang mencirikan ordo, 3. Tulislah klasifikasi masing- masing spesies Insekta yang Anda bawa. KUNCI DETERMINASI ORDO- ORDO INSEKTA ( Lilies, 1991) 1 a Sayap ada lanjut no 2 b Sayap tidak ada, vestigial, atau rudimenter ( Gambar 1) lanjut no 3 2 a Sayap depan dengan tekstur seperti mika/ kulit atau tanduk terutama pada pangkal sayap, sayap belakang bila ada bersifat membran lanjut no 3 b Semua sayap bersifat membran lanjut no 8 3 a Sayap depan sangat kecil, tumbuh tidak seimbang dengan sayap belakang, bentuknya seperti tongkat, sayap belakang besar seperti kipas; antenna paling sedikit satu ruas dengan perkembangan sisi samping yang panjang, ukuran serangga sangat kecil, jantan sayapnya seperti tali, merupakan serangga parasit ( Gambar 2) Strepsiptera b Ciri- ciri tidak seperti pada 3 ( a) lanjut no 4 4 a Alat mulut tipe pengisap dengan bentuk paruh panjang, biasanya beruas- ruas ( Gambar 3) lanjut no 5 b Alat mulut tipe pengunyah, mempunyai mandibula lanjut no 6 Panduan Praktikum Avertebrata 23 3. Berdasarkan pengamatan, buatlah deskripsi untuk setiap spesimen. 4. Tentukanlah klasifikasi spesimen tersebut, gunakan buku teks sebagai referensi ! 24 Panduan Praktikum Avertebrata ACARA 3 PLATYHELMINTHES PENGANTAR Filum Platyhelminthes terdiri atas tiga Kelas, Turbellaria ( hidup bebas dan bersifat nonparasitik), Trematoda dan Cestoda ( cacing pita), yang keduanya bersifat parasitik. Bentuk tubuh simetris bilateral, arah tubuh sudah jelas, yaitu mempunyai arah anterior posterior dan arah dorsal ventral; bersifat triploblastis sebab dinding tubuhnya sudah tersusun atas tiga lapisan, yaitu ektodermis, mesodermis, dan endodermis; sudah mempunyai susunan saraf, yaitu sistem tangga tali, sudah dilengkapi dengan gonad dan mempunyai saluran khusus. Namun Kelas ini masih tergolong tingkat rendah karena tubuh tidak memiliki rongga tubuh yang sebenarnya ( coelom ), saluran pencernaan makanan belum sempurna, bahkan ada yang belum memiliki saluran pencernaan, alat kelaminnya masih belum terpisah ( hermafrodit). Kelas Turbellaria ( Cacing Getar) Hampir semua anggota Kelas ini hidup bebas. Tubuh cacing Turbellaria tidak terbagi atas segmen- segmen, bagian luarnya ditutup oleh epidermis yang bersinsitium dan sebagian dilengkapi dengan bulu- bulu getar, di samping itu juga dilengkapi dengan sel- sel yang menghasilkan mukosa ( lendir). Kelas Trematoda ( Cacing Hisap) Hampir semua anggota Trematoda bersifat parasit terhadap vertebrata, baik ekto maupun endoparasit. Tubuh tidak dilengkapi dengan epidermis maupun silia ( kecuali fase larvanya). Tubuh berbentuk seperti daun, dan dilengkapi dengan alat penghisap. Bagian luar tubuh dilapisi kutikula. Kelas Cestoda ( Cacing Pita) Seluruh anggota Kelas ini bersifat endoparasit. Tubuh tidak dilengkapi dengan epidermis maupun silia. Tubuh seperti pita dan pada umumnya terbagi atas segmen- segmen. Setiap segmen dilengkapi dengan satu perangkat reproduksi. TUJUAN 1. Melakukan identifikasi terhadap anggota- anggota Filum Panduan Praktikum Avertebrata 53 Gambar 3. Modifikasi kaki serangga. ( A) saltatorial ( kaki belakang belalang/ grasshopper ); ( B) raptorial ( kaki depan mantid); ( C) fossorial ( kaki nimfa cicada); ( D) natatorial ( kaki tengah dan belakang kutu air); ( E) clasping ( Elzinga, 1978) Gambar 4. Modifikasi mouthparts dari tipe dasar pengunyah. ( A) cutting- sponging, horsefly ; ( B) sponging ; ( C) siphoning ; ( D) piercingsucking ; ( E) piercing- sucking ; ( F) chewing- lapping ; Hyphx: hipofaring; Lb: labium; lbplp: labial palp; Lm: labrum; Md: mandibula; Mx: maxilla; Mxplp: maxillary palp ( Elzinga, 1978) A A E D C B C B F E D 52 Panduan Praktikum Avertebrata Gambar 2 . Struktur umum kaki ( leg ) serangga ( Elzinga, 1978) Tipe- Tipe Mulut Aktivitas makan ( feeding ) pada organisme multiseluler sangat kompleks, memerlukan proses abrasi ( mengunyah) makanan. Bagian mulut pada insecta yang berperan utama dalam aktivitas makan adalah mandibula, maksila, labium, labrum dan hipofaring. Tipe pakan yang sangat beragam, secara evolusioner menyebabkan tipe mulut insecta juga menjadi beragam. Ada enam tipe mulut utama pada insecta, yaitu tipe pengunyah ( chewing ), pemotong- penghisap ( cutting- sponging ), penghisap ( sponging ), penghisap dengan sifon ( siphoning ), penusuk- penghisap ( piercing- sucking ), pengunyah- penjilat ( chewing- lapping ). Setiap tipe tersebut masih memiliki banyak variasi ( Gambar 4) Panduan Praktikum Avertebrata 25 Platyhelminthes berdasarkan ciri morfologinya. 2. Mendeskripsikan hubungan antara inang dan hewan Platyhelminthes yang menjadi parasitnya. 3. Membedakan antara proglotid tua dan muda pada cacing pita. 4. Menggambar sketsanya dan menunjukkan bagian- bagian tubuh hewan Platyhelminthes. 5. Membuat deskripsi berdasarkan hasil pengamatan anggota Platyhelminthes. 6. Menentukankan klasifikasi anggota Platyhelminthes sampai dengan tingkatan ordo. ALAT DAN BAHAN 1. Alat: mikroskop binokuler, lup, pinset, nampan plastik, cawan petri 2. Bahan: planaria, cacing pita, cacing hati. Catatan: Cacing pita dan cacing hati dapat diperoleh dari rumah pemotongan hewan. Selain mengambil cacingnya, mintalah juga cacing yang masih menempel di usus atau di hati hewan ternak yang ada. KEGIATAN 1 Lengkapi nama- nama bagian tubuh planaria dan cacing pita pada Gambar 1 dan 2 ! Gambar 1 . Planaria 2. 1. 2. 1. 26 Panduan Praktikum Avertebrata Gambar 2. Cacing pita 7. ........ 6. ........ 3. ........ 2. ........ 1. ........ 5. .. 4. .. 8. Panduan Praktikum Avertebrata 51 Untuk identifikasi serangga, ada beberapa ciri penting yang harus diperhatikan, antara lain bentuk dan warna tubuh, tipe mulut, tipe dan jumlah mata, antena, sayap, serta tipe, jumlah, dan bagian- bagian kaki. Tipe- tipe Kaki Kemampuan untuk mengubah posisi dan berpindah tempat merupakan salah satu faktor kunci survival pada organisme nonsesil, termasuk serangga. Serangga ( Insecta) dikatakan sebagai makhluk hidup yang sukses secara evolusioner karena memiliki jumlah individu dan jenis yang sangat besar ( beragam) serta menempati berbagai tipe habitat di muka bumi. Serangga dapat ditemukan pada habitat terestrial dan akuatik, baik air tawar maupun laut. Salah satu organ penting yang berperan untuk pergerakannya ( lokomosi) adalah kaki. Kaki ( leg ) pada serangga, secara umum terdiri atas enam segmen, sebagai berikut ( Romoser dan Stoffolano, 1998): 1. Coxa basal, berartikulasi dengan toraks pada daerah pleural 2. Trochanter kecil 3. Femur 4. Tibia 5. Tarsus bersegmen 6. Pretarsus ( Gambar 2). Coxa dibagi menjadi dua bagian, bagian posterior biasanya lebih besar ( disebut meron ). Trochanter berartikulasi dengan coxa, tetapi biasanya membentuk perlekatan yang tidakdapat digerakkan dengan femur. Femur dan tibia merupakan tipikal segmen terpanjang. Tarsus yang diturunkan dari segmen tunggal, biasanya terbagi atas bagian- bagian ( segmen- segmen) yang disebut tarsomeres . Pretarsus biasanya terdiri atas cakar tunggal, sepasang cakar yang bisa digerakkan ataupun bristle . Ditinjau dari strukturnya, kaki merupakan organ utama untuk lokomosi terestrial, namun tipe habitat yang beragam secara evolusioner telah mengubah bentuk kaki menjadi beragam pula. Struktur kaki telah mengalami adaptasi dan modifikasi menjadi berbagai bentuk untuk berbagai fungsi, antara lain berenang, menangkap mangsa dan menggali. Elzinga ( 1978) memaparkan sedikitnya ada tujuh tipe kaki utama pada serangga, yang masing- masing terspesiali sasi untuk fungsi dan perilaku tertentu, yaitu ambulatorial, cursorial, saltatorial, raptorial, natatorial, fossorial dan clasping ( Gambar 3). 50 Panduan Praktikum Avertebrata 5 a Memiliki tiga pasang kaki Kelas Insekta b Kepala memiliki lima pasang appendage, termasuk dua pasang antena Kelas Crustacea KEGIATAN 2 PENGANTAR Karakter pembeda Kelas Insecta dari kelas- kelas lain dalam Filum Arthropoda: 1) Fusi sepasang appendage kepala ( maxila kedua) untuk membentuk bibir bawah ( labium); 2) Tubuh terbagi atas tiga bagian, yaitu kepala, dada dan perut; 3) Tidak memiliki abdominal appendage; 4) Memiliki 3 pasang appendage dada. Bagian- bagian tubuh anggota Kelas Insekta dapat disimak di Gambar 1. Anggota kelas ini adalah semua serangga, misalnya kupu- kupu, nyamuk, lalat, capung, dan sebagainya. Gambar 1. Bagian- bagian tubuh serangga ( Romoser dan Stofollano, 1998) Panduan Praktikum Avertebrata 27 KEGIATAN 2 CARA KERJA 1. Amati semua spesimen amatan yang ada. Ukurlah panjang dan lebarnya, perhatikan tekstur tubuhnya, warna tubuh bagian dorsal dan ventralnya, letak mata, mulut dan anus, bentukan kait/ alat melekat! 2. Bedakan antara proglotid muda dan tua pada cacing pita! 3. Buatlah sketsa morfologi, lengkapi sketsa tersebut dengan keterangan bagian- bagian dan ciri khususnya. Untuk cacing planaria dan cacing hati, digambar secara dorsal ventral. 4. Berdasarkan pengamatan, buatlah deskripsi untuk setiap spesimen. 5. Buatlah klasifikasi dari setiap spesimen amatan sampai dengan tingkatan ordo. 28 Panduan Praktikum Avertebrata ACARA 4 ASCHELMINTHES PENGANTAR Aschelminthes merupakan kelompok hewan laut dan perairan tawar yang tersebar luas ( kosmopolitan), terdiri atas hewan gastrotricha, rotifer, dan cacing gilig. Beberapa sumber menempatkan hewan- hewan tersebut dalam satu filum, yaitu Aschelminthes. Namun, ketiga kelompok tersebut memiliki perbedaan ciri lebih banyak daripada kesamaannya. Oleh karena itu, beberapa ahli menempatkannya dalam filum yang terpisah. Filum Nematoda Tubuh memanjang silindris, tidak bersegmen, tidak berambut, kulit dilapisi kutikula. Tubuh cacing anggota filum ini berbentuk bulat memanjang. Tubuh belum memiliki rongga tubuh yang sejati, hanya pseudocoel. Dinding tubuh hanya mempunyai otot membujur. Ukuran tubuhnya bervariasi, mikroskopis hingga yang ukurannya besar. Saluran pencernaannya lengkap, yaitu: mulut usus anus. Seksnya terpisah ( diocious ). Anggota Nematoda memiliki ukuran tubuh yang bervariasi, mikroskopis hingga makroskopis. Contoh cacing nematoda makroskopis adalah cacing gelang ( Ascaris lumbricoides , parasit pada manusia dan Ascaris suun, parasit pada manusia). Contoh nematoda mikroskopis adalah Wucheria brancofti , yang merupakan penyebab penyakit kaki gajah. 1. Kelas Adenophorea Anggota kelas ini hidup bebas maupun parasit, namun sebagian besar hidup bebas. Sebagian besar anggotanya memiliki kelenjar kaudal yang digunakan untuk melekat di substrat dan kelenjar epidermal ( adenophorea , bahasa Yunani, artinya memiliki kelenjar). Semua anggotanya tidak mempunyai phasmid. Sebagian besar anggotanya hidup di laut. Contoh anggota yang bersifat parasit adalah Trichuris trichuris dan Trichinella spiralis . 2. Kelas Secernentea Hampir semua anggotanya hidup terestrial. Lima puluh persen anggotanya bersifat parasit pada hewan vertebrata dan hewan avertebrata lainnya. Semua anggotanya tidak memiliki kelenjar epidermal atau kelenjar caudal, tetapi memiliki phasmid. Contoh anggota yang hidup bebas adalah Panduan Praktikum Avertebrata 49 2. Melakukan identifikasi terhadap anggota- anggota Arthropoda berdasarkan ciri morfologi dan struktur tubuh; 3. Menentukan klasifikasi Arthropoda hingga tingkat kelas. ALAT DAN BAHAN 1. Alat: lup, pinset, nampan, cawan petri 2. Bahan: sediaan awetan mimi- mintuna, udang, kelabang, kelomang, keluwing, kalajengking, dan laba- laba. CARA KERJA 1. Amati dengan cermat semua spesimen yang telah disediakan. 2. Gunakan kunci identifikasi di bawah ini. Laporkan empat spesimen, masing- masing dari kelas Merostoma, Myriapoda, Arachnida, dan Crustacea. 3. Gambarlah sketsa dan tunjukkan bagian- bagian tubuh satu spesies anggota setiap kelas tersebut. 4. Deskripsikan satu spesies anggota setiap kelas tersebut dan tuliskan klasifikasinya. KUNCI IDENTIFIKASI 1 a Tidak memiliki antena, tubuh terbagi menjadi dua bagian yaitu prosoma ( kepala dan toraks) dan opisthosoma ( abdomen) lanjut no 2 b Memiliki antena lanjut no 3 2 a Appendage pada opisthosoma datar dan termodifikasi menjadi insang buku, memiliki telson ( bagian posterior tubuh yang memanjang seperti duri) Kelas Merostoma b Memiliki empat pasang kaki jalan, prosoma dan opisthosoma dapat dibedakan dengan jelas Kelas Arachnida 3 a Tubuh terdiri atas banyak segmen, Appendage ( kaki) banyak, yaitu lebih dari 10 pasang ( Kelas Myriapoda ) lanjut no 4 b Appendage ( kaki) kurang dari 10 pasang lanjut no 5 4 a Tubuh terdiri atas kurang lebih 15 segmen, setiap segmen memiliki sepasang kaki Ordo Chilopoda b Setiap dua segmen tubuh bersatu membentuk pseudosegmen, setiap sepasang kaki Ordo Diplopoda 48 Panduan Praktikum Avertebrata ACARA 7 ARTHROPODA PENGANTAR Filum Arthropoda memiliki ciri umum antara lain: tubuh simetri bilateral; tubuh memiliki kerangka luar dan dibedakan atas kepala, dada, serta perut yang terpisah atau bergabung menjadi satu; setiap segmen tubuh terdiri atas sepasang alat gerak atau tidak ada; saluran percernaan sudah lengkap yaitu terdiri atas mulut, usus, dan anus; Ekskresi dengan menggunakan tubulus malpighi; sistem peredaran darah terbuka; sistem saraf tangga tali; berkelamin terpisah, fertilisasi internal. Arthropoda merupakan kelompok hewan yang anggotanya paling banyak, agar dapat mempelajarinya dengan baik, maka anggota Arthropoda dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berikut. Menurut Pachenik ( 2000) klasifikasi Arthropoda adalah sebagai berikut: Subfilum Trilobitomorpha Kelas Trilobita Subfilum Chelicerata Kelas Merostomata Kelas Arachnida Kelas Pycnogonida Subfilum Mandibulata Kelas Myriapoda Ordo Chilopoda Ordo Diplopoda Kelas Insecta Subkelas Apterygota Subkelas Pterygota Kelas Crustacea Subkelas Malacostraca Ordo Isopoda Ordo Amphipoda Ordo Euphausiacea Ordo Stomatopoda Ordo Decapoda Subkelas Branchiopoda Subkelas Ostracoda Subkelas Copepoda Subkelas Pentastomida Subkelas Cirripedia KEGIATAN 1 TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan dan diskusi, diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk: 1. Menunjukkan bagian- bagian tubuh hewan Arthropoda dengan cara menggambar sketsanya; Panduan Praktikum Avertebrata 29 Caenorhabditis elegans , yang Ascaris lumbricoides dan Enterobius vermicularis . Filum Rotifera Cacing rotifera merupakan hewan renik penghuni danau, kolam air tawar, atau air laut. Tubuh simetris bilateral, tidak bersegmen. Bagian anterior berciri khas mahkota berambut ( corona atau trochal disc ). Hewan ini berukuran mikroskopis dan sering ditemukan bersama- sama dengan hewan air mikroskopis. 1. Kelas Seisonidea Semua anggota kelas ini hidup sebagai ektoparasit pada krustasea laut. Ukuran corona sangat tereduksi. 2. Kelas Bdelloida Semua anggota kelas ini hidup bebas dan bergerak ( mobil), misalnya dengan berenang dan merayap. Corona sangat berkembang dan berlobus dua. 3. Kelas Monogonanta Anggota kelas ini hidup bebas, berberenang, maupun sesil. Corona banyak mengalami modifikasi, misalnya corona bersilia sangat sedikit, corona tidak bersilia, corona berduri panjang. Gambar 2. Beberapa anggota Rotifera; A. Brachionus plicatilis ( Monogononta); B. Philodina roseala ( Bdelloidea); C. Sycnhaeta oblonga ; D. Collotheca trilobata A B C D 30 Panduan Praktikum Avertebrata Gambar 2. Beberapa anggota Rotifera ( lanjutan); E. Keratella ; F. Asplanchna sieboldi ; G. Tricocerca capucina ; H. Lecane (= monostyla) murrayi E H G F I Panduan Praktikum Avertebrata 47 dan tunjukkan ciri- ciri yang penting untuk identifikasi pada sketsa tersebut. 6. Morfometri juga merupakan data penting yang perlu dicatat. Panjang cangkang adalah jarak antara ujung anterior dan posterior cangkang. Tinggi cangkang adalah jarak antara puncak umbo dan sisi ventral cangkang. Ukurlah spesimen Anda. 7. Dengan menggunakan buku referensi, tentukan klasifikasi cumi yang Anda amati hingga tingkat spesies. 46 Panduan Praktikum Avertebrata KEGIATAN 5 TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan, diharapkan mahasiswa dapat: 1. Menunjukkan ciri- ciri penting spesimen amatan anggota Cephalopoda dengan menggambar sketsanya 2. Mengidentifikasi dan menentukan klasifikasi anggota Cephalopoda hingga tingkat ordo 3. Menunjukkan ciri- ciri penting spesimen amatan anggota Bivalvia dengan menggambar sketsanya 4. Mengidentifikasi dan menentukan klasifikasi anggota Bivalvia hingga tingkat spesies berdasarkan karakter cangkang dengan menggunakan buku identifikasi. ALAT DAN BAHAN a. Alat: mikroskop binokuler, lup, nampan plastik, cawan petri, penggaris b. Bahan: cumi segar, awetan kering cangkang bivalvia CARA KERJA 1. Amati spesimen segar cumi dengan cermat. Berdasarkan hasil pengamatan Anda, gambarlah sketsanya dan tunjukkan ciriciri yang penting untuk identifikasi pada sketsa tersebut. 2. Sayatlah satu tonjolan yang terdapat di tentakel cumi. Tonjolan- tonjolan tersebut adalah sukcer atau alat hisap. Amati sucker spesimen cumi tersebut dengan menggunakan mikroskop binokuler. Gambarlah hasil pengamatan Anda. 3. Bedahlah cumi, memanjang sumbu tubuh. Amati kerangka dalam cumi tersebut. Gambarlah kerangka dalam ( pen ) spesimen yang Anda amati. 4. Dengan menggunakan buku referensi, tentukan klasifikasi cumi yang Anda amati hingga tingkat ordo. 5. Setiap kelompok juga akan mendapatkan beberapa cangkang bivalvia. Amati semua cangkang tersebut dengan cermat. Berdasarkan hasil pengamatan Anda, gambarlah sketsanya Panduan Praktikum Avertebrata 31 KEGIATAN 1 TUJUAN Melalui kegiatan diskusi, diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan karakter pembeda anggota Nematoda ( cacing gilig) CARA KERJA 1. Gambar 2 menunjukkan penampang melintang Planaria sp., salah satu anggota Platyhelminthes yang telah Anda pelajari pada kegiatan praktikum sebelumnya, dan Ascaris lumbricoides ( salah satu anggota Filum Nematoda). Amati dengan cermat kedua gambar tersebut. Gambar 2. Penampang melintang Planaria sp. dan Ascaris lumbricoides 32 Panduan Praktikum Avertebrata 2. Tuliskan perbedaan keduanya dalam tabel berikut. Karakter Pembeda Dugesia sp. ( Platyhelminthes) Ascaris lumbricoides ( Nematoda) Bentuk tubuh Lapisan permukaan tubuh Coelom ( rongga tubuh) KEGIATAN 2 TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan dan diskusi, diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk: 1. Mengenali ciri- ciri penting cacing perut 2. Membedakan cacing perut jantan dan betina 3. Mendeskripsikan cacing perut, sebagai salah satu contoh anggota Nematoda 4. Menentukan klasifikasi setiap anggota Nematoda yang dipelajari hingga tingkat ordo. ALAT DAN BAHAN 1. Alat: kaca benda, kaca penutup, pipet, sarung tangan, penggaris, benang, dan kalkulator (= disiapkan oleh mahasiswa) serta mikroskop binokuler, pinset, nampan plastik, cawan petri. 2. Bahan: awetan cacing perut CARA KERJA 1. Setiap kelompok akan mendapat dua ekor cacing . Amati sediaan awetan basah tersebut dengan cermat. 2. Cacing perut memiliki seks terpisah. Betina berukuran lebih besar dan panjang daripada cacing jantan. Ciri khas cacing jantan adalah ujung posterior tubuh melengkung dan pada bagian tersebut terdapat bentukan seperti rambut kaku yang Panduan Praktikum Avertebrata 45 Gambar 4. Struktur umum cangkang bivalvia ( Ambarwati dan Trijoko, 2010; 2011) a b c d e f f A P c d b a h g e P A 44 Panduan Praktikum Avertebrata KEGIATAN 4 TUJUAN Melalui kegiatan studi literatur dan diskusi, diharapkan mahasiswa dapat menunjukkan ciri umum anggota Bilalvia dan Cephalopoda pada gambar sketsa. CARA KERJA 1. Gambar 3 adalah sketsa anggota Cephalopoda, cermati gambar tersebut dan lengkapi dengan bagian- bagian tubuhnya. 2. Gambar 4 adalah sketsa anggota Bivalvia, cermati gambar tersebut dan lengkapi dengan bagian- bagian tubuhnya. Gambar 3. Morfologi eksternal anggota Cephalopoda ( Pachenik, 2000) a b c a c d d e f g h i Panduan Praktikum Avertebrata 33 disebut spikula. Anda dapat menggunakan lup atau mikroskop binokuler untuk mengamati spikula secara jelas. Diskusikan dengan kelompok Anda fungsi alat tersebut. Setelah mengamati dengan cermat, Anda dapat membedakan cacing jantan dan betina. 3. Ukurlah panjang cacing betina dan cacing jantan. Gabungkan data morfometri cacing tersebut dengan data kelompok lain di kelas Anda. Selanjutnya, berdasarkan data tersebut, tentukan kisaran panjang, rata- rata dan standar deviasi panjang cacing jantan dan betina. 4. Tuangkan hasil pengamatan Anda dalam bentuk sketsa dan tunjukkan karakter- karakter penting cacing tersebut pada sketsa. 5. Susunlah deskripsi cacing cacing perut berdasarkan hasil pengamatan Anda. 6. Tentukan klasifikasi cacing cacing perut. KEGIATAN 3 TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan dan diskusi, diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk: 1. Menunjukkan ciri dan karakter pembeda setiap anggota Rotifera pada gambar sketsa. 2. Mendeskripsikan setiap anggota Rotifera yang ditemukan dalam kegiatan praktikum 3. Mengidentifikasi dan menentukan klasifikasi setiap anggota Rotifera yang dipelajari hingga tingkat ordo. ALAT DAN BAHAN 1. Alat: kaca benda, kaca penutup, pipet, penggaris, (= disiapkan oleh mahasiswa) serta mikroskop, mikroskop binokuler, pinset, nampan plastik, cawan petri. 2. Bahan: sampel air. Catatan: Sampel air disediakan oleh mahasiswa, yaitu berupa air kolam, air sawah, atau air sungai. 34 Panduan Praktikum Avertebrata Air kolam, air sawah, dan air sungai diambil di sekitar perakaran tumbuhan air, misalnya eceng gondok, dan di antara sisa- sisa tumbuhan yang terendam dan membusuk. CARA KERJA 1. Ambil setetes air sampel, letakkan pada kaca benda kemudian tutup dengan kaca penutup dengan hati- hati. Anda juga dapat mengamati akar tumbuhan air dan lumut dengan menggunakan mikroskop. Beberapa spesies Rotifera hidup sesil pada materi- materi tersebut. 2. Amati dengan menggunakan mikroskop. Mula- mula gunakan pembesaran lemah. Rotifera merupakan hewan multiseluler dan berukuran lebih besar daripada Protozoa sehingga mudah dibedakan. Ciri lain yang khas pada Rotifera adalah corona. Cermatilah corona hewan yang Anda temukan, apakah berlobus dua, termodifikasi, ataukah tereduksi. Ciri corona sangat penting untuk mengklasifikasikan hingga kategori kelas. 3. Gambarlah hasil pengamatan Anda dan tunjukkan ciri khas jenis yang Anda temukan di sketsa tersebut. 4. Buatlah deskripsi spesies Rotifera yang Anda temukan. 5. Berdasarkan hasil pengamatan, tentukan klasifikasinya hingga tingkat Ordo. 6. Anda wajib melaporkan satu spesies anggota Rotifera. Apabila Anda dapat menemukan, mengidentifikasi, dan melaporkan lebih dari satu, maka Anda akan memperoleh nilai plus. Panduan Praktikum Avertebrata 43 KEGIATAN 3 TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan, diharapkan mahasiswa dapat: 1. Menunjukkan ciri dan karakter pembeda cangkang anggota Gastropoda pada gambar sketsa. 2. Mendeskripsikan anggota Gastropoda 3. Mengidentifikasi dan menentukan klasifikasi setiap anggota Gastropoda 4. Mengenal keanekaragaman Gastropoda Indonesia. ALAT DAN BAHAN a. Alat: lup, pinset, nampan plastik, cawan petri, penggaris b. Bahan: awetan kering cangkang siput CARA KERJA 1. Setiap kelompok akan memperoleh empat awetan kering cangkang siput laut. 2. Amati keempat cangkang tersebut dengan saksama. 3. Perhatikan bahwa keempat spesimen tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. Pilihlah dua spesimen yang masing- masing berasal dari kelompok yang berbeda. 4. Amati dua spesimen cangkang tersebut secara lebih saksama. Perhatikan ciri- ciri penting cangkang sebagaimana yang telah Anda amati di kegiatan 1. 5. Gambarlah sketsa dua spesimen tersebut dan lengkapi dengan nama bagian- bagian tubuhnya yang merupakan ciri penting. 6. Susunlah deskripsi kedua spesies tersebut dan tentukan klasifikasinya hingga tingkat spesies. Anda dapat menggunakan buku identifikasi ( Dharma, 1988) yang telah disediakan. 42 Panduan Praktikum Avertebrata KEGIATAN 2 TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan, diharapkan mahasiswa dapat: 1. Menunjukkan ciri dan karakter pembeda anggota Gastropoda pada gambar sketsa 2. Mendeskripsikan salah satu anggota Gastropoda terestrial, yaitu bekicot 3. Mengidentifikasi dan menentukan klasifikasi bekicot hingga tingkat spesies. ALAT DAN BAHAN a. Alat: lup, pinset, nampan plastik, cawan petri, penggaris b. Bahan: bekicot yang masih hidup. CARA KERJA 1. Letakkan bekicot pada nampan plastik yang bersih. Biarkan beberapa saat dalam keadaan tenang hingga bekicot menjulurkan badannya dari dalam cangkang dan bergerak. Amati bagian- bagian tubuhnya yang terjulur. 2. Tubuh lunak bekicot terdiri atas kepala, leher, kaki muskular, dan visera. Kepala terletak di bagian anterior. Pada ujung agak ke arah ventral terdapat mulu yang di dalamnya terdapat gigi parut ( radula). Di kepala terdapat 2 pasang tentakel. Sepasang tentakel terletak di bagian dorsal, berukuran panjang dan terdapat bintik mata sebagai fotoreseptor. Tentakel yang pendek berada di dekat mulut sebagai kemoreseptor. Di sisi sebelah kanan leher terdapat lubang genital. Kaki terdiri atas otot- otot yang kuat untuk merayap. Massa visera terdapat di dalam cangkang dan untuk mengamatinya perlu pembedahan. 3. Amati cangkang bekicot dengan saksama. Berdasarkan hasil diskusi pada kegiatan 1, amati ciri- ciri cangkang bekicot yang penting untuk identifikasi. 4. Tuangkan hasil pengamatan Anda dalam sketsa dan tunjukkan ciri- ciri penting bekicot dalam sketsa tersebut. Tuliskan deskripsi singkat dan klasifikasi bekicot hingga tingkat spesies. Anda dapat menggunakan buku identifikasi ( Dharma, 1988) yang telah disediakan. Panduan Praktikum Avertebrata 35 ACARA 5 ANNELIDA PENGANTAR Cacing yang termasuk filum ini tubuhnya bersegmen dengan ciri utamanya metameris ( bentuk badan yang tersusun oleh bagian- bagian yang sama dan letaknya berturut- turut dari depan ke belakang). Pada umumnya Annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam tanah yang lembap, di laut dan di air tawar. Beberapa spesies bersifat komensal pada hewan- hewan akuatik, dan ada juga yang bersifat parasit pada hewan vertebrata. Perbedaan cacing yang termasuk dalam filum ini dengan cacingcacing yang lainnya, yaitu ( 1) mempunyai rongga tubuh, saluran pencernaan makanan dan dinding tubuh merupakan coelom yang sebenarnya, dilapisi oleh epidermis yang biasanya disebut peritonium; ( 2) tubuh tersusun atas metameri atau somit; ( 3) pada bagian anterior terdapat ruas prae oral, yang disebut prostomium; ( 4) sistem saraf terdiri atas sepasang ganglion yang dhubungkan oleh sepasang saraf sehingga disebut sistem saraf tangga tali; ( 5) tubuh dilapisi kutikula; ( 6) pada rongga tubuh terdapat sekat kitin yang disebut septum. Filum Annelida dibagi menjadi tiga Kelas ( berdasarkan keadaan rambut di permukaan tubuh), yaitu: 1. Polychaeta . Habitatnya di lautan, tubuhnya terdiri dari banyak rambut ( poly = banyak, chaeta = rambut). Contoh cacing tersebut adalah : Nereis viren, Eunice viridis ( cacing wawo) dan Lysidice oele ( cacing palolo). 2. Oligochaeta . Habitatnya di tanah, memiliki sedikit rambut ( oligo = sedikit, chaeta = rambut). Contoh cacing tersebut adalah : Lumbricus terestris dan Pheretima sp. ( keduanya dikenal sebagai cacing tanah). Mempunyai organ KIitellum yang berisi semua kelenjar, termasuk kelenjar kelamin. Pernafasan dilakukan oleh pemukaan tubuhnya. Makanan diedarkan ke seluruh tubuh dengan sistem peredaran darah. 3. Hirudinae . Tidak memiliki rambut ( chaeta ) tetapi menghasilkan zat antikoagulasi ( anti pembekuan darah) yang dinarnakan Hirudin . Hirudin dari lintah sering digunakan dokter- dokter dahulu untuk mengeluarkan darah dan nanah dari bisul. 36 Panduan Praktikum Avertebrata Contoh cacing tersebut adalah: Hirudo medicinalis ( lintah), Hirudinaria javanica ( lintah kuning) dan Haemadipsa zeylanica ( pacet). TUJUAN 1. Menunjukkan bagian- bagian tubuh hewan Annelida dengan cara menggambar sketsanya; 2. Melakukan identifikasi terhadap anggota- anggota Annelida berdasarkan ciri morfologi dan struktur tubuh; 3. Menuliskan klasifikasi masing- masing spesies Annelida. ALAT DAN BAHAN a. Alat: mikroskop binokuler, lup, pinset, nampan, cawan petri b. Bahan: sediaan awetan basah Nereis sp, cacing tanah, lintah dan cacing darah/ cacing sutra. KEGIATAN 1 1. Sebutkan bagian- bagian yang ditunjuk pada Gambar 1. Gambar 1. Nereis ( bagian anterior) Panduan Praktikum Avertebrata 41 Ukuran Cangkang: Arah putaran cangkang: Bentuk Cangkang: Bentuk Mulut Cangkang: Gambar 2. Ciri- ciri penting cangkang siput ( Heryanto dkk., 1998) 40 Panduan Praktikum Avertebrata 3. Bagian tubuh manakah yang dapat ditemukan pada setiap anggota Gastropoda dan bagian tubuh mana yang hanya ditemukan pada spesies tertentu 4. Cermati Gambar 2. Gambar tersebut menunjukkan ciri- ciri cangkang yang penting untuk identifikasi. Berdasarkan gambar tersebut, uraikan ciri- ciri penting cangkang Gastropoda Gambar 1. Sketsa cangkang siput; Bagian- bagiannya: mulut cangkang; puncak; bibir luar; bibir kolumela; seluk badan; sulur; dasar; garis aksial; garis spiral; duri; satu seluk ( Pachenik, 2000) a) e) d) c) b) f) g) h) i) j) k) Panduan Praktikum Avertebrata 37 2. Sebutkan bagian- bagian yang ditunjuk pada Gambar 2. Gambar 2. Cacing tanah KEGIATAN 2 1. Amati semua spesimen amatan yang ada! 2. Gambarlah spesimen Annelida yang telah Anda amati, lengkapi gambar tersebut dengan keterangan bagian- bagian masingmasing spesimen. 3. Berdasarkan hasil pengamatan, buatlah deskripsi spesimen Annelida tersebut ! 4. Buatlah klasifikasi dari masing- masing spesimen sampai dengan tingkatan ordo A. E. D B. C. 38 Panduan Praktikum Avertebrata ACARA 6 MOLLUSCA PENGANTAR Mollusca berasal dari bahasa Latin, yaitu kata mollis , yang berarti lunak. Oleh karena itu, ciri utama hewan ini tubuhnya lunak, pada bagian anterior terdapat kepala, kaki terletak di bagian ventral, dan bagian dorsal berisi organ- organ visceral. Mollusca memiliki rentangan habitat yang cukup lebar, mulai dari dasar laut sampai garis parang surut tertinggi, selain itu juga banyak yang hidup di air tawar, bahkan juga di habitat terestrial, khususnya yang mempunyai kelembapan tinggi. Ciri- ciri umum hewan anggota Filum Mollusca adalah sebagai berikut. 1. Tubuh memiliki simetri bilateral, tidak bersegmen, kecuali pada Monoplacophora. 2. Memiliki kepala yang jelas 3. Dinding tubuh tebal dan berotot 4. Saluran pencernaan berkembang baik 5. Memiliki sistem peredaran darah dan jantung 6. Sebagian besar anggota Filum Mollusca memiliki cangkang yang terbuat dari zat kapur/ kitin. 7. Organ ekskresi berupa ginjal yang berjumlah sepasang atau hanya satu buah 8. Memiliki sebuah cincin saraf yang berhubungan dengan dua pasang tali saraf Menurut Pachenik ( 2000) Filum Mollusca dibedakan menjadi tujuh kelas, yaitu Aplacophora, ( 2) Monoplacophora, ( 3) Polyplacophora, ( 4) Scaphoda, ( 5) Gastropoda, ( 6) Bivalvia, dan ( 7) Cephalopoda. Pada kegiatan praktikum ini akan kita pelajari tiga kelas, yaitu Gastropoda, Bivalvia, dan Cephalopoda. Kelas Gastropoda Memiliki ciri- ciri sebagai berikut: umumnya bercangkang tunggal yang terpilin berbentuk spiral; beberapa spesies tidak memiliki cangkang; kepala jelas umumnya dengan 2 pasang tentakel; kaki lebar dan pipih; rongga mantel dan organ- organ internal ( bagi yang bercangkang) terputar 180 derajat terhadap kepala dan kaki, organ reproduksi berumah satu atau dua; Panduan Praktikum Avertebrata 39 fertilisasi secara internal maupun eksternal; organ ekskresi berupa nephridia. Contoh: Achatina fulica , genus Lymnea . Kelas Pelecypoda Kelas Pelecypoda disebut juga Bivalvia atau Lamellibranchiata, contoh hewan ini yaitu remis, tiram, dan kijing. Ciri- ciri Kelas ini antara lain: memiliki dua buah cangkang yang setangkup, bentuk dan ukurannya bervariasi; tanpa kepala dan mulut; kaki berbentuk seperti kapak; insang tipis dan berlapis- lapis, insang terletak di antara mantel; organ reproduksi berumah dua, fertilisasi eksternal; bagian dorsal cangkang terdapat gigi engsel dan ligamen. Kelas Cephalopoda Merupakan jenis mollusca yang memilki kaki di kepala; simetri tubuh bilateral; tubuh tertutup oleh mantel yang tebal; kepala dapat dibedakan dari bagian tubuh yang lainnya; kepala besar, mata berkembang baik dan kompleks; mulut dilengkapi dengan 2 rahang dari kitin, berbentuk seperti catut, dikelilingi 8 10 lengan/ tentakel; cangkang umumnya sudah tereduksi, berbentuk pipih terbuat dari zat kitin atau kapur; cangkang internal kecuali pada Nautilus, namun ada yang tidak bercangkang ( misalnya= Octopus ); pembuahan internal; hewan akuatik yang seluruhnya hidup di laut. Klasifikasi didasarkan pada jumlah insang, tentakel, dan ada tidaknya cangkang. KEGIATAN 1 TUJUAN Melalui kegiatan pengamatan dan diskusi, diharapkan mahasiswa dapat menunjukkan ciri dan karakter pembeda anggota Gastropoda pada gambar sketsa. CARA KERJA 1. Gambar 1 adalah sketsa anggota Gastropoda yang bercangkang, cermati gambar tersebut dan lengkapi dengan bagian- bagian tubuhnya. 2. Diskusikan dengan anggota kelompok Anda, apakah semua bagian tersebut dapat dijumpai pada setiap anggota Gastropoda.