| www.unesa.ac.id | pdpt.unesa.ac.id

KAMPUS KETINTANG
Jl. Ketintang, Surabaya 60231

KAMPUS LIDAH WETAN
Jl. Lidah Wetan, Surabaya
info@unesa.ac.id

BAB 8
FileName : BAB 8.docx
FileType : application/octet-stream
FileSize : 41.99 KB
Download



Plain Text Preview

BAB VIII PENGEMBANGAN PROGRAM DAN EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi, dengan substansi program pelayanan mencakup: 1) empat bidang, 2) jenis layanan dan kegiatan pendukung, 3) format kegiatan, sasaran pelayanan 4) , dan 5) volume/beban tugas konselor. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/madrasah. Dilihat dari jenisnya, program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program, yaitu: 1. Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. 2. Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. 3. Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. 4. Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. 5. Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) >Bimbingan dan Konseling. A. Mengidentifikasi Kebutuhan (Needs Assesment) Konselor perlu mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan, dan karakteristik tugas-tugas perkembangan peserta didik, sebelum merumuskan tujuan dan rancangan program bimbingan dan konseling. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan, yaitu; 1) mengkaji kebutuhan atau masalah peserta didik yang nyata dilapangan, 2) mengkaji harapan sekolah dan masyarakat terhadap peserta didik, 3) ketersediaan sumberdaya (guru pembimbing/ konselor), 4) ketersediaan fasilitas pendukung. Kebutuhan atau masalah siswa dapat diidentifikasi melalui 1) karakteristik siswa, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, minat-minatnya, masalah yang dialami, dan kepribadian atau tugas-tugas perkembangnnya sebagai landasan untuk memberikan layanan bimbingan. Terdapat beberapa instrumen atau inventori yang telah dikembangkan untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa, diantaranya AUM (Alat Ungkap Masalah) yang dikembangkan oleh Prayitno dkk. Instrumen Identifikasi Masalah Siswa dan Motivasi yang dikembangkan Syamsu Yusuf L.N, dan Inventori Tugas-tugas perkembangan yang dikembangkan oleh Sunaryo Kartadinata dkk. B. Pengembangan Program Bimbingan di Sekolah Dasar Tugas pembimbing di sekolah dasar (Guru dan/ atau Konselor) dalam melaksanakan bimbingan adalah; menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi program bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya (Kepmenpan nomor 93, 1995) Kapunan (dalam Gunawan, 2001) menyebutkan tujuh (7) program bimbingan di Sekolah Dasar, yaitu: 1) orientasi terhadap lingkungan sekolah, 2) Persiapan untuk melanjutkan ke tingkat sekolah yang lebih lanjut, 3) Program testing, 4) Daftar pencatatan pribadi, 5) Program pengajaran remedial, 6) Bimbingan terhadap kegiatan-kegiatan di luar kelas, dan 7) Kerjasama dengan orang tua siswa berikut ini dijelaskan ketujuh program bimbingan di sekolah dasar. 1. Orientasi terhadap lingkungan sekolah. Program ini sangat dibutuhkan anak yang baru pertama kali masuk ke dalam lingkungan sekolah. Sekolah merupakan tempat yang asing bagi anak, karena jauh dari lindungan rasa aman keluarganya. Anak akan bertemu dengan banyak wajah baru, baik itu guru ataupun teman kelasnya. Anak yang manja, pemalu, atau agresif akan menemui banyak kesulitan dalam proses penyesuaian dalam lingkungan yang baru itu. Guru kelas satu harus dapat bertindak sebagai pengganti ibunya, yang akan membantu anak secara bertahap menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah. Melalui program bimbingan, anak-anak akan merasakan pengalaman sekolah sebagai pengalaman yang menyenangkan. 2. Persiapan untuk melanjutkan ke tingkat sekolah yang lebih lanjut. Anak yang akan lulus dan sedang duduk di kelas akhir memerlukan bantuan untuk melanjutkan diri ke sekolah lanjutan pertama. Guru kelas enam mempunyai tugas ini dan kerjasama dengan sekolah lanjutan perlu diadakan. Guru dapat meminta brosur atau leaflet sekolah lanjutan, lalu memberikan atau menginformasikan kepada anak-anak. Guru dapat mengunjungi sekolah-sekolah lanjutan untuk mengenal situasi sekolah menengah. Program ini dapat membantu anak dalam masa transisi ke sekolah lanjutan. 3. Program testing. Tes yang dibakukan sebauknya diberikan pada awal anak masuk sekolah. Tes prestasi dan inventori minat dapat diberikan secara berkala. Hasil observasi dan tes dapat dipakai sebagai dasar untuk menilai anak dalam proses belajar dan penyesuaian di sekolah. 4. Daftar pencatatan pribadi atau cumulative records Daftar pencatatan pribadi atau cumulative records dapat dibuat pada setiap kelas secara kontinu dan dapat dilanjutkan pada sekolah lanjutannya. Data ini dapat dipakai membantu anak agar ia dapat dengan lebih baik memahami diri dan lingkungannya, dan membantunya membuat perencanaan masa depannya, baik kesejahteraannya maupun perkembangannya. 5. Program pengajaran remedial. Program ini sebaiknya diberikan kepada anak yang lambat dan mengalami kesukaran belajar atau kesukaran penyesuaian terhadap lingkungannya. 6. Bimbingan terhadap kegiatan-kegiatan di luar kelas. Program ini merupakan program ekstrakurikuler seperti program pembinaan OSIS, drama, olah raga, dan kegiatan kemasyarakatan. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan perasaan "memiliki" sekolah dan masyarakat pada diri siswa sekolah dasar. 7. Kerjasama dengan orang tua siswa. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam perkembangan anak. Pertemuan orang tua siswa secara teratur akan membawa manfaat bagi perkembangan anak-anak di sekolah dasar. Kunjungan guru dan konselor ke rumah orang tua siswa dapat menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan orang tua siswa. Demikian pula pertemuan orang tua siswa dan guru sangat bermanfaat bagi keselarasan hubungan sekolah dengan orang tua, sehingga sangat bermanfaat bagi perkembangan anak baik di sekolah maupun di keluarga. Selain program bimbingan di atas, terdapat juga struktur program bimbingan di sekolah dasar yang komprehensif terdiri atas empat komponen yaitu; 1) layanan dasar bimbingan, 2) layanan responsif, 3) sistem perencanaan individual, dan 4) pendukung sistem (Muro dan Kottman, 1995; Sara Chapman, 1993; Kartadinata, 1999). di bawah ini diuraikan keempat struktur program bimbingan di atas. 1. Layanan Dasar Bimbingan Tujuan layanan dasar bimbingan adalah membantu seluruh siswa mengembangkan ketrampilan dasar untuk kehidupan. Komponen ini merupakan landasan bagi program bimbingan. Isi layanan dasar bimbingan adalah hal-hal umum yang perlu dikembangkan bagi seluruh siswa melalui layanan bimbingan dan konseling dalam membantu siswa mengembangkan ketrampilan hidup dan perilaku efektif. Fungsi layanan dasar bimbingan lebih bersifat pengembangan karena merupakan upaya menyiapkan isi bimbingan secara sistemik bagi seluruh murid. Materi layanan dasar lebih berkaitan dengan bimbingan pribadi, yang lebih terfokus pada pengembangan aspek-aspek kepribadian yang menyangkut pemahaman diri dan lingkungan, kemampuan memecahkan masalah, konsep diri, kehidupan emosi, identitas diri, dan bimbingan menjadi pribadi yang mandiri. 2. Layanan Responsif Tujuan komponen layanan responsif adalah mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkaitan dengan masalah sosial-pribadi, karir dan masalah belajar.Isi layanan responsif adalah hal-hal yang menjadi kepedulian siswa dalam jangka pendek, yang terjadi dan dirasakan saat ini yang perlu mendapat intervensi bimbingan dan konseling. Topik-topik yang relevan dengan masalah di sekolah meliputi; masalah kehadiran, hubungan dengan teman sebaya, keterampilan studi, penyesuaian di sekolah baru. sedangkan topik-topik yang berkaitan dengan masalah pribadi adalah ketidakmampuan menentukan karir, pilihan lanjutan sekolah, kematian anggota keluarga, masalah perceraian, masalah keluarga, masalah seksual. Layanan responsif bersifat preventif dan remidial. Preventif dengan arti bahwa pemberian intervensi terhadap siswa agar mereka terhindar dari pilihan yang tidak sehat atau tidak memadai, atau membawa anak agar mampu menentukan pada pilihan pada situasi tertentu. Remidial dengan arti bahwa pemberian intervensi terhadap siswa yang telah memiliki pilihan yang salah atau mereka tidak memiliki kemampuan dalam memecahkan masalahnya. Teknik pemberian layanan berupa konsultasi individual atau siswa dalam kelompok kecil, mengamati siswa untuk mengidentifikasi masalah, konsultasi dengan guru dan orang tua, bersama guru dan orang tua membuat program rujukan, melakukan koordinasi dengan ahli lain dan melakukan pengawasan terhadap kemajuan siswa. 3. Sistem Perencanaan Individual. Tujuan sistem perencanaan individual adalah membimbing siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan siswa untuk memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Melalui sistem perencanaan individual, siswa dapat; a) mempersiapkan pendidikan, karir, tujuan sosial pribadi yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja dan masyarakatnya, b) merumuskan rencana jangka panjang, menengah dan jangka pendek, c) menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuan. d) mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya, e) mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya. 4. Pendukung Sistem Komponen pendukung sistem lebih diarahkan pada pemberian layanan dan kegiatan manajemen yang tidak secara langsung bermanfaat bagi siswa. layanan ini mencakup; a) konsultasi dengan guru-guru, b) kerjasama dalam melaksanakan riset yang relevan, c) pengembangan staf dan d) pemanfaatan sumber daya masyarakat. Winkel & Hastuti (2004) mengemukaan sejumlah pelayanan bimbingan dan konseling yang disebutnya sebagai komponen program bimbingan, yang meliputi layanan pengumpulan data, layanan informasi dan oriantasi, layanan penempatan, layanan konseling, layanan konsultasi, dan layanan evaluasi. Apa yang dikemukakan oleh Winkel dan Hastuti tersebut mewakili bentuk pelayanan tradisonal bimbingan dan konseling (Gibson dan Mitchell, 1995). Sedangkan Shertzer dan Stone (1981) mengemukakan enam komponen utama yang menjadi bidang pelayanan bimbingan dan konseling sekolah, yakni: Berikut adalah deskripsi singkat dari masing-masing bidang pelayanan tersebut. 1. Layanan pengumpulan data. Layanan pengumpulan data juga sering disebut dengan layanan apraisal atau asesmen individual. Layanann ini diberikan untuk membantu peserta didik mengenali potensi dan karakteristik dirinya melalui suatu prosedur yang sistematis. Layanan ini sering dipandang sebagai layanan mendasar dari seluruh kegiatan bimbingan karena memberikan data dasar yang akan/dapat digunakan oleh pembimbing/konselor untuk memahami setiap peserta didik dan mengembangkan program-program bimbingan yang relevan, dalam arti sesuai dengan masalah, kebutuhan, minat, dan potensi peserta didik. Layanan pengumpulan data dilakukan dengan mengadministrasikan berbagai teknik dan instrumen pengumpul data, baik teknik tes maupun non tes. Teknik tes dibedakan dalam bentuk tes terstandar (umumnya dalam bentuk tes psikologis yang sudah dibakukan) dan tidak terstandar tes tidak terstandar (tes yang dikembangkan sendiri untuk mengukur data tertentu pada waktu tertentu). Teknik-teknik non tes dapat berupa pengamatan atau observasi, wawancara, laporan diri (di antara teknik laporan diri yang sering digunakan adalah inventori dan angket). 2. Layanan informasi. Layanan informasi adalah layanan bimbingan yang ditujukan untuk memberi informasi yang relevan, obyektif dan aktual kepada peserta didik tentang berbagai hal yang berkaitan dengan dirinya dan lingkungannya. Secara operasional, layanan informasi dapat diberikan dalam bentuk pemberian informasi tentang proses perkembangan, bakat dan minat, perkembangan dan tuntutan karir di masyarakat, kurikulum, program studi, bahaya narkoba, cara belajar efektif, etika pergaulan, tata tertib sekolah, program ekstra kurikuler sekolah, berbagai organisasi yang ada di masyarakat, dsb. Kegiatan ini dapat diberikan secara langsung pada siswa melalui pertemuan tatap muka diu kelas, atau secara tidak langsung melalui brosur, papan bimbingan, atau melalui teknologi dan media bimbingan yang lain. Termasuk dalam layanan informasi ini adalah layanan orientasi, yakni layanan bimbingan untuk membantu peserta didik mengenali dan memahami obyek belajar dan lingkungan baru sehingga mereka dapat menyesuaikan dirinya dengan baik. Salah satu contoh layanan orientasi adalah memperkenalkan siswa baru dengan lingkungan sekolah beserta dengan segala seluk beluknya (kurikulum, kegiatan intra dan ekstrakurikuler, tata tertib, layanan bimbingan sekolah, laboratorium yang ada). 3. Layanan penempatan dan penyaluran. Layanan penempatan dan penyaluran tan bimbingan yang ditujukan untuk membantu peserta didik menemukan atau memperoleh lingkungan belajar yang tepat dalam arti kondusif untuk mendorong prestasi dan perkembangan dirinya. Dalam bentuknya yang konkrit, layanan ini dapat berupa aktivitas membantu peserta dirik untuk memilih dan memperoleh kelompok belajar yang tepat, menempatkan peserta didik di kelas yang tepat, menyalurakan peserta didik dalam kegiatan intra dan ekstra kurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya, menempatkan peserta didik di bangku yang tepat sehingga ia dapat menerima pelajaran dan berkonsentrasi dengan baik. Layanan penempatan ini tentu saja didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang siswa dan pemahaman ini didasarkan pada data yang diperoleh dari kegiatan layanan pengumpulan data. 4. Layanan konseling. Layanan konseling berkenaan dengan up[aya membantu peserta didik untuk menangani berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya baik masalah pribadi, akademik, karir, atau sosial melalui konseling (lihat definisi konseling pada unit 1). Konseling harus diberikan oleh tenaga profesional (memiliki kompetensi dan lisensi untuk melakukannya), disebut konselor. Oleh karena itu tenaga kependidikan lain di luar konselor tidak boleh memberikan konseling kecuali mereka memiliki sertifikat dan lisensi yang mengijinkannya untuk memberikan konseling. Sertifikat dan lisensi untuk memberikan konseling dapat diperoleh melalui pendidikan pada program S1 bimbingan dan konseling atau melalui pendidikan profesi konselor. Konseling dapat diberikan melalui format individual (konselor mengkonseling satu orang peserta didik) atau melalui format kelompok (konselor mengkonseling dua atau lebih peserta didik). Tentang apakah konselor akan menggunakan format individual atau kelompok tergantung pada beberapa hal seperti karakteristik masalah dan pribadi peserta didik, jumlah peserta didik yang mendesak untuk segera ditangani, kesanggupan konselor, dan waktu yang tersedia). Dalam beberapa hal, konseling dengan format kelompok (disebut konseling kelompok) dipandang lebih efisien dibandingkan dengan konseling dengan format individual (disebut konseling individual), sebab dalam waktu yang bersamaan konselor dapat menangani sejumlah peserta didik sekaligus. 5. Layanan bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok dimaksudkan agar para anggota kelompok secara bersama-sama memperoleh pemahaman berbagai informasi tentang topik yang dibahas bersumber dari pemimpin kelompok atau dari anggota kelompok. Hasil bahasan dapat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik secara individual maupun sebagai anggota keluarga, dan anggota masyarakat. Oleh karena itu topik bahasan yang muncul dalam kelompok, hendaklah dibahas secara`tuntas. Dalam proses pembahasannya, diharapkan menghasilkan: (1) terbinanya hubungan baik dan saling pengertian antara anggota kelompok, (2) berkembangnya kemampuan berkomunikasi anggota kelompok, (3) munculnya pandangan dan ide-ide baru dari anggota kelompok, (4) diperolehnya pemahaman baru terhadap berbagai situasi dan kondisi lingkungan, dan (5) mampu mengembangkan tindakan nyata untuk mencapai perilaku dan kebiasaan produktif 6. Layanan konsultasi. Konsultasi merupakan suatu proses membantu peserta didik melalui pihak ketiga atau membantu suatu sistem untuk meningkatkan pelayanannya kepada klien. Terdapat dua model konsultasi yang populer (biasa digunakan), yakni model triadik dan model proses. Dalam model triadik, konselor membantu pihak ketiga (misalnya orang tua) untuk menangani anak mereka yang sering membuat ulah (troubel maker) atau tergolong nakal (delinquent), atau membantu guru untuk manangani kesulitan siswa dalam menerima pelajaran. Dalam model proses, perhatian diberikan pada proses yang digunakan oleh suatu sistem atau lembaga dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dalam layanan konsultasi, peran konselor adalah sebagai konsultan bagi pihak ketiga dan tidak secara langsung berhubungan dengan individu yang dibantu. Dapat dikatakan, layanan konsultasi di sekolah merupakan suatu bentuk layanan bimbingan yang ditujukan untuk membantu pihak lain (orang tua dan guru) memperoleh pemahaman yang memadai tentang peserta didik dan cara-cara yang perlu dilakukan untuk menangani kondisi atau masalah peserta didik. 7. Layanan evaluasi. Layanan evaluasi tidak diberikan kepada siswa tetapi dilakukan untuk menilai keterlaksanaan, keefektifian, dan efisiensi program-program bimbingan dan konseling itu sendiri. Idealnya dilakukan dua macam evaluasi terhadap pelaksanaan program bimbingan dan konseling, yakni evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses dilaksanakan untuk memperoleh data guna menilai keterlaksanaan fungsi-fungsi bimbingan. Evaluasi proses memberikan data-data yang dapat digunakan untuk menimbang apakah prosedur-prosedur bimbingan dapat terus dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan dan diganti dengan prosedur lain. Sedangkan evaluasi hasil dilaksanakan untuk mengumpulkan data guna menimbang nilai guna (keefektifan) dari program, dalam arti apakah implementasi program dapat memberikan dampak positif yang dibuktikan oleh adanya perubahan perilaku pada diri peserta didik yang dilayani. Dengan demikian, evaluasi proses menyerupai evaluasi formatif dan evaluasi hasil menyerupai evaluasi sumatif dalam bidang pembelajaran. Dalam model pengembangan diri yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum balitbang Depdiknas (2007), selain beberapa bentuk pelayanan tersebut juga disebutkan bentuk pelayanan penguasaan konten dan pelayanan mediasi. Pelayanan penguasaan konten adalah layanan yang diberikan untuk membantu peserta didik menguasai konten tertentu, khususnya kompetensi dan/atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sedangkan layanan mediasi ditujukan untuk membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antara mereka. Pada hakekatnya, layanan konten dan mediasi hanyalah semacam perluasan dari layanan yang sudah dan tidak begitu signifikan, karena apa yang menjadi sasaran layanan penguasaan konten dan mediasi telah dapat diselesaikan melalui layanan informasi, konseling, atau konsultasi. Program bimbingan di sekolah dasar dapat berbentuk Matrik sebagai berikut. EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH Pengertian , Tujuan dan Fungsi Evaluasi Penilaian merupakan langkah penting dalam manajemen program bimbingan. Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberhasilan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Penilaian program bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain bahwa keberhasilan program dalam pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat lewat kegiatan penilaian. Sehubungan dengan penilaian ini, Shertzer dan Stone (1966) mengemukakan pendapatnya: "Evaluation consist of making systematic judgements of the relative effectiveness with which goals are attained in relation to special standards". Evaluasi ini dapat pula diartikan sebagai proses pengumpulan informasi (data) untuk mengetahui efektivitas (keterlaksanaan dan ketercapaian) kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Pengertian lain dari evaluasi ini adalah suatu usaha mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan sikap dan perilaku, atau tugas-tugas perkembangan para siswa melalui program kegiatan yang telah dilaksanakan. Penilaian kegiatan bimbingan di sekolah adalah segala upaya, tindakan atau proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan di sekolah dengan mengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan. Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan siswa dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu siswa memperoleh perubahan perilaku dan pribadi ke arah yang lebih baik. Dalam keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling, penilaian diperlukan untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektivan layanan bimbingan yang telah dilaksanakan. Dengan informasi ini dapat diketahui sampai sejauh mana derajat keberhasilan kegiatan layanan bimbingan. Berdasarkan informasi ini dapat ditetapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya. Kegiatan evaluasi bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan dari program yang telah ditetapkan. Adapun fungsi evaluasi program bimbingan dan konseling di sekolah adalah: 1. Memberikan umpan balik (feed back) kepada guru pembimbing konselor) untuk memperbaiki atau mengembangkan program bimbingan dan konseling. 2. Memberikan informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, dan orang tua siswa tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat ketercapaian tugas-tugas perkembangan siswa, agar secara bersinergi atau berkolaborasi meningkatkan kualitas implementasi program BK di sekolah. B. Aspek-aspek yang Dievaluasi Ada dua macam aspek kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu penilain proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana keefektivan layanan bimbingan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan layanan bimbingan dilihat dari hasilnya. Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil antara lain: 1. Kesesuaian antara program dengan pelaksanaan; 2. Keterlaksanaan program; 3. Hambatan-hambatan yang dijumpai; 4. Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar; 5. Respon siswa, personil sekolah, orang tua, dan masyarakat terhadap layanan bimbingan; 6. Perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian tujuan layanan bimbingan, pencapaian tugas-tugas perkembangan, dan hasil belajar; dan keberhasilan siswa setelah menamatkan sekolah baik pada studi lanjutan ataupun pada kehidupannya di masyarakat. Apabila dilihat dari sifat evaluasi, evaluasi bimbingan dan konseling lebih bersifat "penilaian dalam proses" yang dapat dilakukan dengan cara berikut ini. 1. Mengamati partisipasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan layanan bimbingan. 2. Mengungkapkan pemahaman siswa atas bahan-bahan yang disajikan atau pemahaman/pendalaman siswa atas masalah yang dialaminya. 3. Mengungkapkan kegunaan layanan bagi siswa dan perolehan siswa sebagai hasil dari partisipasi/aktivitasnya dalam kegiatan layanan bimbingan. 4. Mengungkapkan minat siswa tentang perlunya layanan bimbingan lebih lanjut. 5. Mengamati perkembangan siswa dari waktu ke waktu (butir ini terutama dilakukan dalam kegiatan layanan bimbingan yang berkesinambungan). 6. Mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyelenggaraan kegiatan layanan. Berbeda dengan hasil evaluasi pengajaran yang pada umumnya berbentuk angka atau skor, maka hasil evaluasi bimbingan dan konseling berupa deskripsi tentang aspek-aspek yang dievaluasi (seperti partisipasi/aktivitas dan pemahaman siswa; kegunaan layanan menurut siswa; perolehan siswa dari layanan; dan minat siswa terhadap layanan lebih lanjut; perkembangan siswa dari waktu ke waktu; perolehan guru pembimbing; komitmen pihak-pihak terkait; serta kelancaran dan suasana penyelenggaraan kegiatan). Deskripsi tersebut mencerminkan sejauh mana proses penyelenggaraan layanan/pendukung memberikan sesuatu yang berharga bagi kemajuan dan perkembangan dan/atau memberikan bahan atau kemudahan untuk kegiatan layanan terhadap siswa. C. Langkah-langkah Evaluasi Dalam melaksanakan evaluasi program ditempuh langkah-langkah berikut. 1. Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Karena tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengambil keputusan, maka konselor perlu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan hal-hal yang akan dievaluasi. Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya terkait dengan dua aspek pokok yang dievaluasi yaitu : (1) tingkat keterlaksanaan program (aspek proses), dan (2) tingkat ketercapaian tujuan program (aspek hasil). 2. Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data. Untuk memperoleh data yang diperlukan, yaitu mengenai tingkat keterlaksanaan dan ketercapaian program, maka konselor perlu menyusun instrumen yang relevan dengan kedua aspek tersebut. Instrumen itu diantaranya inventori, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan studi dokumentasi. 3. Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah data diperoleh maka data itu dianalisis, yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah dan belum tercapai. 4. Melakukan tindak lanjut (Follow Up). Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan ini dapat meliputi dua kegiatan, yaitu (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat, atau kurang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai, dan (2) mengembangkan program, dengan cara merubah atau menambah beberapa hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas atau efektivitas program. Penilaian di tingkat sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah yang dibantu oleh pembimbing khusus dan personel sekolah lainnya. Di samping itu penilaian kegiatan bimbingan dilakukan juga oleh pejabat yang berwenang (pengawas bimbingan dan konseling) dari instansi yang lebih tinggi (Departemen Pendidikan Nasional Kota atau kabupaten). Sumber informasi untuk keperluan penilaian ini antara lain siswa, kepala sekolah, para wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, tokoh masyarakat, para pejabat depdikbud, organisasi profesi bimbingan, sekolah lanjutan, dan sebagainya. Penilaian dilakukan dengan menggunakan berbagai cara dan alat seperti wawancara, observasi, studi dokumentasi, angket, tes, analisis hasil kerja siswa, dan sebagainya. Penilaian perlu diprogramkan secara sistematis dan terpadu. Kegiatan penilaian baik mengenai proses maupun hasil perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dalam tindak lanjut untuk perbaikan dan pengembangan program layanan bimbingan. Dengan dilakukan penilaian secara komprehensif, jelas dan cermat maka diperoleh data atau informasi tentang proses dan hasil seluruh kegiatan bimbingan dan konseling. Data dan informasi ini dapat dijadikan bahan untuk pertanggungjawaban/ akuntabiltas pelaksanaan program bimbingan dan konseling. Minimal evaluasi dilakukan pada akhir tahun ajaran dan menjadi slaah satu dasar pengembangan program untuk tahun ajaran berikutnya. Evaluasi proses sebaiknya dilakukan setiap bulan melalui forum pertemuan staf (MGBK di sekolah) dan dapat dihadiri oleh unsur pimpinan sekolah. Konselor dapat mengembangkan instrumen yang dapat menjaring umpan balik secara triangulasi yaitu dari siswa sebagai objek dan subjek bimbingan, dari pendidik di sekolah sebagai person yang terlibat dan berinteraksi langsung dengan siswa, pimpinan sekolah terkait dengan ketercapaian tujuan dan dukungan terhadap program sekolah, orang tua terkait dengan perubahan perilaku dan perkembangan siswa. Dokumen pelaksanaan evaluasi menjadi salah satu indikator unjuk kerja konselor. 118