| www.unesa.ac.id | pdpt.unesa.ac.id

KAMPUS KETINTANG
Jl. Ketintang, Surabaya 60231

KAMPUS LIDAH WETAN
Jl. Lidah Wetan, Surabaya
info@unesa.ac.id

Belajar 2_Intervensi afektif
FileName : Belajar 2_Intervensi afektif.doc
FileType : application/msword
FileSize : 147 KB
Download



Plain Text Preview

KEGIATAN BELAJAR II: TEORI-TEORI DARI PENDEKATAN AFEKTIF _________________________________________________ A. Kompetensi 1. Standar kompetensi: Mampu melaksanakan konseling secara ilmiah dengan menggunakan teori konseling tertentu baik secara tunggal maupun integratif sebagai kerangka kerja konseptual. 2. Kompetensi dasar: Menguasai teori-teori konseling dari pendekatan afektif dan dapat menerapkannya secara praktis untuk mengembangkan hipotesis tentang masalah konseli dan merancang program bantuan guna memecahkan masalah tersebut 3. Indikator: Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini para peserta diklat diharapkan memiliki kemampuan untuk: * Menjelaskan kerangka pikir dari teori-teori konseling dalam pendekatan afektif (yang menekankan pada intervensi emosi). * Menjelaskan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses, dan teknik konseling dari teori konseling psikoanalisa. * Menjelaskan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses, dan teknik konseling dari teori konseling eksistensial. * Menjelaskan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses, dan teknik konseling dari teori konseling Gestalt. * Menjelaskan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses, dan teknik konseling dari teori konseling Rogerian. * Menggunakan masing-masing orientasi teoretik yang telah dikaji guna mengembangkan hipotesis masalah klien dari suatu deskripsi kasus yang diberikan dan kemudian mengembangkan rencana bantuan yang konsisten dengan hipotesis yang dikembangkan B. Definisi Pendekatan afektif dalam teori konseling adalah suatu pendekatan yang menekankan pada pentingnya perasaan atau emosi konseli sebagai sumber utama terjadinya kesulitan dan sebagai sasaran utama intervensi. Pendekatan ini lebih menekankan pada kualitas unik pribadi konseli dan hubungan antara konselor dan konseli alih-alih pada teknik-teknik pengubahan perilaku. Secara filosofis, ada dua pandangan utama yang menjadi akar dari pendekatan ini, yakni psikodinamika dan fenomenologis (humanistik). Tujuan primer dari intervensi afektif adalah: (1) membantu konseli mengekspresikan perasaan-perasaannya; (2) mengidentifikasi dan memisahkan perasaan-perasaannya; (3) menerima atau mengubah perasaannya; dan (4) dalam beberapa kasus, mengisikan perasaan-perasaan tertentu yang lebih tepat. Asumsi dasar yang digunakan oleh para ahli afektif adalah bahwa emosi seseorang menentukan atau mempengaruhi caranya berpikir dan bertindak. Orang mengalami gangguan perilaku karena mereka membentuk respon emosional yang tidak tepat terhadap berbagai situasi, atau karena mereka tak mampu menyatakan emosinya secara bebas. Banyak orang menyadari bahwa ada yang salah dalam dirinya (hidupnya) tetapi mereka tidak mampu untuk mengartikulasikan atau membicarakan kesulitannya itu. Jika mereka mau membicarakan masalahnya dan mengekspresikan emosinya secara bebas, maka itu menjadi katub bagi pemecahan kesulitannya. Membicarakan masalah atau perasaan-perasaan mungkin merupakan pengalaman baru bagi mereka, khususnya bagi individu yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga atau lingkungan budaya yang tidak mengijinkan masalah dibicarakan secara terbuka, atau yang menghambat ekspresi perasaan melalui larangan-larangan atau injuksi seperti: "Jangan menangis," "Jangan marah," "Jangan bersedih," dsb. Beberapa orientasi teoretik yang termasuk ke dalam pendekatan ini antara lain adalah teori-teori psikodinamika seperti teori konseling psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori konseling individual atau pendekatan wellness dari Alfred Adler (populer dengan nama konseling Adlerian), teori konstruk personal dari George Kelly; dan teori-teori konseling humanistik seperti teori konseling eksistensial, teori konseling gestalt, dan teori konseling berpusat pada pribadi (sekarang populer dengan nama konseling Rogerian). Pada bagian ini hanya akan dikemukakan empat dari teori utama pendekatan afektif, yakni psikoanalisa, eksistensial, gestalt, dan berpusat pada pribadi. C. Konseling Psikoanalisa 1. Formulasi teoretik Teori konseling psikoanalisa (psychoanalysis) - sering disebut psikoanalisis - dikembangkan oleh seorang neurolog dari Wina, Sigmund Freud, pada awal tahun 1890 an. Teori ini memandang perilaku manusia bersifat deterministik, yakni dipengaruhi oleh faktor genetik (biologis) dan berbagai peristiwa pada tahun-tahun awal kehidupan, khususnya pada masa kanak-kanak. Namun teori ini juga mengakui pentingnya peran konteks sosial khususnya lingkungan keluarga dalam mempengaruhi perilaku. Kekuatan-kekuatan naluriah (instink) diakui diakui sebagai faktor genetik yang paling mempengaruhi perilaku, meskipun manusia tidak harus menjadi korban dari kekuatan faktor biologisnya. Posisi bukan menjadi korban itu ditunjukkan oleh kemampuan manusia untuk menyadari kesulitan/masalahnya dan memanfaatkan sumber-sumber bantuan lain dan perkembangan pribadinya untuk menanganinya, mengalahkan dorongan naluriahnya yang tidak rasional, dan membuat perubahan yang positif dan kemudian mencapai kehidupan yang diinginkannya. Secara substansial teori konseling psikoanalisa - seperti umumnya teori konseling yang lain - berakar pada teori kepribadian yang dikembangkan oleh Freud. Dalam hal ini Freud menggambarkan kepribadian manusia melalui konsep struktur mental (psyche) dan struktur kepribadian. Struktur mental terdiri atas tiga tingkat kesadaran, yakni: kesadaran, ketidaksadaran, dan ambang sadar. Kesadaran menunjuk pada apa yang sedang kita persepsi (rasakan, pikirkan, dan amati) dan dapat diidentifikasi (dikenali) dari apa yang kita katakan. Misalnya, ketika kita merasakan adanya sensasi kontraksi dalam perut kita, kita mengatakan, "Wah saya lapar nih!" Apa yang kita katakan itu merupakan bentuk kesadaran kita. Ambang sadar berisikan ingatan-ingatan tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang siap masuk ke dalam kesadaran sewaktu-waktu diperlukan. Jika seseorang bertanya kepada kita tentang nomor telepon rumah atau telepon selular kita, hanya dengan sedikit upaya kita akan segera mampu untuk mengingat dan kemudian menjawab pertanyaan tersebut. Itu karena ingatan kita tentang nomor telepon kita berada di ambang sadar. Ketidaksadaran ditamsilkan sebagai suatu gudang dari imej-imej yang tak dapat diterima/ditolak oleh norma atau kode moral tertentu, peristiwa masa lampau, impuls-impuls, dan keinginan-keinginan yang tidak kita sadari. Materi-materi di dalam ketidaksadaran berpotensi menimbulkan ketegangan, ancaman, dan perasaan cemas dan seringkali muncul ke permukaan (kesadaran) dalam bentuk halusinasi dan/atau impian. Struktur kepribadian terdiri atas tiga aspek, yakni : id, ego, dan superego. Meskipu ketiganya memiliki fungsi sendiri-sendirin tetapi dalam prakteknya seringkali tumpang tindih dan tak dapat menjadi entitas yang benar-benar diskrit (pilah). Id merupakan struktur yang kita bawa sejak lahir dan berisikan semua potensi bawaan, termasuk naluri-naluri yang umumnya tidak kita sadari. Id berada di dalam ketidaksadaran dan dengan demikian tak dapat berhubungan langsung dengan realita. Id merupakan sumber energi aktivitas psikis dan fisik yang di dalamnya terdapat dorongan-dorongan instinktif (naluriah) yang cenderung primitif dan menimbulkan ketegangan karena menuntut untuk dipuaskan/dipenuhi. Untuk memuaskan/ memenuhi dorongan-dorongan, id menggunakan dua mekanisme: tindakan refleks dan proses primer. Reflek berisikan tindakan-tindakan otomatis, seperti mengedipkan mata, batuk, menarik tangan ketika menyentuh benda panas. Proses primer berbentuk tindakan yang lebih kompleks yang mengarahkan manusia untuk membentuk suatu imej mental seperti impian, khayalan, lamunan, atau fantasi. Dorongan naluriah dibedakan menjadi dua, yakni: naluri hidup (libido) dan naluri mati atau naluri merusak (tanatos). Naluri hidup merefleksikan kebutuhan id untuk mengejar kesenangan dan menghindari ketidaknyamanan/penderitaan. Sedangkan naluri mati dapat berbentuk berbagai tindakan merusak diri dan lingkungan seperti melukai diri, tidak mau makan, berkelahi atau bentuk-bentuk tindakan dan agresi anti sosial yang lain. Ego adalah aspek kepribadian yang berada di dalam kesadaran. Ia berfungsi untuk membantu id memenuhi dorongan-dorongannya secara nyata dan bukan hanya sekedar membayangkan. Ego bukan merupakan sistem bawaan tetapi terdeferensiasi (terbentuk dan kemudian memisahkan diri) dari id ketika anak berkembang menjadi lebih matang, khususnya ketika anak mulai dipisahkan dari ibunya (Jawa= disapih). Ego tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan id, tetapi juga merintangi atau menolak dorongan-dorongan yang tidak diijinkan oleh norma atau kode moral lingkungan. Dapat dikatakan, ego merupakan aspek eksekutif (pengendali atau pengatrur) dari struktur kepribadian. Superego merupakan aspek kepribadian yang berisikan nilai-nilai atau kode moral masyarakat yang diinternalisasikan oleh anak melalui pendidikan orang tua. Dapat dikatakan, super ego merupakan kata hati setiap individu. Pesan-pesan orang tua, guru, dan masyarakat di samping tradisi ras, budaya, dan nasional memberikan sokongan penting bagi perkembangan super ego anak. Melalui superego anak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dan antara mana yang benar dan mana yang salah. Manusia yang mengikuti arahan superegonya cenderung dapat menyesuaikan dirinya dengan baik namun mungkin menderita karena banyak dorongan yang tak terpuaskan. Sebaliknya, manusia yang kurang mendengarkan superegonya cenderung dapat memuaskan doronganya tetapi seringkali dihinggapi perasaan bersalah, malu, dan cemas. Superego berfungsi membatasi dorongan-dorongan id dan mengendalikan ego agar tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan kode moral atau norma masyarakat. Perkembangan kepribadian - sehat dan tidak sehat - ditentukan oleh hasil kerja dari ketiga struktur kepribadian dalam memenuhi dorongan-dorongan, atau oleh penanganan konflik-konflik intrapsikis antara ketiga struktur kepribadian dalam memenuhi dorongan-dorongan. Perkembangan itu sangat tertentukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan, khususnya pada enam tahun pertama. Pada enam tahun pertama kehidupan itu, setiap manusia mengalami enam fase perkembangan psikoseksual. Setiap fase psikoseksual tersebut mendesakkan suatu kebutuhan seksual yang harus dipenuhi. Hambatan yang terjadi pada proses pemenuhan kebutuhan seksual pada setiap tahapan - disebut fiksasi - berpotensi menyebabkan gangguan perilaku pada waktu dewasa. Terdapat lima tahapan perkembangan psikoseksual, yakni: oral, anal, palis, laten, dan genital. Sesuai dengan namanya, kepuasan seksual pada fase oral berpusat pada mulut (menghisap), kepuasan seksual pada fase anal berpusat pada daerah pembuangan (anus dan penis), kepuasan seksual pada tahap palis terletak pada alat kelamin (dilakukan dengan cara melakukan fantasi-fantasi seksual dengan orang tua lawan jenis - peristiwa ini disebut oedipus complex), pada tahap laten (terjadi pada masa pubertas) ada kecenderungan pada anak untuk menekan semua isu-isu oedipal dan kehilangan minat seksualnya, sebaliknya, mereka mulai melibatkan dirinya ke dalam kelompok bermain yang terdiri atas anak-anak dari jenis kelamin yang sama, baik kelompok yang bersifat full-male atau full-female. Ketika memasuki masa pubertas, anak-anak mulai tertarik satu sama lain dengan lawan jenisnya dan menjadi manusia yang lebih matang. Mereka saling mengembangkan afeksi (hubungan) dan minat-minat seksual, cinta, dan bentuk-bentuk keterikatan yang lain. Namun, menurut Freud, banyak orang tak pernah benar-benar dapat menyelesaikan konflik oedipal dan oleh karenanya tak pernah mencapai tahapan genital. Fiksasi pada tahap oral menyebabkan orang mengembangkan kepribadian oral, yakni menjadi orang yang tergantung dan lebih senang untuk bertindak pasif dan menerima bantuan dari orang lain. Fiksasi pada tahapan anal menyebabkan anak mengembangkan kepribadian anal, yakni menjadi orang yang sangat menekankan kepatuhan, konformitas, keteraturan, menjadi kikir dan suka melawan/memberontak. Fiksasi pada tahap palis menyebabkan anak laki-laki berkembang menjadi homoseksual atau heteroseksual yang tidak benar-benar mencintai pasangannya tetapi hanya menjadikannya sebagai obyek pemuasan seksual, sedangkan anak perempuan akan berkembang menjadi wanita yang genit, penggoda pria, atau menjadi lesbian. Ketiga struktur kepribadian - ego, id, ego, dan superego - tidak selalu dapat bekerjasama secara harmonis, tetapi seringkali terjadi konflik (disebut konflik intrapsikis). Jika tak segera terselesaikan, konflik ini berpotensi menimbulkan perasaan cemas. Freud mengemukakan tiga bentuk kecemasan, yakni: kecemasan neurotik, kecemasan realistik, dan kecemasan moral. Kecemasan neurotik adalah perasaan takut bahwa instink-instink akan terlepas dan memaksa ego untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan hukuman. Kecemasan realistik merupakan ketakutan terhadap ancaman bahaya dunia luar. Kecemasan moral merupakan kecemasan kata hati (superego). Orang yang mengembangkan kata hati dengan baik cenderung merasa bersalah ketika ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kode moral. Jika ego tak mampu menemukan cara-cara yang realistis untuk merespon rasa cemas, ia menggunakan cara-cara yang tidak realistis yang disebut mekanisme pertahanan ego (ego defence mechanism). Beberapa mekanisme pertahanan ego dapat bersifat negatif dan beberapa yang lain bersifat positif. Terdapat begitu banyak bentuk mekanisme pertahanan ego, namun Kaplan, dkk. (1994) dan Seligman (1996) mengklasifiksikannya ke dalam empat kelompok berikut: * Narsistik atau psikotik, yakni suatu bentuk pertahanan ego yang dilakukan dengan cara pembiasan, pengingkaran, dan proyeksi delusional. Ini banyak ditemukan pada anak-anak. * Tidak matang. Mekanisme ini umum ditemukan pada remaja dan beberapa orang dewasa dengan gangguan mood, kepribadian, dan kontrol impuls. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah proyeksi, regresi, pembelahan, devaluasi, dan kenakalan. * Neurotik. Mekanisme ini umum ditemukan pada orang dewasa yang dinyatakan dalam bentuk rasionalisasi, intelektualisasi, dan pengalihan. * Sehat. Ini merupakan bentuk mekanisme yang produktif yang umumnya diperlihatkan oleh orang dewasa yang sehat dalam bentuk sublimasi, humor, supresi sadar atau semi sadar, dan kompensasi. 2. Implementasi Sesuai dengan asumsi-asumsi dasar tentang sifat dasar manusia yang dipegang, konseling psikoanalisa bertujuan untuk membantu individu (konseli) agar mampu mengoptimalkan fungsi ego dengan cara mencapai keseimbangan psikologis. Keseimbangan psikologis ini dicapai dengan cara meniadakan kecemasan atau menangani konflik-konflik intrapsikis. Baker (1985) mengemukakan lima tujuan khusus konseling psikoanalisa, yakni membantu individu agar mampu untuk: * Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls-impuls dan berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional. * Memperkaya sifat dan macam mekanisme pertahanan ego sehingga lebih efektif, lebih matang, dan lebih dapat diterima. * Mengembangkan perspektif yang lebih berlandaskan pada asesmen realitas yang jelas dan akurat dan yang mendorong penyesuaian. * Mengembangkan kemampuan untuk membentuk hubungan yang akrab dan sehat dengan cara yang menghargai hak-hak pribadi dan orang lain. * Menurunkan sifat perfeksionis (mengejar kesempurnaan), rigid (kaku), dan punitif (menghukum). Secara praktik, konseling psikoanalisa pada umumnya merupakan suatu proses yang panjang dan intensif. Konselor dan konseli melakukan pertemuan sebanyak tiga hingga lima kali dalam seminggu selama tiga hingga lima tahun. Setiap pertemuan dapat berlangsung selama 55 menit dengan lima menit untuk break antara sesi. Konselor secara aktif mendengarkan konseli dan mengarahkan sisi-sesi menuju pengungkapan materi-materi kompleks terdesak. Dalam hal ini, konselor diibaratkan mendengarkan konseli dengan menggunakan tiga telinga guna memahami kata-kata, simbol, kontradiksi, dan omisi-omisi penting yang mungkin merupakan kunci untuk membuka pintu ketidaksadaran. Konseling psikoanalisa menggunakan banyak teknik. Namun, beberapa teknik yang umum digunakan antara lain adalah transferen, interpretasi, asosiasi bebas, dan analisis mimpi. Berikut adalah paparan singkat tentang teknik-teknik tersebut. * Transferen. Transferen adalah suatu keadaan yang menggambarkan konseli memproyeksikan karakteristik orang lain - biasanya orang tua atau orang lain yang menjadi tokoh identifikasi konseli atau dengan siapa konseli punya masalah - ke dalam diri konselor, dan bereaksi terhadap konselor seolah-olah konselor memiliki karakterisitik orang lain tersebut. Untuk membawa kesadaran konseli terhadap realita, maka transferen harus dihentikan. Melalui teknik kontratransferen konselor menghentikan transferen dan memproyeksikan ke dalam diri konseli karakteristik orang lain yang penting (berpengaruh) dalam kehidupan masa lampunya. * Asosiasi bebas. Asosiasi bebas didasarkan pada suatu asumsi bahwa orang akan mengatakan apapun yang ada di dalam benaknya tanpa sensor atau penilaian. Melalui asosiasi bebas konselor berusaha mempertalikan antara satu pikiran konseli dengan pikiran-pikiran lainnya. Contoh: kita mungkin mendengarkan suatu musik dan mengingatkan kita pada lagu tertentu, mengingatkan kita pada suatu peristiwa tertentu. Melalui asosiasi bebas, musik atau nyanyian dapat membangunkan perasaan cemas yang kuat karena ia berkaitan dengan emosi yang tak mampu kita terima. Asosiasi bebas digunakan untuk mendorong konseli mengingat kembali kesan-kesan atau materi-materi masa lampau dan kemudian membebaskan perasaan tertekannya. * Analisis & interpretasi. Analisis dan interpretasi digunakan untuk mendorong pemahaman (insight) dengan cara membawa materi-materi kompleks terdesak ke dalam kesadaran sehingga konseli memahami hubungan antara kesultannya dengan berbagai peristiwa atau pengalaman masa lampaunya. Analisis adalah suatu proses mengungkap dan memahami materi-materi kompleks terdesak konseli, termasuk di dalamnya pengalaman traumatik masa lalu dan impian-impian. Impian merupakan representasi dari isi kompleks terdesak yang muncul ketika kita tidur. Interpretasi merupakan suatu proses menguraikan makna dari simbul-simbul material bawah sadar yang dikomunikasikan oleh konseli dan kemudian mempertalikannya dengan masalah yang dialami konseli pada saat sekarang. 3. Aplikasi, kontribusi, dan krirtik Konseling psikoanalisa diakui oleh Freud sebagai suatu pendekatan yang hanya tepat untuk menangani gangguan neurosis (bukan psikososis) pada kelompok individu tertentu. Psikosis merupakan bentuk gangguan mental yang ditandai oleh hilangnya kontak dengan realitas karena hilangnya kemampuan individu untuk mempersepsi dan menginterpretasikan pengalaman internal dan eksternalnya. Neurosis ditandai oleh adanya gangguan emosi, kognisi, dan perilaku yang menghambat kemampuan individu untuk berperilaku secara sehat atau berfungsi normal. Meskipun mereka mengalami kesulitan untuk memahami makna pengalamannya, mereka masih memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungannya, dapat membentuk perilaku produktif, dapat memisahkan antara impian, fantasi, dan realitas. Freud membagi neurosis ke dalam dua kategori, yakni: neurosis transferen dan neurosis narsistik. Neurosis transferen melibatkan konflik antara id dan ego, sedangkan neurosis narsistik melibatkan konflik antara ego dan superego. Freud memiliki keyakinan bahwa hanya tipe neurosis yang pertama (neurosis transferen) yang hanya dapat ditangani melalui psikoanalisa. Namun, pada saat ini banyak konselor psikoanalisa yang mengembangkan keyakinan bahwa psikoanalisa dapat digunakan secara efektif untuk menangani semua gangguan nonpsikotik. Barangkali sumbangan paling penting dari konseling psikoanalisa adalah pemikiran Freud tentang perkembangan manusia sehingga kita mengetahui pentingnya pengalaman masa kanak-kanak, memahami peran seksualitas dalam perkembangan, mengakui pengaruh figur orang tua dalam kehidupan kita, menerima keberadaan ketidaksadaran, dan mengakui bahwa konflik-konflik internal sering terjadi di dalam kepribadian kita. Satu keterbatasan yang paling menonjol dari psikoanalisa dapat ditemukan pada proses perlakuan terapeutiknya yang panjang dan melelahkan. Pendekatan ini juga kurang memberikan perhatian pada pengaruh latar belakang budaya, serta kurang mengembangkan gaya hidup (lifestyle) orang dewasa yang sehat. Dukungan penelitian terhadap pendekatan ini juga sangat terbatas. 4. Rangkuman Teori konseling psikoanalisa digolongkan ke dalam pendekatan psikodinamik, afektif, atau kontekstual. Asumsi penting dari teori ini adalah bahwa perilaku manusia dikendalikan oleh dorongan-dorongan atau instink-instink (naluri) yang tidak disadari, dan bahwa gangguan perilaku yang dialami oleh manusia pada saat sekarang berkaitan dengan pengalaman kehidupannya di masa lampau, khususnya peristiwa-peristiwa traumatik yang dialami pada masa kanak-kanak serta kompleks terdesak. Kompleks terdesak adalah sekumpulan gerak hati (impuls-impuls), dan dorongan-dorongan yang tak dapat diterima atau dipenuhi dan yang kemudian ditekan ke alam bawah sadar. Proses konseling psikoanalisa diarahkan pada upaya mengungkap materi-materi kompleks terdesak dan kemudian membawanya ke alam sadar (kesadaran) untuk disadari oleh individu. Ini dilakukan dengan cara mengajak konseli berbicara, mendorong transferen, menggunakan teknik kontratransferen, asosiai bebas, abreaksi, serta analisis dan interpretasi. Konseli memiliki akses untuk memecahkan kesulitannya hanya jika ia mampu memperoleh insight tentang hubungan antara kesulitannya dengan materi-materi kompleks terdesak dan pengalaman masa kecilnya. D. Konseling Eksistensial 1. Formulasi teoretik Konseling eksistensial (existential counseling) - untuk bahasan selanjutnya disebut dengan akronim KE - memiliki banyak pengembang, tetapi yang populer adalah Victor Frankl, Rollo May, Irvin Yalom, James Bugental, Ludwig Binswanger, dan Medard Boss. Secara historis KE, bersama-sama dengan psikologi humanistik, muncul untuk merespon dehumanisasi yang timbul sebagai efek samping dari perkembangan industri dan urbanisasi masyarakat. Pada waktu itu banyak orang membutuhkan kekuatan untuk mengembalikan sense of humanness di samping untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebermaknaan hidup, khususnya yang berkaitan dengan upaya menghadapi kehancuran, isolasi, dan kematian yang disebabkan oleh perang dunia. Model ini sebenarnya lebih bersifat filosofis karena secara teoretik KE tidak memusatkan perhatian pada proses perlakuan tetapi lebih pada isu-isu universal yang dihadapi manusia. KE memandang manusia sebagai ciptaan yang sulit untuk dimengerti yang memiliki beberapa sifat dasar berikut (Seligman, 2001): * Tak bisa menghindari ketiadaan atau kematian. Ketiadaan atau kematian merupakan suatu peristiwa hidup yang tak mungkin bisa dihindari oleh setiap manusia dan ini menyebabkan manusia dihinggapi perasaan tak berdaya. * Sendirian/teralinasi. Meskipun manusia bisa memiliki teman, keluarga dan membangun relasi sosial, pada akhirnya ia merasa sendirian. Paham eksistensial menyatakan bahwa tak seorangpun yang benar-benar dapat memahami diri kita, fisik, perasaan, dan pikiran kita, dan tak seorangpun dapat menyelamatkan kita dari kematian dan berbagai bentuk kehilangan. Kita senang mengikatkan diri dengan dan tergantung pada orang lain sebagai upaya untuk melawan perasaan sendirian, meskipun pada akhirnya kita akan merasa sendirian lagi. Perasan teralinasi ini membuat kita menjadi merasa kesepian, hampa, dan tak bermakna. * Tak berdaya/tak bermakna. Manusia seringkali merasa tak berdaya dan tak bermakna dan perasaan ini menjani kuat ketika manusia menemukan bahwa merasa belum melakukan hal positif dalam hidupnya atau merasa tak memiliki kepastian dalam hidupnya. Kepastian dalam hidup manusia hanyalah lahir dan mati. Di balik itu, hidup lebih tampak seperti proses yang berjalan secara acak, tidak pasti, dan hanya manusia itu sendiri yang dapat memahaminya. Ketidakbermaknaan yang inheren dalam hidup membuat manusia merasa tak berdaya, tak bergairah, dan hampa. Dalam kondisi seperti itu manusia mudah tergoda untuk mengkahiri hidupnya. * Rasa cemas dan rasa bersalah. Perasaan cemas - disebut kecemasan eksistensial - merupakan keadaan yang tak dapat dihindari oleh manusia. Perasaan ini muncul dari kesadaran manusia berkenaan dengan beberapa fakta berikut: hidup manusia bersifat terbatas, pada akhirnya meraka akan mati. Manusia akan dihinggapi rasa bersalah jika gagal menjadi orang yang diinginkannya dan merasa tak bermakna, atau membiarkan hidupnya dikendalikan oleh nasib dan lingkungan. Manusia seringkali mengalami depresi sebagai akibat dari kegagalan menangani rasa cemas dan rasa bersalah. Gangguan emosional pada dasarnya disebabkan oleh kegagalan manusia dalam menangani isu-isu keberadaan (eksistensial) tersebut (kematian, alinasi, ketidak bermaknaan, rasa bersalah, dan kecemasan). Meskipun tampak menyajikan sisi gelap dari gambaran hidup manusia, para eksistensialis adalah kaum humanis. Mereka juga memiliki pandangan yang optimis dan mengakui bahwa semua manusia memiliki potensi untuk menangani isu-isu tersebut dan membuat hidupnya menjadi bermakna. Manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk menciptakan sejarah bagi dirinya sendiri. Ini dilakukan melalui pembuatan pilihan-pilihan pada setiap fase perkembangan. Manusia akan mampu menangani ketidakbermaknaan jika mereka dapat menghayati hidupnya (keberadaannya) pada saat sekarang dan dalam hubungannya dengan lingkungannya (being present atau being in the world). Penghayatan terhadap keberadaan pada saat sekarang membuat manusia menyadari dirinya dan bertanggung jawab untuk membuat pilihan-pilihan hidup yang bermakna (disarikan dari Bauman & Waldo, 1998). Menurut Frankl, berbagai kesulitan hidup manusia (disebut kesulitan neurotik) seringkali disebabkan oleh pola asuh orang tua yang tidak menekankan pada kebebasan terhadap anak-anak mereka (Barton, 1992). Menurut Vontress, manusia yang sehat mentalnya adalah mereka yang mengalami keseimbangan (harmoni) dengan dirinya sendiri, dengan teman, dengan keluarga dan kolega, dengan lingkungan fisik, dan dengan spiritualitasnya (Seligman, 2001). Oleh karena itu, penting bagi konselor untuk membantu konseli agar menjadi arsitek bagi kehidupannya sendiri dan menyatukan dirinya (keberadaannya) dengan lingkungannya, dan tidak menempatkan dirinya sebagai korban lingkungan atau nasib. Kemampuan untuk memperoleh kebebasan, membuat pilihan, dan tanggung jawab menjadi landasan bagi perkembangan mental yang sehat. Betapapun sulitnya hidup yang sedang dihadapinya, mereka harus membuat pilihan. Perhatikan pernyataan May (1990) berikut: "No matter how great the forces victimizing the human being, man has the capacity to know that he is being victimized and thus to influence in some way how he will relate to his fate" (Seligman, 2001: 239). Para eksistensialis memiliki keyakinan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk menangani beberapa kondisi bawaannya dan membuat hidupnya menjadi lebih bermakna. Potensi-potensi tersebut adalah sebagai berikut: * Kesadaran. Manusia memiliki kemampuan untuk menyadari dirinya dan lingkungannya. Semakin besar kesadarannya, semakin banyak peluang keberhasilan untuk menangani ketakutan dan kecemasannya. * Keautentikan. Keautentikan digambarkan sebagai kemampuan untuk menerima tanggung jawab untuk membuat pilihan hidup. Orang autentik lebih mungkin menyadari dirinya dan lingkungannya, dan mampu membuat pilihan secara mandiri (bebas) dan bertanggung jawab terhadap konsekuensinya. * Kebebasan dan tanggung jawab. Jika manusia mau mengakui bahwa dirinya memiliki kebebasan, maka mereka memiliki tanggung jawab untuk menyadari dirinya dan pilihannya, mempertimbangkan sejarah masa lalunya dan potensi masa depannya, dan berusaha membuat pilihan dan perubahan. * Aktualisasi diri. Seperti halnya para humanis yang lain, KE memandang manusia mimiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan dirinya. Kemampuan ini dapat dihambat oleh beberapa faktor seperti budaya atau latar belakang keluarga yang tidak mendorong kreatifitas, lingkungan yang otoriter dan represif, dan menumpuknya kecemasan dan/atau rasa bersalah. Manusia yang gagal mencapai aktualisasi diri berpotensi dihinggapi perasaan malu, bersalah, dan cemas serta mempersepsi hidupnya sebagai tak bermakna. * Memaknakan hidup. Setiap manusia termotivasi untuk membuat hidupnya bermakna. Untuk memaknakan hidupnya, manusia harus memiliki keinginan untuk hidup, tidak merusak diri, dan mau mencintai dirinya sendiri dan orang lain bahkan lingkungan fisiknya. Makna adalah tujuan dan logika dari hidup manusia itu sendiri yang seringkali terefleksikan dalam pola-pola pilihan yang dibuatnya. Impian, pandangan, dan fantasi juga dapat menjadi petunjuk untuk membantu manusia melihat makna kehidupannya. Beberapa orang mungkin memiliki tujuan yang bermakna sosial, seperti halnya Rogers yang ingin menciptakan kedamaian dunia; sedangkan beberapa manusia lain memiliki tujuan yang bermakna kompetitif seperti memecahkan rekor dunia, atau tujuan-tujuan kreatif seperti menulis novel. Tetapi, banyak orang pada umumnya menemukan makna melalui aktivitasnya seperti mencapai prestasi yang tinggi di sekolah, memiliki banyak sahabat yang menyenangkan, dapat melahirkan anak yang sehat, berhasil membuat taman yang cantik, membantu orang lain yang kesusahan, atau berhasil dalam mengembangkan usaha atau bisnisnya, dsb.. 2. Implementasi Tujuan mendasar KE adalah membantu individu menemukan nilai, makna, dan tujuan dalam hidup mereka sendiri. Program perlakuan tidak perlu secara khusus diarahkan pada pengubahan perilaku atau meniadakan gejala. Konselor KE tidak memiliki tujuan untuk merawat atau mengobati konseli, tetapi membantu mereka agar menjadi lebih menyadari tentang apa yang sedang mereka lakukan, dan untuk membantu mereka keluar dari posisi peran sebagai korban dalam hidupnya (May, 1981). Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, para konselor KE menggunakan seperangkat luas teknik guna membantu konseli menangani berbagai bentuk kecemasan dan ketakutan tentang kondisi-kondisi hidupnya. Konseling KE juga diarahkan untuk membantu konseli agar menjadi lebih sadar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak, dan kemudian membantu mereka membuat pilihan hidup yang memungkinkannya dapat mengaktualisasikan diri dan mencapai kehidupan yang bermakna. Proses konseling KE menggambarkan suatu bentuk aliansi terapeutik antara konselor dan konseli. Konselor eksistensial mendorong kebebasan dan tanggung jawab, mendorong konseli untuk menangani kecemasan, dan mendorong munculnya upaya-upaya untuk membuat pilihan yang bermakna. Untuk menjaga penekanan pada kebebasan pribadi, konselor KE perlu mengekspresikan nilai-nilai dan keyakinan mereka sendiri, memberikan arahan, menggunakan humor, dan memberikan sugesti dan interpretasi namun tetap memberikan kebebasan pada konseli untuk memilih sendiri manakah di antara alternatif-alternatif yang telah diberikan. " Konsep tentang hubungan konseling dalam KE adalah bahwa konselor bukan sebagai observer-technician yang enggan tetapi "fully alive human companion for the client" (Bugental, 1987: 49). Untuk dapat memahami sepenuhnya perasaan dan pikiran konseli tentang isu-isu kematian, isolasi, dan rasa bersalah, konselor perlu melibatkan dirinya dalam kehidupan konseli. Dengan kata lain, konselor KE harus "...be with their clients as fully as possible" (Seligman, 2001:242). Untuk mencapai kondisi seperti itu konselor harus mengkomunikasikan empati, respek atau penghargaan, dukungan, dorongan, keterbukaan, dan kepedulian yang tulus. Sepanjang proses konseling, konselor harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh sehingga mereka dapat memahami pandangan-pandangan konseli dan kemudian membantunya mengekspresikan ketakutan-ketakutannya dan mengambil tanggung jawab bagi kehidupannya sendiri. Program perlakuan dapat diakhiri jika konseli telah mampu untuk mengimplementasikan kesadaran tentang diri mereka dan mengarahkan dirinya untuk mencapai hidup yang lebih bermakna. Kondisi ini memungkinkan konseli menemukan jalan mudah untuk mengaktualisasikan diri. Teknik utama KE pada dasarnya adalah penggunaan pribadi konselor dan hubungan konselor-konseli sebagai kondisi perubahan. Namun, KE juga merekomendasikan beberapa teknik (pendekatan) khusus seperti menghayati keberadaan dunia obyektif dan subyektif konseli, pengalaman pertumbuhan simbolik (suatu bentuk interpretasi dan pengakuan sadar tentang dimensi-dimensi simbolik dari pengalaman yang mengarahkan pada kesadaran yang lebih tinggi, pengungkapan makna, dan pertumbuhan pribadi), konseling logo (suatu model konseling yang menekankan pada penemuan makna), paradoxical intention (untuk mendorong konseli melakukan atau menginginkan sesuatu yang bertentang, misalnya sesuatu yang sangat menakutkan), derefleksi (suatu bentuk intervensi paradoksikal untuk membantu konseli menangani perasaan tidak bermakna). 3. Aplikasi, kontribusi, dan kritik Meskipun KE lebih menyuarakan menyuarakan konsep-konsep filosofis alih-alih suatu metode perlakuan, tema-tema yang ditekankan seperti kebermaknaan, keautentikan, kebebasan, dan tanggung jawab tampak semakin relevan dengan abad ke 21 ini. Isu-isu tentang spiritualitas yang semakin mengumandang pada abad ini dan yang direspon oleh para ahli konseling dengan mengembangkan konseling spiritualitas, tampak konsisten dengan pandangan eksistensial. Meskipun tak menganjurkan suatu agama tertentu, konsep-konsep eksistensial mengingatkan kita tentang pentingnya memiliki kesadaran bahwa hidup ini terbatas dan akan berakhir. KE dapat membantu kita untuk menghadapi tantangan dunia maju seperti diekpos oleh abad ke 21 ini. Karena menekankan pada makna kehidupan, KE dapat diterapkan untuk berbagai macam masalah dan konseli. Beberapa bukti empirik telah menyatakan bahwa KE efektif untuk membantu kaum homoseksual yang mengidap HIV untuk menangani perasaan takut mereka dalam menghadapi kematian (Schwartzberg, 1993), menangani sakit kronis dan penderitaan hidup; menangani depresi dan kekecewaan dari berbagai peristiwa kehidupan. Pada hakekatnya, KE relevan untuk semua manusia dengan banyak problema dan kesulitan (Seligman, 2001). Kontribusi lain dari KE terletak pada penghargaannya terhadap martabat manusia, yakni menekankan pada pentingnya hubungan kolaboratif, penuh respek, dan keautentikan antara konselor dan konseli. Meskipun KE kurang menekankan pada teknik, teknik keinginan yang bertentangan (paradoxsical intention) telah menarik perhatian para ahli klinis dari berbagai orientasi teoretis. Khususnya para konselor keluarga dan konselor kognitif-perilaku yang telah melihat sistem KE sebagai suatu pendekatan yang powerful untuk mendorong perubahan (Seligman, 2001). Salah satu keterbatasan KE adalah bahwa pendekatan ini kurang memiliki struktur dan arahan yang tegas. Pendekatan ini tidak memiliki langkah-langkah khusus pemecahan masalah. Model ini juga tidak memiliki teknik tersendiri tetapi meminjam teknik-teknik dari model teoretik lain. Seperti halnya psikoanalisa, proses intervensi KE tergolong lamban karena menerapkan prosedur perlakuan yang panjang dan tidak terburu-buru. Karena keterbatasan-keterbatasan tersebut, banyak orang yang menjadi skeptis atau meragukan nilai keefektifannya. 4. Rangkuman Teori KE dikembangkan oleh banyak ahli namun yang paling populer adalah Victor Frankl. KE dapat dikelompokkan ke dalam pendekatan afektif atau humanistik. Sesuai dengan klasifikasi pendekatannya, KE memiliki pandangan yang positif tentang sifat dasar manusia. Model konseling ini lebih bersifat filosofis, kurang menekankan pada teknik dan lebih merefleksikan suatu sistem perlakuan yang kurang terstruktur. KE digunakan untuk membantu manusia menghadapi dan menangani ketidakpastian hidup yang menyakitkan dengan cara membantu mereka mengambil tanggung jawab untuk membuat pilihan, menciptakan suatu kehidupan yang bermakna bagi diri sendiri dan orang lain, dan untuk mengaktualisasikan dirinya. Tujuan-tujuan tersebut dicapai melalui hubungan khusus - yang disebut aliansi terapeutik - antara konselor dan konseli. E. Konseling Gestalt 1. Konsep teoretik Konseling gestalt - untuk bahasan selanjutnya disebut dengan akronim KG - dikembangkan oleh Frederick Perls yang lebih dikenal sebagai Fritz Perls, ahli psikologi dari Jerman (Berlin). Pada awalnya, setelah menyandang gelar doktor dalam bidang psikiatri, Perls pindah ke Wina dan belajar psikoanalisa bersama dengan beberapa murid Freud yang lain seperti Karen Horney dan Wilhelm Reich. Penggunaan kata gestalt dimaksudkan untuk menegaskan bahwa KG menekankan pada keutuhan (unity) atau kebulatan (wholleness), atau integrasi (intergation). Dalam bahasa Jerman, gestalt berarti utuh, bulat, tidak terpotong-potong. Hasil kerja Fritz yang paling krusial adalah penggunaan "kursi kosong" (empty chair) dalam konseling - juga dikenal dengan sebutan kursi panas. Teknik ini diperkenalkan oleh Fritz antara tahun 1962 s.d. 1969. Sejak saat itu ia menjadi populer dan dipandang sebagai sosok yang inovatif dan karismatik dalam bidang pengembangan potensi manusia. Seperti halnya para eksistensialis, Perls adalah seorang humanis yang memiliki pandangan yang optimistik tentang sifat dasar manusia. Menurutnya, setiap manusia memiliki tujuan yang sama, yakni mengaktualisasikan diri. Manusia juga dipandang sebagai ciptaan yang memiliki sifat dasar baik dan memiliki kemampuan untuk menangani kehidupannya dengan berhasil, meskipun kadang-kadang mereka membutuhkan bantuan. Manusia yang sehat adalah mereka yang dapat bertindak secara produktif dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan pemeliharaan, dan secara intuitif bergerak menuju pertumbuhan dan pemeliharaan diri (self-preservation). Setiap manusia dapat menangani dengan berhasil masalah dalam hidupnya jika mereka tahu siapa dirinya dan dapat mengorganisasikan (mengintegrasikan) semua kemampuannya ke dalam suatu rajutan tindakan-tindakan yang efektif (Enright, 1975). Oleh karena itu, para konselor KG perlu mengarahkan konseli untuk mengembangkan kesadaran (awareness), menemukan dukungan dari dalam dirinya sendiri (inner support), dan mengembangkan perasaan mampu (self-sufficiency) sehingga mereka menyadari bahwa kemampuan yang mereka butuhkan untuk membantu dirinya pada dasarnya berada di dalam diri mereka sendiri dan bukan di dalam diri orang lain (konselor). Gangguan perilaku terjadi karena individu menolak untuk mengakui satu atau lebih aspek-aspek diri (kepribadiannya), atau membiarkan dirinya menjadi terbelah, terpisah, terpolarisasi, atau terpotong-potong atau terfragmentasi menjadi beberapa bagian. Kebulatan pribadi merupakan kondisi bagi tercapainya perilaku yang sehat. Sayangnya, banyak orang senang membiarkan dirinya terpolarisasi/terfragmentasi, yakni hanya menyadari beberapa bagian dari dirinya dan menolak bagian-bagian dirinya yang lain. Dalam beberapa tingkat, polarisasi ini berakar pada dorongan untuk mencapai keseimbangan (dengan cara menolak bagian-bagian diri mereka yang merusak citra dirinya). Beberapa kaum pria, misalnya, mengingkari sifat sensitif dan aestetis sebagai bagian kepribadiannya karena menganggap bahwa kedua karakteristik tersebut akan merusak citra dirinya sebagai manusia yang kuat dan maskulin. Meskipun manusia berjuang mencapai keseimbangan, lingkungan selalu mengalami perubahan. Akibatnya, manusia juga akan terus memiliki kebutuhan baru yang pada gilirannya menyebabkan ketidakseimbangan. Untuk kembali seimbang, kebutuhan-kebutuhan harus dipenuhi. Kita lapar, maka kita perlu makan untuk memulihkan keseimbangan. Kita lelah, maka kita perlu istirahat atau tidur sebentar untuk memulihkan tenaga. Perubahan diri dan lingkungan yang terus-menerus ini berhubungan dengan konsep figure- ground. Dalam KG kesadaran merupakan elemen yang esensial bagi kesehatan emosional, karena kesadaran memiliki nilai menyembuhkan dan merupakan komponen inti dari semua aspek pribadi yang sehat. Manusia dapat melakukan banyak cara untuk mencapai kesadaran, salah satunya adalah dengan melakukan kontak lingkungan. Kontak memungkinkan kita untuk belajar tentang diri dan lingkungan kita, dan itu akan membantu kita untuk merasa menjadi bagian dari lingkungan kita di samping memperoleh batasan yang lebih jelas tentang siapa diri kita. Cara lain untuk meningkatkan kesadaran adalah dengan menghayati pengalaman atau hidup pada tataran "di sini dan sekarang," dan tidak memikirkan masa lampau atau masa depan. Jika kita dapat memusatkan perhatian pada saat sekarang, kita lebih mungkin untuk terintegrasi dan terhindar dari polarisasi (bayangkan ketika Anda sedang mengikuti kuliah tetapi memikirkan peristiwa kemarin yang membuat Anda jengkel). Seperti halnya para eksistensialis, KG juga menekankan pada pentingnya manusia untuk mengambil tanggung jawab pribadi bagi kehidupannya sendiri dan tidak menyerahkan nasibnya pada orang lain atau lingkungan. Tanggung jawab didefiniskkan sebagai suatu tindakan yang tidak hanya merawat diri sendiri tetapi juga mengakui bahwa kita menjadi bagian dari masyarakat luas, bahwa kita saling membutuhkan, dan bahwa kita harus mengakui dampak tindakan kita pada orang lain. Meskipun Perls sering menggunakan istilah neurosis untuk menggambarkan gangguan emosional, ia menyatakan bahwa istilah "gangguan perkembangan" lebih tepat untuk digunakan. Terminologi ini menggambarkan orang yang mengingkari atau menolak aspek-aspek dirinya dan lingkungannya, tidak menghayati hidup pada saat sekarang, tidak melakukan kontak dengan lingkungannya, kurang memiliki kesadaran terhadap diri dan lingkungannya, dan kurang mengaktualisasikan dirinya. Gangguan perkembangan terjadi jika individu membiarkan dirinya dikelilingi oleh banyak masalah yang tak terselesaikan (unfinised bisnis) atau mengalami kebuntuan. Banyak orang senang menunda atau menimbun tugas atau pekerjaan, membiarkan masalah mengambang dan tak terpecahkan, atau menganggap segala urusan adalah masalah yang remeh dan tak ditangani dengan serius dan yang akhirnya menumpuk dan tak terselesaikan. Masalah yang tak terselesaikan yang potensial menghambat perkembangan antara lain dan yang utama adalah emosi-emosi yang dipendam atau tidak diekspresikan. 2. Implementasi Secara umum tujuan KG adalah sama dengan tujuan dalam KE. Namun secara khusus berbeda. Seligman (2001:265) mengemukakan sejumlah tujuan khusus KG yang bersifat unik, yakni untuk membantu konseli agar mampu untuk : mencapai kesadaran diri; menghayati hidup pada tataran di sini dan sekarang; mengungkapkan masalah-masalah pribadi yang terselesaikan; mencapai dan memanfaatkan sumber-sumber potensi pribadinya dan mengurangi ketergantungannya pada orang lain; meningkatkan rasa tanggung jawab; melakukan kontak yang bermakna dengan semua aspek dirinya, orang lain, dan lingkungannya; meningkatkan harga diri, penerimaan diri, dan aktualisasi dirinya; menurunkan polaritas, khususnya polaritas mental dan fisik; mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola hidupnya secara berhasil dengan cara yang tidak merugikan orang lain; dan meningkatkan sense of wholeness, integrasi dan keseimbangan. Proses konseling KG mula-mula diarahkan untuk membantu konseli mencapai kesadaran. Jika konseli dapat memperoleh kesadaran tentang masalah-masalah yang tak terselesaikan, kekuatan dan sumber-sumber pribadinya, maka mereka akan menemukan jalan mudah menuju pemecahan masalah. Proses membangkitkan kesadaran dapat dicapai dengan cara mengembangkan hubungan yang manusiawi dan menekankan pada aspek-aspek personal konseli. Dalam KG ditekankan suatu model hubungan unik yang disebut "Saya dan Kamu." Bentuk hubungan ini menuntut konselor dan konseli untuk sepenuhnya menghayati keadaan "di sini dan sekarang." Konselor juga mendorong konseli untuk berperan aktif dalam proses terapeutik dan mengambil tanggung jawab dalam membuat pilihan atau keputusan. Konselor KG menggunakan banyak teknik atau strategi intervensi, namun yang paling banyak digunakan adalah eksperimen, penggunaan bahasa, analisis impian, fantasi, bermain peran, bermain top dog/underdog, interpretasi komunikasi tubuh, dan kelompok. Melalui teknik ekspertimen konselor membelajarkan konseli untuk mengalami dan menghayati kembali masalah-maslaah yang tak terselesaikan ke dalam situasi di sini dan sekarang. Eksperimen dapat dilaksanakan melalui prosedur bermain peran, atau memberikan kegiatan-kegiatan yang harus diselesaikan oleh konseli pada setiap sesi. Dalam penggunaan bahasa, konselor mendorong penggunaan kata-kata yang tepat seperti : menggunakan pertanyaan "apa" dan "bagaimana" dan bukan "mengapa;" menggunakan pernyataan "Saya" dari pada orang lain; menekankan pernyataan dan bukan pertanyaan; menyatakan pengalaman "di sini dan sekarang;" dan mendorong tanggung jawab. Bermain menjadi teknik yang esensial. Contoh permainan yang paling sering digunakan adalah bermain peran. Salah satu bentuk bermain peran yang paling awal yang digunakan dalam KG adalah psikodrama. Demikian pula, bermain peran dalam KG jarang menggunakan orang lain, karena penggunaan orang lain dapat menyebabkan fragmentasi. Bentuk bermain peran yang paling sering digunakan adalah "kursi kosong" (empty chair) untuk format konseling individual, dan "berkeliling" (making arround) untuk format konseling kelompok. 3. Aplikasi, kontribusi, dan kritik Secara tradisonal, KG telah diterapkan sebagai suatu pendekatan yang efektif untuk konseli-konseli yang memiliki masalah kecemasan, depresi, merasa tidak sempurna, dan konseli yang kurang bisa menyesuiakan diri secara tepat (Parrot III, 2003). Namun, pada dekade belakangan ini KG telah diterapkan untuk berbagai macam masalah yang lebih luas (Bryant, Kessler, & Shirar, 1992), sebagai metode intervensi krisis, masalah yang berkaitan dengan sekolah, gangguan psikosomatijk, psikotik, gangguan kepribadian ganda, dan masalah-masalah perkawinan. Salah satu kelebihan KG terletak pada pandangan humanistiknya yang bersisikan filosofi tentang kehidupan, perkembangan, dan memberikan cara-cara khusus untuk mempermudah manusia merealisasikan perkembangannya. KG juga menekankan pada proses dan hubungan antara konselor-konseli. Kelebihan lainnya adalah bahwa KG merupakan suatu model perlakuan yang penuh kasih sayang dan memungkinkan orang untuk menjadi mampu menikmati dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kelemahan yang menonjol dari KG - seperti dikemukakan oleh banyak pengkritiknya - adalah bahwa dipandang tidak bisa diterapkan secara universal tetapi harus mempertimbangkan latar belakang sosial budaya konseli (Saner, 1989). Kelemahan yang lain adalah bahwa karena terlalu menekankan pada emosi dan kurang memperhatikan kognisi, KG cenderung mendatangkan reaksi emosional yang kuat. Faktanya, para ahli psikologi kontemporer mulai mengakui jika kognisi menjadi salah satu determinan bagi emosi dan sebagai wahana untuk mengubah perasaan. 4. Rangkuman KG menekankan pada peran perasaan dalam mempengaruhi perilaku dan potensi manusia untuk mengarahkan dirinya sendiri. Oleh karena itu KG dikelompokkan ke dalam pendekatan afektif atau humanistik. Secara konseptual KG mengambil posisi fenomenologis. Kesadaran dipandang sebagai kondisi yang esensial yang memampukan individu untuk memecahkan berbagai kesulitan yang dialami. KG dikembangkan oleh banyak ahli, tetapi yang paling banyak dikenal sebagai pendiri (founder) adalah Fritz Perls dan isterinya, Laura Perls. Model ini digunakan secara luas antara tahun 1960 s.d. 1970. Model ini memiliki banyak pengikut dan pengaruh pada model-model teoretis konseling yang lain. F. Teori Konseling Rogerian 1. Konsep teoretik Teori konseling berpusat pada pribadi - sering disebut konseling Rogerian - untuk bahasan selanjutnya disebut KBP - pada awalnya dikembangkan oleh Carl Rogers bersama para pengikutnya. Pendekatan ini ini pada awalnya bernama 'konseling yang tidak mengarahkan" (nondirective conseling) dan yang berubah menjadi konseling berpusat pada konseli (client-centered counseling) untuk menekankan tanggung jawab yang lebih besar - bahkan sepenuhnya - pada konseli untuk mengarahkan dirinya sendiri. Nama konseling Rogerian digunakan untuk lebih memanusiawikan proses konseling, dalam arti lebih memberikan pengakuan pada keterlibatan pribadi konselor dan pribadi konseli dalam proses konseling. Pemikiran-pemikiran Rogers tentang manusia dan bagaimana konseling seharusnya dilaksanakan bersifat humanistik. Berikut adalah pandangan-pandangan khusus Rogers tentang sifat dasar manusia (1) setiap manusia memiliki potensi dan hak untuk mengarahkan dirinya sendiri: (3) setiap manusia bertindak sesuai dengan persepsinya; (4) setiap manusia memiliki kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri; dan (5) setiap manusia pada dasarnya ciptaan yang cakap dan dapat dipercaya. Jika kita simak karya-karya Rogers, ia seringkali menggunakan istilah-istilah yang berkonotasi positif seperti good, trustworthy, reliable, constructive untuk menggambarkan karakteristik yang inheren dalam diri manusia. Rogers mengakui bahwa manusia kadang-kadanag bertindak dalam cara yang tak dapat dipercaya, bengis, dan memperlihatkan kebencian. Tetapi, karakteristik negatif tersebut muncul sebagai akibat dari sikap pembelaan diri (pertahanan diri) yang telah mengeluarkan individu dari sifat inherennya. Jika sikap pembelaan ini dikurangi, maka individu akan menjadi lebih terbuka terhadap semua pengalamannya, cenderung dapat dipercaya dan bertindak dalam cara yang dapat diterima oleh lingkungannya, serta mampu menjalin hubungan yang konstruktif dan bermakna dengan lingkungannya. Manusia dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh - menjadi fully functioning person - hanya jika ia berada di bawah lingkungan yang mengandung kondisi pertumbuhan. Kondisi pertumbuhan merepresentasikan penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) terhadap keunikan individu. Individu yang tak memperoleh kondisi pertumbuhan cenderung mengembangkan perilaku defensive, tidak kongruen, dan mudah mengalami konflik di dalam dirinya, menjadi orang dewasa yang pemalu, penakut, sangat patuh, atau mudah marah dan memberontak. Lingkungan yang tidak menyajikan kondisi pertumbuhan adalah lingkungan yang mengekspos perlakuan yang cenderung terlalu melindungi atau membatasi (overprotective), dominan, dan membuat tuntutan yang berlebihan. Kondisi lingkungan semacam ini cenderung memberikan pengaruh negatif pada perkembangan individu dan menghambat aktualisasi diri karena menyebabkan individu tidak memperoleh kebebasan untuk mengungkap dan memberdayakan potensi-potensi dirinya. Konsep Rogers tentang orang yang mengaktualisasikan diri adalah sama dengan mereka yang merefleksikan suatu kesehatan emosional yang ideal. Terdapat tiga karakteristik kepribadian yang menandai orang yang mengaktualisasikan diri, yakni: terbuka terhadap pengalaman; memiliki makna dan tujuan hidup, dan mempercayai dirinya sendiri dan orang lain. Pemikiran kaum Rogerian bersifat fenomenologis, yakni mengakui setiap manusia memiliki persepsi unik terhadap dunia/lingkungannya. Persepsi ini akan menentukan keyakinan, perilaku, emosi, dan hubungannya dengan orang lain. Manusia merespon lingkungan - disebut medan fenomena- sesuai dengan persepsi dan pengalamannya sendiri (ini disebut medan perseptual individu atau realita). Jadi, dalam konsep fenomenologis, apa yang disebut realita adalah apa yang dipersepsi oleh individu secara subyektif dan bukan realitas obyektif. Perspektif fenomenologis ini berisikan asumsi-asumsi teoretis sebagai berikut: * Semua individu berada di dalam dan menjadi pusat dari dunia pengalaman yang terus-menerus berubah. * Individu bereaksi terhadap lingkungan (dunia pengalamannya) menurut persepsi dan bagaimana mereka mengalaminya. * Perilaku individu terarah pada suatu tujuan. * Tempat yang paling baik untuk memahami perilaku individu adalah dari kerangka acuan internal individu itu sendiri. * Cara bertindak yang paling baik adalah mengikuti (konsisten dengan) konsep diri individu. * Ketidak harmonisan/ketidak kongruenan yang sering terjadi antara keinginan individu dan perilakunya disebabkan oleh adanya pembelahan/pemisahan antara konsep diri dan pengalaman. * Kecemasan timbul sebagai akibat dari semakin lebarnya jarak ketidakharmonisan antara konsep diri dan pengalaman. * Untuk menurunkan kecemasan individu, konsep diri harus menjadi lebih kongruen dengan pengalaman aktualnya. * Individu yang mengaktualisasikan diri adalah mereka yang terbuka sepenuhnya terhadap pengalaman, tidak memperlihatkan pembelaan diri. 2. Implementasi Tujuan KBP adalah membantu individu untuk merealisasikan kecenderungan kearah aktualisasi diri. Tujuan ini dicapai dengan cara membantu individu menangani kesulitan atau hambatan-hambatan dalam perkembangannya. Lebih khusus, tujuan KBP adalah membebaskan individu dari kecemasan dan keragu-raguan yang telah menghambatnya untuk mengembangkan sumber-sumber dan potensinya dan menjadi manusia seutuhnya. Orang yang telah belajar menjadi otonom cenderung dapat menghadapi (menangani) hidup dan masalah; mampu mempercayai dirinya sendiri untuk membuat pilihan menurut caranya sendiri dan menerima perasaannya sendiri tanpa paksaan orang lain. Individu seperti itu akan dapat menghargai dirinya dan orang lain sebagai ciptaan yang bermartabat, berharga, dan bernilai. Dalam KBP konselor harus membiarkan konseli untuk menetapkan sendiri tujuan konseling yang diinginkannya, karena individu memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri. Untuk membantu konseli mencapai tujuan, konselor harus mampu menciptakan iklim yang mengandung kondisi pertumbuhan. Kondisi pertumbuhan tersebut meliputi beberapa dimensi yakni (Corey, 1981, 2004; George & Cristiani, 1981; Thompson, Rudolph, & Henderson, 2004): * Konselor membentuk kontak psikologis dengan konseli; * Konseli berada dalam kondisi mengalami; * Konselor harus mengkomunikasikan empati, kongruensi, dan penghargaan positif tanpa syarat; dan * Menekankan pada persepsi atau dunia subyektif konseli. Keempat dimensi kondisi pertumbuhan tersebut merupakan kondisi-kondisi yang penting dan mencukupi bagi terjadinya perubahan perilaku konseli. KBP tidak menekankan pada teknik tertentu tetapi lebih pada kemampuan konselor untuk membangun suatu hubungan yang merepresentasikan kondisi pertumbuhan. Kondisi pertumbuhan ini dapat dicapai oleh konselor dengan cara mengkomunikasikan tiga kondisi fasilitatif hubungan, yakni: empati (empathic understanding), keaslian (congruence/genuineness), dan respek atau penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard). Empati mengimplikasikan suatu pemahaman konselor terhadap kerangka acuan internal konseli, mampu untuk merasa dan berpikir seperti konseli. Kongruensi mengimplikasikan bahwa konselor mampu menjaga identitas dirinya dan autentik. Penghargaan positif tanpa syarat mengimplikasikan bahwa konselor menerima konseli sebagai individu yang memiliki potensi untuk menjadi baik, rasional, dan bebas. Pada umumnya konselor KBP menolak untuk memberikan nasehat atau solusi, penggunaan moral, dan membuat pertimbangan nilai. Diagnosa dan interpretasi dipandang dapat merusak proses konseling. Untuk menyatakan sikap-sikap tersebut di atas, konselor KBP menggunakan beberapa teknik seperti: mendengarkan aktif dan pasif, refleksi perasaan dan pikiran, klarifikasi, rangkuman, konfrontasi kontradiksi, dan arahan terbuka atau arahan umum yang dapat membantu konseli untu mengeksplorasi dirinya (Hackney & Cormier, 2001; Poppen & Thompson, 1984). Meskipun demikian, teknik utama dalam KBP adalah mendengarkan aktif (active listening). Penerapan teknik ini memungkinkan konseli untuk mengetahui bahwa konselor mendengarkan dan mengerti dengan benar terhadap semua yang telah dikatakannya,. Penekanan lain dalam KBP adalah perlunya konselor untuk lebih memusatkan perhatian pada aspek emosional konseli alih-alih elemen intelektualnya. Secara intelektual konseli mungkin mengetahui situasi riil yang dihadapi, tetapi karena konseli merespon secara emosional, pengetahuan ini tidak membantu untuk mengubah perilakunya. Meskipun konseli mulai berbicara tentang situasi-situasi khusus dan menegaskan isi faktual dari situasi-situasi tersebut, konselor sebaiknya membantu konseli untuk memusatkan perhatian pada perasaan tentang dirinya, orang lain, dan peristiwa-peristiwa yang berlangsung di lingkungannya. Konselor kemudian merefleksikan perasaan-perasaan tersebut pada konseli seakurat mungkin agar konseli dapat dipersepsi olegh konseli secara obyektif. 3. Aplikasi, kontribusi, dan kritik Sejak berubah menjadi KBP pada sekitar tahun 1980 an, aplikasi teori konseling Rogers telah berkembang luas. Para konselor KBP saat ini tidak hanya memusatkan perhatian pada isu-isu perkembangan dan aktualisasi diri, tetapi juga membantu individu menangani masalah-masalah praktis seperti kekerasan seksual atau kekerasan fisik, kecanduan alkohol dan obat, kecemasan, dan depresi. Para konselor juga tidak segan untuk menggunakan teknik-teknik kognitif dan perilaku (Seligman, 2001). Suatu versi lain tentang KBP menyatakan bahwa pendekatan ini sangat cocok untuk menangani masalah-masalah pertumbuhan dan perkembangan, untuk membantu individu-individu yang tidak menggunakan potensinya dengan baik dan individu-individu yang merasa hidupnya hampa. Pendekatan ini juga efektif untuk membantu individu yang memiliki self-esteem rendah, kurang percaya diri, dan memiliki pandangan dunia yang negatif dan bias. Kombinasi KBP dengan pendekatan lain dapat lebih meningkatkan keefektifannya. Salah satu kelebihan yang menonjol dari KBP dapat dilihat dari pandangannya yang optimistik terhadap manusia. Setidaknya, pandangan ini konsisten dengan budaya Barat yang menghargai kebebasan (independensi), pengarahan diri, dan individualitas. Meskipun pemikiran Rogers tampak merefleksikan idealisme Barat, banyak aspek teorinya relevan dengan keragaman manusia dan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda atau beragam (multi kultural). Teori konseling Rogers juga telah memberikan pengaruh yang besar pada teori-teori lain, khususnya pengakuan terhadap pandangan Rogers tentang dimensi-dimensi kondisi pertumbuhan. KBP juga tak luput dari kelemahan dan kritik. Berikut adalah beberapa contoh kritik yang dialamtkan pada KBP: dipandang terlalu sederhana; teknik-teknik yang dikemukakan dalam KBP tidak mencukupi untuk membawa perubahan perilaku konseli; kurang dapat meningkatkan pemahaman tentang manusia; tidak tepat untuk orang-orang yang tidak termotivasi untuk membuat perubahan, orang-orang yang patologis, serta individu yang aktif dan menyenangi struktur; penekanannya pada individu, evaluasi internal, dan kondisi pertumbuhan menyebabkan KBP kurang cocok untuk individu yang memiliki latar belakang budaya yang menekankan pada evaluasi eksternal dan masyarakat dan tidak menilai hubungan atas dasar kondisi pertumbuhan; tidak memiliki gambaran yang jelas tentang konsep fully functioning person; penelitian-penelitian untuk memvalidasi keefektifan pendekatan ini masih terbatas. 4. Rangkuman KBP dikelompokkan ke dalam pendekatan afektif, humanistik, dan fenomenologis. KBP dikembangkan oleh seorang ahli dalam psikologi humanistik, Carl Rogers, dengan dan para pengikutnya. Model ini juga sering disebut konseling Rogerian. Dalam KBP, proses konseling dikonstruksikan sebagai suatu hubungan partnership antara dua pribadi, yakni pribadi konselor dan pribadi konseli. Teori KBP dengan tegas mengakui bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk mengarahkan dirinya sendiri. Konselor KBP tidak menggunakan teknik-teknik pengubahan perilaku tetapi hanya seperangkat teknik komunikasi: empati, penghragaan, dan keaslian. Ketiga teknik tersebut diyakini sebagai kondisi yang penting dan mencukupi bagi terjadinya perubahan perilaku pada diri individu yang dibantu. G. Tugas Untuk lebih mendalami materi dari kegiatan belajar ini, temukan buku-buku referensi yang tercantum pada bagian akhir dari kegiatan belajar ini dan kemudian pelajari bab atau pokok-pokok bahasan yang relevan dengan materi ini. Lakukanlah secara sendiri dan berkelompok dengan teman Anda. Buatlah rangkuman dan daftar pertanyaan penting untuk didiskusikan dengan instruktur Anda. H. Evaluasi Untuk mengukur seberapa jauh Anda telah menguasaim materi, selesaikan soal-soal berikut: 1. Kemukakan apa yang landasan berpikir dari perspektif konseling yang menekankan pada intervensi emosi (afektif). 2. Kemukakan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses dan teknik dalam teori konseling psikoanalisa. 3. Kemukakan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses dan teknik dalam teori konseling eksistensial. 4. Kemukakan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses dan teknik dalam teori konseling gestalt. 5. Kemukakan pokok-pokok pikiran, tujuan, proses dan teknik dalam teori konseling rogerian. 6. Dengan menggunakan deskripsi kasus yang diberikan oleh instruktur Anda, kembangkan hipotesis tentang masalah konseli dan kemudian rancangan program bantuannya dengan menggunakan salah satu dari teori-teori konseling dari pendekatan afektif yang telah Anda pelajari. I. Kunci Jawaban 1. Menurut para ahli dari perspektif afektif, emosi merupakan aspek yang paling dominan memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku (dan gangguan perilaku). Emosi mempengaruhi pikiran dan tindakan. Cara orang berpikri dan bertindak dipengaruhi oleh keadaan emosinya. Emosi yang positif akan mengarahkan pikiran dan tindakan positif dan sebaliknya. Oleh karena itu dengan menangani emosi, maka berbagai gangguan perilaku dapat dikurangi atau dieliminasi. 2. Menurut teori konseling psikoanalisa, perilaku dipengaruhi oleh resolusi konflik-konflik intrapsikis, yakni konflik antara tiga struktur kepribadian - id, ego, dan superego - dalam usahanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu khususnya pada masa perkembangan psikoseksual, lebih khusus lagi pada enam tahun kehidupan pertama. Tidak terpenuhinya kebutuhan pada tahapan perkembangan itu menyebabkan terjadinya fiksasi, dan fiksasi ini menjadi akar bagi timbulnya permasalahan pada waktu dewasa. Konflik iontrapsikis juga terjadi di sepanjang kehidupan berkaitan dengan usaha pemuasan kebutuhan. Setiap bentuk konflik intrapsikis ini berpoternsi menimbulkan kecemasan (neurotik, realistis, dan moral) dana ketegangan karena setiap kebutuhan yang muncul selalu menimbulkan ketegangan. Jika individu tak dapat menangani kecemasan dengan cara-cara yang realistis, maka ia menggunakan mekanisme pertahanan ego. Individu yang terlaliu sering menggunakan mekanisme pertahanan ego berpotensi mengembangkan kepribadian yang tidak sehat. Sebab yang paling mendasar bagi terjadinya kesulitan adalah begitu banyaknya kebutuhan yang belum/tak terpuaskan yang tersimpan di alam bawah sadar dan menjadi materi komplek terdesak. Jika konselor dapat memahami isi dari komplek terdesdak ini, maka mereka memiliki akses yang mudah untuk membantu individu. Oleh karena itu, proses konseling dalam psikoanalisa diarahkan untuk membantu individu memperoleh pemahaman (insight) tentang hubungan antara kesulitannya dengan pengalaman traumatik masa lampau dan dengan dorongan-dorongannya yang belum atau tak terpenuhi yang ia simpan di alam bawah sadarnya. Untuk itu konselor dan konseli perlu mengetahui apa yang menjadi isi di alam bawah sadar konseli. Materi alam bawah sadar itu dapat diungkap melalui teknik asosiasi bebas, analisis dan interpretasi impian dalam suatu hubungan yang penuh empatik dan ketulusan. 3. Konseling eksistensial memusatkan perhatian pada kebermaknaan hidup. Gangguan perilaku muncul ketika individu mengalami ketidakbermaknaan. Orang yang mengalami ketidakbermaknaan akan dilanda perasaan hampa, cemas, dan takut menghadapi keadaan tidak ada (kematian). Orang mengalami kebermaknaan jika ia memiliki kebebasan untuk memilih dan dapat bertanggung jawab atas pilihannya itu dan tidak menempatkan dirinya sebagai korban lingkungan atau dikendalikan oleh nasib. Konsep tanggung jawab tersebuyt juga mengimplikasikan bahwa apa yang dipilih atau diputuskan oleh individu harus mendatangkan manfaat bagin dirinya sendiri dan orang lain dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, konseling eksistensial diarahkan pada usaha untuk membantu individu mencapai kebermaknaan dalam hidupnya dengan cara memberikan kebebasan untuk memilih dan membangun tanggung jawab pribadi bagi kehidupannya sendiri. Proses konseling berlangsung dalam bentuk hubungan yang manusiawi dan penuh respek dan kepercayaan. Konseling eksistensial tidak memiliki teknik khusus, tetapi konselor dapat meminjam berbagai teknik dari orientasi teoretik lain yang dirancang menjadi kerangka kerja eksistensial. 4. Konseling gestalt memusatkan perhatian pada integrasi (keutuhan) kepribadian. Individu memiliki masalah karena ia senang mempolarisasikanaspek-aspek kepribadiannya. Polarisasi terjadi ketika individu menolak bagian-bagian darim kepribadiannya yang tak diinginkan dan hanya menerima atau mengakui aspek-aspek yang diinginkan. Polarisasi membuat individu kehilangan jati diri dan menjadi labil karena rentan terhadap pengaruh dari luar (tidak otonom, tidak self reliant atau tidak tertentukan oleh dirinya sendiri). Orang yang mempolarisasikan dirinya tampak pada mereka yang senang membuat introyeksi, peroyeksi, dan merasa teralinasi. Problem juga muncul karena individu tidak bisa menghayati pengalamannya pada keadaan di sini dan sekarang dan senang memendam dan menunda masalah sehingga menjadi tumpukan masalah yang tak terpecahkan. Oleh karena itu, proses konseling gestalt perlu diarahkan pada upaya membantu individu membangun kesadaran tentang dan kemudian membuat kontak yang harmoni dengan diri dan lingkungannya serta mengakui dan menerima aspek-aspek dirinya yang diingkarinya. Untuk mencapai keadaan itu konselor bisa menggunakan berbagai teknik dan di antara teknik yang gestalt yang paling populer adalah bermain peran. Teknik bermain peran yang paling sering digunakan adalah kursi kosong (untuk konseling individual) dan berkeliling (untuk konseling kelompok). Konfrontasi juga sering digunakan untuk menantang (menyadarkan) ucapan-ucapan konseli yang kontradiktif. Proses konseling berlangsung suasana aliansi terapeutik yang penuh penerimaan dan kepercayaan. 5. Pokok pikiran paling inti dalam konseling Rogerian adalah bahwa gangguan perilaku terjadi karena orang mendapatkan hambatan untruk mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri merupakan suatu kecenderungan yang inheren dalam diri setiap individu dan menjadi motif yang mengarahkan semua perilakunya. Aktualiasi ini berkaitan dengan perkembangan konsep diri positif dan persepsi individu terhadap lingkungan. Jika individu mempersepsi lingkungan sebagai kondisi yang tidak bisa memahami, menerima, dan menghargai dirinya (keunikannya) maka ia akan mengembangkan konsep diri negatif. Untuk memperoleh penerimaan dan melindungi konsep dirinya, maka individu seringkali menggunakan cara-cara yang tidak adaptif dalam bentuk pembiasan dan penyangkalan terhadap realita (pengalaman). Orang yang sehat adalah orang yang terbuka terhadap pengalaman, artinya menerima semua bentuk pengalamannya baik yang menyenangkan maupun tak menyakitkan. Orang yang mengingkari pengalamannya cenderung membentuk konsep diri negatif. Proses konseling diarahkan untuk membantu individu membentuk konsep diri positif melalui pembentukan iklim hubungan yang fasilitatif, yakni suatu hubungan yang penuh empati, ketulusan, dan penghargaan. Daftar Pustaka Corey, G. 2005. Theory and Practice of Counseling & Psychotherapy. Chapter 4. "Psychoanalytic Therapy," Pp. 54-69. Belmount, CA: Brook/Cole - Thompson Learning. Fine, R. 1990. "Psychoanalysis," dalam Corsini, R. (ed.). Current Psychotherapies. Itasca, Illinois: F.E. Peacock Publishers, Inc., hal. 1 - 34. Frankl, V.E. 1963. Man's search for meaning. Boston: Beacon. Frankl, V.E. 1987. On the meaning of love. International Forum for Logotherapy, 10, 5-8. Gendlin, E.T. 1995. Experiential Psychotherapy. Dalam R.J. Corsini & D. Wedding (Eds.), Current Psychotherapies, 5th. Pp. 317-350. Itasca, Illinois; F.E Peacock. Publishers, Inc. Hackney, H.L., & Cormier, L.s. 2001. The Professional Counselor. A Process Guide to Helping. 4th. Ch. 7: 139-170. Ed. Boston: Allyn & Bacon. Hjelle, L.A., & Ziegler, D.J. 1992. Personality Theories. 3rd. ed. Chapter 11, "The Phenomenologies Perspective in Personality Theory." Pp 487-531. NY: McGraw-Hill, Inc. Kempler, W. 1995. Gestalt Therapy. Dalam R.J. Corsini & D. Wedding (Eds.), Current Psychotherapies, 5th. Chapter 7, Pp. 251-285. Itasca, Illinois; F.E Peacock. Publishers, Inc. Parrot III, L. 2003. Counseling & Psychotherapy. 2nd. Ed. Ch. 8, p.147-170. Australia: Thomson, Brooks/Cole. Perls, F. 1951. Gestalt Therapy: Excitement and Growth in the Human Personality. New York: Julian. Perls, L. 1992. Concept and misconceptions of Gestalt therapy. Journal of Humanistic Psychology, 32, 5-56. Seligman, L. 2001. System, Strategies, and Skills of Counseling and Psychotherapy. Part three, Ch. 12, pp. 233- 253. New Jersey: Upper Saddle River. Thompson, C.L., & Rudolph, L.B., & Henderson, D. 2004. Counseling Children. 6th. Ed. Ch. 3: 75-107. Australia: Thomson, Brooks/Cole Yalom, I.D. 1980. existential psychotherapy. New York: Basic Books. __________________________________________ 16