| www.unesa.ac.id | pdpt.unesa.ac.id

KAMPUS KETINTANG
Jl. Ketintang, Surabaya 60231

KAMPUS LIDAH WETAN
Jl. Lidah Wetan, Surabaya
info@unesa.ac.id

pencemaran lingkungan
FileName : pencemaran lingkungan.doc
FileType : application/msword
FileSize : 820 KB
Download



Plain Text Preview

PENCEMARAN LINGKUNGAN Pencemaran merupakan kata yang hampir setiap hari dibicarakan setiap orang. Kita yakini pula bahwa pencemaran adalah sesuatu yang buruk atau tidak kita inginkan. Tetapi bagaimanakah kita menilainya; seberapa buruk, dengan mekanisme yang bagaimana hingga dikatakan buruk atau merugikan; merugikan untuk siapa. Sejumlah pertanyaan dapat timbul dan untuk menjawabnya perlu dipertimbangkan beberapa hal: a. Bahan apa yang ter- atau di- buang ke suatu area, sebagai bagian dari aktivitas manusia. b. Sebagai akibat dari bahan buangan tersebut, bagaimana dampak terhadap kehidupan di wilayah tersebut. c. Bagaimanakah implikasinya terhadap kesehatan manusia, sumber pakan, keindahan, kenyamanan, konservasi alam atau ekosistem secara umum. d. Apakah yang dapat dilakukan atau yang harus dilakukan untuk mengurangi atau mencegah damapak yang tidak dikehendaki terhadap bahan buangan pada suatu wilayah. e. Apakah dengan adanya bahan buangan akan mengakibatkan keadaan di suatu wilayah menjadi lebih baik atau lebih buruk dari keadaan sebelumnya. Sebelum kita membahas lebih lanjut dengan berbagai macam bahan yang dapat mencemari alam kita, apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan pancemaran. Pencemaran adalah masukan bahan atau energi manusia secara langsung atau tidak langsung ke suatu wilayah (air, darata atau udara) hingga menimbulkan dampak yang membahayakan, misalnya bahaya bagi kehidupan; merugikan bagi kesehatan manusia; menurunnya kualitas lingkungan atau menurunnya kenyamanan di wilayah tersebut Bahan pencemar dapat beredar di udara, berada di air tawar atau air laut maupun meresap di daratan. Selanjutnya akan dibahas wilayah terjadinya pencemaran (udara, air laut, air tawar, dan darat) dan kaitannya dengan kesehatan. PENCEMARAN UDARA DAN KESEHATAN Selama 24 jam manusia dapat mengisap hingga 15 ribu liter udara. Sejumlah partikel akibat dari berbagai aktivitas manusia dapat berada di udara dan merupakan pencemar. Sumber pencemar udara sangat bervariasi, dapat dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, pencemar udara yang berasal dari industri dan aktivitas tekhnologi lainnya. Misalnya saja dari daerah penyulingan minyak, pemurnian logam, PLTU,kendaraan bermotor, kesemuanya menghasilkan sejumlah besar pencemar ke udara. Berbagai aktivitas yang disebutkan di atas dapat berakibat: a. Pancaran dari hasil pembakaran yang tidak sempurna; juga abu dari berbagai industri yang tertiupkan ke udara. b. SO2, sebagai hasil pembakaran minyak dan batu bara. c. Berbagai senyawa hidrokarbon hasil pembakaran minyak yang tidak sempurna, termasuk benzopirin, senyawa penyebab kanker yang terkenal. d. Nitrogen oksida (NO, NO2), terbentuk sebagai ikatan kimia antara O2 dengan N2. e. Karbonmonoksida (CO), dihasilkan dari pembakaran bahan baker yang tidak sempurna. Dengan bantuan sinar surya, oksida-oksida nitrogen, senyawa hidrokarbon dan dengan adanya oksigen dapat berinteraksi dengan senyawa kimia menghasilkan senyawa pengoksida yang sangat kuat seperti ozon (O3) dan peroksisetilnitrat (PAN). Senyawa-senyawa pencemar yang timbul secara tidak langsung sangat merusak kehidupan tanaman dan juga dapat menimbulkan pembentukan kabut bercampur asap. Kabut-kabut yang mengandung PAN menimbulkan iritasi pada mata. Pencemar udara kelompok kedua berasal dari asap rokok yang bukan dari pengisapan pipa atau cerutu. Orang yang merokok pipa atau cerutu biasanya hanya menghisap hanya sampai rongga mulut saja. Lain halnya dengan kebiasaan merokok sigaret yang menghisap asap rokoknya dalam-dalam, hingga asap yang sampai ke paru-paru lebih banyak dari pada perokok cerutu atau pipa. Asap rokok mengandung senyawa hidrokarbon, termasuk benzopirin. Apakah mekanisme pertahanan saluran napas tidak dapat melindungi paru-paru dari pencemar udara? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Pendekatan untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan dengan berbagi studi perbansingan terhadap masyarakat yang hidup di daerah industri dengan orang-oarng yang tinggal di lokasi jauh industri; dibandingkannya pula keadaannya ini dengan para pengisap sigaret. Data yang dapat dikumpulkan bertambah banyak dan menjadi semakin jelas bahwa berbagai penyakit telah diderita oleh orang-orang yang selalu terpapar pada pencemar udara atau pada pengisap sigaret atau pada kedua-duanya. Penyakit ini meliputi bronchitis yang kronis dan dapat mengarah pada emfisema, asma, gangguan pada peredaran darah dan kanker paru-paru. PENCEMARAN PADA AIR TAWAR 1. Jenis dan asal pencemar Perairan air tawar dapat merupakan sungai kecil hingga sungai besar sampai batas muara, danau, sumur permukaan atau sumur bor. Senyawa pencemar yang dapat mengotori perairan tawar dapat berasal dari industri, dari area pemukiman atau persawahan dan area pertanian lainnya. Misalnya: a. Suatu industri dapat membuang limbah berupa logam, sianida, fenpol, senyawa asam atau basa dan sebagainya. b. Minyak dan sejenisnya, berasal dari kebocoran tangki, system saluran (pipa). c. Bahan organic, dari pewmbusukan organisme mati, limbah pertanian dan sebagainya. d. Bakteri, virus dan organisme lain yang menimbulkan penyakit, berasal dari kotoran (urine dan feses) manusia dan hewan. e. Deterjen, bersal dari area pemukiman atau industri deterjen. f. Pestisida, senyawa kimia sintetis yang bnayak digunakan untuk pemberantasn hama (serangga) atau hewan perusak lain, gulma, jamur dan sebagainya. Menimbulkan dampak terhadap berbagai kehidupan atau organisme bukan sasaran (termasuk manusia), bukan saja dalam air tetapi juga di udara dan daratan. g. Garam-garam anorganik, berasal dari penggunaan pupuk di area pertanian h. Senyawa kimia organik sintetis, dari industri farmasi dan petrokimia. Bahan-bahan ini lebih tahan terhadap penguraian secara biologi disbanding dengan senyawa dari bahan alam. i. Kenaikan suhu, berasal dari air yang digunakan dalam system pendingin suatu pabrik. j. Bahan radioaktif, dari rumah sakit, instalansi tenaga nuklir, hujan yang membawa debu radioaktif. k. Lain-lain. 2. Pencemaran air dan kesehatan Sumber air yang memiliki kualitas semakin berkurang dengan bertambahnya kebutuhan manusia dan industri, hingga bertambah banyak digunakan air sungai yang sebenarnya yang telah tercemar oleh limbah industri maupun buangan air kotor. Buangan dari rumah-rumah penduduk sering mengandung pencemar berupa organisme hidup, merupakan sumber organisme penyebab penyakit. Selain berbagai jenis poenyakit dan virus dapat pula terbawa telur parasit dari usus manusia. Dapat pula terbawa senyawa-senyawa toksik dari limbah industri yang sering mencemari air permukaan dan sering menyebabkan keracunan pada organisme air maupun pada hewan ternak dan manusia. Kematian ikan di sungai merupakan indikasi yang mudah terlihat. Senyawa toksik yang mungkin berada dalam perairan, misalnya: Arsenat digunakan untuk memberantas penyakit pada ternak; untuk pemberantasan gulma; pengawet kayu. Senyawa ini dapat menyebabkan penyakit kulit bahkan kanker pada kulit. Gangguan peredaran darah pada kaki (arteriosclerosis) manusia, sering dikaitkan dengan tingginya kadar arsenat dalam air atau di tanah. Merkuri, menimbulkan penyakit minamata di Jepang dan Amerika serikat, karena orang makan ikan yang berasal dari perairan yang tercemar limbah berisi merkuri (metil-merkuri). Senyawa ini mudah sekali terserap terutama melalui system pencernaan. Setelah itu kadarnya pada darah, ginjal dan otak akan meningkat sekali. Bila terjadi pada wanita yang sedang mengandung, mudah sekali masuk ke dalam plasenta; kadarnya dalam darah fetus akan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar dalam darah ibu. Menimbulkan kerusakan pada syaraf pusat. Pada embrio dapat terjadi atrofi pada jaringan otaknya. Kadmium, sebagai hasil samping dari industri seng. Bahan ini digunkaan sebagai pelapis besa, baja atau sebagai senyawa anti karat; digunakan pula dalam campuran cat dan insektisida. Cadmium sulfide kadang-kadang digunakan pula dalam obat pencuci rambut. Penyakit yang dikenal dengan nama Itai-iatai terjadi pada orang yang tinggal di sekitar teluk Toyama (jepang); air yang digunakan untuk mengairi sawahnya telah tercemar cadmium dari daerah tambang. Terasa sakit-sakit pada pinggul dan kaki terutama pada wanita yang telahg mengalami menopause dan pernah melahirkan. Terjadi kelainan pada pembentukan tulang, penurunan tinggi badan, karapuhan tulang. Timbale merupakan komponen pada saluran air minum selain limbah dari berbgai industri. Pada manusia yang terkena keracunan dapat mengalami anemia, kerusakan saraf periferi, otak dan lainnya. PENCEMARAN DI LAUT 1. Jenis pencemar. Bahan pencemar yang mencapai laut sebagai akibat ulah manusia dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok. a. Senyawa yang dapat terurai. Jumlah terbesar pencemar yang mencapai pantai dan laut terdiri dari bahan organic, dapat terurai secara biotis. Dalam pengurairan ini berlangsung proses oksidasi, utamanya menurunkan jumlah senyawa organic menjadi senyawa anorganikyang mantap seperti CO2, H2O dan NH3. Buangan kelompok ini dapat berasal dari berbagai industri dekat pantai atau daerah muara sungai, misalny: industri pertanian atau limbah dari area pertanian dan perikanan, industri pemroses makanan, pabrik gula, pemotong hewan, pembuat bir, pabrik kertas, industri kimia, tumpahan minyak. Sebenarnya buangan yang dapat diurai ini tidak jauh berbeda dari sisa tanaman atau hewan mati yang kaan diurai oleh bakteri pembusuk. Bakteri merupakan komponen penting dalam rantai makanan di laut. Karenanya, penambahan senyawa organik dapat memperkaya ekosistem laut, seperti pemberian pupuk di kebun. Sebaiknya bila laju masukan lebih tinggi daripada laju penguraian oleh bakteri, akibatnya bahan organic akan menumpuk. Aktivitas bakteri bergantung pada suhu sesuai, kadar oksigen terlarut dan faktor lain. bila suhu tidak sesuai, kadar oksigen terlalu rendah atau ada faktor penghambat kerja bakteri maka laju penguraian oleh bakteri dan kapasitas tampung air laut terhadap bahan organik akan menurun. Sehingga terjadi penimbunan bahan organik dan penyusutan oksigen. Dalam keadaan demikian, aktivitas penguraian hanya dilakukan oleh bakteri anerobik. Bakteri ini bekerja lambat dan memberokan hasil akhir gas hydrogen sulfide (H2S) dan metan. Penimbunan bahan organik dan penyusutan oksigen dalam air dapat memberikan dampak buruk terhadap flora dan fauna air. b. Senyawa yang mudah larut atau terencerkan Beberapa bahan buangan dapat segera kehilangan daya rusaknya, tidak lama setelah berada dalam air. Namun hal ini bergabtung pada laju pembuangan (masukan)ke laut, arus air dan lain sebagainya. Panas. Berasal dari air pendingin pada pembangkit tenaga listrik atau industri lain yang berlokasi di pantai. Proses pendinginan kembali bergantung pada pencampurannya dengan arus air dingin. Di daerah temperate keadaan ini tidak menjadi masalah; sebaliknya di daerah iklim tropis dimana suhu air pada umumnya telah menjadi factor pembatas bagi kelangsungan hidup beberapa organisme. Pada peningkatan suhu air dapat mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Asam dan basa. Air larut memiliki sifat larutan buffer. Limbah asam atau basa segera dapat dinetralkan. Sianida, akan cepat terdisosiasi dalam air laut. Sehingga dampak buangan sianida akan terbatas di sekitar daerah yang langsung menampung limbah pabrik. c. Senyawa berbentuk partikel Senyawa kelompok ini dapat menyumbat jalan makan atau saluranm pernafasan hewan, mengurangi proses fotosintesis pada tanaman karena menghambat penetrasi cahaya; bila mengendap pada dasar laut menyebabkan hewan dasar laut sukar bernafas dan merubah kedaan dasar laut. Senyawa kelompok ini termasuk: a. Debu dari pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan arang batu. b. Buangan dari industri porselein. c. Sisa-sisa pengerukan dasar laut d. Bahan-bahan plastik. d. Lain-lain Beberapa bahan buangan tidak mudah dihancurkan oleh bakteri atau sukar dihilangkan tetapi justru reaktif terhadap tumbuhan atau hewan dan kadang-kadang bersifat racun. Contoh buangan ini adalah: 1. Logam berat (merkuri, timbal, tembaga, seng). 2. Senyawa hidrokarbon-halogen (DDT, PCB). 3. Bahan radioaktif 2. Bentuk limbah Meskipun dalam keterangan di atas limbah dibagi dalam bahan-bahan jenis buangan yang memiliki sifta tertentu tetapi dalam kenyataannya bentuk dan sifat limbah tidak sesederhana seperti yang tertulis diatas. Misalny asaja suatu pembangkit listrik terutama membuang air yang bersuhu lebih tinggi dari suhu air di sekelilingnya. Selain bersifat meningkatkan suhu air, limbah yang dibuang juga mengandung senyawa khlor. Senyawa ini dicampurkan ke dalam air untul membersihkan organisme yang dapat menyumbat atau menurunkan efisiensi pada proses pendinginan. Logam dari bagian system pendingin dapat pula terbawa dalam limbah. Demikian pula air sungai yang sampai ke laut mengandung jumlah besar bahan organic tetapi juga dapat berisi berbagai macam senyawa seperti logam, minyak dan lemak, detergen dan lain-lain. 3. Sumber limbah Limbah yang sampai ke laut dapat merupakan tumpahan langsung dari daratan melalui pipa saluran. Kota pelabuhan dapat merupakan pusat pemukimam dan industri. Limbah dari area pemukiman maupun industri dapat langsung ditumpahkan ke laut tanpa melalui proses pengolahan limbah. Dengan penambahan jumlah penduduk dan industri, terutama industri muara. Daerah muara menjadi kotor, berbau, dan tanpa kehidupan. Kota-kota sepanjang pantai dapat pula memiliki industri. Dalam rangka penyelamatan air sungai dan danau untuk air minum, banyak industri yang memrrlukan air sebagai pendingin atau untuk pengencer limbahnya, didirikan di sepanjang pantai. Di Inggris misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir ditempatkan di sutau pantai. Limbahnya dapat ditumpahkan langsung ke laut. Di beberapa Negara limbah industri pantai, bahkan dicurahkan di atas permukaan air dan tanpa melalui proses pengolahan limbah terlebih dahulu. Akibatnya kondisi pantai dan lokasi untuk pariwisata menjadi tidak nyaman, bahkan dapat meracuni daerah renang di pantai. Melalui sungai Limbah industri yang telah melewati proses pengolahan maupun yang belum akan di alirkan ke sungai sepanjang perjalanannya ke laut mungkin ada yang masih utuh atau tidak mudah untuk dihancurkan secara alam. Seluruh bahan ini akan tercurah ke laut melalui muara. Bahan organic umumnya lebih mudah dihancurkan oleh jasad mikro. Bergantung pada jarak industri tersebut ke laut hingga selama perjalanan sebelum mencapai muara telah dicerna oleh jasad mikro. Pestisida, akan tersapu hujan di lahan pertanian dan kehutanan hingga terbawa ke perairan. Senyawa selanjutnya dapat mencapai muara ke laut. Berbagai jenis minyak juga dapat tersapu hujan, mencapai perairan dan terbawa ke laut. Aktivitas di laut Dalam kaitannya dalam perdagangan, untuk menekan biaya, banyak digunakan jasa angkutan laut. Berbagai bahan termasuk yang berbahaya dalam jumlah besar diangkut dengan kapal-kapal besar, seperti: minyak, gas alam cair, pestisida, senyawa-senyawa kimia. Kecelakaan di lautan, dapat menimbulkan kerusakan kapal hingga menumpahkan muatannya. Telah sering terjadi muatan minyak dari tengker besar yang bocor atau karena kecelakan lain. berbagai bahan dibawa dalam peti kemas dan diletakkan di bagian dek. Dalam cuaca yang buruk sekali atau gelombang yang ganas peti-peti kemas dapat terlepas dan jatuh ke laut. Pencucian tengker atau kapal barang lain dapat dilakukan di laut lepas meskipun tidak selamanya dibolehkan. Sebagai bahan termasuk minyak dan sampah plastic dalam jumlah cukup besar terbuang ke laut lepas, karena dianggap sebagai daerah aman sehingga sering terjadi pertentangan fisik antara para pecinta alam dengan pihak pembuang di tengah laut. Pengerukan muara atau jalan masuk ke pelabuhan sering harus dilakukan agar kedalamam laut terjaga untuk tetap dapat dilalui kapal. Lumpur hasil pengerukan yang berisi berbagai bahan, termasuk logam berat, dipindahkan ke tengah laut. Lumpur dari berbagai industri hasil pengolahan limbah sering pula dibuang ke tengah laut. Pengeboran minyak lepas pantai atau di tengah laut juga dapat mengalami kecelakaan yang berakibat pencemaran minyak. Melalui hujan Buangan gas dari berbagai industri atau kendaraan bermotor melalui cerobong asap dapat kembali ke tanah atau air (laut) melalui musim hujan. 4. Pencemaran laut dan kesehatan Aliran air kotor yang melalui pipa dari daratan akan ditumpahkan ke laut. Berbagai kehidupan di sekitar area pembuangan ini dapat terkontaminasi senyawa atau bakteri dari daratan yang terbawa aliran tersebut. Hewan laut mungkin tidak terganggu oleh berbagai kontaminan. Resiko utama adalah terhadap pemangsa, memakan hewan laut yang telah terkontaminasi. Siput laut misalnya yang hidup dari bahan buangan organic, dapat merupakan pembawa bakteri pathogen pada insangnya yang selanjutnya akan ditularkan pada pemangsanya termasuk manusia. Resiko lebih besar lagi bila makan hewan segar tanpa dimasak terlebih dahulu. Penambahan bahan organic di laut menyebabkan perkembangan dinoflagellata, yang sering menganudng racun saraf. Bila hewan ini dimakan siput tidak mengakibatkan apa-apa pada siput. Tetapi bila selanjutnya bila siput itu dimakan manusia dapat menyebabkan mual dan terganggu keseimbangannya. Pada keaadaan yang lebih parah menyebabkan kejng-kejang dan kematian. Bahan radioaktif dapat menimbulkan damapak somatic atau genetic pada manusia. Contoh dampak somatic yang penting adalah leukemia dan kanker pada tulang, tiroid dan paru-paru. Sedangkan dampak genetic sebagai akibat dari iradiasi kelenjar kelamin. PENCEMARAN DI DARAT Bahan pencemar yang sampai di tanah daratan dapat terjadi karena: a. Hasil penyemprotan daru udara yang tidak tertahan atau tidak terserap tanaman; b. Penimbunan Lumpur limbah hasil pengolahan limbah industri; c. Kebocoran dari limbah yang dikubur di dalam tanah. KESIMPULAN Mengingat definisi pencemaran dengan berbagai contoh dampak yang merugikan, ternyata semua hal itu dikaitkan dengan kepentingan manusia, misalnya: * Penggunaan bensin kendaraan bermotor * Arang batu sebagai bahan bakar * Pengangkutan minyak ke daerah lain * Pembangkit tenaga listrik * Membuang limbah Berbagai aktivitas di atas bertentangan dengan kepentingan lain, misalnya: * Kesehatan * Budidaya perikanan * Kenyamanan, pariwisata, rekreasi, nilai estetika * Kepentingan ilmu pengetahuan Dalam pengambilan keputusan suatu aktivitas perlu dipertimbangkan apakah yang menjadi prioritas utamanya. Pada umumnya prioritas yang diletakkan pada tempat yang paling tinggi adalah kesehatan manusia Untuk pendekatan suatu masalah diperlukan sejumlah informasi misalnya: * Bagaimanakah tingkat pencemaran atau kontaminasi di suatu area yang ingin diselamatkan. * Darimana asal pencemar. * Bagaimanakah bentuk bungannya. * Bagaimnakah dampaknya terhadap hewan dan tumbuhan di area tersebut. * Bila tumbuhan atau hewa di area tersebut terpengaruh apakah merupakan suatu masalah. * Pengaruh tersebut menimbulkan masalah terhadap apa/siapa. * Kepentingan apa lagi yang terpengaruh oleh bahan buangan tersebut. * Bila dibuangketempat lain apakah lebih baik atau lebih buruk. * Usaha apa yang dapat dilakukan; seberapa jauh usaha dapat dilakukan untuk pembuangan limbah. * Berapa biaya untuk pembuangan limbah tersebut. Daftar pertanyaan ini dapat diperpanjang hingga mencapai titik kesimpulan terbaik dilihat dari segi kepentingan manusia. LATIHAN SOAL 1. a. Sebutkan 4 macam penyakit yang disebabkan oleh penyebab biotis! b. Sebutkan 4 macam penyakit yang disebabkan oleh penyebab abiotis! 2. Jelaskan kata-kata di bawah ini dan beri contoh-contohnya: Pathogen, parasit, vektor, reservoir, virulen, epidemi, endemi,pandemi dan epizootik. 3. Sebutkan 3 kategori klasifikasi penyakit menular menurut May, dan beri contoh-contohnya! 4. a. Apa yang menyebabkan penyakit trachoma? b. Bagaimnakan penyebarannya? c. Bagaimana cara penyebarannya? 5. a. Apakah penyebab penyakit malaria dan bagaimna gejalanya? b. Bagaimana cara penyebarannya? c. Bagaimana cara pemberantasannya? 6. a. Penyakit pes tergolong kategori yang mana dengan menjelaskan faktor-faktornya! Bagaimana gejalanya? b. Bagaimana cara penyebarannya? c. Bagaimana cara pemberantasannya? 7. a. Apakah yang menyebabkan penyebab demam berdarah dengu (DBD) dan bagaimna gejalanya b. Bagaimana cara penyebarannya? c. Bagaimana cara pemberantasannya? 8. a. Apakah yang menyebabkan penyakit influenza, dan bagaimana gejalanya? b. Bagaimana cara penyebarannya? c. Bagaimana cara pemberantasannya? 9. a. Apa yang dimaksud dengan pencemaran? b. Kemana mengalirnya bahan pencemar? 10. a. Beri contoh sumber pencemar udara b. Bagaimana terbentuknya ozon? c. Apakah dampak negatif dari pencemaran udara? d. Apa bahaya orang yang merokok? 11. a. Sebutkan beberapa unsur pencemar pada air tawar! b. Sebutkan beberapa sumber pencemar yang mudah diamati bahwa air atau sungai itu tecemar! 12. Sebutkan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi bila zat-zat dibawah ini masuk ke perairan: - arsenat - kadmium - timbale 13. a. Sebutkan beberapa senyawa pencemar di laut yang dapat terurai! b. Sebutkan beberapa pencemar yang tidak mudah terurai oleh bakteri 14. Apa bahaya bahan radioaktif pada kesehatan kita! PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP*? Maksud penyajian uraian ini ialah memberi pemahaman tentang kebijaksanaan, stategi dan sistem pengelolaan lingkungan hidup, dengan harapan dapat merumuskan peningkatannya guna keseimbangan alam lingkungan dalam menunjang pembangunan berwawasan lingkungan. Permasalahan Pokok Sumber alam Indonesia bersifat terbatas, sebaliknya jumlah penduduk dan pola hidup kian meningkat sehingga memerlukan sumber alam semakin banyak. Perkembangan teknologi yang tersedia cenderung mengolah sumber alam dengan produk sampingan berupa limbah yang kian meningkat. Sumber alam terbagi atas, pertama yang bisa diperbarui (renewable resource) seperti kayu, tumbuh-tumbuhan, kedua yang tidak bisa diperbarui (non-renewable resource) seperti batubara, minyak bumi, bahan tambang, dan lain-lainnya. Permasalahan pokoknya ialah bagaimana mengolah sumber alam dengan bijaksana agar tertupang proses pembangunan yang berkesinambungan bagi peningkatan kualitas hidup rakyat generasi demi generasi sepanjang masa. Tiga hal tercakup di sini : 1. pengelolaan sumber alam secara bijaksana; 2. pembangunan berkesinambungan sepanjang masa; 3. peningkatan kualitas hidup generasi demi generasi. Pengelolaan sumber alam yang tidak bisa diperbarui perlu memperhitungkan : 1. segi keterbatasan jumlah dan kualitas sumber alam; 2. lokasi sdumber alam serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan masyarakat dan pembangunan daerah; 3. penggunaan hasil sumber alam agar tidak boros; dan 4. dampak negatif pengolahan berupa limbah dipecahkan dengan bijaksana termasuk ke mana membuangnya, dan sebagainya. Sedangkan pengolahan sumber alam yang bisa diperbarui perlu memperhitungkan : 1. cara pengolahan yang secara serentak disertai proses pembaruannya; 2. hasil penggunaannya untuk sebagian menjamin pembaruan sumber alam; 3. teknologi yang dipakai tidak sampai merusak kemampuan sumber alam untuk diperbarui; dan 4. dampak negatif pengolahannya ikut dikelola. Secara umum penggunaannya sumber alam secara bijaksana mencakup tiga kelompok yaitu pertama, sumber alam tanah; kedua, sumber alam air; ketiga, sumber alam udara. Berbagai kegiatan pembangunan memerlukan tanah. Posisi penggunaan tanah sekarang ini dan perkiraan kebutuhan di masa depan ialah sebagai berikut : Sekarang (jutaan ha.) Tahun 2000 (jutaan ha.) 1. hutan lindung 2. hutan cagar alam dan suaka margasatwa 3. hutan produksi 4. perkebunan 5. sawah 6. tanah kering 7. tanah tergenang 8. kampung, bangunan 9. prasarana 10. peternakan besar 11. pertambangan 12. lain-lain 30,3 18,7 64,0 5,7 5,9 14,0 1,8 2,5 ? ? ? 48,5 47,0 28,0 62,0 14,5 39,2 7,1 1,2 5,0 ? -12,4 Jumlah 191,4 191,4 Tersimpul di sini perlunya merencanakan kegiatan sektoral dengan memperhitungkan keterbatasan tanah yang tersedia. Ini berarti bahwa pola kegiatan yang kurang menggunakan tanah, seperti industri, perlu dilaksanakan. Di pihak lain, bagian terbesar penduduk memperoleh pendapatan dari hasil tanah. Pertumbuhan pertanian selama ini (3-5% setahun) tertinggal oleh pertumbuhan industri (9-12% setahun). Ini membantu proses industrialisasi, tetapi ini menimbulkan pula gejala ketimpangan pendapatan antara penduduk yang bertani dan penduduk yang bekerja dalam sektor industri. Sumber alam air terdapat pada : 1. daerah aliran sungai; dan 2. laut. Konservasi air di daerah aliran sungai bergantung pada curah hujan dan keutuhan hutan di daerah hulu sungai (catchment area). Maka manipulasi curah hujan dengan hujan buatan, kegiatan industri yang menghasilkan polusi udara dan penebangan hutan yang mempengaruhi iklim, mempengaruhi lokasi danm besarnya curah hujan. Penggunaan sumber alam tanah di hulu sungai turut mempengaruhi kondisi aliran sungai. Di samping itu, sangat penting pula kualitas air sungai yang dipengaruhi oleh buangan rumah tangga, limbah industri serta intensitas penggunaan bahan kimiawi dalam pertanian dan kesehatan. Pengelolaan laut menyangkut : 1. kawasan pantai dengan hutan bakau; 2. karang sebagai daerah habitat ikan; 3. isis lautan berupa ikan dan sebagainya; 4. energi dalam gelombang laut; 5. kemungkinan potensial air laut sebagai air tawar; 6. laut sebagai tempat buang kotoran; dan 7. laut sebagai prasarana angkutan. Pertambahan penduduk memberi tekanan kepada peranan laut ini, sehingga pengelolaan secara bijaksana sangat penting. Sumber alam udara merupakan media bagi pembuangan kotoran industri, gangguan teknologi supersonik dan huan buatan. Ketiga faktor ini mendorong kita perlu memperhatikan dampak pencemaran terhadap udara. Faktor-faktor yang Berpengaruh Yang mempengaruhi sumber alam ialah : 1. jumlah, kualitas dan lokasi penduduk; 2. teknologi yang dipakai; 3. sifat sumber alam, apakah bisa diperbarui atau tidak; dan 4. pola hidup yang mengkonsumsi sumber alam. Dalam proses pembangunan selama ini, sumber alam milik negara mengalami tekanan paling besar, seperti : hutan negara, lautan bebas, udara bebas, sungai, dan sebagainya. Jumlah hutan negara akhir-akhir ini berkurang, sedang lautan dan sungai semakin kotor, karena dimanfaatkan penduduk sebagai tempat buangan. Proses pembangunan yang meningkat menjadi semakin kompleks dan membutuhkan sumber alam lebih banyak. Perkembangan sejarah membuktikan, bahwa sumber alam yang semula mampu mendukung 40 orang dalam kondisi negara maju. Ketimpangan pembagian penduduk antara pulau Jawa dengan luar Jawa masih akan berlaku, sehingga bakal lahir metropolitan JABOTABEK, GERBANG KERTASUSILA, Bandung Raya, dan sebagainya, amsing-masing dengan masalah lingkungan yang khas, seperti sampah, pencemaran, kebisingan, dan lain-lainnya. Untuk menanggulangi hal ini diperlukan : 1. penyesuaian dalam nilai hidup kemasyarakatan agar mengindahkan keterbatasan sumber alam dalam pola konsumsi; 2. pembinaan sumber daya manusia yang mampu menangani masalah lingkungan. Kebijaksanaan Pembangunan Berwawasan Lingkungan Kebijaksanaan lingkungan seperti diucapkan Presiden Soeharto dalam Amanat Lingkungan 5 Juni 1982 memuat lima pokok penting : Pertama, menumbuhkan sikap kerja berdasarkan kesadaran saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Hakekat lingkungan hidup memuat hubungan saling kait-mengait dan hubungan saling membutuhkan antara sektor satu dengan sektor lain, antara daerah satu dengan daerah lain, antara negara satu dengan negara lain bahkan antara generasi kini dengan generasi nanti. Karena itu diperlukan sikap kerjasama dengan semangat solidaritas antarsektor, antardaerah, antarnegara dan antargenerasi. Kedua, kemampuan menyerasikan kebutuhan dengan kemampuan sumber alam dalam menghasilkan barang dan jasa. Kebutuhan manusia yang terus-menerus meningkat perlu dikendalikan untuk disesuaikan dengan pola penggunaan sumber alam secara bijaksana. Ketiga, mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menanggapi tantangan pembangunan tanpa merusak lingkungan. Untuk Indonesia - yang bakal memasuki tahap industrialisasi besar-besaran dalam Repelita-Repelita yang akan datang - kita harus mampu mengembangkan teknologi tanpa limbah yang banyak dan menghemat sumber alam. Kita juga, dfari sekarang, harus mampu mencegah terulangnya pola industrialisasi yang merusak lingkungan seperti dialami negara-negara maju. Keempat, mengembangkan kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat sehingga tumbuh menjadi kesadaran berbuat. Kelima, menumbuhkan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang dapat mendayagunakan dirinya untuk menggalakkan partisipasi masyarakat dalam mencapai tujuan pengelolaan lingkungan hidup. Lima pokok ikhtiar ini memang belum lengkap, namun apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh akan cukup untuk melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan, yang perlu dikembangkan di masa sekarang dan di masa mendatang. Masalah Pelita IV Pembangunan Pelita III memerlukan kelanjutan, peningkatan dan penyempurnaan dalam Pelita IV. Dalam hubungan ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Supaya dalam Pelita IV tertanam kerangka landasan bagi tumbuhnya masyarakat adil dan makmur; 2. Struktur ekonomi yang berat sebelah ke pertanian perlu diimbangi dengan pengembangan industri dan jasa. Karena itu dibangun industri dasar dalam zona-zona industri Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Selatan; 3. Sungguhpun dalam persentase sumbangan sektor pertanian pada pembentukan Produk Nasional Bruto menurun, namun dalam makna absolut jumlahnya tetap naik, terutama untuk meningkatkan ekspor nonminyak dan produksi beras; 4. Jumlah konsumsi beras akan naik akibat pertambahan penduduk dan kenaikan konsumsi per jiwa penduduk. Ini memerlukan naiknya produksi dan impor beras. dalam mengimpor beras perlu dihindari agar Indonesia tidak menjadi pembeli utama di pasaran beras dunia sehingga tidak tergantung (vulnerable) kepada pasaran dunia. Karena itu sangat penting diversifikasi pangan dalam program peningkatan gizi penduduk; 5. Untuk meningkatkan ekspor nonminyak perlu diperluas pertanian nonpangan disamping pengembangan industri, pertambangan, dan jasa. Karena itu pola penggunaan tanah perlu memperlihatkan kualitas tanah untuk macam penggunaan ini, sehingga tanah kualitas subur teralokasikan untuk pertanian pangan dan perkebunan, sedangkan tanah kualitas buruk untuk lokasi industri; 6. Pola peternakan perlu dikembangkan dari sistem "hewan cari rumput" menjadi "rumput cari hewan", sehingga hewan tidak berkeliaran bebas tetapi masuk kandang dan tanah yang diperlukan tidak luas; 7. Dengan pertambahan penduduk maka jumlah desa dan kota baru bertambah, sehingga lahan untuk lokasi pemukiman berikut pembangunan prasarana ekonomi menjadi penting; 8. Dalam Pelita IV, pengembangan sumber daya manusia mendesak untuk dilaksanakan, dan mencakup : a. peningkatan pelaksanaan program Keluarga Berencana; b. peningkatan pelaksanaan progran transmigrasi, dengan perkiraan bahwa 16,5 juta manusia perlu dipindahkan dari Jawa di samping pemindahan 2,5 juta manusia yang bertambah setiap tahun di pulau Jawa; c. perluasan kesempatan kerja; d. pengembangan latihan dan pendidikan. 9. Untuk lebih meningkatkan segi pemerataan, perlu diberi tekanan semakin besar pada segi partisipasi dalam kegiatan pembangunan, di samping partisipasi dalam menikmati hasil-hasil pembangunan. Untuk itu perlu diusahakan : a. peranan lebih besar pemerintah daerah dalam kegiatan pembangunan di samping peranan pemerintah pusat; b. peranan lebih besar lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam aktivitas pembangunan di samping peranan aparat pemerintah. 10. Untuk memberi isi pada makna demokrasi ekonomi tersebut dalan Undang-Undang Dasar 1945 perlu ditingkatkan peranan koperasi sebagai sistem ekonomi Pancasila. Demikian sepuluh pokok penting yang sebaiknya dikembangkan lebih luas dalam Pelita IV nanti. Peranan Pusat Studi Lingkungan Untuk memberi isi kepada Pelita IV ini, maka proses pembangunan perlu mencakup tiga hal penting. Pertama, menggunakan sumber alam secara bijaksana agar bisa terpakai secara terus menerus untuk pembangunan berkesinambungan. untuk ini maka penglihatan reseources-economics sangatlah penting, supaya dihindari penggunaan sumber alam secara boros. Kedua, pemilihan teknologi pengolahan sumber alam yang tepat dan sekaligus mengendalikan pencemaran serta limbah akibat pembangunan. Dampak negatif terhadap lingkungan perlu diperhitungkan dan diusahakan cara-cara mengolah sumber alam tanpa merusak lingkungan. Ketiga, menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi konsumsi masyarakat yang dikendalikan dalam batas kewajaran dan serasi dengan sumber alam yang tersedia, sehingga mencegah berlangsungnya eksploitasi berlebihan terhadap sumber alam untuk memenuhi konsumsi. Pengelolaan lingkungan hidup perlu memperhitungkan ketiga segi pengolahan sumber alam tersebut. Dan para pelaksana pembangunan perlu memiliki penglihatan ini. Penglihatan yang mencakup ketiga segi ini bisa ditumbuhkan dalam diri pengelola pembangunan, melalui proses pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan praktek yang langsung melibatkan pengelola pembangunan dalam kegiatan pengembangan lingkungan hidup. Dengan mengerjakan secara langsung hal-ihwal pengembangan lingkungan hidup, bisa diperoleh penglihatan dan penghayatan lingkungan hidup. Karena itu perlu dilaksanakan kursus-kursus pendidikan dan menyertakan secara langsung lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam kegiatan pengembangan lingkungan hidup. Manusia menjadi obyek dalam kegiatan pendidikan, latihan, penyuluhan, dan sebagainya, sehingga bisa ditumbuhkan sikap hidup dan sistem nilai yang merangsang bagi pengembangan lingkungan hidup. Manusia menjadi pula subyek dalam pengembangan lingkungan, berhak untuk aktif mengelola lingkungan secara mandiri melalui lembaga swadaya masyarakat. Lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan hidup bukanlah organisasi politik atau organisasi massa untuk kekuatan politik atau kekuasaan massa, karena masalah lingkungan hidup tidak memiliki ciri politik praktis. Banjir menggasak setiap pihak, apapun aliran politik praktisnya. Karena itu perlu dikembangkan iklim dan suasana yang merangsang pertumbuhan lembaga swadaya masyarakat yang tidak berpolitik praktis, tetapi mengabdi pada tujuan pembangunan berwawasan lingkungan. Mengelola Sumber Alam Secara Bijaksana dalam Pembangunan Berkelanjutan Pokok-pokok GBHN Dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) l978 dijelaskan, bahwa arah pembangunan jangka panjang dilaksanakan dalam rangka pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh Masyarakat Indonesia. Hal ini berarti bahwa pembangunan itu: l. mengejar kemajuan lahiriah, seperti pangan, sandang, perumahan, kesehatan dan sebagainya; 2. mengejar kepuasan batiniah seperti pendidikan, rasa aman, bebas mengeluarkan pendapat yang bertanggung jawab, rasa keadilan dan sebagainya; 3. mengejar keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara keduanya; 4. bahwa pembangunan merata di seluruh "Tanah Air untuk seluruh masyarakat bukan hanya untuk sesuatu golongan atau sebagian masyarakat; dan 5. harus benar-benar dirasakan seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup berkeadilan sosial. Arah pembangunan jangka panjang ialah membangun masyarakat maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan ini mencakup terbinanya Manusia dan Masyarakat Indonesia yang menjalin keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan masyarakat, antara manusia dengan lingkungan alam, keselarasan hubungan antara bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan keselarasan antara cita-cita hidup di dunia dan mengejar kebahagiaan di akhirat. Untuk mencapai sasaran pembangunan jangka panjang ini maka proses pembangunan dilaksanakan secara bertahap. Setiap tahap pembangunan adalah: 1, meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat; serta meletakkan landasan yang kuat untuk tahap berikutnya. Titik berat pembangunan jangka panjang adalah pembangunan bidang ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri, serta terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Pembangunan jangka panjang ini harus mampu membawa perubahan-perubahan fundamental dalam struktur ekonomi Indonesia sehingga produksi nasional yang berasal dari sektor-sektor di luar pertanian akan merupakan bagian semakin besar dan industri menjadi tulang punggung ekonomi menampung penduduk yang hidup dari sektor-sektor di luar pertanian. Komposisi ekspor berubah dari ekspor bahan mentah menjadi semakin banyak ekspor bahan-bahan yang sudah diolah dan barang-barang jadi. Dalam PELITA III, sektor pertanian diusahakan menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri, yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Dan dalam PELITA IV titik berat diletakkan agar sektor pertanian melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri berat maupun industri ringan yang akan terus dikembangkan dalam Repelita-Repelita selanjutnya. Dalam pelaksanaan pembangunan jangka panjang ini, sumber-sumber alam harus digunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan alam harus diusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan akan datang. Masih banyak lagi petunjuk-petunjuk GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) yang bisa diungkapkan di sini. Namun untuk menghimpun gagasan bagi PELITA IV kali ini diambil pokokpokok penting untuk menunjukkan karakter GBHN yang mendambakan pengelolaan sumber alam secara rasional untuk pembangunan berkelanjutan jangka panjang. Garis-garis Besar Haluan Negara merupakan petunjuk dan keputusan politik masyarakat bagi kebijaksanaan dan proses pembangunan. Tugas para sarjana dan teknokrat umumnya ialah supaya dengan berdasarkan integritas intelektualnya menjabarkan dan menerjemahkan keputusan politikini dalam urusan kebijaksanaan dan program operasional secara ilmiah bertanggung jawab. Pengelolaan Sumber Alam Secara Rasional Yang menonjol dalam kerangka acuan GBHN ialah pengakuan bahwa pembangunan bersifat jangka panjang, bahwa cita-cita mencapai masyarakat maju, adil dan makmur berdasarkan pancasila hanya dapat dicapai dengan usaha pembangunan jangka p anj ang. Tersimpul dalam cita-cita masyarakat maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila ini ciri-ciri "keselarasan hubungan"' manusia dengan masyarakat dan manusia dengan lingkungan alam. Apabila materi lingkungan hidup mencakup segi-segi lingkungan sosial, yakni hubungan manusia dengan masyarakat, dan segi-segi lingkungan alam, yakni hubungan manusia dengan lingkungan alam, maka tersimpul dalam cita-cita jangka panjang ini keselarasan hubungan manusia dengan lingkungan hidup. maka menjadi cita-cita bangsa kita agar pembangunan jangka panjang Indonesia membawa kita ke tingkat pembentukan Manusia dan Masyarakat yang hidup dalam hubungan keselarasan dengan lingkungan hidup. Manusia menjadi bagian dari lingkungan hidup, ia mengakui hubungan timbal-balik antara langkah perbuatan diri manusia dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnva. Menyadari hubungan timbal-balik ini, maka sifat, karakter, wajah dan ciri-ciri manusia Indonesia yang kita cita-citakan ialah yang tidak merusak lingkungan, bahkan sebaliknya meningkatkan lingkungan hidup sebagai manifestasi dari keinginan mencapai kualitas hidup yang lebih berketuhanan dan manusiawi. Posisi lingkungan hidup tidak hanya tercakup dalam tujuan pembangunan jangka panjang, tetapi juga dalam "cara melaksanakan" pembangunan. Pembangunan jangka panjang ditempuh secara bertahap. Dan dalam setiap tahap secara eksplisit dinyatakan "meletakkan landasan yang kuat untuk pembangunan tahap berikutnya". Landasan yang kuat dicapai dengan perombakan struktur ekonomi Indonesia yang mengandung perubahan dalam mcngelola sumber alam. Bila semula sumber alam yang diolah berupa bahan mentah, lambat laun ini berubah menjadi pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku menuju pengolahannya menjadi barang jadi. Proses perubahan ini dilaksanakan dengan kesadaran sepenuhnya bahwa sumber-sumber alam harus digunakan secara rasional. Sumber-sumber alam yang mengalami perubahan harus menopang proses pembangunan jangka panjang. Implikasi ini ialah bahwa pengelolaan sumber alam tidak boleh mengakibatkan musnahnya sumber alam, rusaknya lingkungan, semakin miskinnya lingkungan. Tetapi sebaliknya sumber alam harus dipelihara kelestariannya dan pembangunan disertai proses mengembangkan lingkungan, lebih memperkaya lingkungan, supaya di satu pihak menunjang proses pembangunan jangka panjang, dan di pihak lain turut menyumbang bagi terbinanya cita-cita pembangunan jangka panjang. Jika kita terjemahkan petunjuk GBHN dalam "bahasa ilmuwan", dapatlah dikatakan, bahwa "pembangunan berkelanjutan jangka panjang adalah fungsi dari penggunaan sumber alam secara rasional". Posisi kelestarian lingkungan tersimpul dalam tujuan pembangunan jangka panjang dan dalam cara pengolahan sumber alam yang harus rasional. Masalahnya sekarang ialah, hal-hal apakah yang perlu diperhatikan dalam proses pengelolaan sumber alam agar posisi kelestarian lingkungan hidup terlaksana? Perubahan Sumber Alam Ciri menonjol dalam proses pembangunan jangka panjang ialah perombakan struktural yang bakal berlangsung dalam ekonomi Indonesia. Ini berarti bahwa yang pertama-tama mengalami perubahan secara berarti ialah sumber alam bahan mentah pertambangan seperti bahan kapur, limestone, batu-bara, bahan galian pertambangan, minyak-bumi, dan yang serupa. Sumber alam ini umumnya berada di bawah permukaan tanah. Letaknya menetap pada lokasi tertentu, sehingga pengolahannya mengikuti letak lokasi sumber alam. Apabila bahan mentahnya di bawah permukaan laut, maka dikembangkanlah pola pengolahan "lepas pantai". Industri yang mengolah sumber alam bahan mentah seperti ini ditentukan oleh lokasi sebagai "industri berpangkalan pada lokasi sumber alam" (resource base industry). Karena lokasi sumber alam menetap di perut bumi, maka pengolahannya bersifat terikat dan kekenyalan (fleksibilitas) mengolahnya di tempat lain terbatas. Bergandengan dengan ini timbul pula dampak pengolahannya kepada lingkungan, tidak hanya terbatas di tempat pengolahan, tetapi juga dibawa oleh air, limbah dan udara ke tempat-tempat lain. Intensitas pengolahan berikut kadar dampak kepada lingkungan sangat dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan. Maka pilihan teknologi yang kurang-merusak lingkungan menjadi sangat penting dalam usaha pengolahan sumber alam tanpa kerusakan lingkungan ini. Karena produk yang dihasilkan adalah "bahan mentah", sehingga tidak bisa dikonsumsikan secara langsung, maka efektifitas pengolahannya ditentukan terutama oleh pasaran pemakai bahan mentah ini. Ini berarti bahwa pelestarian sumber alam yang tidak dapat diperbarui, seperti sifat kebanyakan sumber bahan mentah pertambangan, di dalam perut bumi merupakan usaha "menabung sumber alam" untuk keperluan generasi datang. Karena itu pengelolaan sumber bahan mentah di perut bumi harus memperhitungkan segi teknologi dan perkembangan kelangkaan penyediaan bahan mentah ini dalam pasaran dunia, di samping mengusahakan pengolahan sumber alam ini dengan dampak kerusakan lingkungan sekecil mungkin. Sumber alam kedua yang mengalami perubahan dalam proses pembangunan terletak di atas tanah dan "hutan" menempati kedudukan penting sebagai sumber alam yang bisa diperbarui. Hutan melaksanakan berbagai fungsi, sebagai sumber penyimpanan dan pengatur air, sumber plasma nutfah tumbuhan dan binatang, penabung cadangan tanah, sumber energi, sumber bahan produksi dan kebutuhan manusia dan lain-lain. Dalam melaksanakan berbagai fungsi ini, posisi hutan sebagai sumber plasma nutfah adalah yang paling "baku", tidak kenyal (inflexible). Plasma nutfah hanya bisa tumbuh dalam lingkungan alamiah yang tidak diusik tangan manusia. Karena itu kelestarian hutan bagi keperluan pengembangan plasma nutfah sangatlah perlu. , Namun kegunaan plasma nutfah tidak sepenuhnya diketahui manusia. Ketidaktahuan dan masih terbatasnya jangkauan ilmu pengetahuan menembus rahasia alam, menyebabkan orang memperlakukan pelestarian lingkungan untuk pengembangan plasma nutfah sebagai barang mewah. Maka dengan semangat serupa inilah orang banyak mempertanyakan mengapakah hutan Merubetiri harus dilestarikan "hanya" untuk lima ekor harimau Jawa, mengapa tidak dimanfaatkan untuk keperluan kesejahteraan manusia? Begitu pula dengan perasaan rugi orang melihat ratusan ribu hektare hutan di tanah air disisihkan sebagai hutan perlindungan dan pelestarian alam untuk melindungi plasma nutfah, yang belum diketahui kegunaannya bagi manusia. Mengapa babi, rusa, anoa, burung maleo, burung cenderawasih, gajah, badak, orang-utan, dan lain-lain binatang langka dilindungi dan tidak dimanfaatkan bagi keperluan peningkatan pendapatan manusia? Begitu pula dipertanyakan: mengapa bunga rafflesia atau tanaman anggrek hutan Irian Jaya tidak boleh diambil sesuka hati dari hutan belantara? Apa fungsi tumbuhan-tumbuhan ini bagi peri kehidupan manusia? Masih banyak rahasia alam tidak diketahui manusia. Namun ketidaktahuannya ini bukanlah alasan untuk memburu, membunuh atau memusnahkan binatang dan tumbuhan langka ini. Allah s.w.t. menciptakan isi alam tanpa sia-sia, setiap ciptaanNya punya fungsi, punya arti dan makna bagi kehidupan sungguhpun kita belum menyadarinya. Karena itu sudah selayaknya kita melestarikan ciptaanNya. Untuk ini diperlukan kawasan hutan perlindungan dan pelestarian alam, tempat berkembangnya ekosistim yang khas unik untuk tempat pemukiman (habitat) binatang dan turmbuhan langka. Karena kepulauan Indonesia tersebar luas dari Sabang sampai Merauke, maka ekosistem dan isi habitat lingkungan alam berbeda-beda dari satu daerah ke lain daerah. Sifat unik ekosistem ini berikut kelangkaan binatang dan tumbuhan sesungguhnya merupakan kekayaan tak terhingga di dunia. Karena itu sudah sewajarnya kita usahakan agar keunikan ekosistem setiap daerah bisa dilestarikan sebagai "laboratorium" untuk digali rahasia alamnya oleh generasi depan. Sumber alam ketiga yang penting bagi pembangunan ialah hutan lindung. Kegunaan hutan lindung lebih mudah dipahami dibandingkan dengan kegunaan hutan pelestarian alam. Peranan hutan lindung diketahui sebagai penyerap hujan, penyelamat air, pembersih udara, pengatur cuaca, pemelihara humus lapisan lahan atas dan seterusnya. Karena itu pelestarian hutan lindung bisa lebih mudah dipahami orang awam. Tetapi sebagai hutan lindung, yang kekenyalan penggunaannya terbatas, maka kawasan hutan lindung ini praktis tidak dapat diolah; sehingga dalam jangka pendek manfaat langsungnya tidak terasa, dan relevansinya adalah terutama untuk jangka panjang. Apabila jumlah penduduk semakin meningkat dan tekanan kepada lahan semakin besar, maka hutan lindung memperoleh desakan penduduk yang semakin berat pula. Untuk penyelamatan hutan lindung ini perlu dibangun "wilayah penyangga" (buffer zone) di sekitar kawasan hutan ini, untuk menampung kebutuhan penduduk yang kian mendesakkan dirinya terhadap hutan dan sekaligus melibatkan penduduk secara langsung dalam ikhtiar pelestarian hutan lindung. Sumber alam keempat yang mengalami perubahan dalam proses pembangunan ialah hutan produksi, yakni kawasan hutan yang secara sadar diolah untuk peningkatan pendapatan penduduk. Hutan produksi dapat dibagi ke dalam: 1. hutan yang tidak dikonversi; dan 2. hutan yang dapat dikonversi. Untuk hutan yang tidak dikonversi, ciri-ciri pokok kawasan hutan tetap terpelihara. Pengolahan hutan ini perlu mengindahkan prinsip-prinsip kelestariannya. Maka pola tebang-pilih-Indonesia (TPI) dikembangkan agar hutan dikelola dengan cara selektif, sehingga keutuhan hutannya sejauh mungkin dipelihara. Usaha memelihara anakan pohon secara sadar diikhtiarkan supaya kualitas hutan terpelihara. Berkaitan dengan kelestarian hutan, maka investasi industri processing kayu tidak boleh melebihi besar penyediaan kayu hutan produksi. Untuk hutan yang dikonversi, maka karakter hutan praktis hilang diganti oleh ciri-ciri perkebunan, pertanian tanaman pangan, kebun peternakan ataupun areal perikanan. Dengan hilangnya karakter hutan perlu diperhitungkan dampak konversi ini kepada lingkungan. Hanya kawasan hutan yang dampak konversinya relatif kecil kepada lingkungan dapat dipertimbangkan untuk diubah. Dan perubahannya sebagai wilayah perkebunan, tanaman pangan, peternakan, perikanan dan serupa, sekaligus juga mengubah ekosistim dan habitat lingkungan. Dalam keadaan seperti ini manfaat jangka pendek lebih menonjol, sedangkan manfaat jangka panjang terdesak ke belakang. Proses konversi ini bisa juga bersifat total sehingga hutan produksi berubah menjadi wilayah pemukiman, lokasi transmigrasi dan tempat pembangunan infrastruktur. Dengan perubahan seperti ini sifat ekosistem pun berubah. Fungsi hutan hilang digantikan oleh lingkungan buatan manusia. Peranan hutan sebagai penyelamat air digantikan oleh sistem kanal atau pipa-pipa air minum yang sengaja dibangun. Unsur teknologi lebih banyak masuk memegang peranan dan unsur alamiah terdesak ke belakang. Untuk hutan yang dikonversi ini berlaku dalil "apa yang diambil dari alam harus diganti dengan hal yang serupa kepada alam". Jika pohon kita tebang untuk diubah pemanfaatan kawasannya untuk maksud lain, maka fungsi hutan sebagai pencegah erosi harus diganti oleh bentuk lingkungan buatan manusia seperti terras-bangku, check-dam, dan lain-lain. Apabila dalil ini tidak diperhatikan maka lingkungan alam menderita ketidakseimbangan dan bencana bisa terjadi, berupa banjir, longsoran tanah, erosi dan sebagainya. Mengisi Pembangunan Berkelanjutan Dalam pengolahan sumber alam dari kelompok bahan mentah pertambangan sampai sumber alam hutan produksi, kentaralah beberapa ciri perubahan penting. Pertama ialah bahwa tingkat kekenyalan (fleksibilitas) meningkat jika kita beranjak dari kelompok sumber alam hutan perlindungan alam ke jurusan hutan lindung dan hutan produksi. Sebaliknya tingkat kelestariannya menurun. Ini berarti bahwa pengolahan sumber alam hutan produksi lebih kenyal dibandingkan dengan pengolahan sumber alam hutan perlindungan alam yang tidak-fleksibel. Namun berbareng dengan ini kadar kelestariannya menurun pada hutan produksi dibandingkan dengan keadaan hutan perlindungan alam. Kedua, dalam proses pengolahan sumber alam ini tampak pula bahwa bobot teknologi kian meningkat menjurus ke arah padat modal. Dalam mengelola hutan perlindungan alam, praktis tidak dipakai teknologi tinggi bahkan hukum alam diandalkan sepenuhnya. Sebaliknya semakin kita mendekati hutan produksi, lebih-lebih yang dikonversikan secara total, semakin tinggi teknologi dipakai. Proses pengolahan menjadi semakin padat modal. Ini pula yang mengakibatkan turunnya kadar kelestarian lingkungan alam untuk digantikan oleh lingkungan buatan manusia. Ketiga, dengan meningkatnya keterlibatan teknologi dalam pengolahan sumber alam, lahirlah cara pengelolaan sumber alam yang semakin berspesialisasi. Hutan produksi yang dikonversi untuk perkebunan memerlukan teknologi dan keahlian perkebunan. Untuk tanaman pangan diperlukan teknologi dan keahlian pertanian tanaman pangan. Dan begitulah seterusnya. Ciri keahlian perkebunan, tanaman pangan, peternakan, dan lain-lain tampil ke depan, mendesakkan keahlian kehutanan ke belakang. Sehingga bisa terjadi bahwa bertanam pangan dikembangkan dengan cara yang sulit diterima ahli-ahli kehutanan. Sehingga dampak pengelolaan tanaman pangan terasa pada bidang kehutanan. Proses teknologi dan penggunaan ahli-ahli spesialisasi dalam bidang-bidang tertentu menyebabkan kaidah interdependensi antara unsur-unsur lingkungan menjadi kendur, sehingga memperbesar potensi kerusakan lingkungan. Cara-cara teknik buatan manusia dengan berbagai dampaknya kepada lingkungan menggantikan cara-cara teknik kerja alamiah, apabila kita beranjak dari sumber alam hutan perlindungan alam ke dalam sumber alam hutan produksi yang dikonversi. Keempat, dimensi kegunaan jangka panjang turut terdesak digantikan dimensi kegunaan jangka pendek dalam poses pengolahan hutan perlindungan alam ke dalam hutan produksi yang dikonversikan. Kegunaan jangka pendek lebih menonjol dan manfaat hari kini segera bisa diraih, dihitung dan dinikmati dengan mengkonversikannya ke dalam hutan produksi. Sebaliknya sulit dinilai manfaat hutan perlindungan alam bagi generasi kin) di hari sekarang. Manfaatnya lebih banyak dinikmati generasi masa depan di hari nanti. Tetapi kalkulasi manfaat hari depan sukar dibawa ke perhitungan manfaat hari kini, sehingga luput dari perhitungan PDB (Produk-Domestik Bruto) dan perhitungan benefit-cost ratio. Dengan begitu orang tidak tahu besarnya kerugian yang diderita oleh generasi kini akibat hilangnya jutaan plasma nutfah yang hanyut dengan perombakan ke arah hutan yang dikonversi itu. Jika kita perhatikan keempat ciri yang melekat pada proses perubahan sumber alam ini, timbul pertanyaan: apakah lantas kita menolak pengolahan sumber alam ini demi kepentingan kelestarian lingkungan, demi manfaat jangka panjang dan keperluan generasi masa depan? Pembangunan berkelanjutan mengharuskan kita mengelola sumber alam serasional mungkin. Ini berarti bahwa keempat kelompok sumber alam, seperti sumber alam pertambangan, hutan pelestarian alam, hutan lindung dan hutan produksi bisa diolah asalkan secara rasional dan bijaksana. Untuk ini diperlukan pendekatan pembangunan dengan pengembangan lingkungan hidup, yaitu eco-development.. Pendekatan ini tidak menolak diubah dan diolahnya sumber alam untuk pembangunan dan kesejahteraan manusia. Tetapi "kesejahteraan manusia" mengandung makna lebih luas, mencakup tidak hanya kesejahteraan material, pemenuhan kebutuhan generasi hari kini, tetapi juga mencakup kesejahteraan nonfisik, mutu kualitas hidup dengan lingkungan hidup yang layak dihidupi (liveable environment) dan jaminan bahwa kesejahteraan terpelihara kesinambungannya bagi generasi depan. Harus dicegah agar kesejahteraan generasi masa kini dicapai dengan tidak menghancurkan lingkungan bagi peningkatan kesejahteraan generasi masa depan. Dalam pendekatan ini berlaku dalil "apa yang diambil dari alam harus kembali kepada alam, sekurang-kurangnya diganti dengan hal berperan serupa kepada alam". Pendekatan pembangunan berkelanjutan ini menghendaki pengelolaan sumber alam yang rasional. Menjadi tugas para pemikir, sarjana, ahli, ilmuwan dan mereka yang menggunakan rasio (akal pikiran) termasuk sarjana kehutanan untuk mengusahakan cara-cara tanpa kerusakan lingkungan. Apabila sekarang pengolahan sumber alam beralih dari yang kurang kepada yang lebih kenyal tetapi menurunkan kelestarian lingkungan, perlu diusahakan sekarang ikhtiar menaikkan mutu kelestarian lingkungan. Teknologi padat modal melahirkan lingkungan buatan manusia, sehingga perlu dikaji jalan baru menumbuhkan teknologi mengikuti hukum alam, sehingga dampak negatif kepada lingkungan bisa diperkecil. Hakekat lingkungan hidup tersimpul pada kehadiran hubungan timbal-balik antara makhluk dan unsur di dalam lingkungan. Ciri interdependensi dalam lingkungan perlu dipertahankan dalam melaksanakan proses pembangunan. Ini berarti bahwa kaum intelektual perlu memiliki penglihatan (vision) lingkungan hidup, mampu melihat berbagai unsur kehidupan dalam hubungan interdependen. Sungguhpun ilmu berkembang ke jurusan spesialisasi, namun ini tidak berarti bahwa keahlian spesialisasi ini menutup mata dan telinga terhadap sifat interdependen antara ahli spesialisasi lainnya. Tembok yang mengungkung spesialisasi yang satu dengan yang lain perlu didobrak berkat kesadaran dan penglihatan lingkungan hidup. Dialog horisontal antar ahli berbagai cabang ilmu, cara penglihatan masalah memperhitungkan dampak satu kepada lain, kemampuan melihat masalah dari sudut saling kait-mengait, merupakan keharusan bagi pelaksanaan profesi kesarjanaan dalam proses pembangunan jangka panjang menjelang tahun 2000 ini. Sungguhpun pembangunan bersifat jangka panjang, sangatlah menarik bahwa kepentingan jangka panjang sering tertumpahkan oleh kebanyakan jangka pendek. Sukses pekerjaan seolah-olah terpaku kepada apa yang dihasilkan dan "digunting-pitakan" tahun ini. Maka menjadi tanggung jawab para pemikir, kaum intelektual pemakai rasio, untuk mampu menerjemahkan manfaat jangka panjang ke dalam perhitungan manfaat-biaya hari kini. Membawa cakrawala pembangunan menjangkau generasi kini dan generasi masa depan. Mampu menghargai unsur-unsur lingkungan yang memiliki nilai di masa depan. Bisa melihat pembangunan tidak saja dari kaca-mata keberhasilan proyek, tetapi lebih-lebih dari sudut keberhasilan proses mengangkat harkat diri manusia ke tingkat yang utuh dalam ruang-lingkungan masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila. Adalah dengan pendekatan eco-development ini kita kembangkan pola pembangunan dengan pengolahan sumber alam yang rasional. Dalam hubungan ini perlu dikembangkan: l. tata guna sumber alam pertambangan; 2. tata guna sumber alam hutan menurut zona hutan perlindungan alam, hutan lindung, hutan produksi yang tidak dikonversi dan yang dikonversi; 3. tata guna sumber alam tanah; 4. tata guna pengembangan Daerah Aliran Sungai; dan 5. tata guna ruang untuk zona industri, pemukiman, transmigrasi, infra-struktur dan lingkungan buatan manusia lainnya. Inti hakekat berbagai pola tata-guna sumber alam ini ialah memperhitungkan manfaat-biaya berbagai pengolahan sumber alam ini, baik untuk masa kini maupun untuk masa depan, memperhitungan dampak negatif dan positif kepada lingkungan. Neraca manfaat-rugi dari keseluruhan sumber-alam terutama yang bakal mengalami perubahan, seperti sumber alam pertambangan, hutan pelestarian alam, hutan lindung dan hutan produksi, diperhitungkan sebagai masukan bagi pengelolaan sumber alam secara rasional mendukung pembangunan berkelanjutan dalam kurun waktu jangka panjang mencapai sasaran, membangun Manusia Indonesia yang utuh dalam ruang lingkungan masyarakat yang maju, adil makmur berdasarkan Pancasila. STRATEGI UMUM PEMBANGUNAN TERLANJUTKAN 1. Pembangunan Yang Berkelanjutan Hasil pembangunan yang penting adalah tumbuhnya asoirasi baru mengenai kesejahteraan hidup yang didambakan manusia Indonesia. Semula hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang pangan. Kemudian mendabakan bagi dirinya sendiri : (a) hidup sehat, (b) pekerjaan dan (c) perumahan; lalu mendabakan bagi bagi anak-anaknya (d) pendidikan, (e) jaminan sosial, dan (f) kesempatan maju yang sama dalam lingkungan hidup, (g) dengan hukum yang adil, dan (h) berkualitas. Tersimpul di sini makna "pembangunan" yang lebih luas ketimbang "manaikkan pendapatan nasional". Tetapi sekarang juga memuat: 1. Perluasan cakrawala mencakup dimensi kuantitas dan kualitas; dan 2. Dimensi waktu mencakup antar generasi. Karena itu perlu adanya perluasan wawasan untuk mananggapi tantangan pembangunan masa depan. Pembangunan yang berkelanjutan memuat makna "mengolah sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraan masa kini, tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan mengolah sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya". Tersimpul disini keperluan mengkaji: 1. Macamnya sumber daya; 2. Makna kesejahteraan; 3. Tanggung jawab antar generasi, dan 4. Faktor kendala. 2. Macam Sumber Daya Sumber daya bisa dibagi atas: (1) Sumber daya alam: a. Yang bisa diperbaharui b. Yang tidak bisa diperbaharui c. Sumber daya buatan manusia (2) Sumber daya manusia: a. Nilai kuantitatif (jumlah, pertumbuhan, persebaran); b. Nilai kualitatif (kemampuan kreatif, produktif sehingga yang dihasilkan melebihi yang dimakan dan dirusak. Karena pembangunan berarti mengolah sumber daya, maka timbul persoalan mengenai lingkungan alam, lingkungan buatan manusia dan lingkungan sosial. Dan persoalan pembangunan berkaitan dengan masalah apa yang terjadi dengan sumber daya dalam tiga lingkungan tersebut. 3. Makna Kesejahteraan Apabila keperluan untuk kelangsungan hidup (survival) sudah dicapai seperti tersimpul pada terpenuhinya sembilan bahan pokok, maka kebutuhan manusia meluas, mencakup berbagai segi kesejahteraan dengan muatan kuantitatif dan kualitatif. Dalam mengejar kesejahteraan ini, berbagai dimensi tidak sepenuhnya ditampung oleh mekanisme pasar yang mempengaruhi alokasi daya, seperti: (1) segi kualitas lingkungan alam, "berapa nilai sumber daya yang habis terkuras?" (2) segi kualitas lingkungan buatan manusia, "berapa nilai air, udara, dan ruang yang tercemar?" dan (3) segi kualitas sosial, "bagaimana kepentingan si miskin nisa diperjuangkan, apabila ia tidak memiliki sumber daya akibat kemiskinannya?". Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini menghendaki intervensi pemerintah untuk menanggulanginya, baik dengan mengusahakannya secara langsung maupun dengan mengoreksi mekanisme pasar, sehingga menghasilkan isi dan makna kesejahteraan mancakup segi kualitas lingkungan alam, lingkungan buatan manusia dan kualitas lingkungan sosial. 4. Tanggung Jawab Antar Generasi Pembangunan berwawasan lingkungan memuat makna berkesinambungan (continue) bagaikan arus air mengalir, memuat unsur perubahan. Dalam proses perubahan ini maka pengolahan sumber daya, arah investasi, orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan berjalan seiring dengan keperluan memenuhi kesejahteraan generasi masa kini dan generasi masa depan. Untuk ini perlu diusahakan agar sumber daya mampu menopang proses pembangunan secara berkesinambungan dan sistem ekonomi mampu mengelola sumber daya supaya bisa menampung kebutuhan generasi masa kini dan kebutuhan generasi masa depan pada tingkat teknologi tertentu. 5. Faktor Kendala Terdapat berbagai faktor kendala yang membatasi usaha pembangunan berwawasan lingkungan, seperti: (1) perkembangan teknologi masa kini yang kebanyakan menanggapi kebutuhan berdasarkan mekanisme pasar yang sering tidak mengindahkan dimensi lingkungan dan kepentingan generasi masa depan. Contoh adalah perkembangna energi nuklir yang masih belum sanggup menjawab banyak pertanyaan lingkungan yang berkaitan dengan resiko yang dihadapi generasi masa depan. Hal ini mendorong keharusan untuk mengkaji ulang kemampuan dan posisi teknologi menopang pembangunan berwawasan lingkungan. (2) terbatasnya kemampuan "biosphere" untuk memyerap akibat perbuatan manusia. Kemampuan manusia mampu mengalihkan sumber daya menjadi hasil buatan manusia dengan teknologi. Teknologi belum sanggup "menciptakan" biosphere tambahan atau biosphere baru. Sehingga perkembangan teknologi harus tertuju pada usaha mengurangi dampak negatif perbuatan manusia terhadap biosphere; (3) kemampuan organisasi kemasyarakatan menanggapi tantangan persoalan baru yang ditimbulkan oleh: a. Pertambahan jumlah penduduk, b. Semakin kompleks dan meningkatnya kebutuhan masyarakat, c. Terbatasnya kemampuan lingkungan mendukung jumlah dan permintaan manusia yang kian meningkat. Dengan mengindahkan makna perluasan wawasan pembangunan dengan pertimbangan lingkungan maka hambatan pokok dalam pengembangan pola pembangunan ini adalah bahwa unsur-unsurnya tidak tertampung dalam arus pemikiran ekonomi. Banyak unsur-unsur lingkungan tidak trtampung oleh mekanisme pasar. Sehingga banyak yang "lolos" dari penglihatan dan perhitungan penyusun kebijaksanaan pembangunan. Pola pembangunan yang sedang dilaksanakan di banyak negara berkembang, termasuk indonesia, telah berhasil meningkatkan pendapatan penduduk, mencapai tahapan swasembada pangan dan berangsur-angsur mampu memproduksi barang industri tidak saja untuk keperluan sendiri, tetapi juga untuk keperluan ekspor. Berbarengan dengna hasil positif pembangaunan ini, banyak negara berkembang ini juga menderita dampak negatifnya berupa penciutan sumber daya alam, seperti berkurangnya luas areal hutan, penciutan sumber daya lahan tingkat erosi untuk indonesia misalnya diperkirakan sekitar 40 ton per Ha, sehingga banyak daerah aliran sungai dianggap mencapai titik sangat kritis. Keanekaragaman macam hewan dan tanaman semakin mengecil dan mengancam stabilitas ekosistem. Disamping penciutan sumber daya alam ini juga kualitas air permukaan di sungai, danau dan laut telah turun akibat pencemaran limbah rumah tangga, industri dan penggunaan obat-obatan pestisida dalam pertanian. Sejak 1981 jumlah pestisida yang digunakan naik dengan 200%. Juga udara ikut tercemar oleh asap kendaraan, pabrik dan kegiatan manusia lainnya. Penciutan dan pencemaran sumber daya alam berkaitan dengna pertambahan penduduk beserta peningkatan pola konsumsinya. Praktis semua negara berkembang mengalami pertambahan penduduk sehingga memerlukan naiknya jumlah produksi barang dan jasa. Disamping ini banyak negara berkembang mengalami juga kenaikan pendapatan, sehingga turut mendorong naiknya macam ragam barang konsumsi. Proses penciutan sumber daya alam terjadi dalam proses pembangunan karena tidak tertangkap isyaratnya oleh mekanisme pasar. Pembangunan berkepentingan dengan kenaikan pendapatan yang menceriminkan naiknya jumlah barang dan jasa yang diproduksi. Pendapatan mangalir dari sumber daya alam yang diperlukan sebagai "stock" yang tidak bergerak. Sehingga penciutan "stock" sumber daya alam tidak masuk perhitungan pendapatan nasional dan laju kecepatan pembangunan. Akibatnya adalah bahwa perhatian dicurahkan pada laju kecepatan pertambahan pendapatan tanpa memperhatikan menciutnya sumber daya alam. Sumber daya yang dicemarkan biasanya bukan "milik swasta" tetapi lazimnya adalah "milik umum" . pihak swasta yang dicemari bisa mengajukan tuntutan ganti rugi, sedangkan tuntutan ganti rugi sulit diharapkan diajukan oleh "umum" itu. Karena itu maka "milik umum" lebih banyak dicemari ketimbang milik swasta. Ini berarti bahwa air sungai, air tanah, air laut, pantai, hutan dan tanah milik negara sering menderita pencemaran dalam proses pembangunan ini. Proses pembangunan sering dilihat dalam kurun jangka pendek. Adalah keynes sendiri, selaku perintis pemikiran ekonomi makro beranggapan bahwa "on the long run we all death". Karena itu seyogjanya permasalahan pembangunan disorot dalam kurun waktu jangka pendek dan bukan jangka panjang. Sedangkan pengaruh proses pembangunan terhadap lingkungan tidak bisa ditangkap dalam kurun waktu jangka pendek. Baru dalam jangka panjang bisa diketahui dampak pembangunan kepada lingkungan. Hakekat lingkungan adalah keterkaitan satu unsur dengan unsur lain dalam lingkungan. Keterkaitan antar unsur lingkungan adalah ciri pokok dalam suatu ekosistem. Berkat keterkaitan ini maka dalam ekosistem itu unsur satu berada dalam hubungna keseimbangan dengan unsur lain. Terdapat kekuatan dalam ekosistem untuk memelihara keseimbangan dalam sistem dalam hubungan yang serasi antara sesamanya. Semakin beranekaragam isi ekosistem, semakin stabil sistem ini. Proses pembangunan cenderung merubah ekosistem alamiah ini menjadi sistem binaan manusia (man made environment). Dalam sistem binaan manusia ini faktor-faktor keterkaitan, keseimbangan, keserasian dan keanekaragaman tidak terlalu diindahkan. Dengan akibat bahwa sistem lingkungan alam menderita tidak memiliki kebutuhan fungsi lingkungan halnya dengan sistem lingkungan alamiah. Dari uraian ini kentaralah bahw abeberapa ciri khhusus yang melekat dalam lingkungan luput dari fokus perhatian penyususnan kebijakan pembangunan, seperti: (1) penciutan sumber daya alam; (2) pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan; khususnya media lingkungan "milik umum"; (3) orientasi kebijakan pembangunan lebih banyak pada kurun waktu jangka pendek ketimbang jangka panjang; (4) diubhnya sistem lingkungan alam oleh sistem lingkungan binaan manusia mengakibatkan hilangnya sifat khas lingkungan seperti keanekaragaman, keterkaitan, keseimbangan dan keserasian antar unsur-unsur dalam ekosistem. Hilangnya ciri-ciri khusus lingkungan ini dari perhatian penyususnan kebijakan pembangunan mengakibatkan bahwa proses pembangunan ini sendiri kehilangan sifat keberlanjutannya (sustainability) karena tidak didukung oleh sumber daya alam yang mampu mendukung proses pembangunan secara bekelanjutan. Maka kelemahan pembangunan seperti yang berlangsung dewasa ini praktis di seluruh dunia, baik negara maju maupun berkembang, terletak pada buruknya kualitas pembangunan dan tidak terjaminnya keberlanjutannya prose pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan generasi masa depan. Kelemahan pola pembangunan ini terutama disebabkan oleh kekurangan dalam khazanah perbendaharaan alam fikiran (state of the arts) manusia masa kini. Proses berfikir telah berkembang dari tahapan " keahlian - umum" (generalist) menjadi "keahlian - spesialis" (spesialist) yang menjurus pada pola fikir sektoral khusus. Dan wawasan lintas sektor bahkan multi sektor terdesak ke pinggir. Hal ini semakin kentara dalam alam fikir yang menopang pembangunan, yakni ilmu teknologi dan ilmu sosial ekonomi. Orientasi berfikir spesialis telah menjurus pembangunan ke arah pembangunan sektoral untuk dilaksanakan oleh keahlian sektoral. Tetapi peri kehidupan manusia dan masyarakat sulit dipilah-pilah dalam kotak-kotak sektoral, sehingga selalu tumbuh kebutuhan akan koordinasi dan sinkronisasi yang apda hakekatnya mencerminkan keperluan pendekatan multisektoral. Pembangunan yang berkelanjutan dan mengindahkan pertimbangan lingkungan memerlukan pendekatan multisektoral yang didukung oleh alam berfikir multidisiplin. Khusu dalam ekonomi pembangunan diperlukan pertautan wawasan lingkungan ke dalam wawasan ekonomi dan timbal-balik. Oleh karena pembangunan ekonomi masih merupakan tantangan pokok di masa depan, maka wajarlah bila diusahakan supaya wawasan lingkungan diintegrasikan dalam wawasan ekonomi. Dalam hubungan ini perlu dikembangkan peralatan analisis ekonomi lingkungan yang memuat masalah pengolahan sumber-sumber daya: a. Dikonservasi, b. Menipis (depleted), c. Menjadi rusak, d. Semakin membaik. Berbagai sumber daya yang memerlukan prioritas perhatian khusus dalam pola pembangunan berwawasan lingkungan adalah sumber-sumber daya: a. Air, b. Tanah, c. Hutan, d. Energi, e. Manusia. Berbagai masalah lingkungan bertumpu pada lima sumber daya tersebut, seperti masalah-masalah kekringan, banjir, erosi, kerusakan hutan, perubahan suhu, kerusakan keanekaragaman biologi, pencemaran, keracunan, dan berbagai kerusakan lingkungan lainnya. Untuk menanggulangi berbagai masalah lingkungan ini perlu diusahakanpengembangan sumber-sumber daya air, tanah, hutan, energi dan manusia dengan pertimbangan lingkungan yang melarut dalam peralatan analisis ekonomi dan teknologi. Pertimbangan lingkungan yang dimaksud mencakup segi-segi lingkungan alam, lingkungan buatan manusia dan lingkungan sosial. Peralatan analisis ekonomi dengan wawasan lingkungna yang perlu dikembangkan adalah yang relevan berkaitan dengan pengolahan kelima sumber daya yang strategis ini. Usaha ini tidak hanya berhenti pada pengembangan analisis, tetapi juga harus bermuara pada penuangan peralatan analisis tersebut dalam kebijaksanaan Pemerintah. 6. Peranan Pemerintah dan Masyarakat Dalam pembangunan negara berkembang, peran pemerintah sangat besar melalui penggunaan: 1. peralatan kebijakan menetapkan sumber pendapatan pemerintah (misalnya pajak, bea, cukai dan pungutan); 2. peralatan kebijakan menetapkan sumber pengeluaran pemerintah seperti anggaran rutin dan pembangunan pemerintah pusat dan pemerintah daerah; 3. kegiatan berproduksi langsung melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN); 4. hak dan kewajiban menetapkan peraturan; 5. kemampuan persuasi melalui penerangan dan pendidikan. Secara peranan pemerintah adalah aktif mendorong perombakan struktur dari struktur berat sebelah, pertanian ke ekonomi berimbang pertanian dengan industri dan jasa dan mengutamakan kegiatan yang mengutamakan penyerapan tenaga kerja khususnya bagi penduduk berpendapatan rendah di daerah pedesaan dan tamatan sekolah lanjutan di daerah perkotaan. begitu pula pemerintah perlu aktif ..........., terutama di bidang..... yang dianggap tidak berprestise seperti kerja kasar, kejujuran, dan serupa. .............................. Aktif membina sektor informal untuk ditingkatkan kemampuannya, sehingga dapat dijangkau oleh .........................., latihan dan pemasaran. Turut menciptakan iklim bagi pertumbuhan lembaga swadaya masyarakat sebagai wahana pembangunan perilaku dan sikap hidup kemandirian. Dan berpegang teguh pada pola pembangunan yang berkelanjutan sebagai jalur pengisisan tujuan pembangunan membentuk manusia indonesia seutuhnya dengan ciri-ciri keselarasan manusia dengan Tuhan Maha Pencipta, keselarasan manusia dengan masyarakat dan manusia dengan lingkungan alam. Dalam memberi isi pada pola pembangunan yang berkelanjutan adalah penting bahwa pemerintah memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. supaya proses pembangunan memenuhi kebutuhan dan aspirasi masa generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan dengan memenuhi kebutuhan dan aspirasinya; 2. menyadari terdapatnya kendala kritis dalam pembangunan yang ditentukan oleh penerapan pola teknologi dan organisasi sosial tanpa pembatas batas absolut bagi berlanjutnya pembangunan; 3. digunakannya kebijakan-kebijakan fiskal, moneter perbankan, perdagangan, investasi, pertanian, perindustrian, energi, pekerjaan umum, transmigrasi, pembangunan daerah dan lain-lain kebijakan merangsang pola pembangunan yang ditopang secara berlanjut oleh kehidupan ekonomi, sosial dan ekologi yang sehat; 4. proses perubahan dengan keselarasan antara: (a) eksploitasi sumber daya; (b) arah investasi; (c) orientasi pembangunan teknologi; (d) perubahan institusi. Tersimpul di sini keharusan untuk mengindahkan dimensi waktu memperhatikan supaya dalam mengolah sumber daya bagi kesejahteraan generasi masa kini, kepentingan generasi masa depan tidak merugikan. Kemampuan media lingkungan (udara, air, tanah, organisme hidup) memelihara keutuhan fungsinya menopang proses pembangunan harus dilestarikan. Dan ini dilakukan dengan pendekatan holistik, menyeluruh mengindahkan prinsip-prinsip ekosistem seperti: a. keterkaitan (interdependency); b. keaneka-ragaman (diversity) dan c. berkelanjutan (sustainability). Dan diusahakan keselarasan perkembangan antara komponen pembangunan seperti sumber daya (resources), investasi, teknologi dan institusi sosial. Tersimpul dalam pola pembangunan yang berlanjut keharusan menghalau kemiskinan meningkatkan kualitas pembangunan, terpenuhinya kebutuhan pokok yang mencakup pangan dan terjangkaunya (accessibility) energi, air, tanah, lapangan pekerjaan dan lain-lain alat kebutuhan pokok, tercapainya tingkat kependudukan yang stabil dalam waktu yang tidak terlalu lama, dilestarikannya fungsi sumber daya dan orientasi teknologi pada kemampuan mengendalikan dan pertautan lingkungan denga ekonomi dan teknologi. Sungguhpun peran pemerintah penting, namum pelaksanaan pembangunan umumnya berada di tangan masyarakat yang mengorganisasi diri dalam: a. organisasi politik dengan motivasi politik; b. organisasi ekonomi dengan motivasi ekonomi; c. organisasi sosial dengan motivasi sosial dan d. organisasi swadaya masyarakat dengan motivasi kemanusiaan. Dalam pola pembangunan berkelanjutan perlu dikembangkan iklim mendorong masyarakat melaksanakan haknya untuk berperan serta melalui jalur organisasi politik, ekonomi, sosial dan swadaya masyarakat. Dan bersama denga pemerintah menumbuhkan kebijakan pemerintah untuk: (1) mengoreksi mekanisme pasar agar menampung pertimbangan lingkungan dalam pembangunan; (2) menumbuhkan segi kualitatif pembangunan yang tidak bisa dicapai melalui tindakan ekonomi binaan; (3) menciptakan iklim usaha yang merangsang pertumbuhan organisasi politik, ekonomi, sosial dan swadaya masyarakat dalam arus jalur motivasi masing-masing. Oleh karena hakekat masalh lingkungan bersifat saling kait-mengkait (interdependen) dalam hubungan lintas sektor, maka sangat penting bahwa proses pelaksanaan kegiatan pembangunan berkelanjutan berada sedekat mungkin dengan lokasi kegiatan. Ini berarti dikembangkannya proses desentralisasi dengan debirokratisasi dalam pelaksanaan pembangunan dan lebih banyak peluang diberikan kepada prakarsa masyarakat untuk secara mandiri mengembangkan daya kreativitasnya. Dari berbagai organisasi masyarakat berada dengan organisasi politik yang menghimpun masyarakat atas dasar motivasi politik. Organisasi ini mempunyai maksud dan tujuan politik yang erat kaitannya dengan memperoleh kekuasaan negara sebagai alat mewujudkan aspirasi politiknya. LSM tidak memiliki aspirasi "untuk berkuasa dalam negara". LSM tidak meghimpun masyarakat atas dasar motivasi idelogi politik. Bahkan dalam LSM dapat berhimpun dan berkumpul kelompok masyarakat dan orang-orang dengan aliran politik yang beranekaragam. LSM memang punya satu landasan ideologi politik yang tunggal, yakni ideologi negara: Pancasila. Tetapi selebihnya dalam LSM aliran politik anggotanya tidak dominan dan relevan dalam kegiatan LSM. Ini tidak berarti bahwa LSM tidak berpolitik. Setiap kegiatan kemasyarakatan mempunyai dampak politik. Tetapi bedanya dengan organisasi politik adalah bahwa LSM tidak menjadikan dampak politik itu sebagai maksud utama seperti halnya bagi partai politik. Lembaga swadaya masyarakat juga bukan perusahaan bisnin, seperti usaha swasta komersial. Perusahaan swasta bekerja dengan motivasi mengejar keuntungan komersial. Namun LSM perlu menggunakan perhitungna "banyak-manfaat" untuk memlihara kelangsungan usahanya. Cost accounting perlu dilaksanakan supaya usaha biaya bukanlah untuk maksud mengejar laba, tetapi terutama untuk menutup ongkos kembali (cost recovery). Mungkin LSM lebih dekat dengan organisasi sosial, tetapi dengan penekanan pada usaha membangkitkan keswadayaan masyarakat, supaya masyarakat tumbuh mandiri mampu memecahkan masalahnya secara swadaya dan mandiri. Disinilah terletak perbedaannya dengan organisasi sosial yang bersifat mambantu orang, seperti halnya Palang Merah. organisasi Yatim Piatu, dan lain-lain. Organisasi-organisasi sosial seperti ini merupakn wahana penyalur bantuan, membantu yang lemah. Prinsip menegakkan kemandirian mengusahakan agar irang itu bisa berswadaya dan mandiri tidak merupakan tujuan pokok organisasi ini. Dan disinilah terletak pokok perjuangna yang memberi dasar hidup nagi kehadiran LSM. Ia mendambakan agar masyarakat bisa menjadi mandiri dan berswadaya dalam pembangunan, karena itulah ia bernama Lembaga Swadaya Masyarakat. Maka pola pembangunan yang berlanjut pemerintah perlu menciptakan ilkim melalui kebijakan makro, sektoral dan regional-daerah untuk merangsang masyarakat mambangun meningkatkan kesejahteraan tanpa penyusutan dan pencemaran sumber daya, terutama terhadap air, tanah, udara dan organisme hidup penting, serta turut meningkatkan terwujudnya kualitas penduduk seperti tercermin dalam indikator kesejahteraan penduduk. Hal ini bisa terungkap memalui Matrix pembangunan yang berlanjut seperti dibawah ini. Rangkaian kebijakan ini secara oprasional tertuang melalui: 1. proses pemantauan kegiatan dan perubahan sumber daya antara lain melalui Neraca Kependudukan dan Lingkungan (NKLH) yang dihimpun oleh Daerah; 2. pengembangan berdasarkan perencanaan tata ruang yang mencakup perencanaan lahan, hutan, daerah aliran sungai, perencanaan kota, zona industri, dan lain-lain; 3. memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif pembangunan kepada lingkungan melalui diterapkannya analisis mengenai dampak lingkungan sesuai peraturan pemerintah nomor 29 tahun 1986; 4. pengaruh pembangunan kepada kualitas penduduk ditelusuri melalui indikator kesejahteraan penduduk yang disusun secara berkala oleh Biro Pusat Statistik. Langkah-langkah ini dapat diwujudkan secara operasional. Karena itu sangat penting apabila kegiatan penelitian dan ilmiah sebagai lembaga dan badan-badan, termasuk Pusat Studi Lingkungan diarahkan untuk menopang pola pembangnan yang berlanjut. Proses perencanaan pembangunan memerlukan faktor integrasi lintas sektor yang diharapkan bisa dicapai antara lain melaluin pendekatan perencanaan pembangunan tata ruang yang mencakup perencanaan penggunaan lahan, hutan dan sumber daya sebagai unsur penunjang perencanaan pembangunan daerah. Hubungan kerja antara aparatur-aparatur pusat dan daerah pula disempurnakan dan dikembangkan ruang gerak yang lebih luas bagi pelaksanaan pembangunan daerah oleh daerah sendiri dalam pola pembangunan negara kesatuan. Menjelang tahun 2000 proses pembangunan indonesia dipengaruhi oleh banyak keperluan, seperti meningkatkan mobilitas sumber daya dalam negeri, menanggulangi tekanan pada sumber daya luar negeri, merombak struktur ekonomi indonesia menjadi struktur ekonomi berimbang, menanggapi akibat pertambahan penduduk indonesia dari 168 juta orang (1987) menjadi 216 juta orang (2000), dan mengembangkan kualitas hidup dengan tingkat kemiskinan yang berkurang dalam masyarakat berkeadilan sosial. Keperluan yang begitu luas memerlukan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dikelola dalam pola pembangunan berwwasan lingkungan supaya cita-cita jangka panjang bisa tercapai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak hanya untuk generasi masa kini, tetapi juga untuk generasi masa depan. LATIHAN SOAL 1. Jelaskan arti pembangunan berwawasan lingkungan! 2. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam menanggapi tantangan pembangunan masa depan! 3. Berilah beberapa contoh usaha untuk menaikkan kualitas suber daya manusia! 4. Berilah beberapa contoh usaha untuk menaikkan kualitas lingkungan alam; lingkungan buatan manusia; dan lingkungan sosial! 5. Berilah beberap contoh tentang berbagai faktor kendala yang membatasi dalam usaha pembangunan berwawasan lingkungan! 6. Suatu kenyataan bahwa di daerah kita, banyak tanah pertanian yang subur didirikan gedung/pabrik. Bagaimana sebaiknya usaha kita supaya dapat berswasembada pangan? 7. Berilah beberapa contoh tentang ciri-ciri khusus dalam lingkungan yang sering tidak diperhatikan dalam penyusunan kebijakan pembangunan seperti: diubahnya sistem lingkungan alam oleh sistem lingkungan binaan manusia mengakibatkan hilangnya sifat khas lingkungan seperti keanekaragaman, keterkaitan, keseimbangan dan keserasian antar unsur-unsur dalam ekosistem! 8. Berilah beberapa contoh peranan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan! PENGELOLAAN KOTA DAN LINGKUNGAN Pengaruh pembangunan kota kepada lingkungan adalah lebih besar dari pada pengaruh pembangunan desa. Pengaruh pertama ialah, karena pembangunan kota mengubah keadaan fisik lingkungan alam menjadi lingkungan buatan manusia. Dalam kota, keadaan lingkungan alam sulit dipertahankan kelestarian dalam wujud aslinya sehingga lahirkah lingkungan alam buatan-manusia. Maka menjadi pertanyaan, sampai seberapa jauhkan fungsi lingkungan alam bias diambil alih oleh lingkungan buatan manusia? Sampai seberapa jauhkah perubahan alam lingkungan mencapai titik krisis sehingga berpengaruh negative terhadap perikehidupan manusia?maka lahirlah sampah, pencemaran udara, sungai, tanah, kebisingan suara dan lain-lain yang serupa, sebagai perwujudan pengaruh negative dari perubahan lingkungan ala mini. Pengaruh kedua ialah terhadap perubahan lingkungan social masyarakat yang hidup di kota. Semula hidup masyarakat lebih akrab dan hubungan antar-manusia saling tolong-menolong dalam peri kehidupan masyarakat kecil di kampong atau desa. Perubahan menjadi kota mengakibatkan masing-masing orang harus memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Tetapi berbagai keperluan kini sulit diusahakan sensiri, seperti keprluan akan air minum, energi, angkutan, pelayanan kesehatan dan lain-lain keperluan yang lazim disebut "pelayanan umum" (public utilities). Sehingga tampil ke depan peranan pemerintahan Kotamadya memberi berbagai keperluan pelayanan umum ini. Soal yang dihadapi oleh pemerintahan Kotamadya adalah, bagaimana memenuhi berbagai keprluan pelayanan umum ini dengan dana keuangan yang serba terbatas? Uraian ini hanya terbatas pada pembahasan kedua masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan kota, dengan harapan supaya corak pengelolaan kota di tanah-air kita memberi dampak positif semaksimal mungkin bagi lingkungan hidup. Dampak Lingkungan Buatan Manusia Kota lahir sebagai akibat pemusatan penduduk pada suatu tampat lingkungan tertentu. Pemusatan pemukiman penduduk ini dodorong oleh berbagai hal yang memberikan ciri khas kepada kota. Kota yang menarik pedagang untuk bermukim memberi cirri-ciri kota perdagangan. Kota yang menarik usahawan dan industriawan, menjadi kota industri. Dan begitukah seterusnya, lahir kota0kota sebagai kota administrasi-pemerintahan, kota-pendidikan, kota pariwisata dan seterusnya. Kota itu memiliki cirri yang ditentukan oleh fungsi kota dalam ruang lingkup daerah. Masing-masing fungsi memberi pengaruhnya tersendiri terhadap pengembangan kota. Maka ruang lingkup kota-Bukittinggi, Sumatera barat misalnya, karena letak, kondisi geografis dan sifat sumber alamnya, memiliki kemungkinan lebih besar menjalankan fungsi kependidikan dan kepariwisataan dari pada fungsi industri atau perdagangan besar. Karena perkembangan sejarah dan keadaan sumber alam yang terbatas , maka Yogyakarta lebih besar kemungkinan berkembang menjadi kot pendidikan dan pariwisata dari pada menjadi kota industri-berat. Sebaliknya, Surabaya, Jakarta dan Medan, karena terletak di jalur angkutan darat, laut dan udara yang sejak dulu sudah dikembangkan membuka kemungkinan melaksanakan fungsi perdagangan dan industri. Maka yang pertama-tama perlu diperhatikan ialah fungsi apa yang dilaksanakan kota. Sifat serta fungsi kota inilah yang mempengaruhi proses pembangunan kota itu. Ini juga berarti bahwa pengelola kota tidak perlu memaksa arah perkembangan kota ke jurusan pengisian fungsi yang sulit dilaksanakannya. Setiap kota harus berkembang dengan karakternya sendiri. Menurut pengamatan di bidang pengembangan kota. Tampaklah bahwa DKI Jakarta Raya punya pengaruh besar terhadap arah dan pengembangan sifat-sifat kota lain. Apa yang dilaksanakan DKI Jakarta Raya sering ditiru kota-kota lain, sehingga menanggung resiko kota-kota dipaksa berkembang tidak serasi dengan karakter dan fungsi kota itu sendiri. DKI Jakarta Raya adalah unik, karena fungsinya sebagai ibukota negara dan sekaligus mengemban fungsi perdagangan, industri, pendidikan, pariwisata dan lain-lain. Fungsi berganda ini tidak dimiliki oleh kota-kota lain.karena itu tidak tepat bila kota-kota lain meniru cara pembangunan DKI Jakarta Raya. Dengan memperhatikan lingkup suatu kota dan fungsinya dalam pembangunan wilayah, maka lingkungan alam diubah menjadi lingkungan buatan manusia. Perubahan ini terpaksa dilakukan untuk menampung jumlah penduduk perkilometer persegi yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan keadaan di desa. Masalahnya sekarang ialah, dapatkah fungsi lingkungan alam diambil alih oleh lingkungan buatan manusia. Jika hutan berfungsi memberi kebersihan udara bagi kehidupan manusia maka pengembangan lingkungan buatan manusia harus tetap mengusahakan agar fungsi hutan yang diubah ini bisa dilaksanakan oleh pohon-pohon yang sengaja ditumbuhkan di pinggir jalan atau taman-taman di tengah kota. Curahan hujan yang ditampung oleh pohon dan hutan kini perlu ditampung oleh bendungan atau saluran pengendalian banjir. Ringkasannya, dalam mengubah lingkungan alam maka pengembangan lingkungan buatan manusia harus memperhitungkan kelangsungan fungsi lingkungan alam, sehingga perubahan lingkungan alam ini sampai merugikan manusia. Ini berarti perencanaan ruang akan pengguanaan tanah menjadi penting sebagai ikhtiar mengubah lingkungan alam tanapa kerusakan. Apabila fungsi suatu kota sudah diketahui maka pengelola kota dapat memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja, modal dan keterampilan yang ada di kota untuk diolah menjadi pengembangan kota. Bagi setiap pemimpin pemerintah Kotamadya, yang menjadi soal mendesak adalah bagaimana menghimpun dana secukupnya untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Dalam rangka pengembangan lingkungan hidup, salah pendekatan yang perlu dijajaki adalah pemanfaatan berbagai hal yang tersedia di kota untuk pembangunan kota. Dalam hubungan ini kondisi fisik seperti tanah berawa-rawa, daratan tanah tidak datar, atau lingkungan tanah kritis bisa dimanfaatkan untuk memperoleh hasil lebih besar jika ditingkatkan melalui pengurukan dan sanitary landfull. Yang penting di sini adalah pemanfaatan sampah bagi penimbunan, sehingga sampah yang bernilai negatif dapat menjadi positif meninkatkan mutu dan nilai kegunaan tanah. Tanah yang sudah "dimatangkan" dengan sampah ini bisa memiliki nilai yang jauh lebih besar dari pada keadaannya semula. Sampah bisa di adur ulang (recycling) untuk bahan baku produksi. Maka mereka yang secara sadar memanfaatkan sampah, seperti pengumpul plastik, besi-besi tua, kertas-kertas bekas, sampah organis dan lain-lain, perlu dirangsang uasahanya; dan secara sadar diciptakan suasana penghargaan agar pekerjaan memanfaatkan sampah perlu memperoleh apresiasimasyarakat. Garis pikiran ini juga berlaku terhadap tinja, limbah industri, dan lain-lain kotoran. Inti pikiran ialah merangsang pemanfaatan hal yang semula dipandang negatif. Dalam hubungan ini perlu pula dikaji penyusunan prioritas dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan Kotamadya setempat. Bagi masyarakat kota, kebutuhan akan pelayanan umum jauh lebuh besar dibandingkan dengan masyarakat desa. Bagi masyarakat kota todak tersedia ruang atau sumber daya alam untuk memenuhi keperluan akan pelayanan umum ini secara mandiri oleh penduduk sendiri-sendiri. Sulit diharapkan masing-masing penduduk memecahkan masalah air minumnya sendiri, energinya sendiri, kesehatannya sendiri dan lain-lain. Karena itu fungsi Pemerintah Kota ialah memenuhi pelayanan umum ini. Dalam APBD kotamadya keperluan memenuhi pelayanan umum inilah yang pertama-tama perlu diamankan. Jumlah investasiuntuk pembangunan pelayanan umum bisa diharapkan pada tahap permulaan dari anggaran pembangunan pemerintah pusat. Tetapi biaya operasionalnya, seyogyanya diusahakan dari mereka yang memperoleh nikmat dari hasil usaha ini. Anggaran pendapatan Kotamadya sajauh mungkin diarahkan pada usaha memnuhi pelayanan umum. Secara khusus ini juga berarti disamping masalah air minum, banjir, listrik dan lain-lain perlu juga diperhatikan lebih besar kepada penangggulangan sampah. Dalam APBD kebanyakan Pemerintah Kotamadya di Indonesia, jumlah anggaran untuk pengeluaran rutin penangggulangan sampah umumnya sangat kecil. Keluhan utama ialah bahwa jumlah penerimaan dari masyarakat kota tidak cukup tetapi sebaliknya, jika kita periksa beban pembayaran yang dilakukan penduduk kota, maka keluhan utama penduduk umumnya adalah bahwa beban pembayaran lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas pelayanan yang diperoleh. Dan ini membawa kita kepada kelompok masalah kedua, yaitu pengaruh pembangunan kota kepada lingkungan sosial. Dampak Kepada Lingkungan Sosial Masyarakat kota menghadapi tantangan kehidupan yang jauh lebih sulit dan keras dibandingkan masyarakat desa. Hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang kuat di desa berkurang di kota. Sistem inilah yang lazim dikenal di desa menjadi goyah bagi mereka yang kemudian menetapo di kota. Dalam keadaan seperti ini timbullah sikap individualistis; berusaha memecahkan masalahny sendiri-sendiri. Tetapi sifat permasalahan sulit diatasi secara sendiri-sendiri. Kebutuhan akan air minum yang bersih, listrik, kesehatan, sanitasi, dan lain-lain hanya dapat dipenuhi jika dibantu oleh Pemerintah Kotamadya. Inilah sebabnya mengapa masalah pelayanan umum dirasakan lebih mendesak di kota dari pada di desa. Dan jika kebutuhan mendesak, timbul sikap untuk memenuhinya tanpa memperhitungkan biaya. Yangkuat dan mampu mendesakkan diri agar kebutuhannya dipenuhi. Pengelola pembangunan kota di sini harus pandai melihat permasalahan dalam proporsi yang wajar dan adil. Pemimpin Pemerintah Kotamadya menjadi unsur pertama yang harus menjamin agar dana yang sudah langka dari Pemerintah daerah Kotamadya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi seluas mungkin anggota masyarakat. Dalam masyarakat kota, penduduk berpendapatan rendah biasanya lebih bnayak dari pada mereka yang berpendapatan tinggi. Ini berarti bahwa mereka yang berpendapatan tinggi memiliki kemapuan membayar kebutuhan akan pelayanan umum lebih besar dibandingkan dengan mereka berpendapatan rendah. Karena itu pengenaan oungutan secara diferensial antara yang mampu dan tidak mampu, bisa dan laIm diterapkan di sini, sehingga tarif listrik, tarif air minum mengenal perbedaan pembayaran diferensial ini. Yang harus diusahakan ialah supaya penerimaan rata-rata pengadaan pelayanan umum dapat membayar biaya eksploitasi dan pemeliharaan peralatan palayanan umum ini. Sering kita jumpai disini keganjilan. Di satu pihak penerima dari jasa penjualan fasilitas umum diras rendah, tetapi di pihak lain konsumen harus membayar terlalu tingi dibandingkan dengan jumlah dan mutu jasa pelayanan yang diperolehnya. Pembayaran disini mancakup baik yang resmi muapun yang tidak resmi. Banyak sekali keluhan dan laporan diterima bahwa setiap jasa pelayanan umum meminta pembayaran ekstra, sehingga melebihi tarif resmi. Fakta ini membuktikan, bahwa potensi membayar masyaraka cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan biaya eksploitas dan pemeliharaan, sehingga menjadi permasalahan managerial: bagaimana mengetatkan pengawasan atasan langsung terhadap semmua mereka yang melayani penjualan jasa pelayanan umum, sehingga pungutan tak resmi dapat dimasukkan ke kas resmi Pungutan tak resmi seperti ini sebenarnya adalah pencerminan mismanagement, tidak efektivnya unsur atasan mengintrol bawahannya. Melalui proses mutasi secara berkala maka kemungkinan "kerja-sama" (collution) antara atasan langsung dengan bawahan bisa dipatahkan. Dengan menggalakkan management terbuka maka para pengelola pelayanan umum seperti direksi perusahaan air minum, listrik, pasar dan lain-lain, didorong menjelaskan secara terbuka hasil penerimaan dan pengeluaran keuangannya kepada konsumen pemakai, seperti yang dimintakan kepada perusahaan yang go public dalam pasar modal sehingga penerimaan tak resmi bisa diperkecil. Dari kelompok konsumen pemakai jasa pelayanan umum bisa dimintai umpan balik oleh pemimpin Pemerintahan Kotamadya untuk memberi pendapat serta tanggapan tentang mutu dan kualitas jsa pelayanan serta hal ikhwal pungutan tak resmi. Dengan ikhtiar mencakup berbagai segi yang tertuju pada pengurangan penyimpangan dan memperkil pungutan, maka tidak saja berbagai penyimpangan bisa dikendalikan menjadi semakin kecil, tetapi sekaligus citra Pemerintah Daerah Kotamadya yang lebih bersih dapat ditegakkan. Dalam setiap Kotamadya, modal utama terletak kepada penduduk dan kekuasaan yang dimiliki Pemerintah Daerah untukmengelola kota. Modal dalam arti uang jarang dimiliki Pemerintah Daerah Kotamadya secara cukup. Tetapi keadaan penduduk dan kekuasaan untuk memerintah (the power to govern) yang terdapat pada setiap pemerintah daerah kotamadya merupakan modal besar untuk membangun kota. Penduduk bisa menjadi modal pembnagunan, bila penduduk dibawa serta dalam pemecahan masalah kebutuhannya; penduduk memerlukan sanitasi, air minum, listrik dan lain-lain jasa pelayanan umum. Karena mereka berkepentingan maka mereka berhasrat untuk memenuhinya. Disinilah gaya kepemimpinan Pengelola Pemerintah Daerah Kotamadya sangatlah penting. Masyarakat kota punya hubungan yang lebih dekat dengan pemerintah kotamadya dibandingkan dengan jarak antara masyarkat desa dengan Pemerintah Kabupaten. Secara geografis dan fisik hubungan masyarakat kota dengan Pemerintah Daerah Kotamadya, sehingga konsultasi langsung dengan perwakilan dan tokoh-tokoh pemimpin formal serta informal bisa merangsang dinamika masyarakat. Karena itu pernan kelompok organisasi non-pemerintahan bisa sangat efektif membantu Pemerintah Daerah Kotamadya membangun kota dan mengembangkan lingkungan hidup. Modal dasar kedua dimiliki Pemerintah Daerah ialah kekuasaan mengatur dan menetapkan kebijaksanaan. Melalui hak mengatur dan kebijaksanaan maka iklim usaha bisa diciptakan untuk merangsang tumbuh dan bekerjanya modal yang ada di tangan masyarakat. Modal uang umumnya berada di tangan mereka yang berada, sedangkan modal tenaga berada di tanga mereka yang kurang berada. Hak mengatur ini bisa efektif, jika orientasi kepemimpinan mengusahakan pembangunan yang berguna bagi masyarakat dengan cara memperkecil dampak negatif terhadap lingkungan fisik maupunlingkungan sosial. Mengelola pembangunan Kotamadya tidaklah serupa dengan mengelola mesin atau pabrik, tetapi ini adalah mengelola masyarakat yang hidup. Karena itu dalam langkah tindak kepemimpinan pembangunan sangatlah penting untuk mampu membawa serta masyarakat sebagai subjek untuk diajak dalam proses membangun diri masyarakat, sebagai obyek dalam mengembangkan lingkungan buatan manusia dan lingkungan sosial agar mampu memperkaya sang manusia, sebagai individu dan anggota masyarakat dalam rangka peningkatan perikehidupan sebagai manusia yang utuh dalam kehidupan masyarakat pancasila. KONSUMERISME DAN LINGKUNGAN HIDUP Sejak dilangsungkannya Sidang Khusus PBB tentang lingkungan hidup di Stockolm, 1972, maka segi lingkungan hidup diterima menjadi slah satu hak konsumen yang penting untuk diperjuangkan oleh aliran konsumen atau konsumerisme diseluruh dunia. Konsumen berhak atas lingkungan hidup yang meningkatkan kualitas hidup. Dan kepentingan konsumen berjalan seiring dengan kepentingan pengembangan lingkungan hidup. Kesadaran akan persamaan kepentingan ini mulai tumbuh juga di tanah air kita. Dalam memantapkan hak konsumen seperti ini dirasa perlu mendalami hak konsumen akan segi lingkungan hidup dan melihat implikasinya dalam rangka pembangunan Indonesia. Hak Konsumen Dan Lingkungan Hidup Aliran konsumen (konsumerisme) bertolak dari empat hak yang semula dicanangkan presiden AS John F. Kennedy, di tahun enampuluhan, yaitu pertama hak atas keamanan konsumen terhadap barang dan jasa yang bia mengganggu kesehatan atau kehidupan. Konsumen tidak selalu berkesempatan mengetahui persis cara-cara melindungi diri mereka ketika menggunakan barang dan jasa. Dalam hubungan ini adalah hak konsumen agar barang dan jasa memiliki unsur aman bagi konsumen. Kedua, hak atas informasi yang jujur. Barang atau jasa yang dijajarkan kepada konsumen haruslah disertai penjelasan jujur dan lengkap agar konsumen memperoleh barang dan jasa sesuai dengan harga yang dibayar. Ini adalah bagian dari tata aturan "permainan wajar" (fair play) yang seharusnya berlaku dalam masyarakat yang sopan. ketiga, hak memiliki bagi konsumen. Sekaligus tersimpul disini bahwa persaingan sudah berkembnag ke jurusan mengurangi hak konsumen untuk memiliki hak bebas. Pengaruh iklan, promosi penjualan dan usaha pemasaran yang intensif telah mempersempit hak konsumen untuk memilih. Keempat, hak untuk didengar pendapatnya agar kepentingan konsumen diperhitungkan dalam perumusan kebijakan. Di samping itu berbagai keluhan konsumen patut untuk memperoleh penampungannya. Lahirnya empat hak ini mencerminkan kedudukan konsumen yang terdesak dalam perkembangan sistem ekonomi kapitalis. Mula-mula belaku dalil "konsumen adalah raja" dan "konsumen adalah berdaulat" dalam sistem pasar bebas ini. Maka pola produksi dan berorientasi kepada apa yang dikehendaki oleh konsumen. Tetapi perkembangan tehnologi dan persaingan menghasilkan pola produksi massal (unit cost) bisa ditekan serendahnya. Ini dimungkinkan oleh kemajuan tehnologi. Tetapi serentak dengan itu maka modal tertanam (sunked capital) menjadi besar. Dan lahirlah kebutuhan untuk aktif mempengaruhi konsumen supaya menerima dan membeli produknya. Iklan, promosi perdagangan, psikologi massa dan berbagai cara persuasi menjadi bagian dari kegiatan managemen. Dalam keadaan seperti ini bukan kebutuhan konsumen yang menentukan produksi industri, tetapi sebaliknya industri yang menentukan kebutuhan konsumen. Dengan perkembangan ini persaingan mengarah ke jurusan "persaingan monopolistik" dimana persaingan berlangsung dalam kerangka bidang bermonopoli. Dan bagi konsumen hilanglah haknya untuk memilih, karena terbatasnya barang yang bisa dipilih akibat sistem persainga monopolistik. Hilang pula hak konsumen memperoleh informasi jujur, karena dicekoki informasi iklan yang lebih mengutamakan pembangkitan selera beli tanpa pengetahuan yang memadai bagi konsumen. Dan hilang pula pemndapat konsumen yang terbenam dalam gemuruh suara produsen, para pemegang saham, paralobbyist di gedung perwakilan, para pedagang, tekhnisi dan semua mereka yang berkepentingan dengan proses pembangunan yang serba massal ini. Dalam keadaan yang serba kacau ini mudahlah dipahami jika pemerintah majib terjun masuk dan mengoreksi ketimpangan kekuatan ekonomi yang berat menguntungkan kelompok produsen ini. Inilah sebabnya pemerintah Kennedy merasa perlu campur tangan dan menegakkan empat hak konsumen ini. Tetapi sekaligus ini juga membuktikan bahwa hak konusmen yang berkembang adalah reaksi terhadap lepasnya kendali ekonomi pasar sehingga menghanyutkan kepentingan konsumen. Pola produksi, pemasaran dan tehnologi yang berkecamuk di AS tidak berhenti sampai di sini. Pola-pola ini juga berkembang praktis di sebagian besar negara maju dan ditiru pula oleh banyak negara-negara berkembang. Dalam keadaan seperti ini berbagai sumber alam di pakai secara boros untuk menopang pola konsumsi yang berlebihan dan m neghasilkan buangan sampah, limbah dan kotoanyang mencemarkan lingkungan alam. Laju pemborosn alam sumber alam dan pencemaran lingkungan berlangsung begitu cepat sehingga menyentakkan pemimpin-pemimpin pemerintahan di dunia untuk meninjau kembali langkah pembangunan yang diambil selama ini dan memberi bobot lebihbesar kepada segi lingkungan hidup dalam kerangka kebijakan pembangunan nasional dan internasional. Dalam pembangunan ini pulalah lahir hak konsumen akan lingkungan hidup untuk meningkatkan kuslitas hidup sebagai hak yang kelima. Hidup tidak hanya berisikan segi kuantitatif berupa barang-barang material yang dihasilkan secara massal. Hidup tidak hanya biasa dipuaskan dari barang-barang material. Hidup juga punya segi kualitas yang sukar tertuangkan dalam ukuran angka kuantitatif. Lingkungan alam yang utuh, udara segar, kesehatan lingkungan, peri-laku lingkungan masyarakat yang lebih beradab, sopan dan berpendidikan, solidaritas sosial yang dalam dan perikehidupan masyarakat yang lebih manusiawi adalah penjelmaan dari segi-segi kulitas hidup yang lebih penting dari segi-segi kuantitas hidup yang tertuang dalam jumlah barang dan jasa. Untuk mewujudkan lingkungan hidup ini sangatlah penting apabila para pelaku pembangunan dalam masyarakat, yang terutama mencakup pemerintah, kelompok produsen, kelompok keuangan perbankan, kelompok pemasaran dan kelompok konsumen, memahami beberapa dalil pokok lingkungan hidup, untuk dijadikan pegangan dalam perumusan kebijakan, perundang-undangan dan peraturan, rencana kerja dan sebagainya. Dalil pertama ialah bahwa segala zat, benda, organisme hidup dan lain-lain hal dalam lingkungan saling kait-mengait sesamanya. Karena itu maka setiap usaha menyangkut zat, benda atau organisme tertentu langsung berinteraksi dengan zat, benda atau organisme hidup lainnya di bagian lain dalam lingkungan. Hubungan anteraksi ini bisa intensif dan segera terasa dalam waktu pendek, bisa pula bersifat tidak langsung dan baru terasa setelah lewat beberapa waktu. Contoh kasus pertama adalah pengaruh langsung dari penebangan hutan di hulu sungai pada naiknya kadar lumpur (erosi) dalam sungai. Contoh kasus kedua ialah logam berat yang masuk ke dalam ikan melalui air tercemar, baru kemudian menimbulkan penyakit bagi manusia setelah lewat puluhan tahun berkumpulnya logam berat dalam tubuh manusia akibat memakan ikan tercemar tadi, seperti terjadi dengan penyakit Minamata di Jepang. Dalil kedua menyatakan bahwa sesuatu yang dibuang dalam lingkungan tidak akan hilang. Limbah industri yang dibuang bisa dianggap "hilang" oleh pengusaha industri. Tetapi limbah yang sama ini masuk dalam lingkungan alam melalui air, udara atau tanah sehingga mengganggu kesehatan anggota masyarakat lain. Semua buangan industri, rumah tangga, manusia, binatang, dan sebagainya tidak lenyap tanpa bekas. Buangan kotoran ini masuk ke tempat lain untuk beredar dalam siklus lingkungan. Dalil ketiga, ekosistem terbentuk sebagai hasil perkembangan alam dalam ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun. Untuk membuan lapisan lahan atas (top soil) setebal 2,5 cm yang mampu menghidupi tanaman diperlukan proses pembusukan alamiah selama 300 tahun. Ilmu dan tehnologi belum berhasil menggantikan proses alamiah ini. Penggunaan zat kimia dan pupuk hanya mampu menggantikan dari sebagian fungsi lapisan tanah atas ini. Inipun disertai pengaruh sampingan yang tidak kecil. Tidak semua tumbuh-tumbuhan bereaksi positif terhadap pupuk. Karena ekosistem ini memnutuhkan waktu lama dalam proses pembentukannya, sudah sewajarnya pula jika penggunaannya dilakukan secarahati-hati dan tidak ceroboh. Dalil keempat, mengatakan bahwa stabilitas ekosistem berkaitan langsung dengan keanekaragaman (diversifikasi) isi lingkungan. Semakin ragam isi lingkungan dengan bermacam-macam flora dan fauna, semakin stabil ekosistem ini. Sebaliknya, semakin seragam (unifikasi) isi lingkungan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang sempit jumlah jenisnya, semakin goyah dan labil ekosistem ini. Dalil kelima, bahwa ekosistem yang beraneka ragam dan stabil ini menimbulkan kualitas hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem yang seragam dan labil. Ambillah contoh kehidupan yang pendapatannya hanya bergabtung darti laut, akan sangat peka dengan gangguan alam, seperti musim angin barat, badai taufan, dan sebagainya, sehingga usaha meningkatkan kulaitas hidupnya banyak terhambat oleh sempitnya sumber pendapatan. Kira-kira begitu pula keadaannya dalam kehidupan ekosistem. Dalil keenam, mengungkapkan bahwa dalam ekosistem, yang kuat mendesak yang lemah. Kuat dalam makna fisik maupun intelengensi, mampu mendesak yang lemah. Dalam keseluruhan ekosistem maka manusia adalah makhluk yang paling kuat berkat kaal fikirannya, sehingga dapat mendesaktundukkan praktis banyakan makhluk isi alam. Dalil ketujuh, menyatakan tidak ada hal gratis dalam kehidupan lingkungan. Apabila manusia hanya memetik dari alam tanpa memberi kembali, maka akan kehilangan salah satu mata-rantai dalam siklus kehidupan. Dan ini menimbulkan ketidakseimbangan (disequilibrium) dan muncul berupa gangguan atau bencana di lain ketika. Apa yang diambil dari lingkungan hidup harus disertai dengan usaha memberikannnya kembali kepada alam. Karena itu tumbuh-tumbuhan dan hewan yang bisa dimakan hanyalah jenis yang dapat dibiakkan kembali. Dalil ini juga berarti bahwa mengelola sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui (non-renewable resources) seperti minyak, batu bara, gas alam, dan bahan mineral, dan lain-lain, perlu memperhitungkan trade off antara manfaat yang sekarang diperoleh terhadap kerugian yang harus dibayar kelak akibat hilangnya sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui ini. Demikian tujuh pokok dalil lingkungan hidup ini yang perlu dipertikan dalam mengembangkan hak konsumen akan lingkungan hidup yang lebih baik. Dalil-dalil ini tidak lengkap namun cukup untuk memberi gambaran tentang ciri-ciri lingkungan hidup. Jika ingin dikembangkan lingkungan hidup untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik, maka pola pembangunan, pola produksi, p[ola pemasaran, dan pola konsumsi harus memberi kontribusi bagi terpeliharanya dalil-dalil lingkungan hidup ini. Peranan konsumen itu sendiri sangat menentukan bagi kelangsungan hidup dalil-dalil lingkungan ini. Permintaan konsumen akan barang dan jasa mempengaruhi: 1. Sumber alam yang diperlukan untuk menghasilkan barang utama yang diminta; 2. Tehnologi penggalian sumber alam dan tehnologi transformasi bahan mentah menjadi bahan baku dan barang jadi; 3. Limbah, buangan dan kotoran yang dihasilkan oleh setiap tahapan produksi dan konsumsi; 4. Sumber alam dan tehnologi industri berikut pencemaran, limbah, kotoran dan sampah yang menyertai barang dan jasa penunjang barang utama yang dibutuhkan semula. Maka permintaan akan mobil (barang konusmsi utama), mendorong keperluan akan sumber lam, bahan mentah, dan lain-lain untuk membuat ban mobil, mesin, bensin, jalan raya, tempat parkir, dan lain-lain barang penunjang; 5. Pola hidup (life style) yang selanjutnya mempengaruhi sistem nilai, norma, ukuran pergaulan, status individu dalam masyarakat dan sebagainya. Akibat berlakunya dalil interdependensi antara satu dengan lain dalam lingkungan hidup (dalil pertama), tidak ada sesuatu yang hilang terbuang dalam linkungan (dalil kedua) dan tidak ada yang gratis dalam kehidupan lingkungan (dalil ketujuh), maka keputusan konsumen untuk meminta (demand) sesuatu lagsung memberi dampakny akepada lingkungan hidup. Sehingga hak konsumen akan lingkungan hidup yang semakin baik juga dipengaruhi oleh tindak-tanduk konsumen itu sendiri. Karena itu maka hak konsumen akan lingkungan hidup yang baik sekaligus membawa kewajiban konsumen untuk menggunakan hak konsumsinya secara bertangggung jawab terhadap lingkungan. Hak konsumen akan lingkungan hidup yang lebih baik, meletakkan kewajiban atas diri konsumen untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengendalikan dampak pengaruh tindak-tanduknya kepada lingkungan. Di samping konsumen, tidak kurang penting adalah tanggung jawab produsen terhadap lingkungan. Maka adalah keputusan dan kebijaksanaan produsen yang langsung menghasilkan dampak kepada lingkungan. Karena itu produsen harus mengembangkan kemampuan untuk sedini mungkin memperhitungkan berbagai dampak dari langkah usahanya terhadap lingkungan. Mulai tahap perencanaan hingga ke tahap studi kelayakan, desain, dan tahap pelaksanaan pembangunan proyek. Untuk melindungi konsumen dan menegakkan haknya akan lingkungan hidup yang lebih baik, maka produsen bertangguang jawab membangun usahanya dengan dampak negatif sekecil mungkin kepada lingkungan. Implikasi dari pandangan ini meletakkan beban pencemaran lingkungan langsung dipikulkan kepada snag pencemar itu sendiri. Sehingga berlaku ketentuan bahwa "yang mencemarkan harus membayar akibat pencemaran ini" (polluters-pay principle). Ketentuan ini beranjak dari anggapan bahwa pencemaran bisa dikendalikan dan untuk itu diperlukan biaya. Biaya untuk mencegah pencemaran harus dipikul oleh produsen. Sungguhpun biaya ini tidak langsung menyangkut kepentingan produk dan lebih banyak menyangkut kepntingan luar perusahaan (external cost), namun produsen tidak terlepas dari tangggung jawabnya kepada masyarakat dan lingkungan luas sehingga biaya eksternal ini bisa dijadikan internal cost (internalizing external cost). Iini mengakibatkan kanikan harga, sehingga konsumen harus membayar harga naik ini. Maka biaya pencemaran ditanggung oleh produsen berupa berkurangnya keuntungan dan konsumen berupa naiknya harga. Sehingga baik pencemar atau konsumen yang membeli barang yang mencemarkan sama-sama memikul biaya kerusakan lingkungan hidup. Hal ini adil dan wajar bila dibandingkan dengan keadaan dimana biaya pencemaran dan kerusakan lingkungan dipikul oleh semua orang, baik konsumen pemakai barang maupun khalayak umum yang tidak memakai barang tetapi kecipratan pencemarannya. Apabila atas pertimbangan sosial, pemerintah merasa bahwa beban biaya kepada produsen dan konsumen lebih tinggi dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh masyarakat dengan usaha ini, maka pemerintah dapat memikul sebagian biaya pencemaran ini. Jika misalnya kehadiran industri kecil memberi dampak pencemaran besar, tetapi biaya marginalnya sudah terlalu besar sehingga tidak bisa memikul tambahan biaya pencemaran atau kenaikan harga produk, maka pemerintah bisa ikut campur memikul sebagian biaya pencemaran ini atas pertimbangan bahwa manfaat kehadiran industri kecil sangat penting, berupa lapangan kerja, pemerataan pendapatan dan sebagainya. Lingkungan hidup tidak hanya terancam dengan bahaya pencemaran lingkungan, tetapi juga oleh kegiatan yang merusak keanekaragaman (diversifikasi) isi lingkungan sehingga mengganggu stabilitas ekosistem. Keanekaragaman ekosistem ditentukan oleh tumbuhnya bermacam-macam jenis flora dan fauna. Tumbuh-tumbuhan bervariasi dari jenis cendawan sampai ke pohon beringin raksasa, dan binatnag bervariasi dari cacing tanah sampai ke gajah di hutan dan ikan paus di lautan. Diantara kedua jenis ini tersebar jutaaan spesies (species), yang menghasilkan keanekaragaman ekosistem. Keanekaragaman jenis flora dan fauna ini adalah milik masyarakat. Tidak ada pihak swasta yang bisa mengklaim atas kepemilikan atas jenis flora dan fauna yang tidak dibiakkannya sendiri. Ini adalah warisan seluruh bangsa. Dan sebagai warisan bangsa maka kepentingan bersamalah yang lebih menonjol dari pada kepentingan perseorangan. Kepentingan bersama ini tidak terungkapkan oleh mekanisme pasaran. Karena itu diperlukan campur tangan pemerintah untuk menyelamatkan keanekaragaman jenis fauna dan flora sebagai warisan bangsa ini. Banyak jenis flora dan fauna yang belum diketahui manfaatnya bagi manusia. Manfaat harimau, penyu raksasa ataupun badak bercula dua dan jenis-jenis bintaang lainnya belum terungkapkan secara penuh oleh ilmu pengetahuan yang digali generasi ilmiawan masa kini. Namun ini tidak berarti bahwa keterbatasan ilmu pengetahuan memberi hak dan kebebasan generasi sekarang untuk memusnahkan binatang ini, baik secara langsung dengan jalan berburu, maupun secara tidak langsung dengan merusak tempat pemukimannya (habitat) tanpa memperhitungkan dampak negatifnya terhadap warisan bangsa ini. Yang pasti diketahui adalah bahwa masa depan akan jauh lebih berlainan apabila jenis-jenis binatang, fauna dan flora semakin berkurang, sehingga keanekaragaman ekosistem menyempit. Bisa pula diramalkan bahwa ekosistem ynag berkurang keanekaragamannya ini akan menjadi labil dan goyah sehingga merugikan dan mengganggu kehidupan generasi yang akan datang. Maka rasa tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang dan masa depan bangsa meletakkan tanggung jawab kepada generasi kini untuk melestarikan kenekaragaman flora dan fauna yang sekarang masih hidup. Dan harus dijaga agar dampak pembangunan tidak menimbulkan kerusakan hanya terhadap lingkungan masa kini, tetapi juga terhadap lingkungan masa depan. Dan hak konsumen yang dilindungi dan diperjuangkan bukan hanya konsumen generasi sekarang, tetapi juga generasi masa depan. Juga konsumen generasi masa depan berhak atas lingkungan hidup yang lebih baik. Implikasi Bagi Pembangunan Indonesia Berbagai hak konsumen yang dikembangkan oleh alirah konsumen adalah refleksi dari ketidaksempurnaan (imperfection) mekanisme pasaran. Persaingan tidak seberapa bebas dalam ekonomi pasar yang berlaku sekarang. Bila permintaan konsumen telah berkembang begitu kompleks, sehingga perlu diladeni dengan tehnik produksi dan organisasi pemasaran yang kompleks pula. Dalam keadaan serupa ini maka aliran konsumen berguna untuk mengimbangi ketimpangan kekuatan yang terlalu berat berada di tangan produsen. Dengan berpegang pada lima hak konsumen ini maka aliran konsumen berusaha menjalankan koreksi terhadap perkembangan produksi dalam pasar yang tidak sempurna ini. Negara berkembangpun mengalami ketidaksempurnaan pasar. Juga di sini mekanisme pasar tidak bisa bekerja penuh karena ketidaksempurnaan kelembagaan ekonomi dalam pasar. Golongan ekonomi yang bekerja di pasar banyak menderita kekurangan modal, kekurangan keahlian dan kekurangan sumber daya alam. Kekuatan golongan ekonomi yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Golongan ekonomi kuat memiliki modal keahlian dan sumber alam yang cukup dan organisasi yang mampu menguasai pasaran. Berdampingan dengan ini terdapat golongan ekonomi lemah tanpa organisasi dan tanpa kekuatan apa-apa dalam pasaran. Perbedaan kekuatan antara golongan ekonomi ini berasal dari masa panjajah dulu, sehingga melahirkan dualisme dalam sistem ekonomi kebanyakan negara berkembang. Dalam keadaan ini sektor terorganisasi mengolah sumber alam, berproduksi dan melancarkan promosi pemasaran serupa dengan rekan-rekannya di negara maju. Di tengah-tengah kegiatan produksi dan pemasaran seperti ini kelima hak konsumen yang telah tersebut lebih dahulu perlu ditegakkan untuk menjamin perlindungan konsumen. Tetapi berbeda dengan perlindungan negara maju, dualisme dalam negara ekonomi berkembang menimbulkan ketimpangan antara kaya dan miskin. Di satu pihak satu sektor terorganisasi melaju dengan cepat ditopang oleh pola konsumsi yang meniru negara maju, dipihak lain sektor yang tidak terorganisasi tersendat-sendat perkembangannya sebagai akibat permintaannya konsumen yang rendah pendapatannya. Konsumen kaya menarik produksi dari pengolahan sumber alam ke jurusan pemenuhan kebutuhannya, sedangkan konsumen miskin gagal menarik minat produsen karena labanya terlalu sedikit, resikonya banyak dan balas jasa terhadap modal yang ditanam terlalu rendah. Dalam keadaan demikian kepentingan konsumen yang miskin terdesak ke belakang. Keadaan ini dipersulit lagi karena kebutuhan konsumen mikin tidak terungkapkan di pasar. Karena konsumen miskin, maka ia tidak punya uang sebagai "suara pemilihan" (vote) dalam demokrasi ekonomi. Dalam keadaan seperti ini kelima hak konsumen tidak berlaku baginya. Tampaklah bahwa hak konsumen yang semula dikembangkan di negara maju bertolak dari pra-anggapan (asumsi) bahwa konsumen mampu menggunakan daya belinya di pasaran. Keadaan negara berkembang denga konsumen tanpa daya beli tidak diperhitungkan. Untuk mengatasi kekurangan ini bagi negara berkembang perlu ditegakkan hak konsumen yang keenam, yaitu hak konsumen akan keadilan dalam perlakuan dan peladenan untuk memenuhi kebituhan dasarnya. Setiap konsumen, terlepas dari kaya atau miskin berhak memperoleh perlakuan adil dalam memenuhi kebutuhan pokok. Hak ini bertolak dari sikap manusiawi, bahwa setiap manusia berhak hidup dan karena itu berhak pula akan keadilan dalam perlakuan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Fakta bahwa ia miskin tidak boleh menjadi alasan untuk mengingkari kewajiban manusiawi memenuhi kebutuhan dasar manusia. Peranan pemerintah dalam negara berkembang adalah pertama-tama berusaha menciptakan iklim dan keadaan agar dapat dipenuhi kebutuhan dasar manusia yang paling minim bagi kerikehidupan manusiawi. Campur tangan pemerintah diperlukan supaya mekanisme pasar dapat memenuhi hak konsumen yang keenam dan memberi perlakuan adil kepada konsumen miskin dalam memperolah kebutuhan dasarnya. Segi lain dari hak konsumen untuk memenuhi kebutuhan dasarnya ialah kewajiban konsumen menyambut setiap kesempatan bekerja yang terbuka baginya. Sesuai dengan dalil lingkungan ketujuh, bhwa tidak ada sesuatu yang gratis dalam kehidupan linkungan, maka disinipun berlaku ketentuan bahwa konsumen miskin berhak akan keadilan dalam perlakuan memenuhi kebutuhan dasar dan kewajiban moral untuk bekerja memenuhi dasar kebutuhannya ini. Tugas pemerintah ialah menciptakan lapangan kerja dan memberi kebebasan serta kesempatan baginya menciptakan kerja sendiri maupun oleh kelompok masyarakat. Ini membawa konsekuensi bahwa masyarakat berhak mengorganisasi diri sendiri untuk mengatur kerja dan mengatur diri sendiri. Konsumen yang miskin dan biasanya tidak terorganisasi dalam satuan ekonomi, perlu dirangsang menghimpun diri dalam satuan sosial sebagai tahap permulaan ke arah satuan ekonomi. Tumbuhnya organisasi masyarakat yang bertujuan mengembangkan diri terutama di kalangan kelompok miskin, dan bergerak di berbagai bidang sesuai dengan kepentingan bersama (common-interes), dapat menjadi wahana menumbuhkan otoktivitas dalam kegiatan yang beraneka ragam sehingga turut menumbuhkan stabilitas ekosistem. Di samping itu usaha mengembangkan konsumen miskin dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, membangkitkan otoktivitas, menumbuhkan kesempatan kerja dan penggalangannya dalam satuan organisasi, bertujuan agar konsumen miskin secara bersama-sama berusaha memperkecil jurang perbedaan antara miskin dan kaya. Langkah ini semakin lancar bila di dukung oleh kebijaksanaan ektif untuk mendorong golongan ekonomi lemah berkarya mandiri. Bagi penduduk negara berkembang seperti indonesia dengan pendapatan rata-rata US$360 perjiwa setahun (dengan harga konstan 1978) maka sumber alam yang tersedia perlu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi keseluruhan penduduk terlebih dahulu. Dalam hubungan ini sudah menjadi kebijaksanaan pemerintah sekarang untuk senantiasa mengikuti dengan ketat perkembangan sembilan kebutuhan pokok seperti beras, gula, garam, minyak tanah, batik kasar, dan lain-lain, baik dari sudut jumlah penyediaannya maupun perkembangan harga di seluruh tanah air. Berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1970 maka 76% (Jawa) dan 79% (luar Jawa) dari jumlah pengeluaran untuk konsumsi dipakai untuk makanan. Dan di tahun 1976 angka ini turun menjadi 71% (Jawa) dan 78% (Luar Jawa). Jika lebih dari 70% pengeluaran konsumsi digunakan untuk mekanan ini mencerminkan rendahnya pendapatan perjiwa pemnduduk. Dengan pembangunan ekonomi dan peningkatan pendapatan, persentase pengeluaran untuk makanan cenderung menurun. Ini juga terjadi di tanah air kita dalam masa 1970-1976. Jika ditelaah lebih mendalam komposisi pengeluaran konsumsi masyarakat indonesia berdasarkan SUSENAS, maka kentaralah bahwa sebagian terbesar adalah untuk makanan hasil produksi pertanian seperti padi-padian, tembakau, sirih, ikan, sayur-sayuran, makanan yang sudah jadi, kacang-kacangan, dan seterusnya, menurut urutan bobot seperti ini. Pengeluaran konsumsi bukan makanantertuju pada perumahan termasuk bahan bakar, penerangan dan air, menyusul pakaian, alas kaki dan tutup kepala baru kemudian barang-barang dan jasa (4% dari jumlah pengeluaran) dan barang-barang tahan lama (1%) di tahun 1970. untuk tahun 1976 tampak pergeseran dari dari pengeluaran untuk makanan beralih ke barang-barang dan jasa serta barang-barang tahan lama. Sejalan dengan proses pembangunan dan peningkatan pendapatan maka konsumsi pangan menurun dalam persentase, sungguhpun dalam jumlah absolut tetap besar, sedangkan konsumsi barang-barang dan "barang-barang tahan lama" (durable goods) cenderung meningkat. Dalam proses perubahan pola konsumsi ini pangan memegang peranan penting. Sementara itu jumlah inpor pangan masih relatif besar. Karena itu pengolahan sumber alam perlu diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan terlebih dahulu. Dari sudut balas jasa investasi maka pengalihan tanah sawah menjadi tempat bagunan mungkin lebih menguntungkan, namun dari sudut kepentingan konsumen umum jelaslah pemantapan sawah sebagai tempat produksi pangan menduduki tempat utama. Dalam membela kepentingan konsumen umum seperti ini tampil ke depan pentingnnya campur tangan pemerintah mengoreksi mekanisme pagar agar lebih mencerminkan kepentingan konsumen umum. Pola konsumsi dan pola produksi yang berat kepada pertanian adalah ciri ynag lazim tampak di kebanyakan negara berkembang, dan keadaan negara indonesia bukan kekecualian. Perkembangan ekonomi yang menghasilkan kenaikan pendapatan mendorong perubahan pola konsumsi ke arah bukan pangan. Garis perkembangan seperti ini membuka kemungkinan untuk industrualisasi, menghasilkan barang-barang nonpertanian. Diperkirakan bahwa perkembangan ekonomi Indonesia akan bertolak pada kegiatan yang semula berat ke pertanian menuju struktur ekonomi berimbang antara sektor produksi primer (seperti pertanian, pertambangan), sektor sekunder (seperti industri, bangunan) dan sektor tersier (seperti pengangkutan dan komunikasi). Diperkirakan bahwa di tahun 2000 struktur ekonomi berimbang dapat dicapai. Apabila laju pembangunan rata-rata mencapai 7% setahun dan pertambahan penduduk rata-rata 2% setahun, maka pertambahan pendapatan rata-rata per penduduk adalah 5% setahun. Dengan pertambahan rata-rata sebanyak ini maka pendapatan perjiwa bisa dua kali lipat dalam waktu 14-15 tahun. Sehingga pada permulaan tahun sembilan puluhan pendapatan rata-rata penduduk Indonesia mencapai US$ 750 hingga US$ 800 (pada harga konstan 1978). Beban berat bagi peningkatan pendapatan rata-rata adalah jumlah penduduk yang diperkirakan bertambah dengan 70 juta jiwa dalam masa 20 tahun yang akan datang, sehingga pertambahan penduduk ini menarik angka rata-rata pendapatan nasional perjiwa penduduk ke bawah. Wanita dan Pengembangan Lingkungan Akhir-akhir ini alam Indonesia mengalami banyak musibah. Beberapa daerah dilanda banjir besar dan longsoran tanah sehingga menewaskan banyak penduduk. Di daerah Riau, gajah merusak ladang sehingga penduduk setempat merasa perlu menjerat satwa terlindung ini. Di daerah Sumatera Barat diberitakan harimau Sumatera menyerang manusia. Sedangkan di beberapa tempat daerah Jawa Barat sejenis ikan diserang penyakit. Jika kita bandingkan lingkungan sekarang dengan keadaan 10 - 20 tahun lalu, segera terasa perbedaan menyolok. Pembangunan telah membawa kemajuan besar. Di samping itu terjadi juga perubahan lingkungan. Kota dan desa lebih padat dan lebih kotor; mobil dan sepeda-motor lebih banyak dan lebih bising; pohon rindang dan kicauan burung sudah berkurang; hutan semakin sempit dan gunung-bukit semakin gundul; tanah kering beralang-alang semakin luas; musim kemarau lebih panas dan musim hujan banyak banjir; sehingga hati terasa senang bercampur cemas. Hati senang melihat pembangunan membawa kemajuan. Tapi hati cemas melihat lingkungan hidup terganggu. Bagaimanakah menjelaskan perkembangan ini? Dan apakah yang bisa diperbuat untuk mcngatasinya? Berbagai gangguan lingkungan ini mempunyai satu ciri yang sama, bahwa manusialah penyebab utama timbulnya bencana ini. Sungai, gunung, harimau, gajah, ikan dan lain-lain isi lingkungan alam sudah lama berkelanjutan tanpa gangguan berarti. Namun setelah manusia muncul mengolah sumber alam tanpa mengendalikan pengaruh negatifnya kepada lingkungan, sehingga merusak alam dan mengusik lingkungan pemukiman binatang, maka alam bereaksi kembali. Masalahnva sekarang ialah, bagaimana menumbuhkan kesadaran lingkungan manusia supaya pengolahan sumber alam bagi pembangunan dapat dilakukan sejalan dengan pengembangan lingkungan. Bagaimana menyebarluaskan penghayatan dan pelibatan manusia pada proses pembangunan tanpa kerusakan lingkungan. Dalam hubungan ini sangat penting bantuan para wanita selaku ibu rumah tangga, pendidik anak, pendamping suami dan anggota masyarakat untuk ikut serta menumbuhkan penglihatan dan orientasi pembangunan dengan pengembangan lingkungan. Untuk ini perlu ditelusuri pokok-pokok masalah lingkungan untuk kemudian menjajaki kemungkinan peran serta wanita khususnya dan masyarakat umumnya dalam menanggapi masalah lingkungan ini. Masalah Lingkungan Hidup Jika kita perhatikan lingkungan sekitar kita, maka segala makhluk hidup menunjukkan kegiatan dan perubahan. Binatang dan tumbuhan selalu tumbuh berkembang. Batu, pasir dan tanah mengalami pengikisan air hujan. Iklim, angin, udara pun turut berganti menurut musim. Praktis segala isi lingkungan alam mengalami kegiatan dan perubahan. Setiap kegiatan dan perubahan ini memerlukan energi. Bagi makhluk hidup, termasuk manusia, energi ini diperoleh dari makanan. Dalam makanan inilah tersimpan energi yang diperoleh dari sumber energi utama semesta alam, yaitu rnatahari. Energi sinar matahari ini mcnjadi sumber energi tumbuh-tumbuhan yang pada gilirannya men jadi makanan binatang dan manusia. Maka terjadilah perpindahan cnergi in] dari matahari, ke tumbuhan, hewan dan manusia. Energi asal matahari menjadi penggerak sistem kehidupan semua makhluk hidup. Makhluk hidup ini terdiri dari materi yang berasal dari bumi. Materi ini terdiri dari unsur-unsur kimia. Dalam tubuh manusia ditemukan unsur-unsur kimia seperti oksigen (65%), karbon (18%), hidrogen (10%), nitrogen (3,3%), kalsium (1,5%), fosfor (M), dan unsur-unsur kimia lainnya. Bagaimanakah manusia peroleh unsur-unsur kimia ini? Dalam lingkungan alam ini terdapat bermacam-macam lingkaran (siklus) tanpa ujung pangkal. Di udara terdapat bermacam-macam unsur kimia, seperti karbon dioksida (C02), oksigen (02) dan sebagainya, yang mengalami perubahan dengan unsur-unsur kimia lainnya dalam bumi untuk menjadi makanan hewan dan manusia. Dan bersama dengan kotoran dilepaskan kembali menjadi unsur-unsur semula ke udara. Begitulah seterusnya terdapat siklus karbon, siklus kalsium, dan sebagainya yang diperlukan manusia. Untuk kehidupan lingkungan alam, maka siklus air adalah yang paling penting. Hujan atau salju membawa air ke bumi, yang melalui daratan dan laut menguap ke atmosfir untuk kembali turun ke bumi, dan seterusnya. Bermacam-macam siklus ini memungkinkan perpindahan unsur-unsur kimia larut masuk tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, dan dengan begitu terjadilah pemindahan energi sebagai sumber kehidupan alam ini. Jika ditelusuri arus energi yang berpindah dari matahari ke bumi melewati tumbuh-tumbuhan sampai ke hewan dan manusia, maka tampaklah rantai pangan (food chain) sebagai berikut: Cahaya matahari ditangkap tumbuhan hijau yang mengubah energi cahaya menjadi energi kimia. Proses perubahan ini nnenggunakan air dan karbon dioksida dan diolah dalam zat hijau daun (chlorophyl). Tumbuh-tumbuhan yang sekarang memuat energi kimia dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan seperti kambing, sapi dan sebagainya. Energi kimia pindah dari turnbuh-tumbuhan ke jasad binatang yang kemudian dimakan manusia. Dengan begitu energi kimia pindah ke manusia menghasilkan kegiatan manusia. Jika manusia meninggal, maka jasadnya kembali ke bumi dan unsur kimia kembali ke alam untuk bersiklus kembali. Berbagai siklus dan rantai pangan ini mclibatkan seluruh isi alam, baik yang hidup maupun yang mati, dan menjadikan diri satu sistem yang dinamakan "ekosistem". Dalam ekosistem ini terdapat lingkungan abiotik yang memuat berbagai hal seperti cahaya, suhu, tanah, air, udara, zat kimia, dan lain-lain benda mati namun mampu menghidupkan. Antara berbagai siklus dan antara isi lingkungan biotik dengan abiotik terdapat hubungan timbal-balik (interdependency) dan saling hidup-menghidupi dalam jaringan kehidupan ekosistcm. Dalam ekosistem ini terdapat pembagian fungsi dan pekerjaan yang dipikulkan kepada masing-masing makhluk. Misalnya burung berfungsi memakan biji-bijian yang hanya bisa tumbuh setelah melewati perut burung. Bunga rafflesia discbarkan oleh biji yang dibawa kaki babi hutan. Banvak bunga hanya bisa berbuah jika dikawinkan oleh lebah. Aren ditumbuhkan melalui kotoran musang, kopi, melalui kotoran luwak dan duren melalui kotoran gajah. Kambing memakan rumput dan menghasilkan kotoran kambing yang menjadi tempat makanan serangga tertentu. Gajah tergolong pula dalam keluarga hewan pemakan rumput, namun tumbuh-tumbuhan yang dimakannya jauh lebih banyak, sehingga kotorannya pun jauh lebih besar dan menjadi tempat tumbuh jenis serangga lain, dan sekaligus tersebar biji-bijian dengan kotoran gajah. masing-masing serangga ini menjadi mangsa jenis hewan lain, sehingga kambing atau gajah merupakan bagian dari mata rantai kehidupan binatang-binatang yang berlainan. Hubungan yang satu dengan yang lain kadang-kadang terikat pada lokasi ekosistem tertentu, maka burung Jalak Bali umpamanya, sebetulnya bisa terbang melintasi selat Bali ke daerah Jawa Timur, namun tidak dilakukannya dan burung Jalak Bali tinggal hidup di bagian Bali Barat saja. Begitu pula menarik perhatian bahwa penyu raksasa (Green Turtle) berenang ratusan kilometer dari pantai Selatan Jawa Timur sampai ke pulau Australia, namun pada waktu bertelur kembali ke pantai Meru Betiri (Jawa Timur). Sedangkan gajah cenderung memilih jalur jalan tahun demi tahun dalam kawasan dengan ekosistem yang sama. Di samping ini keseimbangan berbagai jenis binatang dijaga oleh sesama binatang. Maka tikus dikoreksi oleh kucing, ular, dan burung elang. Babi hutan dikoreksi jumlahnya oleh harimau dan macan. Apabila jalinan saling kait-mengait ini meluas dalam lingkungan alam yang beraneka ragam (Multi Cultuur), maka ekosistem ini lebih stabil dibandingkan dengan lingkungan alam yang seragam (Mono Cultuur) dengan hubungan kait-mengait yang terbatas. Ekosistem yang seragam lebih peka tcrhadap gangguan alam atau hama pcnyakit. Dalam ruang lingkup ekosistem seperti ini, muncul manusia. Semula manusia zaman batu hidup semata-mata dari apa yang dihasilkan alam, tanpa ikhtiar tanaman manusia scndiri. Di masa ini jumlah penduduk seluruh bumi tak sampai sepuluh juta jiwa. Dalam tahap berikut nianusia mulai bercocok tanam, semula berladang pindah, namun akhirnya berladang tetap. Kini manusia menghasilkan tanaman dan membiakkan hewannya sendiri. Alam mulai dikelola. Dan manusia memakan apa yang ditanamnya sendiri, sehingga kerusakan kepada lingkungan tidak kentara. Setelah revolusi pertanian ini menyusul revolusi industri. Ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang digunakan untuk mengubah alam sehingga menyederhanakan ekosistem ke jurusan keseragaman. Lingkungan alam yang semula berisikan vegetasi aneka ragam diganti dengan vegetasi tunggal, seperti padi, sayur-mayur atau perkebunan. Dan dalam menanggulangi ancaman hama penyakit, teknologi mengembangkan pestisida (obat racun). Stabilitas ekosistem harus ditunjang oleh obat-obatan, pupuk, pestisida, dan sebagainya. Oleh karena hama memiliki kemampuan menumbuhkan kekebalan terhadap pestisida, maka teknologi harus terus menerus menemukan obat-obat dengan kemampuan membunuh yang semakin meningkat. Perkembangan pola produksi dan berburu menjadi bertani lalu berindustri tidak terlepas dari perkembangan meningkatnya jumlah manusia. Jumlah manusia kian bertambah dari 2 milyar jiwa (1930) menjadi 3 milyar jiwa (1960), 4 milyar jiwa (1975) dan 6 milyar jiwa (2000). Jumlah manusia bertambah akibat tingkat kelahiran melebihi tingkat kematian. Dengan memperhatikan perkembangan penduduk ini, banyak ahli berpendapat bahwa batas maksimal jumlah penduduk yang bisa ditampung bumi ini ialah 35 milyar, dan ini diduga bisa tercapai di abad keduapuluhsatu ini. Jumlah penduduk Indonesia pun mengalami pertambahan pesat : 96 juta jiwa 20 tahun lalu, 114 juta jiwa 10 tahun lalu, 147 juta jiwa sekarang, 216 juta jiwa nanti di tahun 2000. Penduduk yang bertambah perlu makanan, pakaian, rumah, kerja, sekolah, dan lain-lain. Untuk ini sumber alam perlu diolah dan ini berarti perlu pembangunan. Perkembangan jumlah manusia dan kemampuan teknologi telah menimbulkan "lingkungan buatan" (man made environment), seperti kota, pulau buatan, danau buatan, clan sebagainya. Di samping ini timbul pula pcncemaran lingkungan sebagai akibat sampingan dari kemajuan teknologi. Melihat perkembangan kerusakan lingkungan yang begitu cepat setelah revolusi industri, dan lebih-lebih sehabis Perang Dunia Kedua, manusia mulai kritis menanggapi pola hidup dan pola pembangunan yang berlangsung ini. Banyak ahli sependapat, jika cara pengurasan tanah masih terns berlangsung di dunia ini, maka sepertiga dari luas tanah pertanian di bumi akan musnah dalam 20 tahun nanti. Gurun Sahara bertambah luas sebanyak 60.000 km2 tiap tahun. Tanah subur pun mulai "dimakan" Oieh gedung, jalan dan bendungan. Setiap tahun seluas 4.2300 km tanah subur di Amerika Serikat dan Kanada habis ditelan dengan cara demikian. Luas hutan produktif yang belum ditebang akan tinggal separoh di akhir abad ini jika laju penebangan berjalan secepat sekarang di dunia ini. Dengan memperhitungkan luas hutan yang dibakar untuk ladang atau pemukiman, maka hutan dibabat dengan kecepatan 20 hektar per menit. Sehingga dalam waktu 85 tahun seluruh kawasan hutan tropis akan lenyap dari muka bumi. Akibat pencemaran lingkungan, maka 25.000 jenis tumbuhan dan 1.000 jenis binatang, burung, dan ikan terancam punah. Untuk rnengganti zat pupuk yang hanyut akibat erosi lahan di negara Amerika Serikat saja diperlukan jumlah pupuk senilai US$ 1,2 milyar setahun (1978). Gambaran kerusakan yang suram seperti diungkapkan Lembaga Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environment Program) ini mendesak Pemerintahan Negara-negara di seluruh dunia untuk meninjau kembali pola hidup dan pola pembangunan, dan berusaha membangun tanpa akibat kerusakan terhadap satu-satunya bumi manusia, sekarang dan di masa nanti. Pembangunan dengan Pengembangan Lingkungan Sungguhpun di kalangan para sarjana dan ahli masalah lingkungan sudah diketahui, namun Pemerintah Indonesia baru mengenal masalah lingkungan secara resmi sejak mengikuti sidang khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang lingkungan hidup di Stockholm tanggal 5 Juli 1972. Dan Indonesia sepakat sejak itu menanggulangi masalah lingkungan ini bersama negara-negara lain di dunia. Dalam Pelita III masalah-lingkungan hidup mendapat tanggapan khusus sebagai program pembangunan Nasional. Garis kebijaksanaan yang dianut Pemerintah Indonesia ialah pembangunan dengan pengembangan lingkungan. Kita membangun, mengolah dan mengelola sumber alam untuk meningkatkan taraf hidup rakyat kita dalam rangka arah pembangunan Indonesia untuk membina manusia Indonesia seutuhnya yang memuat dalam dirinya hubungan keselarasan antara manusia dengan Tuhan Maha Pencipta, hubungan keselarasan antara manusia dengan masyarakat dan hubungan keselarasan antara manusia dengan lingkungan alam. Tersimpul di sini kata kunci :"hubungan keselarasan" (harmony). Maka penting agar setiap langkah usaha harus lebih mendekatkan manusia dan masyarakat Indonesia kepada tujuan pembangunan ini, baik dalam arah maupun dalam cara membangun. Untuk memberi isi kepada garis kebijaksanaan pembangunan dengan pengembangan lingkungan ini, maka Repelita III menggariskan empat pendekatan pokok. Pertama, pendekatan masalah lmgkungan dari sudut kependudukan. Pertambahan penduduk Indonesia memberi pengaruh negatif besar kepada lingkungan terutama terhadap lingkungan pemukiman, yaitu di daerah transmigrasi, di daerah perkampungan kota dan di daerah pedesaan. Segala hal berhubungan dengan perbaikan lingkungan hidup yang sehat dalam pemukiman perlu dilaksanakan. Dalam hubungan ini pcmerintah ingin menggalakkan partisipasi masyarakat, membina swadaya masyarakat, membina pemukiman sehat dengan memperhatikan alat, tradisi dan pandangan-pandangan hidup masyarakat. Kedua, pendekatan masalah lingkungan dari sudut sektoral, dengan mengendalikan efek negatif pengembangan sektoral kepada lingkungan. Pembangunan sektor pertanian dengan penggunaan pupuk dan pestisida menimbulkan pengaruh sampingan yang perlu dikendalikan. Penangkapan ikan dengan bahan peledak, racun atau alat penangkap yang merusak perlu dicegah. Penerapan secara sungguh-sungguh dari sistem tebang pilih Indonesia dalam wilayah konsesi hak-pengusahaan-hutan (HPH) perlu diawasi dengan ketat. Pengembangan petani menetap harus diusahakan bagi petani yang berladang pindah: Dan taman nasional serta suaka alam perlu ditingkatkan untuk perlindtmgan lingkungan hidup dan pelestarian plasma nutfah (gene-pool). Dalam membangun sektor lain dikembangkan pcnerapan ketentuan Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL) untuk mcngenal sedini mungkin pengaruh negatif dari pembangunan sektor industri, pertambangan dan energi kepada lingkungan berupa pencemaran air, tanah, udara, dan kebisingan. Pembangunan sektor prasarana (infra struktur) pembangunan, seperti jaringan jalan angkutan darat, kereta api, angkutan air, udara, pelabuhan laut dan udara, bendungan serba guna, pembangkit tenaga listrik, saluran distribusi minyak bumi, dan lain-lain dapat memberi pengaruh Iingkungan berupa pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan. Juga di sini penerapan sistem Analisa Dampak Lingkungan diharap dapat mencegah efek negatif ini. Ketiga, pendekatan masalah lingkungan dari sudut media lingkungan seperti tanah, air, ruang, pesisir dan lautan. Perencanaan an tata guna media secara tepat, dengan mengindahkan kelestarian sumber alam dalam proses pemanfaatannya, merupakan inti dari pendekatan ini. Pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan fokus dari keterpaduan rencana dan usaha dari berbagai instansi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan daya dukung alam. Keempat, pendekatan masalah lingkungan dari sudut unsur-unsur penunjang, seperti pendidikan, pengembangan ilmu dan teknologi, pembinaan hukum dan aparatur serta pengaturan biaya pembangunan lingkungan hidup. Dalam sistem pendidikan maka lingkungan hidup akan dimasukkan dalam pendekatan pengajaran ilmu-ilmu alam, sosial dan lain-lain tanpa menambah kurikulum. Dan Rancangan Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup berikut penyusunan lembaga aparatur serta peraturan-peraturan pelaksanaannya diharapkan dapat diselesaikan dalam tahun anggaran 1981/1982. Dalam rangka peraturan lingkungan akan dikembangkan pembebanan biaya pencemaran kepada yang mencemarkan (polluters pay principle). Demikianlah empat pola pendekatan seperti digariskan Repelita III untuk dilaksanakan oleh seluruh aparatur negara di berbagai sektor dan daerah dengan tujuan: (1) Membina hubungan keselarasan antara manusia dengan lingkungan. Manusia yang utull tumbuh sebagai bagian dari lingkungan ciptaan Tuhan; (2) Melestarikan sumber-sumber alam supaya bisa dipakai terus menerus dalam pembangunan jangka panjang mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur; (3) Mencegah supaya kegiatan pembangunan tidak merusak lingkungan. Sebaiknya kalau mungkin supaya pembangunan turut menaikkan mutu lingkungan; (4) Membimbing manusia dari "perusak lingkungan" menjadi "pembina lingkungan". Karena manusia jadi sasaran pembangunan, sudah wajar kalau manusia ini memiliki kesadaran membangun lingkungan yang lebih baik. Tujuan pembangunan lingkungan ini makan waktu panjang lebih dari satu Pelita. yang penting sekarang adalah supaya arah pembangunan menjurus ke empat sasaran ini. Dalam Pelita III sasaran ini mau dicapai dengan melaksanakan program : (a) penyelamatan hutan, tanah dan air; (b) pembinaan sumber alam dan lingkungan hidup; (c) pengembangan meteorologi dan geofisika. Marilah kita coba melihat pokok-pokok isi masing-masing program ini. A. Program penyelamatan hutan, tanah dan air Akan diusahakan disini pelestarian hutan, tanah dan air sungai serta lautan kita dengan langkah tindak sebagai berikut: 1. Pengawasan dan pengarahan lebih ketat atas pemegang Hak Pengusahaan Hutan dalam mengusahakan konsesi hutannya ke jurusan hutan yang lebih lestari. Pengusaha dikenakan "simpan tanam wajib" untuk mendorong penanaman kembali jenis pohon yang telah ditebangnya. Jika penanaman kembali dikerjakannya maka simpanan ini boleh diambilnya.kalau tidak dikerjakan maka simpanan ini dipakai pemerintah untuk penanaman kembali. 2. Reboisasi dan penghijauan seluas 5 juta hektar selama Pelita III untuk menghutankan kembali gunung bukit gundul dan tanah kritis beralang. 3. Mengusahakan pengembangan daerah aliran sungai (DAS) terutama di Jawa, sumatera dan sulawesi secara bersama-sama dan terpadu antara berbagai departemen dan instalansi pemerintah daerah. 4. Mencoba mengurangi kotoran di laut (Selat Malaka, Selat Bangka, Selat Sunda, Lautan Jawa) dan mengusahakan penangkapan ikan secara lebih baik tanpa trawl yang melanggar batas, tanpa dinamit, tanpa racun dan lain-lain. Begitu pula akan dikendalikan usaha pengambilan karang laut yang merusak, pengambilan batu dan pasir semaunya dari dasar sungai sehingga merusak. B. Program pembinaan sumber alam dan lingkungan hidup memuat: 1. Mengembangkan taman nasional yang mencakup cagar alam, suaka marga satwa dan taman wisata. Taman nasional dikembangkan untuk melestarikan flora dan fauna dalam ekosistem yang utuh dan asli, sehinggan hutan dalam taman nasional ini berfungsi sebagai "laboratorium hidup", tempat membiakkan bibit asli (plasma nutfah), sasaran pendidikan dan penelitian, serta monumen alam ciptaan Tuhan untuk dikenal generasi-generasi nanti supaya anak cucu kita masih kenal gajah, macan, orang hutan, bunga raflesia, bunga anggrek asli dan lain-lain. 2. Mencegah pencemaran dari pembangunan sektoral dengan penerapan "Analisa Dampak Lingkungan". Semula kita kenal ketentuan hinder-ordonnantie yang mengharukan pengusaha mengindahkan pengaruh pembangunan penrusahaan kepada lingkungan sekitar, seperti pengaruh kebisingan, gangguan kepada tetangga, dan lain-lain. Prinsip ini akan dikembangkan sehingga perlu diindahkan oleh perusahaan terhadap ruang lingkup lingkungan yang lebih luas, seperti kepada air, tanah, pencemaran lingkungan dan lain-lain. 3. Perbaikan lingkungan pemukimam, akan mengusahakan supaya pemukimam manusia lebih baik melalui: (a) perbaikan perkampungan kota di beberapa tempat: (b) pemugaran desa: (c) pengembangan wilayah di beberapa perkotaan seperti Jakarta-Bogor-Tanggerang-Bekasi (JABOTABEK), Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-sidoarjo-Lamongan (GERBANGKERTASUSILA), Bandung-Raya dan Medan-Raya dan (d) pemukimam di daerah transmigrasi. Perbaikan tidak hanya bersifat fisik, berupa perbaikan selokan, jalan setapak, fasilitas mandi-cuci-kakus, sampah, dan lain-lain, tetapi juga perbaikan lingkungan sosial dari segi manusianya melalui usaha penyuluhan, usaha koperasi dan lain-lain. Di sini akan dicoba pengendalian lingkungan melalui usaha menghalau kemiskinan. 4. Pengembangan kesadaran lingkungan bertolak dari anggapan bahwa sumber utama kerusakan lingkungan terletak di tangan manusia, karena itu hatoi manusia harus direbut supaya turut membangun lingkungan. Untuk itu perlu pembinaan unsur penunjang: a. Pembentukan Lembaga Pengelolaan Lingkungan Hidup dan berbagai produk hukum untuk mengelola lingkungan hidup. b.Membangun Pusat Studi Lingkungan di berbagai Universitas dengan tekanan kepada spesialisasi khusus segi lingkungan. Maka Universitas Indonesia diharapkan mengkhususkan diri pada "ekologi manusia", Institut Pertanian Bogor pada "ekologi pertanian", Institut Teknik Bandung pada "ekologi industri dan pemukiman", Universitas Mulawarman (Kalimantan Timur) pada "ekologi kehutanan", dan seterusnya. Pusat-pusat Studi Lingkungan ini diharapkan menjadi pusat penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat di bidang lingkungan hidup sesuai dengan Tri-dharma Universitas. Usaha peningkatan kesadaran lingkungan dan penggalakan partisipasi kelompok organisasi non-Pemerintah dalam usaha lingkungan mengubah kedudukan manusia dari "perusak lingkungan" menjadi "pembina lingkungan". Oleh organisasi non-Pemerintah (ornop) yang bergerak di lingkungan hidup telah dibentuk Wahana Lingkungan Hidup sebagai forum komunikasi antar organisasi non-Pemerintah (ornop), dan jembatan penghubung antara ornop dengan Pemerintah. c. Program Pengembangan Meteorologi dan Geofisika memuat usaha membangun jaringan meteorologi untuk meningkatkan sistem peramalan cuaca dan inventarisasi pengembangan sumber energi yang ditimbulkan proses geofisika. Peranan Wanita dalam Pengembangan Lingkungan Sungguhpun berbagai program dan rencana sudah digariskan, namun kentara bahwa masalah yang dihadapi terlalu besar untuk ditanggapi hanya oleh sektor Pemerintah. Pengaruh dari pertambahan penduduk sebesar 2,34% setahun dari jumlah penduduk sebanyak 147,2 juta jiwa, ditambah dengan tingkat kemiskinan yang masih luas, telah memberi tekanan berat kepada sumber alam dan lingkungan hidup. Sementara itu tingkat kesadaran masyarakat akan pengembangan dan pelestarian lingkungan belum meluas. Dan tenaga ahli serta terampil untuk menanggapi tantangan masalah lingkungan pun belum seberapa banyak. Dalam keadaan seperti ini sangatlah penting melibatkan seluas mungkin anggota masyarakat dalam usaha pengembangan lingkungan. Usaha penanggulangan masalah lingkiungan dapat dipercepat jika bisa digalang kesadaran, penghayatan dan pelibatan masyarakat dalam pengembangan lingkungan. Berdasarkan pengalaman negara-negara lain, kentaralah bahwa wanita merupakan kelompok masyarakat yang paling peka terhadap masalah lingkungan. Wanita dalam kedudukannya selaku ibu rumahtangga segera bisa merasakan kesulitan air minum, buruknya fasilitas mandi-cuci-kakus, sulitnya memperoleh energi seperti kayu-bakar, arang, dan gangguan sampah serta kesulitan lingkungan rumah tangga lain. Wanita selaku ibu anak-anak langsung memikul beban derita akibat lemahnya anak-anak di bawah lima tahun karena kekurangan gizi, sakitnya anak-anak karena buruknya lingkungan pemukiman, dan sebagainya. Wanita sebagai pendamping suami sering-sering harus membantu suami mengolah tanah yang keras dan tak subur, memelihara ternak, ikut memberantas serangan tikus, dan menderita pukulan panen yang gagal. Wanita sebagai anggota mayoritas masyarakat Indonesia paling merasakan derita banjir, longsoran tanah atau bencana lain yang menghancurkan rumah dan merenggut nyawa anggota keluarga. Karena itu tak heran jika kelompok wanitalah yang paling dini merasakan hadirnya masalah lingkungan. Sadar akan keadaan inilah maka Menteri Dalam Negeri dalam suratnya 19 Juli 1979 telah menetapkan 10 program pokok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga mencakup 1. penghayatan dan pengamalan Pancasila; 2. gotong royong; 3. pangan; 4. sandang; 5. perumahan dan tata laksana rumahtangga; 6. pendidikan dan keterampilan; 7. kesehatan; 8. mengembangkan kehidupan berkoperasi; 9. kelestarian lingkungan hidup; 10. perencanaan sehat. Tersimpul di sini keterlibatan PKK mengembangkan lingkungan kungan hidup. Dalam rangka ini apakah yang bisa dikerjakan oleh isteri para pejabat yang bekerja di lembaga departemen, non departemen dan aparatur Pemerintah daerah? Pertama adalah hal-hal yang bisa dikerjakan oleh wanita sebagai ibu rumah tangga seperti : (1) Peningkatan kesehatan lingkungan yang menyangkut usaha kebersihan selokan, tempat mandi-cuci-kakus, terpeliharanya kesehatan sumur air minum; (2) Kebersihan dalam rumah, termasuk jendela yang bisa memasukkan sinar matahari, kebersihan dalam dapur; (3) Usaha hemat energi, seperti : - Memperkenalkan tungku masak hemat kayu bakar, menanam pohon kayu bakar seperti: lamtoro, turi dan lain-lain; - Menghemat pemakaian aliran listrik dengan memadamkan lampu-lampu yang tidak perlu pada waktu tidur, serta segera memadamkan lampu-lampu pada pagi hari, ataupun hanya menyalakan lampu pada waktu ruangan dipakai seperti ruang kamar mandi, dapur, ruang tidur dan sebagainya; - Menghemat pemakaian air, jangan sampai ada kran ataupun tempat air (bak) yang bocor, ataupun dibiarkan mengalir/menetes terus menerus. (4) Pemanfaatan kebun atau pekarangan dengan tumbuh-tumbuhan yang berguna, mencegah penutupan tanah dengan aspal atau semen sehingga memungkinkan penyerapan air hujan, penanaman bibit tumbuh-tumbuhan untuk penghijauan, rumah dan halaman diusahakan sebersih dan seindah mungkin sehingga merupakan lingkungan yang sehat dan menyenangkan bagi keluarga. (5) Penanggulangan sampah, memanfaatkan kembali sampah organis, dan mendaur ulang (recycling) sampah anorganis (botol, kaleng, plastik, dan lain-lainnya) melalui tukang loak atau yang serupa. (6) Mengembangkan teknik "biogas", memanfaatkan sampah hewan, manusia dan kotoran dapur; untuk di-biogas-kan, sebagai sumber energi untuk masak; (7) Meningkatkan keterampilan sehingga dapat memanfaatkan bahan tersedia, sisa bahan, atau bahan bekas, lalu turut mendaur-ulang berbagai bahan berkali-kali, scperti merangkai bunga dari bahan sisa, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini dapat ditunjang oleh penyuluhan dari Tenaga Penyuluh Lapangan dalam program perbaikan kampung (Ditjen Cipta Karya), pemugaran desa (Ditjen Cipta harya), program bimbingan sosial (Dep. Sosial), teknik penghematan energi (LIPI dan Ditjen Ketenagaan), pemanfaatan kebun (Dinas Tanaman an Pemerintah Daerah), penanggulangan sampah (Dinas Pembersihan Pemerintah Daerah), teknik Biogas (Departemen Pertanian), latihan keterampilan (Departemen Tenaga Kerja). Untuk ini ibu rumah tangga bisa menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok masyarakat untuk berusaha di masing-masing bidang ini. Tentu ibu-ibu sendiri bisa mcngorganisasi kegiatan ini secara mandiri pula. Kedua, wanita selaku ibu anak-anak memegang peranan utama selaku contoh dan pendidik. Rumah dan taman dapat merupakan wadah pendidikan, tempat bereksperimen, tempat mempelajari tanaman dan teknik bangunan pada taman, rasa sayang dan rasa tanggung jawab bagi anggota keluarga untuk hidup teratur, tempat pembinaan maupun kreativitas, memberikan contoh kebersihan dan hemat energi. Sang ibu bisa mendorong anak-anak ikut kegiatan pencinta alam, mendaki gunung masuk hutan atau lautan untuk mengenal isi alam, mendidik untuk mencintai alam dan tanah air serta memelihara kelestariannya. Ibu sendiri bisa memberi contoh melaksanakan tamasya mengenal alam. Di samping ini harus dicegah agar anak-anak tidak berburu binatang yang dilindungi, tidak merusak tanaman, tetapi kegiatan anak-anak disalurkan ke arah positif untuk membiakkan binatang, menanam tumbuhan dan mengenal alam. Sang anak sebaliknya bisa membantu ibu dalam pekerjaan rumah tangga. Menanam pohon turi atau lamtoro di pekarangan untuk kayu bakar dan makanan ternak. Pemeliharaan kelinci, kambing, ayam, belut dan sebagainya oleh anak-anak bisa meringankan beban rumah tangga, dan sekaligus menumbuhkan cinta lingkungan. Ketiga, selaku isteri sang suami wanita berperanan dalam usaha mengelola penghasilan suami secara bijaksana. Pola hidup yang hemat dan sederhana mendorong sikap menyesuaikan pengeluaran belanja rumah tangga dengan penerimaan penghasilan suami. Hindarkan usaha "meniru" pola konsumsi orang lain yang tingkat penghasilannya Iebih besar. Usahakan menabung tidak saja dalam bentuk TABANAS, tetapi juga dalam bentuk hewan berkembang biak seperti kambing, belut, babi, ayam dan sebagainya. Cegahlah suami berbuat serong, menyeleweng atau korupsi. Jadilah "hati nurani masyarakat", social conscious untuk membimbing suami bekerja di atas jalan yang lurus. Di samping itu mengikuti Keluarga Berencana (KB) yang berarti membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan hidup. Keempat, peranan wanita sebagai anggota masyarakat menonjol dalam kedudukannya selaku penyampai pesan (messanger) menjelaskan hal-hal berkaitan dengan pengembangan lingkungan dan pembangunan, misalnya membantu menggalakkan penghijauan lingkungannya serta kesehatan lingkungan dengan menanggulangi masalah sampah. Forum yang bisa dipakai adalah kumpulan arisan, mengaji, forum RT, atau RW. Tingkat berikutnya adalah peranan ibu selaku penggerak (katalisator) masyarakat, memberi dorongan inspiratif, memberi penyuluhan tentang cara mengembangkan lingkungan. Lalu ibu bisa berlaku pula sebagai penggali ide dan penarik prakarsa (inisiatif) dari kelompok wanita itu sendiri dan selaku motivator mengembangkan gagasan masyarakat ini menjadi kenyataan. Dalam hubungan ini, 1. Program Perbaikan Kampung; 2. Program Pemugaran Desa; 3. Program Pengembangan Daerah Aliran Sungai; 4. Program Penghijauan dan Reboisasi; 5. Program Pengembangan Sanitasi Air minum dan Jamban Keluarga; 6. Program Pengembangan Wilayah Penyangga (buffer zone) di sekitar Taman Nasional; 7. Program Perlindungan dan Pelestarian Alam; 8. Program Penghijauan dan Pelestarian Pantai; 9. Program Keluarga Berencana, merupakan macam program yang bisa melibatkan wanita sebagai katalisator pembangunan. Umumnya isi program di atas ialah penyuluhan, membangun suatu "proyek percontohan" (demonstration plot), yang diharapkan bisa ditiru oleh penduduk sendiri. Dalam penularan contoh inilah wanita dapat sangat berguna sebagai penggerak pcmbangunan. Tetapi wanita juga mengenal banyak kekurangan dan kerusakan lingkungan, sehingga memberatkan tugas wanita. Hutan yang dibabat berlebihan menimbulkan kesukaran kayu bakar atau banjir, yang penderita utamanya ialah wanita. Karena itu pendapat, keluhan dan prakarsa wanita perlu digali. Untuk ini wanita bisa berlaku sebagai motivator dan melalui percakapan dan hubungan yang akrab maka wanita bisa memperoleh gagasan segar dari kaum wanita sendiri. Dalam hubungan ini berbagai kelompok organisasi masyarakat dan organisasi non-Pemerintah yang bergerak dalam bidang spesialisasi bisa membantu. Sekaligus juga membimbing dan mendidik wanita memecahkan masalahnya sendiri. Masalah pembangunan dan pengembangan lingkungan adalah rumit dan kompleks. Karena itu sulit ditanggulangi hanya oleh Pemerintah. Dan perlu dipecahkan secara bersama, baik Pemerintah maupun masyarakat. Untuk ini perlu ditumbuhkan sikap berdikari (self reliance) yakni mampu memecahkan masalah lingkungan secara mandiri. Masyarakat Indonesia sejak dahulu sudah memiliki sikap hidup selaras (harmonious) dengan alam. Maka kebanyakan wanita kita sudah Mengetahui secara naluriah hal-hal apa yang perlu dan hal-hal apa yang tidak perlu diperbuat. Gagasan yang tersimpan inilah perlu digali menjadi prakarsa wanita mendorong masyarakat untuk mewujudkannya. Sehingga lahir semangat membangun dari bawah, menanggulangi permasalahan dengan swadaya dan kemampuan diri sendiri. Di mana perlu, Pemerintah dapat turut membantu. Namun yang pokok ialah menumbuhkan semangat berdikari dan kemampuan berprakarsa mandiri untuk menanggulangi masalah lingkungan yang dihadapi secara bersama oleh kelompok yang berakar di tengah masyarakat. Dalam ikhtiar ini harus dihindari unsur pemaksaan dari atas. Harus dicegah bahwa penduduk merasa diperintahkan untuk bergotong royong. Usaha yang didasarkan atas paksaan dan perintah dari atas, akan sulit bertahan lama dan sulit dilaksanakan secara ikhlas serta spontan. Kesadaran akan perlunya pelaksanaan program, pemahaman tentang apa yang mau dicapai, perasaan bahwa usaha ini berasal dari dirinya scndiri dan tidak dipaksakan dari atas, harus mendorong masyarakat untuk membangun mengembangkan lingkungan. ? Semula merupakan pengantar diskusi pada Kursus Analisa Dampak Lingkungan, Pusat Studi Lingkungan Universitas Padjadjaran, Bandung, 4 Sepetember 1982. --------------- ------------------------------------------------------------ --------------- ------------------------------------------------------------