| www.unesa.ac.id | pdpt.unesa.ac.id

KAMPUS KETINTANG
Jl. Ketintang, Surabaya 60231

KAMPUS LIDAH WETAN
Jl. Lidah Wetan, Surabaya
info@unesa.ac.id

kegiatan belajar - mengidentifikasi serat tekstil
FileName : kegiatan belajar - mengidentifikasi serat tekstil.doc
FileType : application/msword
FileSize : 4.5 MB
Download



Plain Text Preview

B A B 1 KLASIFISIKASI SERAT TEKSTIL A. PENDAHULUAN Serat adalah sebuah zat yang panjang, tipis, dan mudah dibengkokkan. Panjang serat beberapa ratus kali lebarnya. Ditinjau dari segi zat kimia penyusunnya, serat tekstil tersusun atas molekul-molekul yang sangat besar yaitu berupa selulose, protein, thermoplastics atau mineral. Berdasarkan asal zat kimia seratnya, serat dikelompokkan menjadi serat alam dan serat buatan. Serat alam adalah serat yang molekulnya terbentuk secara alami. Serat alam dikelompokkan ke dalam serat yang berasal dari tumbuhan dan yang berasal dari hewan. Serat tumbuhan dapat diperoleh dari bagian biji, batang, daun atau buahnya. Serat hewan dapat diperoleh dari bagian bulu atau rambut binatang. Serat buatan adalah serat yang molekulnya disusun secara sengaja oleh manusia. Serat buatan dikelompokkan ke dalam serat alam yang diolah kembali, serat setengah buatan (bahan dari serat alam dan bahan kimia buatan), serat buatan (murni dari bahan kimia buatan). Bagan klasifikasi serat tekstil seperti pada Gambar 1.1. B. Serat Alam a. Serat selulose Selulose merupakan bahan utama pada tumbuh-tumbuhan. Jumlah kandungan selulose pada serat berbeda-beda, rayon mengandung 100%, kapas 91% dan lenan 70% selulose. Jumlah kandungan selulose yang besar pada serat yang berbeda menyebabkan serat-serat ini mempunyai sifat-sifat kimia yang sama. 1) Serat kapas Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk dalam jenis gossypium, yaitu 1) Gossypium arboreum, 2) Gossypium herbareum, 3) Gossypium barbadense, dan 4) Gossypium hirsutum. Tiap jenis tanaman kapas tersebut menghasilkan kapas yang mutunya sangat khas. - Gossypium barbadense disebut juga kapas sea island, merupakan jenis yang menghasilkan kapas yang bermutu sangat tinggi karena panjang serat 38 - 55 mm, halus dan berkilau. - Gossypium arboreum dan gossypium herbareum menghasilkan serat yang pendek yaitu 7 - 25 mm. - Gossypium hirsutum disebut juga kapas upland, menghasilkan serat panjang 25 - 35 mm. Serat kapas diperoleh dari buah kapas. Buah kapas yang sudah matang dipetik, bulu-bulunya dipisahkan dari bijinya, dibersihkan dan dipintal. Bulu-bulu pendek yang masih melekat pada biji-biji kapas tersebut disebut linter. Kapas terutama tersusun atas selulose. Selulose dalam kapas mencapai 94 % dan sisanya terdiri atas protein, pektat, lilin, abu dan zat lain. Proses pemasakan dan pemutihan serat akan mengurangi jumlah zat bukan selulose dan meningkatkan persentase selulose. Penampang serat a) Membujur Bentuk memanjang serat kapas, pipih seperti pita yang terpuntir. Bentuk memanjang serat, dibagi menjadi tiga bagian, antara lain: dasar, badan dan ujung. - Dasar Berbentuk kerucut pendek yang selama pertumbuhan serat pertumbuhan serat tetap tertanam di antara sel-sel epidermis. Dalam proses pemisahan serat dari bijinya, pada umumnya dasar serat ini putus sehingga jarang ditemukan pada saat kapas diperdagangkan. - Badan Merupakan bagian utama dari serat, kira-kira 3/4 sampai 15/16 panjang serat. Bagian ini mempunyai diameter yang sama, dinding yang tebal, dan lumen yang sempit. - Ujung Merupakan bagian yang lurus dan mulai mengecil dan pada umumnya kurang dari 1/4 bagian panjang serat. Diameter bagian ini lebih kecil dari diameter badan dan berakhir dengan ujung yang runcing. b) Melintang Bentuk penampang serat kapas sangat bervariasi dari pipih sampai bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Serat kapas dewasa, penampang lintangnya terdiri dari 6 bagian. 1. Kutikula Merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin dan protein. Adanya lilin menyebabkan lapisan ini halus, sukar tembus air dan zat pewarna. Berfungsi melindungi bagian dalam serat. 2. Dinding primer Merupakan dinding tipis sel yang asli, terutama terdiri dari selulose tetapi juga mengandung pektin, protein, dan zat-zat yang mengandung lilin. Selulose dalam dinding primer berbentuk benang yang sangat halus yang tidak tersusun sejajar sepanjang serat tetapi membentuk spiral mengelilingi sumbu serat. 3. Lapisan antara Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit berbeda dengan dinding primer. 4. Dinding sekunder Merupakan lapisan-lapisan selulose, yang merupakan bagian utama serat kapas. Dinding ini juga merupakan lapisan benang yang halus yang membentuk spiral mengelilingi sumbu serat. Arah putarannya berubah-ubah. 5. Dinding lumen Dinding lumen lebih tahan terhadap zat kimia tertentu dibanding dinding sekunder. 6. Lumen Merupakan ruang kosong di dalam serat. Bentuk dan ukurannya bervariasi dari serat ke serat lain maupun sepanjang satu serat. Gambar 1.2 berikut adalah penampang serat kapas. Melintang Membujur Gambar 1.2 Gambar penampang serat kapas 2) Flax Flax adalah serat yang diambil dari batang linum usitatissimun. Benang dan kain yang dibuat dari serat flax lebih dikenal dengan nama linen. Untuk memperoleh serat yang baik umumnya penuaian dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh buah, bagian bawah batang berubah menjadi kuning dan daun-daun bagian bawah telah gugur. Proses pengolahan dimulai dengan mencabut dan memotong batang flax dan memisahkan biji dengan sisir. Batang selanjutnya dibusukkan dengan air panas 40o C selama tiga atau empat hari, untuk memisahkan seratnya. Setelah pembusukan, batang dikeringkan dalam mesin kemudian serat dilepas dengan cara memisahkan kulit batang dari kayunya. Serat flax kering terdiri dari 75 % selulose, 15 % hemi selulose dan selebihnya pektin, lignin, malam dan zat-zat yang larut dalam air. Terdapatnya hemi selulose mempengaruhi ketahanan terhadap asam dan basa. Penampang serat a) Membujur Bentuk memanjang serat seperti silinder dan kedua ujungnya meruncing dengan lumen yang sempit dan menghilang pada kedua ujungnya. b) Melintang Serat flax pada umumnya berbentuk segi banyak dengan dinding sel yang tebal dan lumen yang kecil. (Lihat Gambar 1.3). Melintang Membujur Gambar 1.3 Gambar penampang serat flax 3) Henep Henep adalah serat yang diperoleh dari batang tanaman cannabis sativa. Tanaman henep adalah tanaman tahunan, mempunyai batang yang kecil dan tinggi. Serat henep dipisahkan dengan cara mencabut dan memotong batang tanaman, mengeringkan batang dan memisahkan biji, membusukkan batang, melepaskan serat dari batang, menyisir serat, dan memintal serat. Serat henep kering mengandung 75 % selulose, 17 % hemi selulose dan sisanya terdiri dari pektin, lignin, lilin, dan zat-zat yang larut dalam air. Penampang serat a) Membujur Serat henep berbentuk silinder dengan ujung sel yang tumpul dan kadang-kadang bercabang. Lumen di bagian ujung serat menyempit. b) Melintang Penampang menunjukkan serat berbentuk segi banyak membulat dengan dinding sel yang tebal dan lumen agak pipih. (Lihat Gambar 1.4). Melintang Membujur Gambar 1.4 Gambar penampang serat henep 4) Rami Rami adalah serat yang diperoleh dari batang tanaman boehmeria nivea. Tanaman rami merupakan tanaman berumur panjang dengan batang yang tinggi, kecil dan lurus. Rami mulai dapat dituai dengan hasil optimum apabila batang bagian bawah berwarna kekuning-kuningan atau coklat muda, daun bagian bawah mulai menjadi kuning, dan ujung tanaman baru mulai tumbuh. Kulit batang dipecah dengan cara dipukul-pukul batangnya, kemudian serat dipisahkan dengan cara dikerok. Untuk menghilangkan getah, lilin dan pektin serat rami direndam dalam larutan soda kaustik panas. Serat rami mentah kering tersusun kira-kira oleh 75 % selulose, 16 % hemi selulose, dan selebihnya terdiri dari pektin, lignin, zat-zat yang larut dalam air, dan lemak. Dengan proses pemisahan kadar selulose menjadi 96 - 98 %. Penampang serat a) Membujur Bentuk memanjang seperti silinder dengan permukaan bergaris-garis dan berkerut-kerut membentuk benjolan-benjolan kecil. b) Melintang Bentuk lonjong memanjang dengan dinding sel yang tebal dan lumen yang pipih. Ujung sel tumpul dan tidak berlumen. (Lihat Gambar 1.5). Melintang Membujur Gambar 1.5 Gambar penampang serat rami b. Serat protein 1) Sutera Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut lepidoptera. Serat sutera adalah satu-satunya serat alam yang berbentuk filament dihasilkan dari kepompong ulat sutera. Jenis serat sutera yang terbaik ialah yang berasal dari kepompong ulat sutera jenis bombyx mori. Jenis serat sutera lain diperoleh dari ulat sutera liar yaitu jenis ulat sutera tusah, serat sutera yang dihasilkan lebih kasar dan sulit diwarnai. Ulat sutera mengeluarkan zat sutera (fibroin) dari mulutnya membentuk filament. Filament tersebut dibalut oleh zat perekat (serisin). Bila terkena udara fibroin dan serisin akan mengeras. Keadaan tersebut terjadi dari dalam dan menambah lapisan demi lapisan sehingga membentuk lapisan pelindung yaitu kepompong. Pembentukan kepompong berlangsung selama 2 hari. Proses pengolahan kepompong dilakukan dengan cara yaitu sejumlah kepompong direndam dalam air panas supaya serisinnya melunak untuk memudahkan melepaskan filament dari kepompong. Kepompong disikat untuk menemukan ujung filament, kemudian diperoleh sutera mentah. Sutera mentah selanjutnya dimasak dengan air sabun untuk menghilangkan serisinnya, sehingga sutera menjadi lunak, berwarna putih, berkilau, dan mudah menyerap pewarna. Sutera mentah tersusun oleh 76 % protein fibroin (serat), 22 % protein serisin (perekat), 1,5 % lilin dan 0,5 % garam-garam mineral. Serisin adalah protein yang melindungi serat dari kerusakan, namun pada proses penyempurnaan serat sutera, protein ini dihilangkan dengan pemasakan. Fibroin merupakan protein yang menjadi bagian utama dari serat. Filament sutera mentah terdiri atas dua serat fibroin yang terbungkus di dalam serisin. Penampang serat a) Membujur Serat sutera tusah memiliki penampang membujur bergaris-garis dengan lebar tidak merata. Serat sutera anaphe mempunyai bentuk bergaris-garis pada jarak tertentu sepanjang serat. b) Melintang Penampang lintang serat sutera tusah berbentuk pasak. Penampang lintang serat sutera anaphe berbentuk segitiga yang melengkung. Penampang lintang serat sutera bombyx mori berbentuk segitiga dengan sudut-sudut yang membulat. (Lihat Gambar 1.6). Melintang Membujur Gambar 1.6 Gambar penampang serat sutera tusah (atas) Gambar penampang bombyx mori (bawah) 2) Wool Wool merupakan serat yang berasal dari bulu biri-biri atau binatang berbulu lainnya. Serat wool dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu wool halus, wool sedang, dan wool kasar. Wool halus bersifat lembut, kuat elastik, dan keriting sehingga dapat dibuat benang halus. Wool sedang umumnya dihasilkan dari bulu biri-biri yang berasal dari Inggris. Serat lebih kasar, lebih panjang, dan lebih berkilau dari wool halus. Wool kasar kebanyakan dihasilkan oleh biri-biri yang hidup dalam kondisi primitif. Warna serat wool lebih bervariasi dari putih hingga hitam. Penampang serat Bentuk penampang lintang serat wool bervariasi dari bulat sampai lonjong. Penyimpangan dari bentuk bulat biasanya dinyatakan dengan perbandingan antara sumbu panjang dengan sumbu pendek. Perbandingan tersebut untuk bermacam-macam wool mempunyai harga tetap. (Lihat Gambar 1.7). Melintang Membujur Gambar 1.7 Gambar penampang serat wool c. Serat mineral 1) Serat asbes Nama asbes berarti tidak dapat dibakar. Didasarkan pada panjang serat, serat asbes yang dapat dipertimbangkan untuk pembuatan tekstil adalah 3/8 inci ke atas. Asbes digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu asbes amphibole dan asbes serpentine. Dari golongan asbes amphibole hanya crocidolite yang terpakai sebagai serat tekstil. Sedangkan dari golongan asbes serpentine yang paling penting dan umum digunakan untuk tekstil adalah chrysotile. 1.2. Serat Buatan a. Selulose serat alam yang diregenerasi 1) Rayon viskosa Rayon viskosa adalah serat selulose alam yang disusun kembali molekulnya sehingga susunannya sama dengan serat selulose yang lain, perbedaannya terletak pada tingkat pemanjangan rantai molekul serat. Panjang rantai molekulnya lebih rendah dari bahan alam pembentuknya karena terjadinya pemutusan rantai bahan pembentuknya selama pembuatan serat. Sebagai bahan dasar adalah kayu sebangsa cemara. Bahan ini akan mengalami proses pembuatan serat melalui perlakuan secara fisika maupun dengan bantuan zat kimia hingga diperoleh serat. Penampang serat Bentuk memanjang serat rayon viskosa seperti silinder bergaris dan penampang lintangnya bergerigi. (Lihat Gambar 1.8). Melintang Membujur Gambar 1.8 Penampang Serat Rayon viskosa 2) Rayon kupramonium Serat rayon kupramonium adalah serat yang dibuat dari selulose kapas yang disusun kembali dengan cara mencampur ke dalam larutan amonia yang mengandung kuprooksida. Sebagai bahan baku dipergunakan kapas linter atau kadang-kadang pulp kayu yang telah dimurnikan sehingga mempunyai kadar selulose yang tinggi. Penampang serat Bentuk memanjang serat seperti silinder, sedangkan penampang melintangnya berbentuk bulat. (Lihat Gambar 1.9). Melintang Membujur Gambar 1.9 Penampang serat rayon kupramonium 3) Rayon acetat Rayon acetat adalah serat yang dibuat dari linter atau selulose kayu, anhidrida dan aceton. Selulose kayu dilarutkan dalam natrium karbonat dan natrium hidroksida kemudian dicuci, diputihkan, dan dikeringkan. Larutan ini kemudian dilarutkan lagi dalam asam sulfat dan asam acetat sehingga terjadi acetil selulose. Acetil selulose dilarutkan dalam aceton, disemprotkan melalui alat pemintal ke arah suhu panas, aceton kemudian mengalami penguapan dan terbentuk filament acetil selulose. Karena penyusunannya banyak zat kimia buatan, dimasukkan kelompok thermoplastics. Penampang serat Bentuk memanjang serat seperti silinder dengan garis-garis sedikit, sedang penampang melintangnya berlekuk-lekuk seperti daun semanggi. (Lihat Gambar 1.10). Membujur Melintang Gambar 1.10 Penampang serat acetat b. Dari serat protein alam yang diregenerasi Serat kaseina Kaseina adalah serat yang dibuat dengan menyusun kembali molekul ptotein kaseina yang terdapat dalam susu. Contoh serat kaseina yang pernah dibuat adalah lanital dan aralac, fibrolane BX dan fibrolane BX dan merinova. Serat-serat tersebut kurang berkembang karena sifat seratnya yang kurang baik dan bahannya yang merupakan bahan makanan yang sangat diperlukan masyarakat. c. Poliamida (nylon) Terdapat bermacam nylon, di antaranya yang paling utama digunakan sebagai serat buatan adalah nylon 66 dan nylon 6. Nylon 66 dihasilkan dari hexamethylendiamin dengan asam adipat. Nylon 6 dihasilkan dari kaprolaktam. Poliamyda ini juga disebut "Perlon". Serat nylon diperoleh dengan mengolah bahan sehingga menghasilkan garam nylon. Garam nylon dilelehkan dalam atmosfir nitrogen dengan ditambah sedikit asam acetat, kemudian larutan disemprotkan melalui alat pemintal leleh untuk membentuk filament nylon. Penampang serat Bentuk memanjang serat seperti silinder yang rata dan penampang lintangnya hampir bulat. (Lihat Gambar 1.11). Melintang Membujur Gambar 1.11 Penampang serat nylon d. Polyester Serat polyester dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol. Polyester pertama yang dibuat adalah terylene, kemudian menyusul dacron.. Asam tereftalat dan etilena glikol diolah dalam tempat hampa udara dan dengan suhu yang tinggi, maka terjadilah larutan. Larutan kemudian disemprotkan melalui alat pemintal leleh menghasilkan filament polyester. Penampang serat Bentuk memanjang serat polyester seperti silinder dan penampang lintangnya bulat. (Lihat Gambar 1.12). Membujur Melintang Gambar 1.12 Penampang serat polyester e. Serat logam Serat logam adalah serat buatan yang disusun dari logam, logam berlapis plastik, plastik berlapis logam, atau suatu sumbu yang dilapisi oleh logam. Serat logam sebenarnya adalah benang logam. Beberapa nama dagang dari serat logam misalnya: lurex, fairtex, malora, chromflex, metlon, alustran dan durastan, nylco, reynolds dan rey west, dan lame. Serat logam dibuat dari bukan logam mulia, dibuat dengan merekatkan film aluminium di ntara dua helai film plastik yang transparan dengan suatu bahan perekat. Inti logam yang digunakan ada 2 macam, yaitu. 1) inti logam terdiri atas pita logam aluminium murni yang sangat tipis atau pipih dan dipolis hingga mengkilat pada kedua sisinya. 2) inti logam terdiri atas film polyester yang dilogamkan dengan cara menghamburkan logam aluminium dalam ruangan hampa. B. LEMBAR KERJA Pemeriksaan serat dengan mikroskop terutama dimaksudkan untuk mengetahui bentuk-bentuk penampang lintang dan membujur serat, struktur bagian dalam serat dan permukaan serat. 1. Alat Alat yang diperlukan untuk kegiatan ini adalah, - Mikroskop yang mempunyai perbesaran 100 sampai 450 kali - Kaca obyek (object glass), jarum pemisah, kaca penutup (cover glass), pisau silet yang tajam, dan glyserin. 2. Bahan Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan ini adalah bermacam benang dari beberapa serat alam dan buatan, yang akan diambil contoh seratnya. 3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja - Gunakan baju laboratorium dan penutup hidung selama bekerja. - Gunakan alat sesuai petunjuk penggunaan. - Cucilah tangan sebelum dan selesai bekerja. - Janganlah makan dan minum di tempat kerja. - Kembalikan peralatan pada tempatnya dan rapikan ruangan. C. Langkah Kerja a. Persiapan serat 1) Lepaskan benang dari gintirannya dan diuraikan menjadi helai-helai serat. 2) Masukkan serat dalam larutan sabun encer agar bersih. b. Persiapan irisan lintang Salah satu cara mempersiapkan irisan lintang serat adalah dengan cara gabus seperti berikut (lihat Gambar 1.13). 1) Siapkan gabus (Gambar A). 2) Tusukkan jarum mesin jahit yang panjang berisi benang nylon halus melalui tengah-tengah gabus (Gambar B). 3) Masukkan kawat kecil pada lengkungan benang yang menonjol, kemudian tarik jarum kembali dengan meninggalkan lengkungan benang pada gabus (Gambar C) 4) Letakkan sekelompok serat yang telah disejajarkan dan diberi lak di dalam lengkungan benang dan dengan hati-hati ditarik masuk ke dalam gabus dengan cara menarik ujung-ujung benang. Jumlah serat yang ditarik harus cukup tertekan sehingga serat-serat akan terpegang oleh gabus dengan baik, tanpa terjadi perubahan bentuk serat (Gambar D). 5) Potong rata permukaan gabus menjadi segi empat ke arah panjang serat dan ujung serat yang menonjol di atas permukaan gabus dengan pisau silet tajam (Gambar F). 6) Setelah laknya kering, iris tipis gabus dengan menggunakan pisau silet tajam (Gambar G). Apabila jumlah serat yang digunakan sesuai, maka potongan serat akan tetap terpegang oleh gabus di sekelilingnya. 7) Tempelkan irisan gabus yang mengandung potongan serat pada kaca penutup dengan setetes glyserin (Gambar H). 8) Letakkan kaca penutup dengan potongan gabus di bawahnya pada kaca obyek yang diberi penyangga cincin parafin (atau dua potong kaca) untuk menjaga supaya permukaan serat sejajar dengan bidang fokus lensa obyektif, sehingga seluruh daerah irisan dapat terletak dalam satu fokus (Gambar I, J, dan K). c. Pengamatan penampang Buatlah penampang lintang sesuai serat dari benang yang telah disiapkan, lakukan pengamatan pada penampang tersebut. Gambarlah hasil pengamatan tersebut dan catatlah pada setiap penampang bagaimana bentuk penampangnya, seragam atau tidak bentuk-bentuk tersebut. Simpulkan jenis serat yang mana yang sesuai dengan bentuk-bentuk serat yang telah diamati, dan terdiri dari satu jenis serat atau campuran. D. LATIHAN I 1. Jelaskan tentang penggolongan serat tekstil? (berikan contoh masing-masing golongan serat berikut). a. serat selulose b. serat protein c. serat buatan non selulose d. serat mineral 2. Jelaskan bentuk penampang melintang dan penampang membujur dari serat-serat berikut. a. serat kapas f. serat rayon viskosa b. serat linen g. serat rayon kupramonium c. serat rami h. serat polyester d. serat sutera i. serat nylon e. serat wool j. serat acetat 3. Adakah di antara masing-masing serat tersebut pada butir 2 yang mempunyai bentuk penampang yang sama? Sebutkan. B A B II IDENTIFIKASI SIFAT SERAT A.PENDAHULUAN Serat sebagai bahan dalam pembuatan benang tekstil diharapkan mempunyai sifat-sifat yang diinginkan, yang meliputi kehalusan dan panjang, kekuatan, daya mulur, penyerapan lembab, pegangan, kestabilan kimia, daya tarik terhadap zat warna, dan ketahanan terhadap suhu dan sinar matahari. a. Kehalusan dan Panjang Serat-serat yang halus pada umumnya dipilih untuk mendapatkan benang dengan pegangan yang enak dan daya isolasi panas yang baik, karena serat-serat yang halus mempunyai permukaan yang lebih besar. b. Kekuatan Kekuatan serat diperlukan agar serat tahan terhadap tarikan-tarikan dalam pemintalan dan pertenunan. Kekuatan serat dipengaruhi oleh asal serat, pertumbuhan serat, proses pemisahan serat, dan bakteri. Kekuatan serat dalam keadaan kering harus lebih besar dari 1,2 gr/denier dan dalam keadaan basah harus lebih besar dari 0,7 gr/denier. Serat-serat lemah mempunyai kekuatan sekitar 1,5 gr/denier sedangkan serat yang kuat mempunyai kekuatan sekitar 6 gr/denier. c. Kerataan Panjang Serat Kerataan panjang serat mempengaruhi daya pintalnya. Serat panjang yang rata dapat dibuat menjadi benang yang lebih kuat, kenampakannya baik, dengan sisa yang lebih sedikit. d. Sifat-Sifat Gesekan Sifat-sifat gesekan merupakan sifat yang penting dalam pengolahan serat. Jumlah gelombang pada serat dan keadaan serat yang saling mengait mempengaruhi sifat gesekannya. e. Daya Serap Hampir semua serat menyerap air sampai batas tertentu. Beberapa serat mempunyai kemampuan menyerap uap air lebih besar dari serat yang lain sebagai contoh serat-serat selulose. Serat yang demikian disebut lebih higroskopis. Serat yang demikian mempunyai kelebihan yaitu lebih enak dipakai dan mempunyai isolator panas yang baik. f. Mulur dan Elastisitas Elastisitas adalah kemampuan serat untuk kembali ke panjang semula setelah mengalami tarikan. Untuk serat-serat tekstil diharapkan memiliki elastisitas yang baik, dan mulur saat putus minimal 10%. Elastisitas dan daya mulur dapat dipengaruhi oleh derajat penarikan pada waktu pembuatan serat. Makin tinggi derajat penarikan, makin tinggi kekuatan serat dan makin rendah mulurnya. B.Serat 1. Serat Kapas Serat kapas mempunyai panjang 2,5 - 5 cm, tidak halus, kuat, dan dalam keadaan basah kekuatan bertambah 25%, kurang berkilau, pada tenunan kurang kenyal sehingga mudah kusut, dan tahan seterika panas. Serat kapas mudah menyerap air dan dicelup, tahan cuci dan tahan obat-obatan untuk kelantang, tidak tahan asam kuat dan kurang tahan asam organik, dalam larutan asam belerang cair dan dingin menjadi tembus terang dan kaku, dalam kupramonium hidroksida akan larut, tidak tahan cendawan dan tahan ngengat. Pada pembakaran serat kapas mudah terbakar, nyala berjalan terus, berbau seperti kertas, dan meninggalkan abu berwarna kelabu. 2. Serat Flax Serat flax mempunyai panjang 50 - 75 cm, sedikit lebih halus daripada kapas, kekuatannya dua hingga tiga kali serat kapas, berkilau lembut, kurang elastis, kekenyalan pada tenunan rendah, tahan seterika panas namun lebih rendah dari serat kapas. Serat flax mempunyai daya serap air yang tinggi dan mudah kering namun dibanding serat kapas lebih sukar dicelup, tahan cuci tetapi tidak tahan klor, dan tidak tahan obat-obat pengelantang. Pada pembakaran serat flax mudah terbakar, nyalanya berjalan terus, berbau seperti kertas terbakar, dan meninggalkan abu berwarna kelabu. 3. Serat Henep Serat henep merupakan serat yang pendek, berkilau, lebih kuat dari serat kapas tetapi kurang elastis, lebih kasar sehingga sukar dipintal, dan tahan terhadap perubahan suhu dan kelembaban tinggi. Serat henep bersifat higroskopis dan bereaksi terhadap zat kimia dan berubah warna. 4. Serat Rami Serat rami berwarna putih berkilau, tahan cahaya matahari, lebih kuat dari serat alam lainnya, dalam keadaan basah kekuatan bertambah, tenunannya tidak mudah mengkerut. Serat rami sangat higroskopis dan cepat kering, dan tahan terhadap bakteri dan jamur. 5. Serat Sutera Serat sutera berupa filamentt dengan panjang hingga 3600 m, berkilau sangat bagus dan lembut, daya kenyalnya besar sehingga tidak mudah kusut, sangat halus, kekuatannya tinggi, dan kurang tahan terhadap sinar matahari. Serat sutera mempunyai daya serap uap udara cukup tinggi, larut dalam asam kuat dan soda api, larut dalam kupramonium hidroksida dan etilena diamina, dan lebih tahan pada serangan mikroba. Pada pembakaran serat sutera sukar terbakar, nyala akan padam jika dikeluarkan dari sumber nyala, berbau seperti rambut terbakar, bekas pembakaran berbentuk abu hitam, bulat, dan mudah dihancurkan. 6. Serat Wool Serat wool mempunyai panjang 2,5 - 12,5 cm, agak kuat, tidak berkilau, keriting, kekenyalan tinggi, elastisitas tinggi, dan mudah dikempa. Serat wool bersifat higroskopis dan merupakan penahan panas yang baik, tahan terhadap asam kecuali asam pekat panas, peka terhadap larutan pemutih hidrogen peroksida, larut dalam larutan natrium hidroksida 5% mendidih, larut dalam bahan pengelantang NaCl 20%, mudah rusak oleh basa, dan tahan terhadap jamur dan bakteri. Pada pembakaran serat sutera mempunyai ciri seperti sutera. Di antaranya terbentuk gumpalan hitam dan berbau rambut terbakar. 7. Serat Asbes Serat asbes umumnya mempunyai kekuatan kekuatan tarik yang tinggi, daya mulurnya sangat rendah, hanya sedikit menyerap air, sangat tahan panas dan api, tahan terhadap gesekan, tahan cuaca, penghantar listrik dan panas jelek. Serat asbes dalam asam khloride 25%, pada suhu kamar setelah direndam 10-24 jam asbes akan mengalami kehilangan berat. Dalam suhu mendidih asam tersebut merusak asbes. 8. Rayon viskosa Serat rayon viskosa mempunyai kekuatan lebih rendah dari kapas terlebih dalam keadaan basah, elastisitasnya rendah sehingga hasil pencelupan akan tidak rata, berkilau dan licin, tahan terhadap panas seterika namun dalam waktu yang lama akan menyebabkan berwarna kuning, dan penyinaran akan mengurangi kekuatan serat. Serat rayon viskosa mudah menyerap air sehingga mudah dicelup. Serat rayon viskosa lebih cepat rusak oleh asam dibanding dengan kapas, terutama dalam keadaan panas, mudah rusak oleh asam encer suhu tinggi, tahan terhadap zat-zat kimia untuk pencucian kering, dan tahan terhadap pemutih natrium hipoklorit dalam suasana netral. 9. Rayon kupramonium Serat rayon kupramonium berupa filament yang sangat halus, kekuatannya sedang dan menurun dalam keadaan basah, daya kenyalnya rendah sehingga mudah kusut, dan dapat terbakar meninggalkan abu yang mengandung sedikit tembaga. Pada suhu 180oC rusak. Serat rayon kupramonium mempunyai sifat rusak oleh basa kuat, tahan terhadap basa lemah, tahan terhadap pemutih larutan hipokhlorit dalam suasana sedikit basa atau dengan hidrogen peroksida, dan mudah menyerap air dan dicelup. 10. Rayon Acetat Serat rayon acetat mempunyai sifat berkilau, dalam keadaan basah kurang kuat, daya mulur lebih baik dari rayon yang lain, tidak tahan cahaya dan panas, pegangan lembut dan kain yang dihasilkan menggantung. Serat acetat tidak terpengaruh asam lemah dingin tetapi dalam asam pekat seperti asam acetat dan formiat dingin akan rusak. Basa akan merusak serat, tetapi basa encer sampai pH 9,5 tidak berpengaruh, larut dalam pelarut organik misal aceton, metil etil keton, metil acetat, etil laktat. Serat acetat dalam keadaan basah kurang menyerap air sehingga sukar dicelup. Pada pembakaran, serat acetat mudah terbakar dengan meleleh menghasilkan tetesan-tetesan dan meninggalkan bulatan 11. Serat Nylon Serat nylon merupakan filament yang sangat kuat, tahan gesekan, ringan dan berkilau. Daya mulur dan kekenyalannya sangat besar sehingga tidak mudah kusut. Nylon tidak tahan panas dan mudah terbakar. Serat nylon 66 tahan terhadap pelarut-pelarut pencucian kering, sedangkan nylon 6 tahan terhadap kebanyakan pelarut organik seperti: benzen, khloroform, dan aceton. Nylon 66 tahan terhadap asam-asam encer tetapi dalam asam klorida mendidih selama beberapa jam akan terurai, sedangkan nylon 6 tahan terhadap asam-asam lemah dingin tetapi tidak tahan asam-asam dalam keadaan panas. Nylon 66 larut dalam asam formiat, kresol, dan fenol, sedangkan nylon 6 larut dalam asam formiat. Umumnya nylon tahan terhadap basa dan serangan jamur dan bakteri. Pada pembakaran, serat nylon akan meleleh dan tidak menyala, berbau aneh, serta meninggalkan bentuk pinggiran keras yang berwarna coklat. 12. Polyester Serat polyester merupakan filament yang elastisitasnya tinggi sehingga pada kain tahan kusut, tahan terhadap sinar matahari, tahan suhu tinggi dan meleleh pada suhu 250o C. Serat polyester tahan asam lemah dan tahan asam kuat keadaan dingin, tahan basa lemah, tetapi kurang tahan basa kuat, tahan terhadap alkohol, keton, sabun dan zat-zat untuk pencucian kering. Serat polyester mempunyai daya serap air yang rendah, tahan terhadap cendawan dan bakteri dan serangga. Pada pembakaran serat polyester mudah terbakar tetapi apinya cepat padam, meninggalkan tepi yang keras dan berwarna coklat muda. 13 .Serat logam Serat logam mempunyai sifat mengkilat dan kaku. Serat yang berlapis film viskosa viscose oil tidak tahan terhadap uap panas, serat yang berlapis film selulose acetat tahan terhadap uap panas sampai suhu 80o C. Serat yang tersusun dari film polyester dengan film aluminium atau film polyester yang dilogamkan, tahan pemasakan. Untuk film acetat yang bersifat thermoplastics dalam keadaan tanpa tekanan tahan pada suhu hingga 160o C, sedang dengan tekanan tahan sampai suhu 107oC. Untuk film polyester tanpa tekanan tahan hingga suhu 216o C, sedangkan dengan tekanan dapat dipanaskan hingga suhu 135o C. Pada penyetrikaan biasa, serat tahan sampai suhu 200 - 210o C. Serat logam dalam kondisi normal dan pada suhu kamar tidak bereaksi dengan asam-asam yang digunakan dalam pencelupan misalnya asam sulfat, asam khlorida, asam formiat, asam acetat, asam oksalat, dan lain-lain. Pada pencelupan lebih dari 3 jam, asam-asam akan berpengaruh secara berbeda pada serat logam jenis pelapis logam berbeda. C. LEMBAR KERJA Uji pembakaran adalah cara yang dapat digunakan untuk menentukan golongan serat berdasarkan polimer-nya. Gunakan pedoman hasil uji pembakaran untuk serat selulose, serat protein dan serat buatan sebagai bahan konsultasi hasil uji terhadap serat yang Anda lakukan. 1. Alat Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan ini hanyalah sumber nyala api. Nyala api yang baik untuk kegiatan ini adalah nyala api pembakar bunsen yang menggunakan bahan bakar gas atau alkohol. 2. Bahan Untuk kegiatan ini diperlukan bermacam serat alam dan serat buatan. Jika tidak dapat ditemukan serat mentah dapat digunakan serat dari penguraian bermacam jenis benang. Selanjutnya serat dibuat benang sepanjang 4 - 5 cm dan diberi puntiran. 3. Langkah kerja a. Dekatkan contoh serat pada api dari samping perlahan-lahan. Waktu serat dekat api, amati apakah bahan meleleh, menggulung atau terbakar mendadak. b. Pada saat serat menyala, perhatikan dimana terjadinya nyala api, dan pada saat serat terbakar oleh nyala segera pindahkan dari nyala api. c. Bila nyala api dari serat segera padam (setelah lepas dari nyala api), segera catat bau dari gas yang dikeluarkan oleh serat yang terbakar itu. d. Kalau serat tetap menyala, maka matikan nyala dengan jalan meniupnya dan catat bau yang dikeluarkan oleh serat yang terbakar tersebut. Setelah nyala api padam, catat apakah serat mengeluarkan asap atau tidak. e. Catat hasil akhir yang berupa abu: banyaknya, bentuknya, warnanya, dan kekerasan dari abu sisa pembakaran. 4. Pedoman - Serat selulose, cepat terbakar, meninggalkan abu berbentuk serat dan berbau seperti kertas terbakar. - Serat logam atau asbes, tidak terbakar sama sekali, lelehannya berbentuk padatan kasar. - Serat protein, serat terbakar tanpa ada abu, berbau rambut terbakar, meninggalkan bulatan kecil hitam diujungnya. - Sutera yang diberati, bau yang ditimbulkan seperti rambut terbakar, tetapi tidak meninggalkan abu. - Serat rayon dan nylon, serat meleleh dan membentuk bulatan kecil diujungnya, tanpa berbau rambut terbakar. - Serat acetat, ada bulatan kecil hitam dan bau asam acetat. D. LATIHAN II Jelaskan sifat-sifat serat sebagai berikut; 1. Bagaimanakah sifat serat kapas? 2. Bagaimanakah sifat serat flax? 3. Bagaimanakah sifat serat rami? 4. Bagaimanakah sifat serat sutera? 5. Bagaimanakah sifat serat wool? 6. Bagaimanakah sifat serat nylon? 7. Bagaimanakah sifat serat polyester? E. KUNCI JAWABAN KUNCI JAWABAN LATIHAN I 1. Serat dikelompokkan berdasarkan kandungan kimianya dan asal seratnya. a. serat selulose meliputi: - serat alam : serat kapas, flax, henep, rami - serat buatan : serat rayon viskosa, rayon kupramonium b. serat protein meliputi: - serat alam : serat sutera, wool, rambut - serat buatan : serat kasein c. serat buatan non selulose, meliputi serat acetat, nylon, polyester d. serat mineral meliputi: - serat alam : serat asbes - serat buatan : serat logam 2. Penampang serat No Nama Serat Penampang Lintang Penampang Membujur a. Kapas pipih - bulat pipih seperti pita terpuntir b. Linen segi banyak, dinding tebal silinder ujung meruncing c. Rami Lonjong silinder bergaris d. Sutera pasak atau segitiga lengkung bergaris-garis e. Wool bulat sampai lonjong silinder No Nama Serat Penampang Lintang Penampang Membujur f. Rayon viskosa Bergerigi silinder bergaris g. Rayon kupramonium Bulat silinder h. Polyester Bulat silinder i. Nylon hampir bulat silinder rata j. Acetat berlekuk daun semanggi silinder 1. KUNCI JAWABAN LATIHAN II 1. Serat kapas - Kekuatan tinggi, daya muker tinggi - Kerataannya baik terutama yang panjang - Daya serap uap air yang tinggi - Tidak tahan asam kuat - Larut dalam pelarut kupramonium dan kupsietilendiamin - Mudah diserang oleh jamur dan bakteri terutama saat lembab 2. Serat linen - Kekuatan tinggi lebih tinggi dari serat kapor - Daya serap uap air tinggi - Permukaan lebih halus dan mempunyai kilau - Lebih tahan asam dibanding kapas - Lebih cepat rusak oleh panas - Sukar dicelup 3. Serat Sutera - Berkilau lembut - Tahan kusut - Daya serap uap air tinggi - Tidak tahan asam kuat, lebih tahan basa. - Tahan terhadap serangan mikroba - Tak tahan suhu tinggi 4. Serat Wool - Elastisitasnya tinggi dan kenyal - Daya serap uap air tinggi - Penahan panas yang baik - Larut dalam asam kecuali asam pekat - Panas mudah rusak karena basa - Kekuatan berkurang dalam air panas suhu 120 cc - Tahan terhadap mikroba 5. Serat Rayon - Daya serap terhadap uap air tinggi - Elastisitas rendah - Berkilau dan licin - Cepat rusak oleh asam panas - Tahan terhadap pelarut pencucian kering - Mudah di celup - Dapat diputihkan dengan natrium hipoklosit netral 6. Serat Nylon - Daya serap uap air rendah - Elastisitasnya tinggi - Berkilau - Tahan panas setrika dibawah 180 0C - Tahan terhadap asam encer kecuali dalam HCL mendidih - Tahan terhadap basa - Larut dalam asam formiat, kresol dan fenol - Tahan terhadap jamur dan bakteri 7. Serat Polyester - Daya serap uap air rendah - Tahan terhadap pengaruh panas - Elastisitas tinggi - Tahan jamur dan bakteri - Mudah terbakar - Sukar dicelup B A B III KONSTRUKSI BENANG A.PENDAHULUAN Cara pembuatan benang tergantung dari jenis serat yang digunakan dan jenis benang yang akan dihasilkan. Jenis serat yang digunakan dapat berupa serat alam, serat setengah buatan, serat buatan atau campuran dari serat-serat tersebut. Sedangkan jenis benang yang akan dihasilkan dapat berupa benang pintal, benang gintir, benang filament, benang tekstur, benang hias, dan benang jahit. B.BENANG 1. BENANG PINTAL Benang pintal adalah benang yang tersusun dari serat pendek/stapel, yang dibuat dengan cara menarik serat-serat tersebut sedikit demi sedikit, kemudian diberi antihan/pilinan sehingga menjadi suatu untaian yang bersambungan. Benang pintal dapat dibuat dengan menggunakan alat kincir atau mesin pintal, dan hasilnya berupa benang tunggal atau single yarn. Pada pembuatan benang pintal selalu dilakukan pemberian antihan atau pilinan pada serat dengan maksud agar serat-serat menjadi satu kesatuan yang kompak sehingga memberikan kekuatan pada benang. Jumlah antihan pada benang pintal biasanya dinyatakan dalam antihan atau twist per inchi (Tpi), dan ini akan berpengaruh pada karakter/sifat fisika benang. Berdasar arah antihannya, benang pintal dibedakan menjadi dua yaitu benang pintal dengan arah antihan kiri atau S dan benang pintal dengan arah antihan kanan atau Z. (Lihat Gambar 1.1). Gambar 3.1 Skema arah antihan benang 2. BENANG GINTIR (PLY YARN) Benang gintir adalah benang yang terdiri dari dua atau lebih benang tunggal dan digintir satu sama lain. Tujuan dari pembuatan benang gintir antara lain untuk mendapatkan benang yang lebih kuat, membuat benang yang mempunyai sifat tertentu, mendapatkan benang dengan diameter yang lebih besar, membuat benang hias, dan untuk mendapatkan benang yang lebih rata. Terdapat bermacam cara penggintiran benang berhubungan arah antihan benang tunggal dan arah gintiran kumpulan benang tunggalnya. Enam kemungkinan kombinasi arah antihan dan arah gintiran benang dapat diperoleh, seperti pada Gambar 1.2 berikut. Sifat benang gintir dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jumlah gintiran yang diberikan, arah antihan benang tunggal pembentuknya, kehalusan serat pembentuk dan kehalusan benang pembentuknya. Jika arah gintiran berlawanan dengan arah antihan benang tunggalnya, maka akan diperoleh benang gintir yang lembut. Sebaliknya jika arah gintiran sama dengan arah antihan benang tunggalnya, maka akan diperoleh benang gintir yang keras. Makin halus serat atau benang pembentuk, semakin fleksibel benang gintir yang dihasilkan. Beberapa contoh benang gintir adalah sebagai berikut. a. Benang bordir Benang bordir umumnya dibuat dari benang kapas yang bermutu baik. Setelah penggintiran, benang dibakar bulunya dan di-merser. Juga dapat dibuat dari sutera, linen dan serat sintetis. Penggintiran dilakukan terhadap 2 helai sampai 6 helai benang. b. Benang rajut Proses penggintiran benang rajut dilakukan dengan cara kering, dimana jumlah gintiran per-inchi-nya rendah. c. Benang krep Penggintiran benang keras, dan jumlah gintiran per inchi cukup tinggi. Penggintiran dilakukan searah dengan arah antihan benang tunggalnya. Dibuat dari benang kapas, sutera atau rayon. d. Benang lace Benang ini dibuat dari benang kapas tunggal yang halus, dari serat panjang yang dibakar bulunya. Benang tunggal yang digunakan umumnya di atas Ne1 60. e. Benang untuk kain voile Dibuat dari benang gintir yang mempunyai konstruksi dan mutu seperti benang krep, tetapi tidak mengeriting. Dibuat dari benang wool sisir atau benang kapas yang bermutu baik, yang mana bulunya dibakar. Umumnya terdiri dari dua helai benang tunggal yang digintir dengan arah sama dengan arah antihan benang tunggalnya. f. Benang merser Benang merser dibuat dari dua helai benang kapas tunggal yang digintir. Benang merser yang kuat diperoleh dari benang tunggal serat kapas yang cukup panjang yang telah mengalami proses penyisiran dan pembakaran bulu. Jumlah antihan benang tunggal dan jumlah gintirannya cukup rendah, dengan arah gintiran berlawanan arah dengan arah antihan benang tunggal. Benang gintir dilakukan pengerjaan merser dengan cara melewatkan benang tersebut kedalam larutan soda kaustik sekitar 32% pada suhu 10-18 oC sambil diregangkan. 3. BENANG FILAMENT Benang filament adalah benang yang tersusun dari satu atau lebih serat yang panjang. Benang filament yang tersusun dari satu jenis serat disebut benang monofilamentt, sedangkan yang tersusun lebih dari satu serat disebut benang multifilamentt. Benang dapat dibuat dari serat alam misalnya sutera atau serat sintetis yang panjang sekali. Pembuatan benang dari serat sintetis dilakukan pada waktu pembuatan serat tersebut. Benang ini umumnya tanpa antihan, namun kadang diberi antihan sedikit. 4. BENANG TEKSTUR Benang tekstur adalah benang filament dari serat sintetis yang bersifat thermoplastis (non-selulose) yang mengalami pengerjaan lanjut sedemikian rupa sehingga sifat fisika dan sifat permukaannya berubah, misal menjadi keriting, berjeratan, berbentuk spiral atau berkerut. (Lihat Gambar 3.3) Benang tekstur dapat dibuat dengan cara mekanika dan cara kimia. Beberapa pembuatan secara mekanika antara lain yaitu cara 3-stage, false twist, duo twist, stuffer box, knit de knit, edge crimp, air jet, dan gear crimp. (Lihat Gambar 3.4 hingga Gambar3.10). a. Cara 3-stage Cara ini meliputi: - pemberian antihan pada benang (twisting), - pemantapan/setting benang dengan menggunakan panas, - membuka kembali antihan (untwisting). b. Cara false twist - pemberian antihan pada benang, - pemantapan/setting benang, - pembukaan kembali antihan, - dilengkapi dengan penyempurnaan. c. Cara stuffer box Prinsip pembuatannya yaitu, benang filament dilewatkan pada box yang dipanaskan. Sebelum masuk ke dalam box, benang filament tersebut dilewatkan pada suatu alat sehingga bentuk benang tersebut menjadi bergerigi d. Cara knit de knit Benang tekstur ini akan memberikan efek krep pada kain rajut. Benang tekstur ini berbentuk jeratan. Proses pembuatannya: - benang filament dirajut dalam bentuk tubular, - kain tersebut di-heat-set, - kain dibongkar kembali. e. Cara edge crimp Benang yang diperoleh banyak digunakan untuk kain rajut bahan pakaian wanita. Proses pembuatannya, benang filament dilewatkan pada suatu pisau yang telah dipanaskan, sehingga benang menjadi keriting. d.Cara air jet Proses pembuatan cara ini adalah: serat filament dihembuskan oleh udara bertekanan tinggi sehingga membentuk benang yang berjerat-jeratan. Banyaknya jeratan per-inci dapat diatur dengan pengaturan tegangan, kecepatan proses dan besarnya tekanan udara. f. Cara gear crimp Proses pembuatan cara ini yaitu, dengan melewatkan benang-benang filament di antara gigi-gigi dari dua buah roda gigi yang dipanaskan, sehingga benang tersebut berbentuk seperti gigi dari roda gigi. 5. BENANG HIAS (NOVELTY/FANCY YARN) Benang hias dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain sebagai berikut. a. Mencampur serat-serat yang berbeda warna, kemudian dipintal. b. Memintal campuran serat-serat dari jenis serat-serat yang berbeda. c. Men-cap sliver atau benang dengan pola tertentu. d. Menggintir benang-benang yang berbeda dalam hal jenis seratnya, warnanya, kehalusannya, kelembutannya, panjangnya, jumlah dan arah antihannya. Contoh benang hias adalah sebagai berikut. a)Benang berbintik teratur (mauline atau grandrelle). b)Benang berbintik tak teratur (marl atau mock-grand-relle). c) Benang spiral (benang gimp atau gimp yarn). d) Benang berjerat (benang keriting atau curl-yarn). e) Benang knop. f) Benang awan (cloud yarn). g) Benang slab (slub yarn). h) Benang chenille. (Lihat Gambar 1.11). 6. BENANG JAHIT Benang jahit adalah benang yang digunakan untuk menjahit bahan, yang dapat dibuat dari serat alam kapas, linen, sutera dan lainnya, atau dari serat buatan rayon, nylon, polyester, gelas atau lainnya. a. Benang jahit dari serat kapas Benang kapas yang digunakan termasuk jenis benang gintir yang benang tunggalnya 3, 4, 6 helai atau lebih. Benang yang terbuat dari 3 atau 4 helai benang tunggal umumnya hanya melalui proses penggintiran sekaligus (one throw). Arah gintiran berlawanan dengan arah antihan benang tunggalnya. Benang jahit yang terbuat dari 6 helai benang tunggal biasanya proses penggintirannya dilakukan 2 kali, yaitu 2 helai benang tunggal digintir searah dengan arah antihan, dan diperoleh 3 benang gintir. Selanjutnya 3 benang tersebut digintir lagi dengan arah gintiran berlawanan dengan arah antihannya. b. Benang jahit dari serat sintetis Benang jahit ini dibuat dari serat sintetis yang berbentuk filament. c. Monocord. Benang jahit dibuat dari filament-filament yang diletakkan sejajar satu sama lain, direkatkan, dilakukan penyempurnaan dan digulung. Sebelum direkatkan benang mentah terlebih dahulu dicelup. d. Multicord. Pembuatan benang ini meliputi 6 tahap, yaitu pemintalan, penggintiran, persiapan pencelupan, pencelupan, pengeringan, dan penyempurna C. LEMBAR KERJA 1. Alat Alat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut. a. jarum jahit kecil dan besar, dan b. kaca pembesar. 2. Bahan Bahan yang diperlukan adalah bermacam benang dari serat buatan dan serat alami, meliputi benang jahit, benang rajut, benang bordir, benang bahan tenun, benang yang diambil dari kain katun, benang yang diambil dari kain sutera atau benang sutera, benang yang diambil dari kain polyester atau benang polyester. 3. Langkah Kerja Lakukanlah pada setiap benang dengan langkah sebagai berikut. a. Urai/bukalah gintiran benang sehingga menjadi benang tunggal. Perhatikan jumlah benang yang digintir dan arah gintirannya. b. Urai/bukalah pilinan benang sehingga menjadi terpisah bagian helai yang menjadi sumbu dan bagian yang menjadi helai pemilin. Perhatikan arah pilinannya. c. Jika benang mempunyai konstruksi gintiran dan pilinan, bagaimanakah arah keduanya? d. Tentukan jenis konstruksi yang manakah benang tersebut. D.LATIHAN III 1. Bagaimanakah struktur benang pintal? 2. Bagaimanakah struktur benang gintir? 3. Bagaimanakah struktur benang filament? 4. Apakah yang Anda ketahui tentang struktur benang tekstur seperti di bawah ini? a. Cara 3-stage d. Cara knit de knit b. Cara false-twist e. Cara edge creamp c. Cara stuffer box f. Cara gear crimp 5. Apakah yang dimaksud dengan struktur benang hias? 6. Bagaimanakah struktur benang jahit? KUNCI JAWABAN LATIHAN III 1. Struktur benang pintal Benang yang terdiri dari serat-serat tersebut sedikit demi sedikit, kemudian diberi pilinan sehingga terjadi suatu untaian yang kontinyu. 2. Struktur benang gintir Dibuat dari 2 atau lebih benang tunggal dan digintir satu sama lain. 3. Struktur benang filament Benang yang tersusun dari satu atau lebih serat yang panjang sekali umumnya tanpa filament. 4. Struktur benang tekstur Tersusun atas benang filament dari serat sintetis yang bersifat thermoplastis (non selulose) yang mengalami pengerjaan lanjut sehingga sifat fisika dan permukaannya berubah, misal menjadi kering, berjerat spiral atau berkerut. a. Cara 3-stage. Benang dipilisi kemudian dimantapkan dengan pemanasan kemudian pilinan dibuka kembali. b. Cara false-twist Benang dipilisi kemudian dimantapkan dengan pemanas selanjutnya pilinan dibuka kembali dan disempurnakan. c. Cara stuffer-box. Benang filament dilewatkan boks yang telah dipanaskan sehingga bentuk benang menjadi bergerigi. d. Cara knit de knit. Benang filament dirajut dalam bentuk tubular, diberi heatset kemudian dibongkar kembali. e. Cara edge crimp. Benang filament dilewatkan pada pisau yang telah dipanaskan, sehingga benang menjadi keriting. f. Cara gear-crimp. Benang filament dilewatkan diantara gigi-gigi dua buah roda gigi yang telah dipanaskan. 5. Struktur benang hias Tersusun dari campuran serat yang berbeda warna dan jenis yang diberi perlakuan pemintalan, pen-vapan sliver atau benang dengan pola tertentu dan menggintir campuran benang dalam variasi, jenis, warna, kelembutan, panjang dan arah pilinan dan jumlah pilinan. 6. Struktur benang jahit dari serat kapas - 3, 4, helai yang digintir sekaligus dengan gintiran yang berlawanan dengan arah pilinan benang tunggalnya. - 6 helai digintir 2 x 2 helai benang digintir searah arah pilinan, 3 helai digintir lagi dan arah berlawanan pilinan. B A B IV PEMINTALAN BENANG 4.1. PENDAHULUAN Pemintalan benang merupakan satu proses dasar pembuatan benang yang bahan dasarnya berupa serat-serat yang pendek (stapel). Pemintalan adalah suatu proses dimana sejumlah serat yang relatif pendek disejajarkan satu sama yang lain dan dibentuk menjadi ukuran tertentu kemudian diberi antihan/dipilin agar serat-seratnya tidak terlepas. Proses pembuatan benang dengan cara pintal secara sederhana dilakukan dengan menggunakan alat kincir. Alat kincir terdiri dari sebuah spindel yang diputar dengan suatu roda yang digerakkan dengan tangan atau injakan kaki. Segumpal serat yang akan dipintal dipegang di tangan kiri, sedang ujungnya dikaitkan dengan spindel. Kemudian serat-serat ditarik per-lahan-lahan menjauhi spindel untuk mendapatkan ukuran benang yang dikehendaki, selanjutnya digulung pada spindel. Pada waktu penggulungan benang pada spindel juga dilakukan pemberian pilinan pada benang. (Lihat Gambar 2.1 dan 2.2). Proses pembuatan benang dengan mesin-mesinnya adalah sebagai berikut. 4.2. MESIN BLOWING Pada tahap ini dilakukan proses dengan tujuan sebagai berikut. a. pembukaan yaitu memisahkan serat-serat mentah menjadi serat tunggal; b. melepaskan menjadi jumbai-jumbai serabut kecil agar dapat membuang benda-benda asing, nep (simpul-simpul kecil yang kusut), gumpalan serat yang besar atau serat yang kusut, dan serat-serat yang pendek; c. mencampur macam-macam jenis serat mentah sesuai mutu yang diharap; dan d. menghasilkan lap yang rata (lembaran serat berbentuk silinder). (Lihat Gambar 2.3 dan 2.4). Keterangan Gambar 2.3: A hopper B. kisi-kisi bawah C. kisi-kisi berpaku miring D. rol perata E. rol pengupas F. pemukul G. jaringan kawat H pintu ayun Keterangan Gambar 2.4: A. silinder tanduk B. batang kisi-kisi C. bagian pengantar 4.3.MESIN CARDING Dengan mesin ini dilakukan proses pembersihan dan penguraian serat, pemisahan serat yang panjang dengan serat yang pendek dan merubah bentuk lap menjadi bentuk sliver. (Lihat Gambar 2.5). Keterangan: A. lap G. taker in di bawah peti N. trampet B. pengerol lap H. silinder P. can C. pelat piring O. rol kalender S. silinder di bawah peti D. rol penyuap K. doffer T. flat E. taker in L. sisir terbang U. sheet belakang F. pisau kecil M. jaringan V. sheet depan 4.4. MESIN SISIR (COMBING MACHINE) Mesin sisir digunakan untuk menghilangkan serat-serat pendek dalam ikatan serat (sliver), meluruskan serat-serat panjang dan mensejajarkannya, dan menghilangkan nep dan abu. Tidak semua serat sliver melalui mesin ini. Serat sliver yang dalam proses melalui mesin sisir benang yang dihasilkan adalah benang sisir, sedang yang tidak melalui mesin sisir menghasilkan benang card atau benang garu. (Lihat Gambar 2.6 dan 2.7). 4.5. MESIN DRAWING Penggunaan alat ini terutama adalah dilakukan proses perangkapan, penarikan, dan peregangan sliver dari mesin carding dan mesin sisir agar sliver menjadi lebih rata. Penggandaan atau perangkapan adalah pengaturan dua atau lebih sliver menjadi satu untai untuk mengurangi ketidakrataan sliver. Penarikan adalah menarik ikatan serat tebal menjadi kecil dengan menggunakan dua pasang rol yang mempunyai kecepatan yang berbeda. (Lihat Gambar 2.8 dan 2.9). 4.6. MESIN ROVING Sliver dari mesin drawing terlalu tebal dan gembung untuk langsung disuapkan ke mesin pemintalan. Proses dengan mesin roving bertujuan mengecilkan sliver sampai ukuran yang cocok untuk dipintal. Selanjutnya sliver dipilin untuk memberikan kekuatan yang sesuai, kemudian digulung. Hasilnya berupa roving. (Lihat Gambar 2.10). 4.7. MESIN WINDING Pada tahap ini dilakukan proses penggulungan benang menjadi bentuk yang siap dipakai pada proses berikutnya, dan membuang benang-benang yang lemah dan tidak rata. (Lihat Gambar 2.11). 4.8. MESIN PINTAL ( SPINNING MACHINE ) Proses yang dilakukan adalah penarikan roving hingga ukuran yang diinginkan, pemberian pilinan (twist) untuk mendapat kekuatan yang diinginkan, dan hasilnya berupa benang pintal. (Lihat Gambar 2.12, 2.13, 2.14). 4.9. LEMBAR KERJA II 1. Alat Alat yang dipergunakan adalah semua alat yang ada pada industri benang kapas dan alat tulis yang diperlukan untuk mencatat proses pemintalan benang. 2. Bahan Bahan yang diperlukan adalah semua bahan yang ada di industri benang. 3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja a. Menggunakan jas kerja dan masker atau penutup hidung dan mulut, untuk mengurangi jumlah serpihan serat stapel dan kotoran kapas yang masuk ke tubuh dan yang menempel pada tubuh. b. Menggunakan pengikat rambut atau penutup rambut untuk menghindari tersangkutnya rambut pada alat-alat pemintalan. c. Mengikuti aturan yang diterapkan oleh industri. 4. Langkah kerja a. Mendata semua peralatan yang diperlukan dalam pemintalan benang. b. Mengamati dan mencatat semua aksi kerja yang dilakukan setiap alat pemintalan benang. c. Mengamati dan mencatat setiap ciri-ciri fisik dan nama bahan yang dihasilkan oleh tiap alat. d. Membuat skema tahap proses pemintalan benang diiringi dengan nama alat yang melaksanakan tahap proses tersebut. 4.10.LATIHAN IV 1. Bagaimanakah proses pemintalan benang dengan menggunakan kincir? 2. Apakah fungsi dari mesin blowing? Apa yang dihasilkan? 3. Apakah fungsi dari mesin carding? Apa yang dihasilkan? 4. Apakah fungsi dari mesin combing? Apa yang dihasilkan? 5. Apakah fungsi dari mesin roving? Apa yang dihasilkan? 6. Apakah fungsi dari mesin drawing? Apa yang dihasilkan? 7. Apakah fungsi dari mesin spinning? Apa yang dihasilkan? 8. Apakah fungsi dari mesin penggulung? Apa yang dihasilkan? KUNCI JAWABAN LATIHAN IV 1. Proses pemintalan benang menggunakan kincir. Segumpal serat yang akan dipintal dipegang di tangan kiri, sedangkan ujungnya dikaitkan pada spindel. Kemudian serat-serat tersebut ditarik perlahan-lahan menjauhi spindel untuk mendapat ukuran yang dikehendaki, selanjutnya digulung pada spindel. Pada waktu penggulungan benang pada spindel dilakukan pemberian pilinan pada benang 2. Mesin blowing Melakukan proses pembukaan, pembersihan dan pencampuran serat. Hasilnya berupa lap. 3. Mesin carding Melakukan proses pembersihan dan penguraian serat, pemisahan serat yang panjang dengan serat yang pendek dan berubah bentuk menjadi sliver. Hasilnya sliver. 4. Mesin combing Melakukan proses menghilangkan serat-serat pendek dalam ikatan serat (sliver), meluruskan serat-serat panjang dan mensejajarkannya. 5. Mesin roving Melakukan pengecilan sliver sampai ukuran yang cocok untuk dipintal. Selanjutnya sliver dipilin untuk memberikan kekuatan yang sesuai, kemudian digulung. Hasilnya berupa roving. 6. Mesin drawing Melakukan proses perangkapan, penarikan dan peregangan sliver dari mesin carding dan mesin sisir agar sliver menjadi lebih rata. Penggandaan atau perangkapan adalah pengaturan dua atau lebih sliver menjadi satu untai untuk mengurai ketidakrataan sliver. Penarikan adalah menarik ikatan serat tebal menjadi kecil. Hasilnya sliver yang rata. 7. Mesin spinning Melakukan proses penarikan, pemberian pilinan, penggulungan. Hasilnya berupa benang. 8. Mesin winding Melakukan penggulungan benang menjadi bentuk gulungan yang lebih besar sambil menghilangkan benang-benang yang lunak dan tidak rata. Hasilnya gulungan benang B A B V JENIS BENANG TEKSTIL A. PENDAHULUAN Benang tekstil tersusun dari serat-serat stapel atau filament baik yang berasal dari alam maupun sintetis, yang disatukan atau diberi antihan guna pembuatan kain. Jenis benang tekstil berdasar serat penyusunnya meliputi benang kapas, benang linen, benang jute, benang wool, benang sutera, benang rayon, benang nylon, benang polyester, dan benang acrilic. B.BENANG KAPAS Serat: dapat dibuat dari serat dengan panjang 1/2 - 2 inci dengan nomer benang dari Ne1 1 s/d Ne1 180. Untuk benang kapas kualitas rendah-sedang (Ne1 1 - 40/S) biasanya digunakan campuran dari beberapa jenis serat. Golongan: benang kapas garu (carded) dan benang kapas sisir (combing). Benang kapas garu biasanya sampai Ne1 80, sedangkan benang kapas sisir (combing) dengan nomor dari Ne1 30 s/d Ne1 180. Penggunaan: benang kapas garu banyak digunakan untuk pembuatan kain handuk, sprei, pakaian dalam laki-laki, sarung pelekat, dan muslin. Sedangkan benang kapas sisir biasanya untuk benang kualitas halus dan digunakan untuk pembuatan kain voile, benang jahit, organdy, kain kemeja halus, dan sapu tangan. C.BENANG LINEN Serat: dari serat linen yang panjangnya 1 1/2 sampai 2 inci Golongan: menurut proses pembuatannya digolongkan menjadi 4 sebagai berikut. i. Benang linen yang dipintal kering : untuk benang kasar. ii. Benang linen yang dipintal setengah kering : lebih licin dan rata. iii. Benang linen yang dipintal basah : benang halus. Benang linen yang dimasak : benang lebih putih. Penggunaan: banyak digunakan untuk kain dengan anyaman polos seperti kanvas dan kain layar, dan kain-kain anyaman keper, handuk, anyaman satin, dan kain damas. D.BENANG JUTE Serat: serat jute Golongan: berdasar mutu dibagi menjadi 6 sebagai berikut. a). Lusi hessian: benang yang kuat, panjang, mempunyai kilap yang baik, berwarna putih keperak-perakkan. b).Pakan hessian: mutu lebih rendah terutama panjang dan kilapnya. c).Lusi sacking: terbuat dari serat jute panjang, tetapi lebih kasar dari lussi hessian dan pakan hessian. d). Pakan sacking: dibuat dari serat jute yang pendek, lemah dan tidak mengkilap. e).Rejection: bermutu jelek. f).Cuttings: merupakan potongan serat jute yang keras. Penggunaan: benang kasar terutama digunakan sebagai bahan membuat kain gunny dan benang halus untuk membuat kain hessian. Kain hessian sebagai kain pembungkus. E. BENANG WOOL Serat: dikelompokkan menjadi 3 sebagai berikut. a).Wool panjang: panjang berkisar 6 - 9 inci, nomor benang 36 - 44 S. b).Wool medium: panjang berkisar 2 - 5 inci, nomor benang 46 - 60 S. c).Wool halus: panjang berkisar 1 - 5 inci, nomor benang 64 S ke atas. Golongan: berdasar cara pemintalan dibagi dua, antara lain sebagai berikut. 1. Benang wool garu: benang wool jenis ini bervariasi sesuai dengan jenis dari serat yang digunakan, karena dapat menggunakan serat wool kasar hingga halus. Berikut ini adalah beberapa jenis benang wool garu. (a)Benang wool saxony: paling halus. (b)Benang wool chevio : dari serat yang kuat. (c)Benang wool luster: dari serat yang mengkilap . (d)Benang wool shoddy: dari serat wool yang dicampur dengan serat wool bekas. (e) Benang wool angola dan llama: dari serat wool dan serat kapas atau serat wool bekas dengan limbah serat kapas. F. Benang wool sisir: benang wool jenis ini bervariasi dalam susunan dan penampakannya sesuai jenis serat wool yang digunakan dan sistem proses yang dipakai. Dibuat dari serat yang mengkilap, ukuran panjang serat dipisahkan dengan mesin sisir untuk meluruskan serat wool agar terletak paralel. Yang termasuk jenis ini adalah sebagai berikut. (a)Benang wool yang dipintal dengan mesin pintal sayap. (b).Benang wool yang dipintal dengan mesin pintal cincin. (c).Benang wool hasil mesin pintal cap. (d).Benang wool yang dipintal dengan mesin pintal mule (e).Benang wool mengkilap. (f).Benang wool setengah mengkilap. (g).Benang wool serge. (h).Benang wool cross-bred. (i).Benang wool botany. (j).Benang wool yang dipintal kering. (k).Benang alpaca. (l).Benang cashmere. (m).Benang melange. (n).Benang keriting. Penggunaan: selain untuk bahan pakaian, benang wool juga untuk bahan keperluan rumah tangga seperti karpet, penutup kursi, tirai, selimut, pengalas meja, isolasi dan sebagainya. jenis benang yang terbuat dari serat yang panjang biasanya digunakan untuk tali sepatu, selimut dan kain-kain yang agak kasar, benang wool yang terbuat dari serat medium biasa digunakan untuk membuat kain celana, selimut dan lain-lain. Benang wool yang terbuat dari serat wool halus dipakai untuk bahan pembuat kain rajut, kain celana dan jenis-jenis kain halus. F. BENANG SUTERA Serat: umumnya terdiri dari 3 sampai 20 filament serat sutera. Jenis: terdapat 9 jenis benang sutera, antara lain sebagai berikut. a. Sutera kasar: disebut juga sutera grey atau grege. Merupakan benang sutera yang belum dihilangkan serisinnya, terdiri dari 3 - 20 filament yang digulung dalam bentuk untaian. Benang tunggalnya diberi pilinan atau tanpa pilin. b. Poil: benang grege (single silk) yang diberi antihan sebanyak 1000- 2000/meter. b. Tram: benang gintir yang dibuat dari 2 atau lebih benang grege, dengan gintiran sebanyak 80 - 200/meter atau 2 - 2 1/2 per-nci. Arah gintiran searah dengan arah antihan benang grageny. c. Organzine: benang gintir yang dibuat dari 2 atau lebih benang grage, dengan arah gintiran yang berlawanan dengan arah antihan benang grage-nya. Terdiri dari 3 macam: 1) strofilato: gintiran 300 - 500/meter, 2) stratorto: gintiran lebih tinggi, 3) moyen: gintiran rendah yaitu 300/meter. d. Grenaldine: benang gintir yang mempunyai gintiran lebih tinggi dari organzine, mencapai 25 - 30/inci. e. Crepe: benang gintiran yang terdiri dari 2 - 8 benang grage dengan gintiran sampai 80/inci. f. Dumb singles: benang lusi dengan gintiran sedikit. g. Tremette: benang gintir dengan gintiran rendah. h. Spun silk: benang yang berasal dari limbah sutera dari proses reeling dan throwing yang telah dipotong menjadi serat-serat pendek dan dipintal. Penggunaan: banyak digunakan untuk bahan pakaian yang halus dan bagus, juga untuk bahan sulaman, rajutan, isolasi listrik dan parasut. G. BENANG RAYON Serat: dari serat rayon setengah buatan yang bahan dasarnya selulose Golongan: berdasar bentuk seratnya dibagi menjadi 2, antara lain sebagai berikut. a. Benang filament rayon: dibuat dari sekelompok (15 - 120) serat-serat rayon yang panjangnya tak terhingga, dengan jumlah antihan sedikit (100 antihan per-meter), kecuali untuk kain yang diharap mempunyai efek tertentu misal pada benang voile dan crepe. b. Benang stapel rayon: dibuat dari potongan-potongan filament rayon dengan panjang tertentu yang disesuaikan dengan panjang serat kapas atau serat wool, yang kemudian dipintal. Penggunaan: Benang rayon dari serat rayon kupromonium digunakan khusus untuk pakaian yang halus dan baik mutunya, selain itu juga untuk kaoskaki wanita dan lingerie (pakaian dalam wanita). Sedangkan benang dari serat rayon viskosa digunakan untuk bahan pakaian, benang renda, dan untuk bahan pelapis. H. BENANG NYLON Serat: dibuat dalam dua bentuk benang nylon dalam bentuk filament dan serat stapel. dengan diberi antihan, namun pada umumnya dalam bentuk multifilament dengan atau tanpa antihan. Penggunaan a.Benang nylon multifilament digunakan sebagai bahan kain rajut, baju wanita, lingerie, kain kemeja, dan kain keperluan rumah tangga. a. Benang nylon bentuk monofilament nomor kurang dari 20 denier untuk bahan kain rajut, pakaian wanita untuk kepala, gaun dan baju wanita. b. Benang monofilament nomor 10 - 30 D untuk membuat stocking atau kaus kaki wanita. I. BENANG POLYESTER Serat: dari serat polyester bentuk filament dan stapel. a.Sejumlah filament diantih bersama b.Serat stapel banyak dicampur dengan serat kapas, wool sisir, atau rayon dan dipintal. Perbandingan campuran umumnya dilakukan dengan 65% polyester dan 35% kapas, 55% polyester dan 45% wool sisir, atau 50% polyester dan 50% rayon. Penggunaan a.campuran polyester dengan kapas banyak digunakan untuk bahan pakaian pria, wanita dan anak-anak b. campuran polyester dan wool sisir banyak digunakan untuk bahan pakaian luar pria. J. LEMBAR KERJA Uji mikroskopis dilakukan untuk mengetahui morfologi dari serat-serat penyusun benang dan komposisi serat-serat penyusun ditinjau dari bentuk penampang lintang serat yang nampak. 1. Alat Alat yang diperlukan untuk kegiatan ini adalah sebagai berikut. -Kaca pembesar. - Mikroskop, yang mempunyai pembesaran 100 sampai 450 kali. - Kaca obyek, kaca penutup, pisau silet yang tajam, dan glyserin. 2. Bahan Bahan yang diperlukan adalah bermacam benang, yaitu benang kapas, benang linen, benang sutera, benang wool, benang logam, benang rayon, benang nylon, benang polyester. 3. Kesehatan dan keselamatan kerja - Gunakan baju laboratorium dan penutup hidung selama bekerja. - Gunakan alat sesuai petunjuk penggunaan. - Gunakan bahan kimia dengan pipet atau sendok bahan. - Cucilah tangan sebelum dan sesudah bekerja. - Janganlah makan dan minum di tempat bekerja. 4. Langkah kerja a. Persiapan benang - Lepaskan benang dari gintirannya. - Masaklah serat dalam larutan sabun encer agar bersih. - Sejajarkan seluruh serat-seratnya dan dilak. b. Persiapan irisan lintang Persiapan irisan lintang dilakukan dengan cara yang sama dengan yang dilakukan pada modul kesatu. Perbedaannya adalah pada modul 1 konsentrasi pengamatannya pada setiap serat, sedangkan pada kegiatan ini setiap serat dan keseluruhan sebagai pembentuk benang. c. Pengamatan irisan dibawah mikroskop - Diamati tiap bentuk yang nampak pada penampang. - Membandingkan bentuk yang nampak dengan bentuk penampang serat. - Dihitung setiap jenis bentuk yang nampak pada penampang. - Membandingkan jumlah antara bentuk yang satu dengan yang lain. - Menentukan benang yang mempunyai serat yang cenderung seragam dan yang campuran. - Menentukan kemungkinan campuran serat yang menyusun benang. K. LATIHAN V 1. Mengikuti bentuk serat apakah bentuk penampang lintang serat-serat yang menyusun benang berikut. a. benang kapas f. benang rayon b. benang linen g. benang nylon c. benang sutera h. benang asetat d. benang wool i. benang polyester e. benang logam 2. Adakah benang tersebut pada nomor 1 yang tersusun oleh serat yang berbeda? Sebutkan serat apa saja yang menyusunnya! B A B VI KARAKTER BENANG A. PENDAHULUAN Sifat-sifat fisika yang sering dievaluasi untuk menentukan mutu benang adalah kerataan, kenampakan dan kekuatan benang. B.KERATAAN BENANG Kerataan benang sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu panjang serat, kehalusan serat dan distribusi serat (variasi atau kesamaan jumlah serat pada penampang benang) yang mengisi benang. Sedangkan ketidakrataan benang selain disebabkan oleh faktor tersebut, juga dapat disebabkan karena cacat mekanik pengaturan yang kurang baik dan perawatan yang jelek dari masing-masing mesin pemintalan. Benang yang tersusun atas serat yang panjang (filament) mempunyai karakter rata dan halus, sedangkan serat stapel (pendek) memberikan karakter kasar dan kurang rata pada benang, namun demikian mempunyai daya tutup yang besar pada kekurangan yang terjadi pada benang. Serat alam umumnya berupa stapel, sedangkan serat buatan umumnya berbentuk filament. Karenanya benang dari serat buatan lebih rata dan halus daripada benang dari serat alami, demikian juga kerataan benang filament serat buatan lebih rata daripada filament serat sutera. a. KENAMPAKAN Kenampakan benang meliputi kebersihan, kilap dan kelicinan benang. Kebersihan dinilai atas dasar banyak sedikitnya kotoran, sisa-sisa yang dihasilkan. Benang dari serat alam kurang bersih dibandingkan dengan benang dari serat buatan. Sifat kilap benang merupakan kemampuan benang untuk memantulkan kembali sinar yang jatuh pada permukaan benang tersebut. Kilap maksimum pada benang dapat diperoleh apabila letak atau kedudukan serat-serat benang sejajar dengan sumbu benang. Pilinan pada benang mengurangi kilap benang, sehingga benang filament kilapnya lebih tinggi daripada benang pintal (stapel). Pada benang gintir kilap maksimum diperoleh jika perbandingan jumlah gintiran dan pilinan benang tunggalnya adalah 7 : 10 dengan arah gintiran berlawanan dengan pilinan benang tunggalnya. Kelicinan benang merupakan kenampakan benang yang dipengaruhi oleh adanya bulu-bulu serat pada permukaan benang. Benang pintal cenderung mempunyai permukaan yang berbulu, yang berupa ujung-ujung serat yang tidak terikat dan mencuat keluar. Benang pintal kurang licin dibanding benang filament. Benang yang terdiri dari serat kasar lebih berbulu dari benang yang terdiri dari serat halus, karena serat-serat kasar lebih kaku dari serat halus sehinngga ujung-ujung seratnya akan lebih mudah mencuat keluar. b. KEKUATAN BENANG Kekuatan benang kurang lebih hanya setengah dari potensi kekuatan seluruh serat. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut. 1) Letak serat-serat pada benang mempunyai sudut tertentu terhadap sumbu benang, yang diakibatkan oleh pilinan. Karenanya tidak semua serat menunjang kekuatan benang, hanya serat yang dalam keadaan tegang saja yang menunjang dalam melawan gaya tarik. 2) Pada waktu mengalami tarikan, benang mula-mula akan putus di tempat yang paling lemah. Serat-serat pada benang pintal yang tidak rata akan putus dan mengurangi kekuatan benang. 3) Penggelinciran serat juga dapat memutuskan benang pintal, sehingga mengurangi kekuatan benang. Kekuatan benang dipengaruhi oleh jenis serat, panjang serat, kehalusan serat, dan banyaknya pilinan pada benang. Penambahan pilinan sampai batas tertentu akan mempertinngi kekuatan benang. C. LEMBAR KERJA 1.Alat Alat yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut. a) kaca pembesar, b) jarum jahit besar, c) pendulum tester atau alat buatan dengan bermacam ukuran berat pembeban, d)sumber cahaya. K. Bahan Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah bermacam benang meliputi benang kapas, benang linen, benang sutera, benang wool, benang rayon, benang polyester, benang jahit. Jika tidak dapat diperoleh helai benang dapat diambil benang dari kain. L. Kesehatan dan Keselamatan Kerja Lakukanlah kegiatan sesuai langkah kerja yang ditetapkan. Berhati-hatilah menggunakan pembeban yang sudah dipersiapkan, lakukanlah kegiatan diatas meja yang beralas kain agar jatuhnya pembeban tidak menyebabkan kerusakan atau terpental. M. Langkah Kerja Lakukanlah langkah berikut ini pada setiap benang yang disediakan. a. Ambil benang peganglah permukaannya, dan lakukan pembesar. Bagaimana menurut Anda, halus atau tidak halus? Cobalah urai benang tersebut. Bagaimana seratnya, pendek atau panjang? b. Ambil benang, dan letakkan menghadap ke arah sumber cahaya (bisa menggunakan cahaya matahari). Apakah benang memantulkan cahaya/sinar yang datang? c. Ambil benang, dan cobalah mengkorek perlahan dengan batang jarum dari salah satu ujung benang menuju sepanjang benang. Amati dengan kaca pembesar adakah bulu-bulu pada benang? Lakukan sekali lagi dari ujung benang yang satunya, adakah bulu-bulu pada benang? d. Ambil benang, sepanjang yang diperlukan untuk uji dengan pendulum tester, ukur panjang awal tanpa penarikan sebelum dilakukan uji. Pasang pada alat pendulum tester (lihat Gambar 4.1), dan amati pada alat ukur berapa panjang putus benang. Jika tidak ada alat uji, ambil benang pada panjang tanpa tarikan sebanyak 20 cm. Kaitkan salah satu ujung benang pada tempat kait benang yang sudah disiapkan (A), kemudian ujung lain dikaitkan dengan pembeban dan digantungkan pada tempat yang tersedia (B). Amati hingga benang putus, jika dengan pembeban tersebut benang tidak putus, ganti pembeban yang lebih berat. Hitung penambahan panjang hingga benang putus. e. Catat semua hasil kegiatan Anda. D. LATIHAN VI Bagaimanakah kerataan dari benang kapas, benang flax/linen, benang sutera, benang wool, benang rayon, benang nylon, benang polyester dan benang jahit? i. Bagaimanakah kilap dari benang kapas, benang flax/linen, benang sutera, benang wool, benang rayon, benang nylon, benang polyester dan benang jahit? ii. Bagaimanakah kelicinan dari benang kapas, benang flax/linen, benang sutera, benang wool, benang rayon, benang nylon, benang polyester dan benang jahit? iii. Bagaimanakah kekuatan dari benang kapas, benang flax/linen, benang sutera, benang wool, benang rayon, benang nylon, benang polyester dan benang jahit. E. LEMBAR EVALUASI I. Lengkapi kalimat berikut ini 1. Kualitas benang bergantung pada ......................... 2. Memilin berfungsi untuk ...................................... 3. Benang hias diperoleh diantaranya dengan cara ................. dan ............... 4. Benang gintir diperoleh dengan cara ................................... 5. Benang yang disusun oleh serat filament akan memiliki kerataan ............................... dibanding serat stapel. 6. Arah gintiran yang berlawanan dengan arah pilinan benang tunggal akan menghasilkan benang .............., sedangkan bila arahnya sama akan diperoleh benang ............... 7. Contoh benang gintir adalah benang .............. dan .................. 8. Ciri benang tekstur adalah ............, ................, ............., dan ........... 9. Contoh benang hias adalah ..........,.................,..............,.dan ......... 10. Benang pintal terbuat dari serat .................... II. Berilah tanda silang pada jawaban yang dianggap benar. 1. Serat berikut yang banyak digunakan sebagai bahan benang pintal adalah ... a. polyester b. sutera c. kapas 2. Benang yang proses keritingnya menggunakan pisau yang dipanaskan disebut ... a. edge crimp b. stuffer box c. knit de knit 3. Benang berikut yang tersusun dari serat filament adalah ... a. benang kapas b. benang linen c. benang sutera 4. Benang jahit berikut yang tidak mengalami proses pilinan adalah ... a. benang jahit dari serat kapas b. benang jahit dari serat linen c. benang jahit sintetis monocord 5. Mesin berikut dalam proses pemintalan berfungsi menghasilkan benang garu. a. mesin blowing b. mesin combing c. mesin roving 6. Mesin drawing berfungsi untuk ... a. menghasilkan benang roving b. menghasilkan sliver yang rata c. menghasilkan benang lap 7. Proses pemilinan pada benang terjadi pada mesin ... a. drawing b. winding c. spinning 8. Benang nylon yang digunakan untuk kain bahan pakaian umumnya adalah berasal dari a. benang multifilament b. benang monofilament nomor besar c. monofilament nomor kecil 9. Benang rayon yang digunakan untuk pakaian yang bermutu adalah kelompok ... a. rayon kupromonium b. rayon asetat c. rayon viskosa 10. Benang wool yang digunakan untuk kain rajut adalah yang mempunyai nomor ... a. 36 - 44 S b. 40 - 60 S c. 64 S ke atas D. KUNCI JAWABAN EVALUASI I. 1. Kerataan, kelicinan, kilap, kehalusan dan kekuatan benang. 2. Meningkatkan kekuatan benang. 3. Mencampur serat yang berbeda warnanya. 4. Memintal campuran serat dari jenis serat yang berbeda. 5. Men-cap sliver atau benang dengan pola tertentu. 6. Menggintir benang-benang yang berbeda dalam jenis, warna, kehalusan, kelembutan, panjang, jumlah dan arah pilinan, atau caranya. 7. Dua atau lebih benang tunggal digintir satu sama lain dengan 6 pilihan penggintiran. 8. Lebih baik. 9. Benang gintir yang lembut, benang gintir kasar. 10. Benang bordir, benang rajut, benang krep, benang lace, benang kain voile, benang merser. 11. Keriting, berjeratan, berbentuk spiral, atau berkerut. 12. Benang berbintik tak teratur, benang berbintik teratur, benang spiral, benang knop, benang slab, benang chenille. 13. Serat yang berukuran pendek/stapel, biasanya dari serat kapas. II. 1. c 6. b 2. b 7. c 3. c 8. a 4. c 9. a 5. b 10. c DAFTAR PUSTAKA Hartanto, N. Sugiarto dan Watanabe, S. 1986. Teknologi Tekstil. Jakarta: Pradnya Paramita. Jumaery, dkk. 1977. Pengetahuan Tekstil. Bandung: ITT Lyle, Dorothy S.. 1982. Modern Textiles. New York: John Wiley & Sons. Mary Humpries. 2004. Fabric Glossary. New Jersy . Pearson Prentice Hall ____________ 2004. Fabric Reference. New Jersy . Pearson Prentice Hall Moerdoko, W. dkk. 1975. Evaluasi Tekstil. Bandung: ITT. Norma Holen, at all. 1979. Textiles fifth edition.New York: London Soeprijono, P. dkk. 1973. Serat-Serat Tekstil. Bandung: ITT. Ilmu Tekstil 1